Skandal Termanis

Skandal Termanis
Perasaan Tak Berbalas


__ADS_3

Seharian Aileen berada di dalam kamar. Dia sama sekali tidak keluar dari kamar setelah kepergian Randu. Dia bahkan mengabaikan bibi yang mengantarkan makan siangnya.


Aileen sibuk dengan laptop yang Randu berikan. Dia sedang berusaha melakukan sesuatu yang menghasilkan rupiah.


"*Kamu, kan, pernah tuh juara lomba nulis artikel waktu SMA. Coba saja kamu kirim artikel ke media online."


"Banyak pekerjaan bagi penulis, Ai. Aku dukung kamu, semoga kamu sukses jadi penulis*!"


Semenjak Adis mengingatkannya tentang kemampuannya itu, Aileen merasa perlu untuk mengembangkannya.


Dia tidak langsung menulis artikel dan mengirimkannya seperti yang Adis katakan, dia memilih kembali berselancar di salah satu akun sosial medianya yang sudah lama tidak dia buka.


"Ternyata benar kata Adis! Selama ini aku cuma mikirin hidupku tanpa ngerti apa itu kerja!"


Aileen banyak mengikuti akun kelas kepenulisan dan juga akun yang aktif men-share pekerjaan sebagai penulis lepas.


"Semoga secepatnya aku bisa kayak dulu lagi!"


Aileen merasa tubuhnya lelah. Dia mematikan laptop yang seharian ini hidup dan terkejut saat melihat sudah menjelang malam. "Astaga, aku seharian ngapain saja?" gerutunya.


Aileen bangkit berdiri menuju kamar mandi. Dia sebenarnya merasa lapar, tetapi memilih untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat.


Tidak memakan waktu lama Aileen mandi, saat dia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar, dia mendengar suara ketukan pintu kamarnya.


Aileen yang hanya mengenakan bathrobe bergegas membuka pintu. "Kak!" Aileen merasa heran melihat Randu yang berdiri di hadapannya dengan tatapan kesal dan khawatir.


Dia membiarkan Randu masuk ke kamarnya dan langsung menutup pintunya.


"Kakak kenapa ke sini? Kenapa gak pulang ke rumah sendiri?" tanya Aileen heran. Dia menghampiri Randu yang duduk di sofa dengan tatapan yang terus tertuju kepadanya.


"Kamu seharian kenapa mengurung diri di kamar? Bibi sampai cemas karena kamu melewatkan makan siang!" Alis Randu terangkat melihat reaksi Aileen yang hanya cengar-cengir tidak jelas.


"Duduk di sini!" Randu menepuk sisi sofa di sampingnya. "Kamu buat saya tidak bisa konsentrasi bekerja!"


"Maaf, Kak. Tapi seharian ini aku keasyikan di depan laptop!"


"Kamu cuma tatap laptop?" tanya Randu heran.


Aileen menggeleng. Dia mendengkus kesal. "Ya gak begitu juga. Maksudnya, aku gunain laptop Kakak untuk aktif lagi di sosial mediaku!"


"Untuk apa?"

__ADS_1


Aileen mendekatkan kepalanya dan berbisik, "Rahasia!" Aileen terkekeh pelan. Setelah itu dia memilih bangkit berdiri. "Aku mau ganti baju dulu!" Aileen langsung pergi ke kamar mandi setelah membawa pakaiannya.


Randu mengangguk saja. Dia menggeleng karena kelakuan Aileen yang begitu menggiurkan di matanya. Aileen yang sedang hamil dan hanya menggunakan bathrobe di atas lutut membuat tubuh kulit mulusnya terekspos. Beruntung saja Randu dapat menahan diri.


"Kak, bibi apa sudah pulang?" tanya Aileen yang sudah rapi dengan daster yang Randu belikan.


"Sudah. Bibi juga sudah masakan untuk makan malam kita!"


Aileen hanya mengangguk. Dia menuju ke meja rias dan duduk. Dia menyisir rambutnya yang begitu halus. "Kak, kayaknya aku perlu potong rambut, deh!" ungkap Aileen sambil memperhatikan Randu dari cermin.


"Kenapa? Apa kamu kesulitan menyisirnya?"


"Bukan. Aku kesulitan waktu keramas. Gimana, boleh?" tanya Aileen sambil terus menyisir rambutnya.


Randu menghampiri Aileen. Dia mengambil alih sisirnya dan menyisir rambut Aileen. Diam-diam perempuan itu tersenyum karena perlakuan Randu kepadanya.


"Kalau memang itu bisa memudahkan kamu untuk keramas, kenapa tidak!"


Aileen berbalik, dia mendongak dan menatap Randu lekat. "Jadi, Kakak kasih izin?"


