
"Bagaimana dengan mama selama tinggal di apartemen?"
Randu bertanya setelah Mira sudah kembali ke negaranya menetap saat ini. Dia tidak dapat mengunjungi Aileen di apartemen saat mamanya memaksa menginap karena alasan pekerjaan.
"Mama, hmm ... maksudnya Tante Mira orang yang baik. Selama menginap dia begitu perhatian sama aku. Tante Mira juga banyak cerita tentang Kakak waktu masih kecil!" Aileen tertawa kecil setelah mengatakannya.
Dia sudah menyelesaikan melipat pakaiannya dan memasukkan ke lemari. "Tapi, kenapa kamu kelihatan cemas? Apa terjadi sesuatu?"
Randu menghela napas lega mendengar ucapan Aileen. Pikirannya tentang Mira yang bisa saja mengatakan hal buruk kepada Aileen tidak terjadi.
"Kak, kenapa diam? Kakak benar-benar ada masalah?" Aileen duduk di samping Randu, menangkup wajahnya dan saling tatap.
"Tidak. Hanya merasa sedikit takut kalau mama melakukan hal buruk. Saya mengenal mama, dia orang yang akan melakukan apa saja untuk menggapai keinginannya!"
"Misal?" Aileen tidak paham dengan ucapan Randu barusan. Dia menjauhkan tangannya.
"Apa mama mengatakan sesuatu selain menceritakan tentang saya?"
Randu memperhatikan Aileen yang tampak berpikir. "Ada?"
"Gak. Sudahlah, aku mau ke kamar mandi dulu!" Aileen gegas meninggalkan Randu yang masih terpaku menunggu jawaban.
"Benarkah Mama tidak mengatakan apa pun. Aneh sekali."
***
"Kakak gak pulang?" tanya Aileen yang baru saja bergabung dengan Randu di ruang makan. Dia duduk di kursi depan Randu, memperhatikan wajah suaminya yang sedang serius dengan ponsel dan kopi di masing-masing tangannya.
Randu mengangkat wajahnya, menatap Aileen heran. "Apa kamu mau saya segera pulang?"
Aileen hanya mengangkat bahunya. Seolah tidak peduli jika memang Randu benar-benar pulang. "Aku cuma tanya. Lagian Mbak Amee masih dalam masa pemulihan. Kasihan dia kalau sendiri di rumah!"
Aileen mencomot pisang goreng yang bibi buatkan sebelum kembali ke rumahnya sendiri.
__ADS_1
Randu meletakkan cangkir kopi dan ponselnya. Dia menatap heran Aileen yang terlihat berbeda dari biasanya. "Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu?"
"Tentang?" Kening Aileen berkerut dengan tatapan penuh tanya kepada Randu. Dia kembali mengunyah pisang gorengnya.
"Sikapmu aneh. Kamu seakan sedang menjaga jarak dengan saya. Kamu bahkan begitu santai mengatakan tentang pulang dan Amee."
"Kakak yang aneh. Aku biasa saja. Lagipula yang Tante Mira katakan benar, seharusnya aku ...." Aileen langsung terdiam dan menatap Randu cemas. Dia bangkit berdiri dan terburu-buru berjalan kembali ke kamar. Namun, sebelum dia menutup pintu, Randu sudah berhasil menyusul dan menahan pintu agar tidak bisa tertutup dengan kakinya.
"Ayo bicara. Jangan pergi sebelum kamu selesai mengatakan yang tadi. Ada yang sedang kamu sembunyikan!" Randu menatapnya dengan tajam.
"Kak!" Aileen mengalah, dia menghela napas lalu mengangguk. Dia mengikuti Randu kembali ke ruang makan.
"Saya akan membuatkan susu dulu untukmu. Tunggulah!"
"Iya!"
Randu dengan cekatakan membuatkan susu untuk Aileen, sedangkan Aileen terus saja memperhatikan Randu. Dia tersenyum bahagia, walau berakhir dengan embusan napas yang kasar.
"Terima kasih, Kak!" Dia menerima gelas susu dari Randu. Pria itu duduk di tempatnya lagi, memperhatikan Aileen yang sedang meminum susunya dengan perlahan sampai habis tidak tersisa.
Aileen tidak lagi terlihat terkejut saat itu. Dia sudah terkejut dengan ucapan Mira dan setelah kembali mendengarnya dari Randu, dia hanya berulang kali membuang napas kasar.
"Aileen, apa mama memintamu untuk menjauh dari saya?" Randu menyentuh punggung tangan Aileen dan membuat perempuan itu yang semula menunduk, menatapnya nanar.
"Kak, yang dikatakan Tante Mira memang benar."
