
Aileen terkejut saat melihat Randu kembali ke apartemen. Padahal pria tersebut memberitahu akan membawa Amee pulang saja dan mengistirahatkan tubuh yang masih sakit karena ulah dua orang pria yang mengeroyoknya.
Aileen membiarkan Randu masuk tanpa memberi pertanyaan apa pun kepadanya. "Kakak mau sesuatu?" tanya Aileen saat pria itu masuk ke dalam kamar. Wajahnya terlihat lelah sekali, seakan baru saja menyelesaikan banyak sekali pekerjaan.
Randu hanya menggeleng. Dia menarik tangan Aileen dan memeluknya. "Kak!"
Randu mengeratkan pelukannya saat Aileen hendak menjauhkan diri. Dia menopang dagunya pada bahu Aileen dan mengembuskan napas lelah berulang kali. "Jangan bergerak dulu. Saya ingin menghirup aroma tubuhmu!"
Aileen tersenyum mendengar ucapan Randu, meski dirinya mencemaskan keadaan Randu saat ini. "Aku akan ambilkan minuman! Kakak lepaskan aku dulu, oke!" rayu Aileen. Dia mengusap pelan punggung pria tersebut.
Tidak ada jawaban apa pun. "Kak!"
Randu melepaskan pelukannya dan mengangguk. "Aku akan cepat kembali. Sekarang Kakak istirahat dulu di kamar!" Aileen membukakan pintu kamar dan menyuruh suaminya itu masuk setelah itu dia gegas pergi ke dapur mengambil minuman.
Hanya membutuhkan tujuh menit Aileen sudah kembali ke kamar. Dia membalas senyum Randu kepadanya dan memberikan minuman hangat untuk suaminya itu.
"Gimana? Sebenarnya tadi siang saat Kakak memaksa belanja aku buatkan minuman hangat itu. Tapi, ternyata Kakak gak datang lagi. Baru aku panaskan lagi. Apa masih enak?"
Randu menandaskan minumannya. Dia menyerahkan kembali gelas tersebut kepada Aileen. "Dari mana kamu belajar membuatnya? Bibi?"
"Bukan. Tapi, ibunya Faiz. Ah, aku jadi rindu anak itu!"
"Mau menemuinya?"
Aileen menatap Randu lekat lalu mengangguk. "Saya akan antar!" ujar Randu sungguh-sungguh.
"Sekarang? Ini sudah malam, Kak. kapan-kapan saja. Aku mau Kakak pulih dulu!"
Randu mengangguk pasrah. Dia lalu berkata kembali, "Apa ada masalah dengan Mbak Amee? Terjadi sesuatu?" tanya Aileen memastikan. Awalnya dia ingin menahan diri untuk tidak bertanya, tetapi melihat tatapan dan wajah tertekannya membuat dia tidak dapat menahan diri untuk bertanya.
"Dia marah dan mengira saya membalas perbuatannya!" Randu membuang napas kasar. Dia menyandarkan tubuhnya.
"Maksudnya? Memang apa yang terjadi?" tanya Aileen yang tidak paham. Dia melirik ponselnya yang menyala dan melihat sebuah pesan masuk, tetapi tidak dia hiraukan dan kembali memperhatikan Randu yang kembali terdiam.
"Kak!" Aileen menyentuh tangan Randu. "Kalian bertengkar?"
"Ya. Saya benar-benar tidak mengerti. Mengapa saat ini dia berbeda, seakan menunjukkan sifat aslinya yang selama ini tidak pernah saya tahu!"
Randu menggeser tubuhnya dan meminta Aileen untuk ikut duduk bersandar seperti dirinya di tempat yang tadi dia duduki.
Aileen menurut, dia lalu menyelimuti kaki mereka. "Mungkinkah kamu penasaran apa yang terjadi sampai Amee kecelakaan?"
__ADS_1
Aileen menatap Randu dengan lamat lalu mengangguk saja. "Saya memergokinya dengan pria kemayu itu! Bukan sesuatu yang menjijikan sebenarnya, tetapi melihat gelagatnya yang aneh saat bersama pria itu membuat saya tersulut emosi dan memaksanya untuk kembali hamil!"
Aileen menghela napas pelan. Ucapan Seto kembali terngiang. Saat itu dia hanya mendengar cerita versi pria tersebut dan tidak menanyakannya juga kepada Randu, sebab merasa kesal karena ternyata Randu juga terus memaksa Amee untuk hamil.
"Terus?"
"Dia enggan dan menolak. Bahkan dia bersikeras untuk tidak kembali hamil. Dia menjadi sering marah dan itu yang membuat kami tidur terpisah. Sampai hari itu, kami bertengkar lagi dengan masalah yang sama dan dia pergi dengan keadaan marah."
"Tapi, kenapa saat di rumah sakit Kakak marah banget sama Kak Seto? Kenapa sampai melarang dia jenguk?"
