
Sesampainya Randu di rumah, dia disambut dengan Sasa yang membuka pintu. Remaja itu sampai memeluk Randu, paman dan keponakan itu memang begitu dekat. Dulu saat mereka masih di Indonesia, Randu sering menghabiskan waktu dengan keponakannya itu di saat kedua orang tuanya sibuk bekerja.
Sampai sekarang, mereka masih saja dekat. Sasa sampai tidak canggung meminta gendong Randu. "Sudah, Sa, Om tidak kuat lagi!"
Gadis remaja itu cemberut karena Randu yang menolak keinginannya. "Mau ikut, tidak?" tanya Randu sambil mengacak rambut Sasa karena begitu gemasnya.
"Ke mana?"
"Jalan-jalan! Om mau ajak Tante Aileen dan Safira jalan-jalan. Mungkin kita nanti akan ke kebun binatang dan aquarium!"
Sasa lalu menggeleng cepat. Dia kembali menghempaskan tubuhnya pada sofa dan menikmati camilan yang dibuat Lisa. "Gak deh. Lagian Om sama Tante Aileen jauh-jauh ke sini cuma mau ke kebun binatang. Memang di Indonesia gak ada, apa?"
Randu tersenyum tipis menanggapi ucapan Sasa yang memperhatikannya. "Jadi, mau ikut atau tidak?"
"Gak. Lagian aku gak suka pergi-pergi saat musim panas begini! Lebih enak di rumah!"
Randu tidak lagi membalas ucapan Sasa. Dia memilih pergi ke kamar untuk menemui anak dan istrinya. Namun, dia dibuat bingung saat melihat Aileen yang sedang menangis.
Pria itu lekas menghampiri istrinya setelah menutup pintu rapat. Dia berjongkok di hadapan Aileen yang berusaha menyembunyikan tangisannya. "Ada apa?" tanya Randu heran. Padahal belum lama dia mendengar suara ceria Aileen, tetapi sekarang dia disambut dengan tangisan yang tidak dimengerti alasannya.
Aileen menyerahkan ponselnya kepada Randu. Pria itu membaca pesan masuk di ponsel tersebut dan menghela napas pelan. "Apa kamu mau pulang?"
Aileen menggeleng. Dia menyeka air matanya lalu berkata, "Kita baru saja sampai di sini, Kak. Kasihan Safira juga, dia pasti akan sangat kelelahan nantinya dan bisa saja sakit. Aku cuma sedih, di saat seperti ini aku gak ada di sana!"
Randu menghela napas pelan. Mengusap kedua bahu Aileen dan mencoba membujuknya. "Tapi, mama pasti ingin kamu ada di sana juga. Kita pulang sekarang kalau kamu mau!"
__ADS_1
"Mama gak butuh aku, Kak, bahkan sampai di akhir hidupnya. Kalau pun kita pulang, saat sampai di sana pun mama sudah gak ada, Kak. Kita di sini saja!" Lagi, Aileen memilih untuk menjadi egois dan kali ini dia akan menjadi egois seperti permintaan Sika untuk terakhir kalinya.
Randu mengangguk. "Baiklah!" Pria itu beralih ke Safira yang sejak tadi sibuk dengan dunianya sendiri lalu menggendongnya. "Mamamu sedang sedih, apa sebaiknya kita tidak jadi saja jalan-jalan?"
Safira membalas pertanyaan Randu dengan ocehan yang menggemaskan, bahkan berhasil membuat Aileen tertawa kecil. "Kita tetap akan pergi. Pasti nanti Mama senang kalau diajak jalan-jalan sama papa, iya, kan?"
Aileen menatap Randu lekat dan berkata, "Kakak gak perlu khawatir. Aku baik-baik saja!" Dia mengambil tasnya dan mengajak mereka pergi jalan-jalan sesuai ajakan Randu.
Di ruang tengah, Sasa sedang bersantai. Gadis remaja itu hampir tertidur dengan toples masih dipelukannya. Aileen tersenyum tipis lalu menghampiri Sasa untuk menaruh toples dari tangan Sasa ke meja.
"Jangan bangunkan dia. Dia tidak mau saat kuajak pergi!" Aileen mengurungkan diri saat akan membangunkan Sasa dan mengajaknya ikut bersama mereka.