Randu mengangkat alisnya lalu mengusap punggung tangan Aileen. Sesaat Aileen melihat apa yang Randu lakukan lalu kembali menatapnya. "Tante memberitahuku tentang batasan-batasan antara aku, Kak Randu, dan Mbak Amee. Tante memintaku untuk gak jadi perempuan yang serakah. Dia memintaku untuk memutus sifat dan kelakuan buruk yang bisa saja mama kandungku turunkan untuk aku!"
Aileen menghela napas pelan. Randu masih saja diam mendengarkan. "Kakak tahu, Tante Mira ternyata tahu kalau awalnya aku mau serakah. Aku mau tetap di sisi Kakak dan anak kita! Membuat Kakak akhirnya hanya melihatku dan melupakan Mbak Amee!" Aileen tertawa kecil melihat reaksi Randu yang terkejut.
"Tapi, Kakak jangan khawatir. Aku sadar diri kok. Aku akan tetap mematuhi kontrak pernikahan kita. Aku akan pergi setelah melahirkan dan memulai hidup baru." Aileen menarik tangannya dan beranjak ke dapur membawa gelas bekas susunya yang telah habis.
Randu terus saja memperhatikan punggung Aileen yang tampak rapuh dari belakang.
__ADS_1
"Sudah malam. Lebih baik Kakak pulang! Aku akan tidur sekarang!" Aileen berlalu dari pandangan Randu yang hanya diam tanpa berkata apa pun setelah itu.
Pria tersebut masih duduk diam di tempatnya dengan pikiran yang kacau. Ponselnya yang terus berdering karena Amee menghubungi tidak dia hiraukan.
Pria tersebut memilih pergi dari apartemen setelah dua jam duduk tanpa melakukan apa-apa.
Mendengar suara pintu yang tertutup, Aileen keluar dari kamarnya. Dia kembali ke ruang makan dan melihat cangkir kopi milik Randu yang masih ada di meja.
"Heem. Maaf, Kak. Tante Mira benar, aku harusnya sadar dengan batasan-batasan yang ada. Cukup membuat kenangan-kenangan sama Kakak beberapa waktu lalu. Aku harus mulai belajar untuk melupakan kalian!"
Aileen memilih duduk di kursi yang tadi menjadi tempat duduk Randu. Dia memegang cangkir yang isinya telah tandas itu. Mengangkatnya dan mendekatkan bibir cangkir pada bibirnya.
"Pergilah sejauh mungkin. Meski aku menyukaimu lebih dari menantuku sendiri, tetapi aku gak akan pernah setuju kamu merusak hubungan mereka. Cukup menjadi baik dengan pergi, jangan menjadi seperti orang tuamu!"
Mira memang tidak mengatakan hal-hal buruk seperti Sika. Mira dan Sika benar-benar berbeda. Namun, ucapan-ucapan Mira tanpa emosi yang akhirnya membuat dirinya sadar. Jika, dia tidak seharusnya menjadi serakah. Keputusannya untuk pergi sudah tepat.
"Tapi, apa hubungan Mbak Amee dengan Kak Seto?" Tiba-tiba saja dia teringat pembicaraan Amee dengan seseorang di telepon yang dia yakini itu Seto.
Tentang Amee yang merasa sudah tidak nyaman dengan Randu.
"Jangan berpikir buruk tentang dia! Amee satu-satunya orang yang peduli denganmu, kan, Aileen!"
Tatapannya terpatri pada cangkir tersebut. Dia lalu mengambil ponselnya dan memotret diri dengan cangkir itu. "Konyol, kenang-kenangan yang benar-benar aneh."
Aileen terkekeh setelah melihat hasilnya. Bukan foto dirinya yang dia ambil, melainkan hanya tangannya dan cangkir itu saja.
Aileen memilih mencuci cangkir kotor tersebut, dia mencucinya dengan hati-hati. Seperti benda berharga. "Mungkin setelah ini dia akan memikirkan dua kali untuk datang ke sini lagi setelah apa yang aku katakan."
Aileen mematikan lampu dan hendak kembali ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti kala mendengar suara seseorang mengetuk pintu.
Aileen melirik jam dinding yang sudah menunjukkan angka dua belas malam. Sudah sangat larut untuk seseorang bertamu. Namun, dia meyakini jika ketukan itu pada pintu apartemennya. Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya yang membuat dia memilih untuk berani membukanya.
"Aileen!"
__ADS_1
Aileen mundur selangkah dengan tatapan terkejut melihat pria di hadapannya itu dalam keadaan babak belur. Pria tersebut bahkan langsung terjatuh dan memeluknya sebelum pingsan.