
"Makasih banget Mbak Amee mau temani aku ke butik untuk pilih gaun pengantinku!" Aileen begitu senang saat Amee mau mengantarnya ke butik di saat Randu mengatakan harus pergi ke luar kota dan kembali esok hari.
Tidak lupa dia pergi dengan membawa Safira juga.
"Iya, hari ini juga Mbak lagi gak sibuk makanya bisa! Oh, ya, kamu mau pilih gaun yang itu?" tanya Amee. Dia memilih mengambil alih Safira untuk digendongnya dan menghampiri Aileen.
Aileen mengangguk dan begitu senang memperhatikan gaun yang terlihat begitu sederhana, tetapi begitu elegan. "Menurut Mbak Amee gimana? Bagus gak?"
"Bagus kok, tapi kamu yakin Mas Randu bakal bolehin?"
Kening Aileen berkerut karena mendengar pertanyaan Amee tersebut. "Mbak bukannya apa-apa. Cuma Mbak tuh tahu banget gimana seleranya Mas Randu. Dulu saja waktu kita mau nikah, dia larang Mbak loh pakai gaun yang punggungnya terbuka begini!" ucap Amee terlihat begitu senang.
Dia kembali bernostalgia saat pertama kali datang ke butik bersama Randu mencari gaun untuk dikenakan saat menikah.
Aileen tersenyum masam lalu berkata, "Jadi, menurut Mbak Amee aku harus pilih yang mana?"
"Sebentar!" Amee langsung sibuk mencarikan gaun yang cocok untuk Aileen kenakan.
Saat sedang mencarinya, Aileen hanya diam memperhatikan dengan tatapan yang tidak suka. Namun, dirinya memilih menahan diri untuk tidak membantah ucapan Amee.
"Bagaimana dengan yang ini?" Amee memperlihatkan gaun dengan full bahan lace yang simpel dan anggun. Bagian depannya berbentuk V-neck dengan kancing depan. Sayang, walau terlihat begitu cantik, Aileen tidak menyukainya.
"Coba dulu deh. Mbak yakin kamu pasti akan suka!"
"Mbak yakin?" Amee mengangguk yakin, dia sedikit mendorong Aileen untuk masuk ke ruang ganti dengan ditemani seorang pekerja.
"Apa ini terlihat cantik?" tanya Aileen kepada perempuan muda yang membantunya mengenakan gaun indah tersebut.
"Sangat cantik di tubuh Anda. Apa Anda kurang nyaman menggunakannya?" Aileen mengangguk. "Mau saya pilihkan gaun yang lain?"
"Boleh. Makasih, tapi sebelum itu biarkan aku kasih lihat dulu dengan kakakku!" ucap Aileen. Dia tidak mau mengecewakan Amee dan memilih tetap mencobanya.
Saat Aileen keluar dari ruang ganti dan menemui Amee, perempuan itu tampak takjub dan menyuruh Aileen memilih saja gaun itu. "Tapi, aku kurang suka sama modelnya, Mbak! Apalagi ekor gaunnya menurutku terlalu panjang!"
"Padahal Mas Randu suka dengan gaun yang seperti itu loh!"
Aileen mendengkus pelan. Dia mengangguk pasrah, tetapi sudah sangat kesal dengan Amee dan kembali ke ruang ganti.
__ADS_1
"Saya mengambilkan gaun ini untuk Anda. Sepertinya ini akan sangat cocok dipakai dengan Anda. Sesuai juga dengan warna kulit Anda."
"Benarkah? Kalau gitu aku mau coba!"
Aileen berganti dengan mencoba mengenakan gaun simpel model floor - length dengan aksen brokat di lengan. "Gimana?" tanya Aileen dengan perempuan muda itu.
"Ini indah."
"Menurutmu aku harus pilih ini atau yang tadi?"
Perempuan muda itu tersenyum manis setelah menyadari Aileen yang tiba-tiba saja mengalami dilema. Namun, dia kembali berkata dengan hati-hati. "Keduanya bagus, bahkan dapat saya katakan semua gaun yang berada di butik ini semuanya sangat cantik dan berkelas. Untuk pilihannya semua terserah dengan Anda, tentukan yang menurut Anda terbaik tanpa harus mengikuti orang lain padahal Anda tidak suka!"
Aileen mengangguk paham. Setelah puas mematut diri di depan cermin dia sudah bisa memutuskan. "Aku pilih yang ini!"