"Saya yakin kalau Seto mengetahui sesuatu tentang Amee yang tidak saya ketahui."
"Kakak pasti tertekan banget saat ini. Tapi, aku yakin, suatu saat Mbak Amee akan memikirkan ulang untuk kembali hamil!"
"Entahlah. Saya tidak tahu!" Randu terlihat begitu frustrasi karena perubahan sikap Amee.
"Tapi, apa Mbak Amee gak tanya Kakak menginap di mana kemarin malam?"
"Tidak. Dia tidak peduli. Bahkan dia sama sekali tidak mau memperbaiki hubungan kita!"
Aileen memeluk Randu, tetapi saat mendengar suara mendesis dari bibir Randu dia kembali menjauhkan tubuhnya. "Maaf, Kak. Aku lupa! Pasti sakit!" ucapnya sambil menyentuh perutnya dengan telunjuk.
***
Melihat bagaimana Amee yang begitu antusias membeli beberapa pakaian bayi membuat Aileen hanya dapat tersenyum bahagia.
Dia begitu yakin jika nanti Amee akan begitu menyayangi bayinya dan dia tidak perlu khawatir dengan kepergiannya.
"Hei, kenapa melamun?" tegur Amee saat dia meminta pendapat Aileen untuk warna apa saja yang harus diambilnya.
"Warna biru bagus, Mbak. Lagian kenapa beli banyak-banyak, Mbak? Bayi itu tumbuh kembangnya cepat, nanti kalau belum dipakai sudah gak muat kasihan!"
Amee mencubit pelan pipi Aileen. Dia tidak menghiraukan ucapannya dan kembali sibuk memilih. "Mbak!"
"Ya?"
"Sepertinya sudah cukup!" Amee melihat perlengkapan bayi yang sudah dipilihnya dan menghela napas.
"Ah, Mbak sampai gak sadar sudah sebanyak ini!" Dia terkekeh pelan.
"Makasih, Mbak!"
__ADS_1
Kening Amee berkerut dengan matanya yang menyipit. "Untuk apa?"
"Kebaikan Mbak Amee! Mbak mau terima dia nantinya. Mbak juga selalu sayang sama aku!" Aileen lalu memeluk Amee, tidak menghiraukan Amee yang mengatakan malu dilihat pengunjung lain.
"Aku gak peduli!"
"Ya sudah!"
Setelah puas memeluk tubuh Amee, dia melepaskannya dan tertawa kecil. "Mbak Amee kita beli stroller?"
"Boleh!" Keduanya pergi ke bagian toko yang lain di mana barang yang akan mereka beli.
Ada begitu banyak model stroller sampai membuat mereka bingung untuk menentukan pilihan. "Warnanya bagus yang cokelat, tapi ada dua model. Yang mana, Mbak?"
"Ah, Mbak juga bingung!" Aileen tersenyum tipis melihat kekesalan di wajah Amee. Terlihat sekali perempuan itu tulus melakukannya dan membuat Aileen terharu. "Boleh kita beli semuanya?"
"Memang Kak Randu izinkan? Atau nanti saja belinya?"
Amee menggeleng. Menolak usulan Aileen. "Sudah kita langsung beli saja. Kita ambil yang ini saja!" Amee mengambil stroller yang sejak awal sudah mencuri perhatiannya.
"Oke!"
Amee meminta untuk Aileen menunggu di kursi yang tersedia di toko, sedangkan dirinya akan membayar semua belanjaan mereka.
Saat sedang menunggu sambil memperhatikan pembeli lain yang lebih banyak diantar suami mereka, membuat Aileen sedikit iri. Dia ingin Randu yang mengantar mereka, tetapi pria itu sibuk.
Aileen menoleh dan terkejut saat Menyadari seseorang duduk di sampingnya. "Kak Randu?"
Pria itu menempelkan telunjuk pada bibirnya. "Sejak kapan?" tanya Aileen dengan berbisik.
"Sejak kamu melamun sambil memperhatikan seisi toko!" Randu memperhatikan Amee yang sedang membayar di kasir. "Dia terlihat bahagia sekali!"
"Kakak benar. Mbak Amee senang banget. Bahkan dia membeli banyak hari ini!"
"Kenapa wajahmu begitu? Tidak senang dengan perlakuannya?"
Aileen menggeleng. "Aku senang, Kak. Cuma aku takut sama reaksi Mbak Amee saat tahu tentang bayi ini!" Dia menatap lekat Randu.
"Jangan khawatir." Randu menepuk pundak Aileen.
"Mas sudah lama sampainya?" tegur Amee yang sudah berdiri di hadapannya mereka. Randu buru-buru menjauhkan tangannya dari tubuh Aileen. "Tadi, Mbak yang paksa Mas Randu untuk jemput kita!"
__ADS_1
"Baru saja." Pria itu berdiri lalu mengambil alih belanjaan dari tangan Amee. Dia langsung keluar toko meninggalkan mereka.