
Hari ini jadwal pemeriksaan kandungan Aileen, beruntung Amee dan Randu yang mengingatkannya dan mengantarkannya nanti.
Aileen sudah bersiap-siap, meski sudah satu jam dia bingung untuk mengenakan pakaian apa. Hampir semua pakaiannya terasa sesak, membuatnya enggan untuk mengenakannya.
"Neng belum siap?" tanya Bibi yang tiba-tiba saja masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu.
Aileen memilih untuk tidak mempermasalahkannya. Dia menggeleng lemah. "Bibi bisa bantu aku?" pinta Airi penuh harap.
Perempuan baya itu menghampiri Airi yang sedang memandangi pakaian berserakannya di ranjang. "Kenapa Neng? Bajunya kekecilan?"
"Iya, Bi. Sebenarnya ada, sih, baju yang dibelikan Kak Randu. Tapi aku gak suka waktunya!" Aileen mengambil baju yang dimaksud dan memperlihatkannya kepada bibi.
Perempuan baya itu tersenyum tipis dan mengambil baju itu. Dia lalu melekatkan dengan tubuh Aileen. "Ini cocok kok. Warna bajunya juga buat kulit Neng tambah bersih. Cantik, Mas Randu memang pintar pilih bajunya!"
"Bibi yakin?" tanya Aileen ragu. Dia tidak pernah menggunakan pakaian berwarna kuning, memang sejak dulu Aileen sangat menghindari pakaian berwarna kuning.
"Ini cantik di kulit Neng, deh. Warnanya kayak lemon."
"Eem, aku coba deh. Bibi bisa kasih tahu Kak Randu dan Mbak Amee untuk tunggu sebentar ya!" Aileen lekas ke kamar mandi untuk mengenakannya.
Tidak berapa lama Aileen keluar dari kamar mandi dan beralih ke cermin untuk berias diri. Dia hanya memoles tipis wajahnya dan menggunakan lipstik berwarna pink. Untuk mempermanis bajunya yang panjangnya hanya sebatas lutut dengan renda di bagian bawahnya, Aileen mengenakan flatshoes tanpa hak berwarna cream.
"Sempurna!" Aileen merasa puas dengan penampilannya, meski ada sedikit rasa tidak nyaman dengan warna pakaiannya itu.
Dia gegas keluar dari kamar menemui Amee dan Randu yang sudah menunggunya di ruang tamu. Namun, saat dia berada di ruang tamu, hanya ada Randu yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon tanpa Amee.
"Bi, Mbak Amee?" Aileen menghampiri Bibi yang membawakan minuman untuk Randu.
"Oh, Neng Amee gak datang."
"Hah? Jadi cuma berdua saja?" gumam Aileen. Dia merasa sedikit gugup sekarang. Apalagi saat Randu menyadari kehadirannya dan tatapan pria itu tidak lepas memandang.
Aileen tersenyum canggung membalas tatapan Randu dan menghampirinya. "Kak, aku sudah siap!"
Randu mengangguk. "Kamu sudah siap?" Aileen berdeham. Dia terlihat menelan ludahnya saat Aileen mendekatinya.
__ADS_1
"Kakak kenapa tatap aku begitu? Apa aku kelihatan aneh?" Aileen memperjuangkan penampilannya sendiri karena Randu yang terus menatapnya.
Tidak ada yang aneh menurutnya, hanya saja bedanya perut yang buncit.
"Tidak! Kamu terlihat makin cantik. Iya, kan, Bi?" Randu meminta pembelaan dari Bibi yang hanya diangguki saja. "Ayo berangkat."
"Tapi, tehnya ...."
Randu hanya melirik cangkir teh yang masih belum sentuhnya sama sekali. "Bibi simpan saja dulu. Nanti setelah pulang dari rumah sakit aku akan minum!"
"Tapi pasti rasanya beda, Kak!" papar Aileen yang merasa kasihan kepada bibi karena teh buatannya belum diminum sama sekali.
"Gakpapa, Neng. Kalian berangkat saja dulu. Jangan sampai telat!"
Randu langsung menarik lembut tangan Aileen mengajaknya segera pergi.
Pria tersebut sama sekali tidak melepaskan genggamannya, bahkan saat mereka memasuki lift dan ada orang lain di dalamnya, Randu seolah tidak peduli. Dia makin mengeratkan genggamannya tersebut.
"Kak, aku gak akan pergi ke mana pun kok! Kakak bisa lepasin tangan aku," bisik Aileen agar Randu mau melepaskan genggaman tangannya. Namun, bukannya melepaskan Randu malah menarik tubuh Aileen agar lebih dekat dengannya.
"Nikmati saja!" bisik Randu mengerlingkan matanya. Dia tersenyum tipis saat melihat wajah pasrah Aileen.
