Skandal Termanis

Skandal Termanis
Diam dan Dengarkan


__ADS_3

"Apa yang bawa kamu ke sini? Safira sama mama di rumah!" Aileen hanya mengangguk, dia mengambil sesuatu dari tasnya.


Aileen menyerahkan amplop coklat kepada Amee dengan meletakkan di meja. "Aku kembalikan uangnya, Mbak."


"Kenapa?" tanya Amee heran. Dia memperhatikan Aileen yang terlihat begitu tenang. "Kamu jangan berpikiran kalau Mbak mau memisahkan kamu sama Safira. Mbak memberikan kamu uang untuk tambahan biaya pendidikan kamu!"


"Aku tahu, Mbak. Mbak Amee tenang saja, aku mengembalikan uang itu karena merasa gak membutuhkannya. Aku berutang budi karena Mbak sudah mau merawat Safira."


Amee mendesah pelan. Dia mengambil amplop cokelat berisi sejumlah uang itu dan memasukkannya ke dalam laci. "Lalu apa yang akan kamu lakukan ke depannya? Mbak harap kamu jadi untuk lanjut kuliah S2!"


"Aku akan lanjut, tapi aku minta satu hal sama Mbak! Bisa?"


Dahi Amee berkerut karena pertanyaan Aileen yang terdengar begitu serius. Dia lalu mengangguk. "Katakan saja!"


"Sebenarnya aku mengetahui Mbak Amee dan Kak Seto ada hubungan, tapi aku cuma berharap apa yang terjadi di antara kalian gak berpengaruh dengan Safira. Mbak, aku harap untuk tetap pertahankan hubungan kalian dalam pernikahan. Kasih Safira keluarga yang utuh!"


Aileen diam sesaat lalu melanjutkan kembali ucapannya, "Lupakan Kak Seto. Aku akan menganggap apa yang kulihat waktu itu gak pernah terjadi!"


"Apa maksudnya dengan kejadian waktu itu?" Hubungan Mbak dan Seto gak seperti yang kamu pikirkan!" Amee menjelaskan, dia sudah menahan kesal dengan ucapan adiknya itu.


Aileen menggigit bibir bagian dalamnya, dia tidak tahu harus mengatakannya atau tidak. Namun, dia memikirkan tentang Safira yang harus mendapatkan kasih sayang utuh dari mereka.


"Aileen, kenapa diam?" tegur Amee kesal.


"Sebenarnya hari di mana aku jatuh dan pendarahan itu, sebelumnya aku melihat kalian melakukan sesuatu yang ... dan Kak Seto mengetahui aku saat itu."


Amee mengangkat tangannya meminta Aileen berhenti bicara. Dia menatap tajam kepada Aileen, hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini.


Amee membuang napas kasar lalu berkata dengan tenang, "Cukup, Aileen. Mbak akan katakan yang sebenarnya agar kamu gak salah paham. Dan untuk urusan Safira dia sudah jadi tanggung jawab Mbak dan Mas Randu. Kamu gak berhak lagi ikut campur!" Dia tersenyum sinis kepada Aileen.


"Mbak tapi, Safira ...."


"Diam dan dengarkan dulu. Mbak akan jelaskan!"

__ADS_1


Aileen menggeleng. "Mbak menjelaskan tentang hubungan kalian, tapi gimana dengan Safira? Kalau Mbak bilang begitu jadi aku sama sekali gak ada hak untuk anakku itu?" tanya Aileen kesal. Dia sudah melewati batasan.


"Dia anak Mbak dan Mas Randu sekarang dan kamu setuju sejak awal. Seharusnya kamu tahu, resiko melepaskan Safira dan memberikannya kepada kita."


Aileen menunduk, dia lepas kendali karena ucapan Amee tentang dirinya yang tidak lagi memiliki hak atas Safira. "Maafkan aku!" ucapnya setelah kembali tenang. Aileen lalu menatap Amee lekat. "Lalu tentang hubungan terlarang kalian?"


Amee tertawa kecil. "Hubungan terlarang gimana? Mbak dan Seto hanya bersahabat. Yang kamu lihat saat itu sebagai bentuk perasaan tulus Mbak sama dia yang gak mungkin bisa berbalas sampai kapan pun!" Dia mendengkus kesal setelah mengatakannya.


"Maksudnya?"


