
Aileen dibuat terkejut dengan kedatangan Amee ke apartemen pagi-pagi sekali. Dia tidak tahu apa yang dilakukan kakaknya itu. Namun, yang dia lihat interaksi Amee dan Mira yang begitu kompak dan akrab, membuat dirinya merasa iri.
Saat Aileen akan kembali masuk ke kamar, Bi Siti sudah lebih dulu menyadari keberadaannya. Aileen akhirnya memilih menghampiri mereka. Dia melihat Amee yang tiba-tiba menjadi canggung.
"Mbak Amee sejak kapan di sini?" Aileen mendekat dan bertanya kepada Amee terlebih dahulu.
"Mbak baru setengah jam di sini, Mama Mira minta Mbak datang!" Aileen mengangguk. Dia memperhatikan Mira yang sama sekali tidak peduli dengannya.
"Am, tolong Mama kamu bersihkan kulit udangnya, ya!"
"Biar aku bantu, Tante!" Aileen mendekat hendak mengambil alih udang tersebut, tetapi Mira menatapnya tajam dan membuat Aileen memilih menghindar.
Aileen tidak tahu harus melakukan apa di situasi yang begitu canggung ini. Dia akhirnya memilih membantu membalik ayam yang sedang digoreng, tetapi karena tidak hati-hati dia terkena cipratan minyak panas.
"Akh!"
"Neng gakpapa?" Bi Siti menghampiri Aileen dan melihat punggung tangan Aileen mulai memerah karena terkena cipratan minyak panas tersebut. "Ini harus segera diobati!"
Aileen mengikuti Bi Siti yang membawanya menjauh dari dapur dan menyuruhnya duduk di sofa. "Tunggu sebentar di sini, Neng!" Aileen hanya mengangguk. Dia menoleh ke belakang ke arah dapur. Tidak ada dari keduanya yang peduli.
Aileen merasa sedih, dia hanya bisa menghela napas pelan. Terlalu sulit untuk meluluhkan hati Mira, sedangkan masih ada Amee di antara mereka.
Tidak lama Bi Siti datang dan mengolesi lukanya dengan salep. "Makasih, Bi!"
"Maaf, Bibi harusnya biarkan saja Neng Aileen balik ke kamar. Bibi minta maaf, Neng!"
Aileen tersenyum tipis dia lalu meraih tangan Bi Siti dan menggenggamnya erat. "Bibi gak perlu minta maaf. Lagian juga ini salah aku karena gak hati-hati!"
Bi Siti tidak mengatakan apa pun. Dia memilih diam saja dan pamit kembali ke dapur saat Mira memanggilnya. "Huh. Apa aku bisa buat Tante Mira terima aku?" gumamnya pelan.
"Kamu gak akan mungkin bisa luluhkan hati mama, Aileen! Menyerahlah!"
Aileen menoleh ke sampingnya, Amee berdiri di sana dengan menatapnya remeh lalu pindah duduk di sampingnya. "Aku terkejut saat Mama Mira minta aku datang. Aku kira gak akan lagi datang ke sini, ternyata salah. Dan kurasa dia gak akan pernah kasih izin Mas Randu nikahi kamu karena Mama Mira cuma mau aku yang jadi menantunya."
"Kenapa Mbak seyakin itu?" tanya Aileen kesal. Dia melihat Amee yang benar-benar berbeda dari Amee yang pernah dia kenal.
"Kamu seharusnya gak jadi keterbelakangan begini, Aileen. Tentu saja saja Mama Mira gak mau kalau dia punya menantu yang ibunya saja perempuan perebut suami orang!"
__ADS_1
tangan Aileen mengepal, dia ingin sekali meninju wajah mengejek Amee yang menatapnya. Dia yakin wajahnya memerah, bukan karena malu, tetapi karena marah. Marah akibat ucapan Amee yang sama sekali tidak pernah dia sangka.
"Aku salah menilai Mbak Amee!" Amee mengangkat sebelah alisnya menatap Aileen penuh tanya. "Kukira Mbak Amee bisa menerima aku sebagai adik itu tulus, aku kira Mbak Amee beda dari mama yang benci aku. Sayangnya, aku salah besar karena pernah mengira hal itu. Mbak Amee sama seperti mereka!"
Amee terkekeh pelan. Dia menatap Aileen tajam. "Kamu yang buat aku begini! Kalau kamu gak pernah masuk ke dalam rumah tanggaku, merayu suamiku sampai hamil semua gak akan kejadian!"
"Mbak!" bentak Aileen kesal. "Apa aku perlu ingatkan lagi? Mbak yang bawa aku masuk, bukan aku yang masuk sendiri. Dan aku gak pernah merayu Kak Randu. Lagipula Mbak Amee gak pernah cinta sama Kak Randu, kenapa sekarang merasa dikhianati perasaannya?"
"Kamu!" Amee terpancing emosi karena ucapan Aileen. Dia berdiri menjauh dari Aileen yang sekarang mendongak untuk menatapnya. "Kamu benar-benar gak tahu diri, Aileen!"
"Aku memang perempuan gak tahu diri, Mbak. Tapi, aku lakukan itu untuk menyelamatkan Kak Randu. Aku tulus cinta sama Kak Randu, bukannya kayak Mbak yang malah memanfaatkan Kak Randu!"
"Cukup Aileen!" teriak Amee. Setelah itu dia mengambil vas bunga di meja dan membantingnya kuat.
