
"Kenapa?" Aileen meletakkan ponselnya di nakas, dia menatap sejenak Randu yang sedang mengeringkan rambutnya setelah dikeramas.
Aileen menggeleng dan menghampiri Randu. "Mau aku bantu?" Tanpa memberi jawaban, Randu menyerahkan handuknya kepada Aileen.
Mereka memilih duduk di sofa dengan Randu yang duduk membelakanginya. "Siapa yang mengirim pesan?"
"Teman!"
"Teman perempuan kamu itu? Siapa namanya?"
"Adis?" Randu berdeham membenarkan pertanyaan Aileen. "Bukan!"
Randu menoleh membuat Aileen menghentikan aktivitasnya. "Lalu siapa? Apa ada masalah?"
"Bukan masalah, hanya saja dia akan pergi jauh!" Kening Randu berkerut dan menghela napas pelan.
"Kamu pasti sedih temanmu pergi jauh," ucap Randu.
Aileen tertawa kecil sampai mengundang kebingungan Randu. "Aku gak merasa sedih. Lagipula dia hanya teman biasa, kami jarang bertemu dan juga bisa dianggap hanya kenal!"
"Apa dia mantanmu!"
"Bukan, Kak. Dia teman. Aku cuma sedikit kesal saja karena dia paksa minta diantar ke bandara lusa!" Aileen membuang napas kasar. Randu mengangguk-angguk dan duduk menghadapnya.
"Sudah, jangan diteruskan." Pria tersebut mengambil alih handuk di tangan Aileen. "Tapi kenapa kamu tidak mau mengantarnya?"
"Kakak kasih izin aku antar dia?" Randu mengangguk. Tentu saja. "Gak cemburu?" Randu mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Aileen barusan.
"Laki-laki?"
"Iya! Harusnya di pergi sejak beberapa hari lalu, tapi dia baru akan pergi lusa!"
"Huh. Apa kamu tidak mau mengantarnya karena saya?"
"Iya. Aku gak mau Kakak salah paham walau dia sudah pergi!"
***
"Selamat pagi, Bi!" sapa Randu kepada bibi yang sedang memasak. Dia membuka lemari pendingin untuk mengambil minuman.
"Loh, Mas Randu di sini?"
Randu berdeham. Dia menuangkan air dingin di gelas yang sudah diambilnya dan menenggak sampai habis air dingin di gelas tersebut.
"Mas, Neng Amee tahu?" Tatapan perempuan baya itu menuntut untuk Randu segera jawab. Tatapan tersebut membuat Randu menjadi salah tingkah. "Neng Amee gak tahu?"
"Dia bahkan tidak peduli!"
__ADS_1
"Maksudnya? Neng Amee tahu kalau Mas Randu sama Neng Aileen sudah menikah?" Randu menggeleng. Perempuan baya itu menghela napas lega.
"Syukurlah. Bibi kasihan kalau Neng Amee sampai tahu. Dia pasti terluka banget!" Randu hanya membalasnya dengan berdeham. Dia beranjak ke dekat kompor dan mematikannya.
"Astaga, Bibi lupa matikan. Untung gak gosong telurnya!"
"Makanya aku bantu matikan." Randu tertawa kecil melihat kepanikan di wajah perempuan tersebut. "Sudahlah, aku akan ke kamar lagi dan siap-siap kerja!"
"Mas ...."
Randu berbalik, menatap bibi keheranan. "Bibi harap jangan sakiti hati Neng Amee lagi setelah ini dan juga tolong jaga Neng Aileen sampai dia melahirkan!" ujar perempuan itu serius.
Randu mengangguk dan pergi ke kamar.
"Aku sudah setrika kemeja sama celananya. Kakak tinggal pakai!" Randu mengambil kemeja dan celana yang baru saja disetrika oleh Aileen dan mengenakannya langsung di hadapan Aileen.
"Kenapa berpaling?" tanya Randu bingung saat dia melepas celana pendeknya untuk mengganti dengan celana panjangnya. Dia bahkan terlalu santai saat mengenakannya.
"Kakak sudah selesai pakainya?" Randu berdeham.
Merasa yakin jika Randu sudah selesai, Aileen berbalik menatap Randu kembali. "Wajahmu merah? Kenapa?"
"Gak ada apa-apa!" jawab Aileen menunduk. Dia tidak berani menatap napas Randu, padahal saat ini dia sedang membantu merapikan kemeja yang dikenakan suaminya itu.
"Tadi bibi menanyakan tentang Amee!" ungkap Randu, Aileen mendongak menatap Randu lekat. "Bibi benar-benar memperhatikan kalian berdua. Dia sampai begitu cemas kalau saya tidak bisa adil dengan kalian!"
"Kamu benar. Tapi, hubungan kami sedang tidak baik-baik saja saat ini. Amee bahkan tidak peduli di mana saya tidur!" Aileen memilih diam saja. Dia membiarkan Randu yang melingkarkan tangan pada pinggangnya.
