Skandal Termanis

Skandal Termanis
Kok Gitu, Sih!


__ADS_3

"Kamu baru pulang?" tanya Randu ketika Amee baru saja masuk ke kamar. Dia tidak memedulikan nasihat Sika kepadanya agar tidak memarahi Amee nantinya.


Amee hanya diam saja, dia terlalu malas untuk meladeni Randu dan memilih mengabaikan suaminya itu. "Apa kamu sesibuk itu, Am? Kenapa panggilan saya sama sekali tidak kamu respons?" Randu mencengkeram erat lengan Amee.


Melihat Amee yang tidak menghargainya membuat Randu tidak dapat menahan kekesalannya. "Mas, sakit," rintih Amee. Dia mencoba melepaskan cengkeraman Randu, tetapi tenaganya kalah kuat.


"Ini tidak seberapa dengan perasaan saya yang kamu abaikan!"


"Mas, kita bisa bicara pelan-pelan. Kasih aku ruang untuk istirahat dulu, aku capek, Mas!" pinta Amee.


Randu melunak, dia melepaskan cengkeraman tangannya. Ada penyesalan saat melihat lengan Amee yang memerah karena ulahnya baru saja. "Baiklah, maaf!"


Amee mengangguk. Dia menghampiri Randu yang duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya itu.


"Aku minta maaf, Mas. Tapi, situasinya yang buat aku sampai lupa mengecek ponselku!"


Amee memperhatikan wajah Randu yang menahan amarah. Dia mengusap wajah suaminya itu lalu mengecup singkat pipinya. "Mas, aku salah karena mengabaikan kamu. Tapi, aku gak bisa tinggalkan Seto yang dihadapi masalah berat!"


Randu membuang napas kasar. Dia memalingkan wajahnya kesal. "Apa dia lebih penting dari saya?"


Amee tersenyum mengetahui suaminya sedang cemburu dengan Seto. "Mas, kamu kalau lagi cemburu lucu deh. Tapi ngapain kamu cemburu sama pria yang jelas-jelas sukanya bukan sama perempuan!"


Randu membuang napas kasar. Dia menggeser tubuhnya membuat Amee harus menjauhkan diri darinya. "Tapi dia tetap seorang pria, dia bisa saja melakukan hal yang dilakukan seorang pria normal. Apalagi di rumah itu hanya ada kalian berdua!"


"Kamu percaya, kan, sama aku?" Randu mengangguk. "Kalau begitu harusnya kamu percaya kalau aku dan Seto gak akan melakukan hal yang seperti kamu ucapan itu. Bahkan mungkin kalau aku tanpa pakaian di depannya, dia tetap gak akan tertarik!"


Randu tidak mengatakan apa pun. Dia lekas memeluk Amee dan menyuarakan betapa dirinya kesal karena diabaikan. "Aku gak abaikan kamu, Sayang!"


Di luar kamar keduanya, Aileen bergeming. Dia terlalu takut untuk mengetuk pintu. Aileen akhirnya memilih kembali ke kamarnya. Namun, dia dikejutkan dengan kehadiran Sika yang menatapnya tajam.


"Ma ...."


"Kamu ngintip mereka?" tuduh Sika begitu saja. Aileen menggeleng. Dia mencoba membela diri jika dia tidak melakukan seperti yang dikatakan Sika.


"Lalu kenapa kamu di depan kamar mereka? Oh, kamu mau memastikan apa Randu dan Amee bertengkar? Kamu senang mereka ribut?"


"Mama salah paham. Aku sama sekali gak seperti yang Mama tuduh. Aku sebenarnya mau ...." Belum sempat Aileen menyelesaikan ucapannya, Sika menariknya menjauh dari kamar mereka.


Sika menarik tangan Aileen kasar, dia bahkan tidak peduli jika Aileen terjatuh di tangga karena ulahnya itu.


Sika mendorong tubuh Aileen sampai punggungnya mengenai pintu kamar. Sika tidak peduli saat Aileen meringis kesakitan.


"Aku peringatkan sama kamu, jangan harap kamu bisa memisahkan mereka berdua. Mungkin mamamu berhasil merayu suamiku, tapi aku akan pastikan kamu gak akan bisa merusak rumah tangga anakku!" Sika berbicara sambil menunjuk Aileen dengan jari telunjuknya.