Amee mulai di luar kendali. Dia menatap Aileen dengan sorot mata tajam, dia lalu menjambak rambutnya sendiri dan berteriak histeris.
Aileen tentu saja menjadi panik, tidak pernah mengira Amee akan seperti yang dia lihat saat ini. Dia menghampiri Amee dan mencoba menenangkannya. Namun, Amee mendorong Aileen sampai tersungkur ke lantai.
Naas bagi Aileen karena lengannya tergores vas bunga yang pecah. "Mbak!" Aileen menatap Amee yang terus saja berteriak histeris. Dia merusak beberapa hiasan di sekitar televisi sampai berserakan di lantai.
"Ini yang kamu mau, kan? Kamu rebut Mas Randu dari aku, kamu rebut Safira dan sekarang kamu mau rebut Mama Mira juga? Dasar adik tidak tahu diri!"
Aileen menggeleng takut. Dia tidak mau Amee melukai dirinya sendiri lalu dengan keberanian berdiri untuk mencegah Amee berbuat nekat. "Menjauh atau aku benar-benar akan melukai diriku sendiri!"
"Mbak jangan begini, tolong jangan lakukan itu. Jangan lukai diri sendiri, Mbak. Aku minta maaf, aku salah!" Aileen menangis ketakutan.
Amee menatap nyalang Aileen. Dia tertawa keras lalu menempelkan ujung runcing pecahan vas tersebut pada pergelangan tangannya.
"Mbak aku mohon, jangan lakukan itu," pinta Aileen panik. Dia tidak mau Amee melakukan hal mengerikan karena tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri.
"Kenapa? Bukannya kamu harusnya senang? Mereka semua akan jadi milikmu! Aku punya apa Aileen? Gak ada! Bahkan Seto gak pernah cinta sama aku! Lebih baik aku pergi selamanya!"
Aileen terkejut melihat darah segar dari tangan Amee, tanpa pikir panjang dia menarik tangan Amee dan mendorong tubuh Amee sampai tersungkur.
"Mbak sadar. Kenapa lakukan hal seperti ini!" Aileen berhasil menjauhkan pecahan vas tersebut, walau begitu pergelangan tangan Amee terluka dengan darah segar keluar cukup banyak.
"Bi Siti, cepat telepon Randu suruh ke sini!"
__ADS_1
Mira yang sejak tadi diam dan hanya menyaksikan perdebatan mereka akhirnya menyuruh Bi Siti menghubungi Randu. "Ma ...." Amee menangis melihat Mira yang sama sekali tidak berani mendekatinya.
"Mbak, kita ke rumah sakit, ya!"
"Pergi kamu!"
"Gak Mbak. Aku gak akan biarkan Mbak Amee begini sendiri. Luka Mbak Amee parah!" Tanpa pikir panjang Aileen merobek sedikit pakaiannya lalu membebat luka Amee agar darahnya tidak terus keluar.
"Safira!" Aileen mendengar suara tangisan Safira yang sedang di kamar sendirian. Dia melihat Mira yang pergi ke kamar Aileen untuk menemui Safira.
"Kenapa kamu jahat Aileen? Kamu ambil semua orang yang aku sayang!" Amee menangis membuat Aileen benar-benar merasa bersalah. Dia sadar jika telah menyebabkan Amee seperti ini.
Amee yang dulu begitu baik dan penyayang dia rusak dengan keegoisannya, sehingga membuat perempuan berhati seperti malaikat itu menjadi begitu rapuh. "Maaf, Mbak!"
"Apa yang terjadi?"
Aileen menoleh dan menghela napas lega saat melihat Randu sudah datang. Pria tersebut menghampiri mereka dan memperhatikan Amee yang tersenyum manis kepadanya dengan wajah pucat.
"Kak, tolong bawa Mbak Amee ke rumah sakit," pinta Aileen. Dia memilih berdiri dan pergi ke kamar meninggalkan mereka.
"Mas, aku butuh kamu!" Amee menahan tangan Randu agar tidak pergi menyusul Aileen yang pergi ke kamar.
"Apa yang terjadi?"
Amee tersenyum tipis lalu memperlihatkan luka di pergelangan tangannya. "Aku menyayat tanganku. Aileen yang buat aku begini, dia buat aku marah, Mas!" adu Amee seperti anak kecil. Tanpa terus mendengarkan ucapan Amee, Randu mengangkat tubuh Amee dan membawanya keluar dari apartemen.
***
Di kamar, Aileen begitu canggung saat Mira memperhatikannya yang masih dengan pakaian sobek dan lengan terluka.
Dia pergi ke arah lemari dan mengambil pakaian ganti tanpa peduli dengan tatapan Mira kepadanya. Setelah menemukan pakaian yang akan dipakainya, Aileen memilih langsung menggantinya di depan Mira.
"Lukamu harus diobati!" Aileen hanya mengangguk saja tanpa berniat menjawab. "Apa Randu sudah datang?"
Aileen berbalik dan menatap Mira lekat. Dia menghampiri perempuan paruh baya tersebut. "Tante, aku minta maaf karena sudah buat keributan pagi ini!" Dia lalu memperhatikan Safira dan kembali menatap Mira.
"Aku sudah sadar kalau aku memang salah karena hadir di hidup mereka. Aku yang buat mereka berpisah! Maaf," ucapnya pelan. Aileen lalu pergi keluar dari kamar meninggalkan Mira dan Safira.
__ADS_1