
"Di mana Aileen?"
Randu memasuki apartemen yang terasa begitu sunyi. Saat dia masuk ke kamar Aileen, perempuan tersebut tidak ada di sana. Hanya ada Mira dan Safira saja.
"Mama gak tahu. Dia pergi setelah ganti pakaian sejak pagi tadi!" jawab Mira tanpa mengalihkan pandangannya kepada Safira.
"Aku akan cari dia!"
"Randu, sebentar!" Mira menahan Randu yang akan pergi. Perempuan paruh baya itu menghampiri Randu dan menyuruhnya duduk di sofa. "Sebenarnya ada apa? Apa alasan kamu menceraikan Amee?"
"Kenapa Mama tanya begitu? Mama tahu sesuatu?"
Mira mengangguk. Dia menatap wajah putranya yang terlihat lelah. "Syukurlah. Aku tidak perlu memberitahu dan Mama sudah tahu!"
"Maafkan Mama!" Mira menunduk, dia merasa malu kepada Randu karena tidak setuju dengan perceraian mereka. Namun, mendengar jelas yang dikatakan Amee membuatnya mengetahui jika Amee tidak pernah mencintai putranya dan tentu saja membuat Mira sedih.
Randu menghela napas pelan lalu menggenggam tangan Mira. "Mama tidak perlu minta maaf, aku yang seharusnya melakukan itu. Semalam aku dengan sengaja sudah melukai perasaan Mama!"
Mira menggeleng. Dia mengangkat wajahnya dan menatap lamat Randu. "Kamu menyadarkan Mama, walau bukan dari perkataanmu semalam, setidaknya Mama sadar kalau yang kamu katakan benar!"
Randu tersenyum tipis mendengar ucapan Mira. "Sekarang carilah Aileen dan bawa dia ke sini. Mama yakin dia pasti sangat sedih dan merasa bersalah. Sekarang Mama restui kalian!"
"Benarkah?" Mira mengangguk tanpa ragu. Randu langsung memeluk Mira erat. "Terima kasih, Ma!"
Randu melepaskan pelukannya. Dia mencium punggung tangan Mira dan pamit pergi. Sebelum itu, dia menghampiri Safira yang sedang mengoceh lucu. "Papa akan cari mamamu!" ucap Randu. Dia mencium kening Safira dan pamit pergi.
"Semoga Randu dan Aileen bertemu!"
***
Aileen berada seorang diri di rumah Adis. Dia mengirim pesan kepada sahabatnya itu akan datang ke rumahnya dan beruntungnya Adis memberi izin.
Mengetahui di mana biasanya Adis menyembunyikan kunci cadangan rumahnya, dia mengambil dan masuk ke rumah.
Selama berada di rumah Adis, Aileen hanya diam melamun. Dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri karena sekarang kembali menjadi bimbang. Dia tidak berani untuk terus bersama dengan Randu karena ada banyak orang yang terluka, terutama Amee.
"Hah!" Dia memeluk kakinya sendiri. Memangku kepalanya di atas lutut sambil memandang tanaman hias di meja.
"Aku harus lakukan apa? Mbak Amee butuh Kak Randu!" gumamnya, lirih. Tangannya terulur menyentuh daun palsu pada tersebut. Tatapannya lalu tertuju pada pintu yang terus saja diketuk.
__ADS_1
"Siapa yang datang? Adis?" Tanpa berpikir panjang, Aileen memilih untuk membuka pintu. Dia menghela napas kesal melihat siapa yang datang.
"Ternyata kamu benar ada di sini!"
Aileen mendengkus kesal, dia menatap tajam pria yang berdiri di depannya dengan menghela napas lega. "Mau apa ke sini? Tahu aku di sini dari mana?"
"Aku tahu kamu pasti di sini lagi menenangkan diri!"
Kening Aileen mengerut samar lalu memilih untuk menutup pintu, dia tidak ingin bicara dengan pria tersebut saat ini. Sayangnya, tenaga pria tersebut lebih kuat dari Aileen dan berhasil menahan pintunya agar tidak tertutup. "Aileen, tolong jangan begini! Aku cemas sama kamu!"
"Aku mau sendiri. Pergilah!" Pria tersebut menggeleng. "Huh, keras kepala!" Aileen lalu membiarkan pria tersebut masuk tanpa harus berlama-lama berdebar tidak penting.
"Aku lihat Amee terluka dan pergi dengan suaminya, gak lama kamu juga pergi dari apartemen. Tapi, aku merasa kamu sedang ada masalah dan cari kamu. Beruntung aku ingat rumah ini!"
"Kenapa Bang El harus peduli?"
"Aileen, aku gak mungkin abai saja sama kamu. Kamu orang yang aku cinta, gak mungkin aku biarkan kamu sendiri!"