"Nanti malam saya tidak menginap di sini. Kamu tidak apa-apa?"
"Gak masalah. Aku gak mau kalau Mbak Amee curiga Kakak yang gak pernah tidur di rumah."
"Kalau begitu, biar bibi menemani kamu di apartemen!"
Aileen sudah selesai menyisir rambut Randu. Dia bahkan mengecup singkat kening suaminya itu dan menangkupkan wajahnya. "Aku gakpapa banget kalau Kakak gak di sini nanti malam. Tapi, kalau bibi menginap kayaknya gak perlu. Dia kelihatan gak nyaman. Lagipula nanti malam Adis mau menginap di sini!"
"Oh, ya?"
"Iya. Dia mau ikut mengantar Bang El pergi!"
"Bagus kalau begitu!"
Tatapan mereka saling mengunci, Aileen juga mendekatkan wajahnya pada Randu sehingga dia dapat merasakan embusan napas hangat dari suaminya itu.
Saat merasakan sesuatu akan terjadi, jantungnya berdebar kencang. Dia bahkan sampai menutup mata, sayangnya dia harus kecewa dan tidak dapat menikmati yang dia bayangkan ketika bibi memanggil mereka.
Randu terkekeh pelan, dia menjepit hidung Aileen dengan telunjuk dan ibu jarinya.
__ADS_1
"Kakak!" gerutu Aileen kesal. Dia memukul tangan Randu dan menjauh.
"Itu balasan karena kamu sudah berpikir yang aneh-aneh di pagi hari!"
Aileen mendelik kesal sambil mengusap hidungnya. "Ish, memang aku mikir apa?"
"Tadi kenapa sampai memejamkan mata? Kamu berharap kita akan bersentuhan?" ledek Randu dengan alis yang naik-turun.
Aileen menggeleng. Wajahnya kembali memerah dan dia memilih menjauh dari Randu. Dia membuka pintunya, terkejut karena bibi yang masih ada di depan kamar mereka. Padahal dia mengira bibi sudah kembali ke dapur.
"Bi!"
"Neng Amee datang!" Aileen membelalak. Dia menoleh ke belakang dan melihat Randu yang juga cemas. Pria tersebut menghampiri mereka.
"Sekarang di mana?" tanya Aileen.
"Tadi, Neng Amee masuk sebentar lalu keluar lagi. Katanya mau mengambil sesuatu yang ketinggalan di mobil!"
Randu menyentuh pundak Aileen sehingga perempuan itu menatapnya dengan raut wajah cemas. Randu tersenyum manis kepadanya. "Kamu jangan cemas. Sekarang saya akan pergi! Tetaplah bersikap biasa saja!"
Aileen mengangguk.
Randu menatap bibi yang sedang memperhatikan mereka bergantian. "Bibi, aku minta tolong untuk rahasiakan kalau aku di sini!"
"Iya, Mas!"
Randu mengambil tas kerja dan jasnya, dia lalu pergi dari apartemen sebelum Amee datang.
Walau Randu memintanya untuk tetap tenang, Aileen tetap saja tidak bisa tenang. Dia tetap takut jika ternyata Amee dan Randu bertemu.
"Neng minumlah. Jangan panik!"
"Makasih, Bi!" Perempuan baya itu hanya diam saja. Memperhatikan Aileen sejenak lalu kembali ke dapur. Dia meninggalkan Aileen duduk di sofa ruang tengah.
"Huh, kamu harus tenang. Yakin kalau Mbak Amee gak akan tahu Kak Randu baru dari sini!" Aileen lalu pergi ke kamarnya. Dia ingin memastikan jika tidak ada barang Randu yang tertinggal.
"Huh, aman!" Dia lega setelah tidak menemukan satu pun barang milik Randu yang tertinggal. Namun, ketakutannya menjadi nyata ketika dia keluar dari kamar dan mendapati dua orang di hadapannya dengan tatapan yang berbeda.
"Mbak Amee?"
Perempuan itu mengangguk, sedangkan Randu yang berdiri di belakang Amee hanya tersenyum saja membuat Aileen bingung.
"Wajah kamu pucat kenapa?" Kamu sakit?" tanya Amee penasaran. Dia menyentuh kening Aileen untuk memastikan suhu tubuhnya. "Kamu gak demam."
"Ah, aku memang gak demam, Mbak. Aku tadi ... aku cuma sedikit terkejut lihat kalian di sini!"
Amee tertawa kecil. Dia mengajak Aileen duduk, sedangkan Aileen melirik ke arah Randu yang terlihat begitu santai seolah tidak ada yang terjadi.
__ADS_1
"Mas Randu ternyata semalam menginap di sini!" Ucapan Amee membuat Aileen terasa sesak napas. Apalagi saat tatapan Amee begitu lekat kepadanya.