"Seharusnya kamu berterima kasih dengan anak dan menantuku yang mau menampung perempuan seperti kamu. Perempuan yang tidak tahu malu!" Sika memandang sinis Aileen, dia meludah tepat mengenai perut Aileen dan pergi begitu saja.


Aileen merasa gemetar karena ucapan Sika kepadanya. Dia bahkan merasa tubuhnya lemas dan berusaha masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Aileen menangis kencang saat berhasil masuk ke kamar dan tidak lupa mengunci pintunya. Dia sama sekali tidak menyangka Sika akan begitu membencinya, meski yang dikatakannya tidaklah salah.


Dia hanya aib untuk Amee dan Randu. Tidak seharusnya dia tinggal bersama mereka. Mungkin dia bisa menerima usulan Randu untuk tinggal di apartemennya atau pergi seperti yang telah dia lakukan dahulu.


"Kenapa mama gak pernah bisa sayang sama aku?" Aileen mengambil sapu tangan yang sudah lama dia simpan dengan rapi. Sapu tangan itu milik Sika yang tidak pernah Aileen kembalikan. Namun, ucapan Sika membuat Aileen merasa cukup menyimpannya.


"Kalau aku pergi, harus ke mana? Ke rumah Faiz?"


***


Aileen baru saja bisa tertidur setelah lelah menangis dan memikirkan akan pergi ke mana. Dia tidak mau terus menjadi beban pikiran Sika dan membuat perasaanya kepada Randu tumbuh makin dalam.


Tubuhnya terasa nyaman berada dalam pelukan seseorang. Aileen menyadari siapa yang berani masuk ke kamarnya dan memeluk tubuhnya. Meski hatinya ingin memberontak agar tidak dipeluk, tetapi tubuhnya memilih untuk terus bertahan.


"Apa kamu baru saja menangis?" Aileen diam saja. Matanya tetap terpejam. Aileen menggigit bibirnya menahan diri untuk tidak bangun saat merasakan tengkuknya meremang karena terkena embusan napas Randu.


"Mas," gumam Aileen yang sudah tidak tahan dengan kelakuan Randu.


Seolah memang ingin menggoda Aileen, Randu hanya berdeham dan dia meniup tengkuk Aileen.


"Katakan ada apa?"


Aileen diam saja. Dia tidak mau memberitahu Randu tentang ucapan Sika kepadanya. "Baiklah, lebih baik kita tidur saja, meski sebenarnya saya ingin bercerita denganmu!"


Aileen membuka matanya saat merasakan tangan Randu masuk menyelusup ke dalam pakaiannya dan mengusap lembut perut Aileen.


"Mas!" Aileen menahan tangan Randu. "Aku mau ke kamar mandi!"


Aileen tidak menanggapi ucapan Randu tersebut. Di dalam kamar mandi, Aileen hanya berdiri di depan cermin, kedua tangannya memegang erat pinggiran meja wastafel.


Dia hanya mendesah pelan memandangi wajahnya yang tampak sembap karena banyak menangis.


Suara Randu yang manggilnya membuat Aileen langsung berseru. Aileen menghidupkan keran dan membasuh wajahnya. Setelah itu dia gegas keluar kamar mandi.


"Kenapa lama sekali?" tanya Randu yang masih berbaring di ranjang.


Aileen hanya tersenyum tipis dan menghampiri Randu untuk bergabung bersamanya. "Kamu gak takut Mbak Amee tahu kamu ke sini, Mas? Atau mama!"


"Jangan hiraukan mereka. Saya malam ini hanya ingin memeluk kamu, sebelum besok subuh kembali ke kamar!" Randu membenahi selimut mereka. Dia memeluk Aileen kembali.


"Pasti kamu capek, ya, Mas?"


Randu berdeham. "Aku jadi kepikiran apa lebih baik aku tinggal di apartemen kamu saja, Mas?" Kening Randu mengerut. "Ya, tapi kalau kamu keberatan gak papa kok!"


"Saat itu saya berpikir mungkin kamu bisa tinggal di sana, tapi saya tidak tega. Kamu sedang hamil dan siapa yang akan menjaga kamu nantinya. Di sini setidaknya saya bisa memantau kamu!"


Aileen tersenyum tipis. "Kalau Mbak Amee akhirnya tahu? Mas aku gak mau Mbak Amee jadi benci sama aku nantinya. Kamu lebih baik kembali ke kamar kamu, Mas. Aku takut Mbak Amee cari kamu."