Aileen mendengkus kesal. "Aku pergi untuk menenangkan diri, bukan kabur!"
"Ya sudah, aku sadar sudah salah! Tapi, aku benar-benar khawatir sama kamu."
"Mau cerita? Ah, aku cuma mau bilang, aku tahu kalau kakak iparmu itu ayah bayimu, iya, kan?"
Aileen memilih diam saja. Dia terlalu malas untuk mengeluarkan energinya dengan menjawab pertanyaan El. "Kamu mencintai dia?"
"Bang ...."
"Apa itu alasan kamu gak juga pergi temui aku?" El terus saja bicara dan membuat Aileen menjadi begitu kesal.
"Bang El gak seharusnya ikut campur dan mau tahu semua tentang aku. Bang El punya kehidupan sendiri, lebih baik urus hidup Bang El saja! Pergilah!"
"Baiklah, aku minta maaf. Kalau kamu ada masalah jangan sungkan datang kepadaku. Aku akan selalu ada untukmu!" El bangkit berdiri. Dia berpindah duduk di samping Aileen lalu memeluk Aileen erat. "Aku mencintaimu!" Bahkan pria tersebut mencium kening Aileen cukup lama.
***
Aileen akhirnya pulang saat hari sudah berganti malam. Dia benar-benar meluapkan semuanya dengan hanya sendirian di rumah Adis. Ingin tetap di sana, tetapi urung dilakukan mengingat ada Safira yang tentu saja sedang menunggunya.
Baru saja dia menutup pintu, tubuhnya ditarik dan masuk dalam pelukan pria yang sangat dia kenali hanya dari sentuhan dan aroma tubuhnya.
__ADS_1
"Huh, ke mana saja kamu?"
"Kak!" Aileen membalas pelukan pria tersebut dan menyandarkan kepalanya pada dada Randu. "Maaf, aku salah!"
Randu melerai pelukannya, kedua tangannya menangkup wajah Aileen dan menatap mata perempuan tersebut lamat. "Pergi ke mana, hem?"
"Di rumah Adis!" jawab Aileen tanpa beralih sedikit pun memandang wajah Randu. Dia suka dengan tahi lalat kecil di bawah mata kiri Randu. "Kakak cari aku?"
"Kamu kira aku akan biarkan saja kamu pergi?" Aileen menggeleng. "Jangan begitu lagi. Safira terus saja cari kamu! Dia panggil kamu terus!"
"Safira belum bisa panggil mama, tuh!"
"Sok tahu!" Randu menyentil kening Aileen dan menarik tangannya, dia mengajak Aileen duduk di kursi meja makan. "Duduk di sini. Aku akan ambilkan sesuatu!"
Aileen menurut. Dia hanya memperhatikan Randu yang ke dapur dan melihat Randu memasakkan mie untuknya. "Jangan beranjak dari sana, Aileen!" Aileen langsung mengurungkan diri untuk menghampiri Randu dan memilih menunggu.
Dia terus saja memperhatikan pria tersebut yang terlihat cekatan dengan pekerjaannya itu. Sangat menggemaskan, tetapi pikirannya kembali lagi kepada kejadian pagi tadi dengan Amee.
"Aromanya menggugah selera!" Randu datang membawa mie rebus yang dimasaknya cepat. "Aku hanya bisa buat ini biar kamu cepat makan, pasti belum makan?" Aileen menggeleng. "Makanlah!"
"Makasih, Kak!"
"Aileen!"
"Ya?" Aileen mencoba menyeruput kuahnya. "Ini enak banget, Kak!"
"Kamu tidak berpikir untuk menyerah, kan?"
Aileen menghela napas pelan lalu meletakkan sendoknya. Dia menatap Randu dan menggeleng. "Kakak takut aku bakal menyerah?"
"Mungkin saja begitu. Aku harap apa yang terjadi dengan Amee tidak buat kamu berpikir untuk melakukannya!"
Aileen dengan tegas mengatakan tidak. Dia akan tetap berjuang untuk meminta restu Mira. "Jujur, sebenarnya tadi aku dilema. Lihat Mbak Amee yang masih gak terima buatku merasa bersalah. Tapi, aku tahu Mbak Amee gak pernah anggap Kakak ada dan itu buatku sakit. Aku gak akan biarkan Mbak Amee atau siapa pun miliki Kakak!"
Randu terkekeh pelan. "Termasuk Safira?" goda Randu membuat Aileen begitu merasa kesal.
"Kakak! Kalau Safira pengecualian. Untuk bayi itu aku gak akan biarkan dia terpisah sama Kakak. Tante Mira juga, aku gak akan mungkin pisahkan kalian. Maksud aku ...."
Randu menyentuh tangan Aileen dan menatapnya sayang. "Aku paham, Sayang. Sekarang makanlah dan istirahat!"
__ADS_1