***
Dokter menjelaskan jika kondisi kandungan Aileen baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bahkan dokter mengatakan jika Aileen bisa hari itu juga melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin janinnya.
Awalnya Aileen memilih untuk tetap tidak mengetahui jenis kelamin janinnya karena dia merasa tidak perlu menjadi dekat dengan janin yang dikandungnya. Namun, Randu begitu bersemangat untuk mengetahuinya, apalagi dia beralasan Amee pun sangat ingin tahu untuk mempersiapkan perlengkapan bayi mereka.
"Aku takut, Kak!" ungkap Aileen. Tangannya tidak mau melepaskan genggamannya pada Randu.
"Kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja!" Randu menguatkan Aileen.
Dokter hanya tersenyum memperhatikan kepedulian Randu yang selalu berada di sisi Aileen.
Saat dokter mengoleskan gel khusus pada perut Aileen, setelah menempelkan transducer dan menggerakkan pada area perut. Aileen memilih untuk memejamkan mata, berbeda dengan Randu yang begitu fokus memperjuangkan monitor yang memperlihatkan posisi janin.
__ADS_1
"Lihatlah, bayinya sedang malu-malu memperlihatkan alat kelaminnya, tetapi wajahnya sangat mirip dengan ayahnya, apalagi bagian hidungnya yang mancung," ucap dokter sambil terus menggerakkan alat tersebut.
Aileen mendadak menjadi penasaran. Perlahan dia membuka mata, hal pertama yang dilihatnya wajah Randu yang terlihat terpesona dengan gambar di layar.
Penasaran dengan apa yang Randu lihat, Aileen pun meliriknya. Ada debaran aneh yang dia rasakan apalagi saat dokter mengatakan mereka bisa mendengar suara detak jantung bayinya.
Randu begitu bersemangat dan senang saat didengarkan detak jantung bayi mereka, berbeda dengan Aileen yang malah menangis sesegukan.
***
Tidak hentinya Aileen terus memandangi foto hasil USG kandungannya. Dia terharu dan merasakan kehangatan yang mendalam.
Dulu, saat pertama kali mengetahui dirinya hamil Aileen benar-benar menolak, meski dia tidak pernah berniat untuk mengugurkannya. Namun, begitu dia sama sekali tidak pernah memeriksakan kandungan.
"Apa kamu begitu bahagia?" Aileen menoleh dan mengangguk. "Kamu dengar, kan, dokter bilang kalau bayi itu wajahnya mirip saya? Saya sudah menduganya dari awal. Bahkan saya meyakini dia laki-laki!"
Aileen hanya tersenyum mendengar ucapan dari Randu. Dia mendekap foto USG tersebut dengan erat. "Aku akan menyimpan foto ini, Kak. Boleh?" Randu mengangguk. Dia sudah memiliki dua foto USG dan akan diberikan kepada Amee.
"Kak, apa aku harus berpisah dengan bayi ini nantinya?" tanya Aileen dengan bibir gemetar. Dia berusaha untuk tidak menangis.
Randu menghela napas berat. Dia tidak menjawab pertanyaan Aileen, melainkan malah mengusap kepala Aileen lembut. "Maaf!"
Aileen mengangguk lemah. "Aku cuma memastikan saja, Kak. Kakak gak perlu merasa bersalah dan minta maaf." Aileen memalingkan wajahnya, dia tidak mau Randu melihatnya menangis, meskipun suaminya mengetahui itu.
Aileen sadar, ibarat nasi telah menjadi bubur. Dia sudah tidak mungkin untuk membatalkan perjanjian tersebut. Walau awalnya dia mengira tidak akan pernah memiliki perasaan sayang terhadap janin yang dikandungnya, sayangnya perasaan itu hadir setelah dia mendengarkan detak jantungnya.
"Mau makan sesuatu?" tanya Randu dan Aileen hanya menggeleng.
Setelah itu mereka memilih diam. Randu memilih diam dan Aileen memilih diam juga. Sesampainya di apartemen, Aileen memutuskan untuk ke kamarnya. Dia juga mengunci pintu kamarnya.
Aileen hanya ingin sendiri menenangkan perasaannya yang kacau.
Aileen tidak tahu akan sesakit ini ketika memikirkan dirinya yang akan berpisah dengan bayinya nanti, beberapa bulan lagi kondisi itu akan terjadi. Dia akan pergi dengan kenangan paling menyakitkan.
"Sebaiknya jangan ganggu dia dulu. Biarkan dia tenang dulu!"
__ADS_1
"Randu titip Aileen. Malam ini Bibi menginaplah di sini, temani dia!" Bibi tidak memberi jawaban apa pun.