__ADS_1


"Amee tahunya saya di ruang kerja. Dia tidak akan mencari saya, dia juga sudah tidur!"


"Kamu marahan sama Mbak Amee, Mas?"


"Tidak! Memang kenapa?"


"Gak kok. Cuma tanya saja!"


***


"Jam tiga pagi Mama lihat kamu kayak baru keluar dari kamar Aileen, Ran. Tapi, itu gak mungkin, kan?"


Randu tampak tenang, berbeda dengan Aileen yang menjadi gugup sampai garpu di tangannya terjatuh.


"Maaf!" ujar Aileen menyesal karena semua mata yang tiba-tiba saja tertuju kepadanya.


"Mas Randu di ruang kerja. Iya, kan, Mas?" Randu mengangguk kecil. "Jadi gak mungkin Mas Randu keluar dari kamar Aileen, Ma." Amee membela Randu yang dia tahu semalaman suaminya berada di ruang kerja. "Tuh, kan, Mas. Kamu, sih, akhir-akhir ini sering banget ketiduran di ruang kerja!"


"Yang Mama lihat tidak salah!" ungkap Randu. Aileen tentu saja terkejut dengan pengakuan Randu, dia menunduk takut sambil menggigit bibirnya.


"Mas, kenapa?" tanya Amee penasaran, sedangkan Sika menggeram kesal mendengar pengakuan Randu.


"Semalam saya mau kembali ke kamar, tapi saya melihat lampu kamar Aileen masih menyala. Saya mengetuk pintu kamar Aileen untuk memastikan apakah dia sudah tidur atau belum. Saat itu Aileen ternyata baru saja menghidupkan lampu kamarnya karena akan mengambil minum dan saya yang membantunya mengambilkan minum!"


Aileen menatap Randu tidak percaya. Dia tidak menyangka Randu akan memberi alasan yang menurutnya bisa dipercaya.


Amee menghela napas lega, dia memperhatikan wajah tegang Aileen lalu terkekeh. "Kamu tenang saja, Ai. Mbak percaya sama kamu dan Mas Randu." Amee lalu menyentuh tangan Sika. "Mama harusnya percaya sama mereka. Mas Randu gak akan mungkin melakukan hal yang aneh-aneh dengan mendatangi kamar Aileen tengah malam!"


"Makasih, Mbak!" Amee mengangguk senang.


"Mama bukan menuduh, Am. Mama hanya heran saja, lagipula Mama percaya sama Randu, tapi sama adikmu itu Mama gak bisa begitu saja percaya!" jelas Sika.


"Mama jangan bilang gitu, apa yang salah sama Aileen? Kalau dia mau sudah sejak awal dia goda Mas Randu, tapi nyatanya, kan, gak!" tegas Amee.


"Terserah kamu. Yang jelas Mama gak bisa percaya sama perempuan yang hamil tanpa suami seperti dia!"


Aileen langsung berdiri. Namun, kakinya terasa berat untuk melangkah. "Kamu mau ke mana?" tanya Amee heran. "Jangan dengarkan ucapan Mama, Ai."


"Aku sudah selesai sarapannya, Mbak. Permisi!" Sebelum pergi meninggalkan mereka di ruang tengah, Aileen melirik Randu yang hanya diam memperhatikan dirinya.


Aileen sudah tidak tahan dengan tuduhan-tuduhan dari Sika untuknya.


***


"Kamu sepertinya bangga jadi benalu di keluarga Amee, ya," sindir Sika kepada Aileen yang sedang menyiram tanaman. "Apa kamu tuli? Kamu harusnya malu dengan kebaikan Amee dan Randu, bukannya malah berhenti bekerja dan jadi pengangguran!"


Aileen menjatuhkan selang airnya dan menghadap Sika. "Kenapa aku selalu salah di mata Mama?" tanya Aileen. Dia menahan diri untuk tidak menangis.

__ADS_1


Sika memandang remeh Aileen. "Kamu harusnya tahu alasanku benci sama kamu." Setelah mengatakan itu Sika meninggalkan Aileen.


"Mbak Aileen gakpapa?" tanya bibi yang bekerja di rumah Amee saat melihat Aileen memegangi perutnya yang terasa sakit.


__ADS_2