Skandal Termanis

Skandal Termanis
Harus Memulihkan Dirinya Seorang Diri


__ADS_3

"Aku gak bisa lepaskan Randu gitu aja, To. Lima tahun lebih pernikahan kita dan berakhir begitu saja karena dia cemburu!"


"Kalau begitu seharusnya kamu gak setuju dengan perceraian itu! Bujuk dan yakinkan dia!"


"Kamu kira selama ini aku gak lakuin apa yang kamu bilang? Aku sudah bujuk dia, bahkan aku merendahkan diriku sendiri biar dia luluh. Tapi, di hati dia sudah terisi nama orang lain!" Amee menghela napas kasar. "Bahkan sejak awal aku sudah kalah!" Amee menatap Seto dengan tatapan terluka mengingat apa yang Randu katakan jika mantan suaminya itu menyadari mencintai Aileen sejak awal pertemuan mereka. Dia berdiri dan menghampiri Seto yang duduk tenang di sofa.


"Benarkah kamu sama sekali gak cinta sama aku? Perhatian dan kepedulian kamu selama ini sama aku, apa?" Kening Seto berkerut mendengar pertanyaan Amee. Alisnya terangkat lalu berdeham pelan. "Aku bisa saja lupakan Mas Randu, tapi bisakah kamu sepenuhnya jadi milikku?"


"Aku gak mau sakiti kamu. Karena aku gak bisa!" Seto lagi-lagi menolak perasaan yang Amee miliki untuk dia.


Amee melepaskan tangan Seto yang tadi digenggamnya dengan penuh harap. Dia benar-benar kecewa kepada pria di hadapannya itu. "Aku selama ini terus bertahan walau aku tahu kamu punya orientasi menjijikan itu, tapi apa gak ada upaya buatmu berubah?"


"Aku nyaman dengan apa yang diriku alami dan aku gak pernah minta kamu untuk bertahan cinta sama aku!"


Seto pergi meninggalkan Amee di ruang kerjanya. Niat hati ingin menghibur diri karena terlalu marah pada perceraiannya dengan Randu malah kembali diperburuk karena penolakan Seto yang terus saja terjadi.


Amee menoleh ke arah pintu saat seseorang memanggilnya. Dia mendengkus kasar melihat siapa yang datang di saat suasana hatinya benar-benar kacau.


"Kamu!"


"Mbak apa kabar?" Amee tidak menjawab pertanyaan Aileen sama sekali. Dia terus saja memperhatikan langkah adik tirinya itu yang mendekat dan duduk berhadapan dengannya. "Aku ke sini untuk ketemu sama Mbak Amee setelah kemarin kalian resmi bercerai! Tadi aku ke rumah, tapi bibi bilang Mbak pergi ke toko!"


"Mau apa kamu datangi aku? Kamu mau lihat gimana kasihannya aku yang dicerai sama Mas Randu?"


Aileen menggeleng. Dia mengambil sesuatu di tasnya. "Ini, surat rumah yang Kak Randu titipkan sama aku. Dia gak bisa kasih ke kamu langsung karena sibuk!" Aileen meletakkan surat rumah tersebut di meja.

__ADS_1


Alis Amee terangkat melihat berkas yang Aileen letakkan itu, dia lalu menatap Aileen heran. "Haruskah kamu lakuin ini sama aku? Gimanapun aku kakak kamu? Kenapa kamu kelihatan senang dengan perceraianku sama Mas Randu?" Aileen menyeka air matanya yang mengalir tanpa permisi. Dia menatap Aileen dengan tatapan terluka.


"Terserah Mbak mau bilang apa. Yang jelas aku ke sini mau serahkan titipan Mas Randu dan juga aku mau lihat keadaan Mbak Amee!" Aileen menghela napas pelan. Tidak nyaman dengan tatapan Amee yang terasa menyesakkan, dia memperhatikan seisi ruang kerja Amee yang masih terlihat sama seperti terakhir dia datang.


"Seharusnya sejak awal kalian gak pernah ketemu dengan bawa kamu tinggal bersama. Seharusnya juga aku gak biarin anak kamu lahir sampai buat Mas Randu cinta sama kamu!"


"Apa ini, Mbak? Kenapa sekarang kamu bilang begitu seolah-olah aku yang mulai duluan walau memang yang kamu katakan tadi benar. Tapi, bukannya kamu gak pernah cinta sama Kak Randu?"


Amee mendengkus kesal. Dia mengambil kasar berkas yang Aileen serahkan tadi dan memasukkannya ke dalam laci. Mengabaikan Aileen begitu saja. "Lebih baik sekarang kamu pergi! Mbak gak mau ada hubungan apa-apa lagi sama orang yang terlibat dengan Mas Randu!" usir Amee.