"Pilihan tepat!"
"Makasih! Tapi, aku minta untuk bagian pinggang sedikit dikecilkan lagi, ya." Perempuan muda itu mengangguk paham. "Kapan lagi aku bisa ke sini untuk mengambilnya. "Lusa datanglah ke sini dengan pasangan Anda."
"Oh begitu. Oke. Lusa kita akan ke sini!"
Aileen melepaskan gaun tersebut dan setelahnya dia memilih menghampiri Amee yang telah menunggunya. "Maaf lama, Mbak!"
"Mbak tahu banget tentang Kak Randu!"
"Kita sudah hidup bersama selama lima tahun dan gak mungkin Mbak gak tahu apa pun tenang dia!" jawab Amee begitu senang.
***
Malam harinya Aileen berkomunikasi dengan Randu setelah memastikan jika Amee yang sedang menginap di apartemen sudah tidur.
Dia melakukan panggilan video di kamar tamu, saat ini Aileen mendengarkan cerita Randu yang bertemu dengan beberapa kliennya. "Kapan Kakak pulang? Benar besok atau ditunda?"
"Besok aku pulang. Mau dibawakan oleh-oleh apa?" tanya Randu. Pria itu hanya memperlihatkan gorden yang berwarna cream membuat Aileen sedikit kesal. Randu beralasan wajahnya saat ini sedang dipakaikan masker pemberian Aileen. Pria itu malu untuk memperlihatkannya.
"Apa sudah memilih gaunnya atau mau aku bantu pilihkan?"
"Aku sudah dapat yang cocok, tapi ... Mbak Amee juga pilihkan untukku dan bilang kalau pilihannya pasti akan Kakak setujui!"
__ADS_1
"Dan kamu mengikuti ucapannya?"
"Gak! Aku punya pilihan sendiri, jujur saja aku kesal karena Mbak Amee selalu bilang kalau dia lebih paham Kakak dan aku harus ikuti ucapannya."
Aileen mendengkus kesal mendengar tawa Randu, tetapi saat melihat wajah Randu yang tertutupi masker. Marahnya menghilang begitu saja. "Aku kira Kakak bohong!"
"Bohong tentang apa?"
"Sudahlah lupakan. Lagipula aku suka lihat wajah Kakak yang tampan itu. Kapan kita ketemu lagi?"
"Tentu saja besok. Dan aku cuma mau kamu lakukan apa pun yang mau kamu lakukan. Jangan pedulikan ucapan Amee."
"Iya. Aku paham. Cepatlah pulang, Kak. Safira merindukan Kakak!"
"Benarkah Safira? Bukannya perempuan cantik yang saat ini terlihat sedang merajuk?"
Aileen mencebik karena candaan Randu, tanpa mengatakan apa pun lagi dia memilih mengakhiri percakapan mereka dan kembali ke kamarnya sendiri.
Aileen masuk ke kamar dan melihat Amee yang tertidur pulas, begitu juga dengan Safira. Dia mendekati putri kecilnya dan mencium pipi gembul Safira.
"Aku gak akan terpengaruh dengan semua ucapan Mbak Amee yang selalu saja bilang mengenal Kak Randu."
***
Saat Aileen sedang membuat nasi goreng, tiba-tiba saja di dia merasakan pelukan seseorang dari belakang. Aileen terpekik karena terkejut, tetapi saat menyadari siapa yang melakukannya membuat dirinya memilih mematikan kompor dan berbalik menghadap Randu.
"Kakak kapan pulang?"
"Baru saja. Tadi Amee yang bukakan!" Senyum mengembang Aileen seketika menghilang saat mendengar nama Amee disebut oleh Randu.
Aileen lalu melepaskan paksa pelukan Randu saat Amee datang menghampiri mereka di dapur.
"Maaf, Mbak gak bermaksud ganggu kalian. Mbak mau kasih tahu kalau Safira sudah bangun dan menangis!"
"Kak, aku ke kamar dulu!" Aileen tanpa merasa malu mencium pipi Randu. Dia melakukan itu sengaja untuk memperlihatkan kepada Amee tentang hubungannya dengan Randu yang begitu mesra.
"Mas, apa kamu serius menikah dengan Aileen?" tanya Amee setelah Aileen menjauh dari mereka.
__ADS_1
Randu menatap Amee yang menunggu jawabannya dan mengangguk. "Tentu, dia lebih baik dari perempuan mana pun!"