Skandal Termanis

Skandal Termanis
Memilikinya, tapi Bukan Untuk Dimiliki


__ADS_3

Randu masih tetap saja sama. Walau Amee sudah pulang ke rumah, pria itu seakan melupakan dirinya. Pria itu tidak pernah datang ke apartemen, bahkan pesannya jarang sekali dibaca. Aileen benar-benar merasa kesepian.


Beruntungnya Bibi yang bekerja dengannya sudah beberapa hari ini selalu menemani. Mungkin saja Randu yang memintanya untuk tidak pulang. Namun, malam ini dia terpaksa pergi ke rumah mereka walau tujuannya bukan Randu.


"Neng mau ke mana malam-malam?" Aileen baru saja memegang handle pintu. Dia berbalik dan menatap bibi yang menghampirinya dengan sedikit terkejut. "Neng mau ke mana?" tanyanya lagi.


Aileen menghela napas pelan lalu berujar, "Aku mau ke rumah Mbak Amee, Bi!"


Perempuan baya itu mengerutkan keningnya. "Tapi, mau ngapain, Neng? Sekarang sudah malam untuk bertamu ke rumah Neng Amee dan Mas Randu! Mereka pasti sudah tidur!"


Aileen tersenyum lembut. Dia menghampiri bibi dan memegang tangannya. "Ada barang yang mau aku ambil, Bi, dan itu penting!"


"Mau Bibi temani?"


"Gak perlu, Bi. Lagian Bibi perlu istirahat. Aku cuma sebentar saja kok." Perempuan itu mengembuskan napas pelan dan mengangguk, meski sorot matanya menyiratkan tanya. "Aku ke sana bukan cari Kak Randu walau aku juga kangen sama dia, Bi."


"Bibi gak berani curiga begitu sama Neng Aileen. Bibi cuma kasihan saja kalau Neng pergi sendiri. Apalagi lagi hamil besar begini. Biar Bibi temani saja, ya?"


Aileen tetap teguh pada pendiriannya, dia menolak perempuan itu menemaninya. Dia hanya ingin seorang diri pergi ke rumah itu hanya untuk mengambil sesuatu yang tertinggal dan itu amat penting untuknya.


"Baiklah. Tapi, Neng janji harus hati-hati!"


"Aku janji!"


Aileen tidak menyiakan waktunya. Dia gegas pergi ke rumah Randu dan Amee. Tidak peduli jika yang bibi katakan memang benar. Mereka sudah beristirahat.


Dia pergi ke rumah mereka dengan taksi, sayangnya baru setengah perjalanan tiba-tiba saja taksi tersebut berhenti. Aileen mulai khawatir, bahkan dia mengira sopir taksi tersebut berniat jahat kepadanya.


Mobil berhenti di jalanan yang sepi dan di dekat pemakaman umum. Aileen sudah bersiaga jika pria di balik kemudi itu orang jahat, dia akan berteriak. Namun, pria tersebut meminta maaf dan mengatakan kalau mobil mogok.


"Apa masih lama, Pak?" tanya Aileen tidak sabaran. Sudah pukul sepuluh malam dan dia masih belum sampai di tempat tujuan.


"Maaf, Mbak. Saya gak tahu akan memakan waktu berapa lama."


Aileen mendesah kecewa. Masalahnya dia sangsi jika ada taksi yang lewat dalam waktu dekat.

__ADS_1


Aileen memperhatikan saja pria itu yang sedang mengutak-atik mesin mobilnya. Saat itu terdapat sorot lampu mobil yang menyilaukan mereka. Tidak lama seorang pria keluar dari mobil.


Aileen merasa lega setelah mengetahui siapa pria tersebut. Dia langsung menghampiri dan menghambur memeluknya erat. "Kakak, aku tahu Kakak pasti datang!"


Pria yang dipeluknya sama sekali tidak menjawabnya dan terkesan cuek. Aileen mengerutkan keningnya saat menyadari jika aroma parfum yang dihirupnya berbeda dari aroma parfum pria yang begitu dia rindukan itu. Bahkan tubuh yang dipeluknya pun terasa berbeda.


Dia lantas mendongak untuk memastikan dan begitu terkejut karena salah mengenali. "Loh kok dilepas?"


Aileen menatap sinis pria yang terlihat bingung itu. "Bang El, ngapain pakai kemeja itu?"


"Hah? memang ada yang salah?" Pria tersebut kelihatan begitu bingung dengan ucapan Aileen. Namun, dia tidak terlalu lama dalam kebingungan karena dia langsung menanyakan alasan Aileen berada di jalanan yang sepi malam-malam.


"Aku harus ke rumah Mbak Amee, Bang. Abang bisa antar aku?"


Tanpa ragu pria tersebut setuju. Dia langsung mengajak Aileen ke mobilnya. Sebelumnya pun pria itu menawari memanggil montir di bengkel langganannya untuk memperbaiki taksi tersebut.