***


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Aileen lekas pergi. Urusannya dengan Amee sudah selesai, walau sebenarnya dia begitu terluka.


Ucapan Amee memang benar. Tidak seharusnya dia hadir di antara mereka sejak awal. Namun, Aileen sadar semua memang sudah menjadi bagian dari takdirnya. Selama beberapa bulan ini dia terus memikirkan tentang hal-hal yang dia lakukan dan bisa sampai titik melihat kehancuran keluarga kakaknya sendiri. Namun, melihat Randu yang terus meyakinkannya membuat dirinya memilih untuk tidak terus menyalahkan diri sendiri.


"Kenapa aku gak lihat kamu datang?"


"Aku gak tahu," jawab Aileen malas. Dia hendak mengabaikan Seto dengan pergi menjauh, tetapi pria tersebut malah menahannya. "Kak, lepasin," desis Aileen merasakan genggaman tangan Seto begitu kuat di pergelangan tangannya. Pria tersebut juga menatapnya begitu tajam.


"Kita perlu bicara!"


"Aku gak mau. Safira tunggu aku di rumah!" tolak Aileen sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Seto.


Bukannya merasa kasihan melihat Aileen yang meringis kesakitan, Seto malah tersenyum samar dan menyentak tangan Aileen kasar. "Kamu bisa pulang setelah kita bicara!" Dia kembali memegang tangan Aileen dan menariknya keluar dari toko.

__ADS_1


Seto mengabaikan Aileen yang terus meronta dan beruntungnya mereka sampai berada di parkiran tidak ada karyawan atau pengunjung toko yang memperhatikan mereka.


"Kita masuk mobil dulu. Aku akan bicara di mobil sambil antar kamu pulang," ucap Seto dengan suara yang melunak, tidak seperti tadi, bahkan tatapan pria tersebut tidak lagi menakutkan.


"Kakak bisa bicara di sini gak perlu antar aku pulang!" Aileen kembali menolak Seto.


"Kamu mau Amee lihat kita bicara di sini? Aku gak bisa bawa kamu lagi masuk dan kita bicara di ruanganku. Amee tetap akan tahu!"


"Huh. Ya sudah!"


Tanpa Aileen ketahui, Seto tersenyum samar melihat dirinya yang tadi mencebik karena tidak lagi bisa menolak ajakan Seto.


"Apa aku terlalu kuat tadi? Pergelangan tangan kamu sampai memerah begitu?" Seto melirik dan melihat pergelangan tangan Aileen yang memerah. Dia lalu beralih menatap mata Aileen beberapa saat.


Seto sekali tidak mempermasalahkan Aileen yang tidak mau menjawab pertanyaan. Dia memilih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan beberapa kali memperhatikan Aileen yang hanya diam saja.


"Apa yang tadi kamu bahas sama Amee? Aku kira kamu gak akan pernah temui dia lagi sampai kapan pun!"


"Kakak peduli sama Mbak Amee, tapi kenapa gak bisa terima Mbak Amee?" tanya Aileen balik. Dia mengabaikan pergelangan tangannya yang sakit.


"Apa peduli artinya harus mencintai dan hidup bersama?" Seto bertanya tanpa menatap Aileen dan fokus pada jalanan yang lumayan padat. "Kenapa diam? Apa kamu sudah paham?"


Hanya terdengar helaan napas pelan dari Aileen. "Aku peduli sama dia karena kita sahabat. Dia yang gak pernah menjauh setelah tahu apa yang terjadi padaku. Aileen ...."


Aileen menatap Seto lekat, tidak mengatakan apa pun. "Aku minta sebaiknya kamu gak temui Amee lagi. Kamu tahu sendiri dia bisa mengalami depresi kapan saja. Dia baru saja mengalami hari-hari buruk selama beberapa bulan ini. Bisa?" Seto menoleh sejenak untuk membalas tatapan Aileen.

__ADS_1


Aileen memalingkan wajahnya, senyum Seto seakan mengejek dirinya. "Aku yakin kamu paham. Kamu sekarang bisa bersama pria yang kamu cinta dan dia cinta juga sama kamu. Tapi, Amee ... dia harus memulihkan dirinya seorang diri. Walau aku akan selalu ada di sisinya, aku gak bisa lebih kasih perhatian sama dia. Aku gak mau dia terluka!"


Aileen kembali menghela napas pelan lalu bicara yang membuat Seto terdiam. "Kalau begini Kakak gak seperti orang yang punya kelainan. Kakak seperti pria pada umumnya. Apa sebenarnya Kakak selama ini cuma pura-pura?"


__ADS_2