Randu mengangguk. Tubuhnya langsung dipeluk oleh Aileen. "Makasih, Kak. Kakak suami terbaik!" Dia membenamkan wajahnya pada perut bidang Randu.


"Kenapa kamu harus meminta izin? Kamu bisa melakukan apa saja pada tubuhmu!" ucap Randu sambil membelai rambut Aileen.


Randu mengangguk lemah. "Ya meski hanya selama aku hamil saja, sih. Tapi, aku tetap mau jadi istri yang baik dan berbakti mulai sekarang untuk Kakak!"


Aileen terkejut sekaligus bahagia saat Randu mengecup keningnya lama. Aileen dapat merasakan kasih sayang tulus dari Randu.


"Terima kasih karena kamu mau menghargai saya!"


***


"Kenapa Kakak lihatin aku begitu? Ada yang salah?" tanya Aileen keheranan. Randu terus saja memperhatikan dirinya yang sedang menikmati makan malam.


Randu hanya menggeleng. Namun, Aileen tidak percaya begitu saja. Dia mengusap wajahnya karena mengira ada kotoran di sekitar wajahnya.


"Jangan halangi saya untuk menatap wajah kamu!" Randu menarik tangan Aileen menjauhi wajahnya sendiri.


"Hah! Maksudnya?"


"Kamu makan saja." Aileen menurut, meski dirinya sendiri bingung dengan ucapan Randu dan sikapnya malam ini.

__ADS_1


Aileen kembali menikmati makan malamnya. Dia begitu kelaparan karena melewati jam makan siangnya. "Kakak gak lapar?"


Randu hanya berdeham. "Mau aku suapi?"


Baru juga Aileen bertanya, Randu sudah membuka mulutnya lebar-lebar. Aileen terkekeh dan langsung menyuapi Randu. "Kalau Kakak lapar kenapa gak makan? Malah lihatin aku makan. Huh!"


Randu tidak menggubris ucapan Aileen. Dia kembali meminta disuapi. "Kakak manja banget!"


"Dengan istri sendiri!"


Aileen mengangguk setuju. "Tapi, ini kali kedua aku lihat Kakak manja." Randu mengerutkan keningnya. "Tadi pagi dan sekarang. Apa karena sebenarnya Kakak sudah suka sama aku?" canda Aileen. Dia mengerling nakal dan berhasil membuat Randu tersedak.


"Astaga, Kak. Maaf, aku gak bermaksud buat kakak tersedak!" Aileen memberikan air minum kepada Randu. Dia merasa begitu bersalah karena ucapannya yang langsung membuat Randu tersedak, bahkan wajah suaminya itu sampai memerah.


"Sudah baikan?" tanya Aileen setelah Randu terlihat tenang.


"Sudah."


"Aku minta maaf, Kak. Kakak pasti terkejut sama ucapan aku! Padahal aku cuma becanda!" Aileen menunduk karena merasa bersalah.


Randu menghela napas pelan. Dia menyentuh tangan Aileen yang berada di atas meja. "Saya tersedak bukan karena ucapan kamu!"


"Kakak gak bohong?" tanya Aileen yang kini menatap Randu untuk memastikan jika suaminya itu tidak berbohong.


Randu menggeleng sambil tersenyum. "Makasih, aku janji gak akan bercanda begitu lagi!" Aileen mengangkat tangannya dan memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengahnya. "Janji!"


"Lebih baik kamu habiskan makananmu!" Aileen mengangguk patuh. Dia kembali memakan makanannya, membiarkan Randu yang terdiam sambil terus memperhatikan.


Tidak ada yang bicara, kesunyian menemani mereka. Hanya suara denting sendok dan piring yang saling beradu.


Setelah beberapa menit, Aileen sudah menghabiskan makan malamnya. "Aku akan bereskan ini dulu!"


Randu hanya mengangguk. Dia tidak membantu Aileen yang bolak-balik membawa piring kotor serta makanan yang masih sisa.


Aileen menyimpan makanan yang masih tersisa di lemari pendingin, setelah itu dia mencuci piring bekas makannya tadi.


"Saya harus pulang. Amee sudah di rumah dan dia minta dibelikan sesuatu!"


Tiba-tiba saja Randu menghampirinya, pria itu memeluk tubuh Aileen dan mengusap lembut perut buncitnya itu.


Aileen hanya diam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa, meski sebenarnya dia ingin agar Randu menemaninya malam ini.

__ADS_1


"Kamu harus jaga diri di sini. Besok pagi saya akan mampir ke sini!" Randu menyandarkan dagunya pada pundak Aileen. Dia memperhatikan wajah sedih Aileen dari samping. "Nanti saya akan hubungi kamu!" ucap Randu, setelah itu dia mengecup pipi Aileen sebelum pergi.


__ADS_2