***
Siang tadi, entah bagaimana sebenarnya yang terjadi saat dirinya akan menjemput Sika di rumah Adis, perempuan paruh baya itu ditemukan tergeletak bersimbah darah di ruang tamu.
Amee mengetahuinya setelah penasaran mendengar suara rintihan orang kesakitan. Penasaran dia mengintip dari jendela dan dikejutkan dengan keadaan Sika tersebut.
"Aku tahu di akhir hidup mama menyesali semuanya. Aku lihat itu dari mata mama, makanya mama larang aku memberitahu Aileen, tapi cepat atau lambat Aileen akan mengetahui tentang kepergian mama yang mendadak ini, kan?"
Dia memperhatikan gundukan tanah yang masih basah dengan bunga yang masih segar itu dengan tatapan nanar. Tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya, akan memiliki kehidupan seperti ini.
Mulai malam ini, hidupnya menjadi benar-benar gelap.
Semua orang benar-benar telah meninggalkannya. Pertama papanya, cinta pertama yang sebenarnya tidak pernah dia miliki seutuhnya. Bagi pria itu, cintanya hanya untuk satu perempuan. Perempuan yang telah melahirkan Aileen.
__ADS_1
Pria setia seperti Randu, dia sia-siakan dan memilih pria yang ternyata hanya memberi luka. Terakhir dia kehilangan tumpuan hidupnya.
"Hah, hidupku miris banget. Bahkan mama yang selalu ada dan mendukung aku, sekarang sudah pergi!"
Amee menoleh ke samping saat merasakan sentuhan pada pundaknya. Dia menatap kedua orang yang mendatanginya. "Kalian di sini?" tanya Amee kepada Adis dan El yang sejak awal pemakaman tidak terlihat.
"Mbak Amee, maaf. Seharusnya aku bisa jaga Tante dengan baik, tapi malah seperti ini!" Adis meraih tangan Amee. Dia menggenggam erat tangan tersebut. "Maaf gak bisa antar pemakaman tante tadi. Aku harus segera melaporkan kejadian siang tadi ke polisi dan aku langsung diperiksa. Besok pagi giliran Mbak Amee ." Adis menyerahkan surat pemanggilan dari kepolisian.
Amee menerimanya dan mengangguk. Dia memeluk sebentar Adis. "Makasih sudah peduli. Aku bahkan belum kepikiran untuk melakukannya." Amee tersenyum tipis walau terlihat sekali jika senyum itu begitu terpaksa. "Jangan merasa bersalah, mamaku memang ditemukan di rumahmu. Tapi, bukan berarti kamu pelakunya!"
"Iya, Mbak!" Adis menatap nisan Sika dan berkata, "Cuma beberapa hari tinggal bersama aku mulai memahami tante. Aku memang pernah kesal sama tante karena benci Aileen, tapi di balik itu aku lihat tante sebenarnya menyayangi Aileen. Tante cuma gengsi saja!"
Adis menatap Amee yang memilih diam mendengarkannya. "Tante juga bilang sama aku, betapa dia sayang sama Mbak Amee. Terlepas dari sikap buruknya selama ini! Aku harap Mbak Amee gak benci Tante!"
"Kamu tenang saja, aku gak pernah membenci mamaku sendiri!" Amee menatap lekat nisan di depannya itu. "Kalau kalian sudah selesai, pergilah. Gak perlu pedulikan aku di sini!"
"Mbak beneran gakpapa kita tinggal? Ini sudah sangat malam, Mbak!"
"Tentu, aku gakpapa. Sejak awal aku memang selalu sendiri, kan? Jadi kamu gak perlu khawatir! Pergilah!"
"Mbak benar. Kalau gitu kita permisi dulu!" ucap Adis, dia lalu memeluk Amee kembali.
"Mereka tampak serasi, aku berharap hubungan mereka selalu erat walau aku tahu, belum ada cinta dari pria itu!"
Amee menghela napas pelan dan kembali membaca pesannya beberapa saat lalu kepada Aileen yang tidak mendapatkan balasan. "Aku harap kamu gak benci mama, Aileen!" Dia lalu memilih pergi meninggalkan makam Sika.
__ADS_1