"Mbak mencintai Seto sejak awal, tapi kamu tahu sendiri kondisinya gimana? Dia memiliki kecendrungan yang lain. Mbak gak pernah mencintai Mas Randu, yang selama ini terjadi cuma untuk mengalihkan rasa cinta Mbak untuk Seto. Dan mengenai Safira kamu tenang saja, sampai kapan pun Mbak dan Mas Randu gak akan berpisah karena Safira atau bukan ... asal kamu bisa tutup mulut!"


Ucapan terakhir Amee bernada ancaman untuk Aileen. Dia merinding dengan tatapan tajam Amee kepadanya dan tentang Amee yang ternyata mempermainkan perasaan Randu.


Pria yang dicintainya dan masih dicintainya sampai kini.


"Tapi, kenapa Mbak lakukan itu? Gimana kalau Kak Randu tahu dengan sendirinya?" tanya Aileen sembari menahan diri untuk tidak memaki kakaknya yang ternyata lebih buruk darinya.


"Mbak seyakin itu?"


Amee mengangguk. "Karena dia mencinta Mbak."


"Tapi hati seseorang bisa saja berubah, Mbak!" Amee mengangguk setuju.


"Aku tahu. Sekarang kamu sudah tahu rahasia Mbak yang sebenarnya gak akan pernah mau Mbak katakan. Sekarang jadilah adik yang baik dengan pergi menjauh dari suami dan anakku!"


"Mbak aku ...."


Amee bangkit berdiri. Dia membuat Aileen tidak dapat melanjutkan ucapannya lagi. "Mbak banyak pekerjaan dan secepatnya harus pulang. Pasti Safira menunggu!" Dia melenggang pergi meninggalkan Aileen yang terdiam dengan rasa kecewa kepada Amee.


Dia mengira Seto lah yang menggodanya dan mengatakan hal seperti itu kepada Seto, ternyata Amee orang yang berbahaya. Dia menjadikan seseorang yang begitu tulus mencintainya sebagai tameng.


"Apa yang akan terjadi sama Kak Randu?" Aileen mengembuskan napas pelan lalu beranjak pergi dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Dia hendak keluar, tetapi terkejut saat melihat Randu berada di dalam toko dan sedang bicara dengan Amee.


Mereka tampak intim, apalagi tidak ragu memamerkan kemesraan di depan karyawan, Seto, dan juga pembeli.


Aileen bertatapan dengan Amee yang melihatnya, dia tersenyum canggung dan memilih pergi lewat pintu belakang toko.


"Permisi, bisa antarkan untuk ke pintu belakang?" pinta Aileen kepada salah satu karyawan. Dia mengikuti karyawan itu yang membawanya ke pintu belakang dan keluar dari sana dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.


"Betapa beruntungnya jadi Mbak Amee. Semua orang menerimanya, Kak Randu begitu mencintainya, dan kini Safira juga menjadi miliknya!"


Aileen merasa kalah telak dengan Amee. Jika saja tadi Amee tidak mengatakan Randu begitu mencintainya, dia sudah akan merebut Randu. Namun, melihat kemesraan mereka yang dikatakan Amee memang benar.


"Lalu apa yang dia tanyakan malam itu?"


Aileen tertawa pelan lalu menghapus air matanya yang mengalir tanpa permisi.


***


"Kenapa, Mas?" tanya Amee heran melihat Randu melepaskan pelukannya. Randu terlihat celingukan di dalam distro mencari seseorang.


"Mas!" tegur Amee kesal diabaikan.


"Oh, tidak. Saya tadi seperti melihat seseorang yang saya kenal."


Amee mengangguk, perempuan itu melirik ke arah ruangannya tempat tadi dirinya dan Aileen bicara.


"Sebagai permintaan maaf tadi pagi karena mengabaikan kamu, saya mau ajak kamu makan siang bersama!"


Amee mengangguk senang. "Tunggu sebentar, aku akan ambil tas!" Amee mengecup pipi Randu sebelum beranjak pergi ke ruangannya.


Dia bernapas lega saat tidak mendapati Aileen lagi di sana. "Dia pasti pergi lewat pintu belakang," gumamnya sambil mengambil tas di kursi dan keluar dari sana.


"Pergilah Aileen, Mbak akan merawat mereka dengan baik!"

__ADS_1


__ADS_2