"Ada urusan penting apa sampai kamu ke sana malam ini?" tanya El yang begitu penasaran. Pria tersebut sesekali memperhatikan Aileen yang memilih diam atau memperhatikan perut Aileen yang makin terlihat membesar.


"Abang mau aku colok matanya!" ancam Aileen yang kesal karena El terus saja mencuri pandang ke arahnya, meski tanpa harus menatap dia tahu apa yang dilakukan pria tersebut.


Pria tersebut terkekeh pelan lalu menggeleng. "Jangan, dong, sayang banget nanti mata Abang gak bisa lihat kamu lagi!" canda El yang makin membuat Aileen kesal.


Saking merindukan suaminya itu, dia sampai mengira Pria di sampingnya tadi sebagai Randu. Konyol sekali. Bahkan mereka sama sekali tidak bisa untuk disamakan.


Ada banyak perbedaan di antara mereka yang begitu mencolok.


"Babe, untuk tawaranku gimana? Sudah kamu pikirkan?"


Aileen kembali menatap El. Dia tidak terlalu memikirkannya, meski ada ketertarikan untuk mengambil kesempatan itu. "Bang harap kamu mau ke sana dan memulai hidup baru."


Aileen mendelik saat El tiba-tiba saja menoleh dan mengedipkan matanya. Pria tersebut tertawa keras melihat wajah kesal Aileen yang kembali berhasil dia goda.


"Oh, ya. Minggu depan aku akan pergi ke Paris sesuai ucapanku waktu itu. Aku harap kamu bisa antar aku sebagai perpisahan kita sebelum bertemu lagi di sana!"


"Aku gak janji!"

__ADS_1


Pria tersebut hanya mengangguk saja.


Aileen langsung keluar dari mobil setelah sampai di depan gerbang rumah Amee. Walau merasa ragu untuk masuk, tetapi dia merasa harus mengambilnya malam ini juga.


"Aileen, Abang tunggu di sini, oke?"


Aileen hanya menoleh dan mengangguk saja. Dia membuka gerbang dengan kunci yang dibawanya dan pergi tanpa menghiraukan El sama sekali.


Tepat di depan pintu, dia mendadak ragu untuk membukanya. Dia merasa takut jika tujuannya datang menjadi lain ketika bertemu dengan Randu di dalam.


"Jangan takut Aileen!" Dia menguatkan dirinya sendiri. Aileen memasukkan anak kunci pada lubang kecil di pintunya. Dia cukup yakin kalau kebiasaan Randu akan mencabut anak kunci dan menaruhnya di gantungan khusus, sehingga memudahkannya masuk tanpa harus menganggu mereka.


Suasana rumah begitu sunyi. Lampu ruangan hampir semua dimatikan, sehingga saat dia melangkah masuk harus berhati-hati. Gegas dia langsung menuju ke kamarnya untuk mengambil barangnya dan lekas pergi.


Dia menutup pintu dan menghidupkan lampu kamarnya, tetapi dia dikejutkan dengan sosok yang tidur di kasurnya. Tubuh tinggi itu tidur meringkuk dengan memeluk guling. Selimut yang sudah tersingkap.


Aileen hendak membenahi selimutnya, tetapi dia terlena dengan tubuh tinggi yang sudah lama tidak datang menemuinya itu. Dia melupakan tujuannya datang dan hanya memandangi wajah damai yang sedang tertidur pulas tertidur.


"Kak, kenapa tidur di sini?" gumam Aileen. Dia mengulurkan tangannya dan mengusap lembut wajah tersebut. "Apa yang terjadi? Ada masalah apa?"


Aileen cepat menjauhkan tangannya saat pria tersebut menggaruk wajahnya. Dia akhirnya sadar tujuannya datang untuk apa, lalu mengambil barang yang ingin diambilnya itu.


Aileen kembali menghampiri Randu dan membenahi selimutnya. Namun, dia menjadi terkejut saat tangannya dipegang erat.


"Kak!"


Randu masih tertidur pulas, seolah tidak menyadari jika dia sedang memegang tangan Aileen.


Bukannya berusaha untuk melepaskan tangan tersebut, Aileen malah memilih untuk diam beberapa saat dan memandangi kembali wajah damai itu. "Aku akan tunggu Kakak di apartemen dan mendengarkan penjelasan Kakak yang lama gak ke sana."


"Jangan pergi!" Aileen menghela napas pelan kala mendengar Randu yang mengigau. "Sayang, maafkan saya. Saya salah sudah mengkhianati kamu!"


"Kakak sayang banget sama Mbak Amee, ya?"


Randu berdeham, seolah mendengar ucapan Aileen dan memberi jawaban tersebut.

__ADS_1


perempuan itu lalu mencoba melepaskan genggaman Randu pada tangannya. Berhasil. Dengan hati yang sakit mendengar pengakuan tersebut, meski dirinya sudah mengetahui itu.


"Aileen!" Perempuan tersebut menelan ludahnya kasar, seolah tetangkap basah telah melakukan sesuatu yang berbahaya.


__ADS_2