Skandal Termanis

Skandal Termanis
Kamu Melupakan Aku, Babe?


__ADS_3

Aileen baru saja menemui dokter tanpa memberitahu Randu sama sekali. Selain untuk melakukan pemerikasaan kandungannya, ada hal lain yang ingin dia tahu. Tentang hubungan suami-istri ketika sang istri tengah hamil.


Aileen sudah mencari referensi di internet dan mendapatkan informasi tentang tidak ada larangan mereka melakukannya, semua itu dia lakukan agar Randu tidak lagi ragu untuk melakukan dengannya.


Randu selalu saja menghindari pembahasan seperti itu, pria tersebut terus saja mengatakan jika dirinya tidak mau memberi kenangan melebihi apa yang saat ini mereka lakukan. Menghabiskan waktu lebih banyak berdua dengan melakukan banyak hal.


Seseorang menghampiri Aileen dan langsung duduk begitu saja di sampingnya. Aileen tidak menanggapinya sama sekali dan memilih menikmati ice cream sambil memperhatikan orang-orang yang berada di taman rumah sakit.


Aileen menoleh dan menatap heran pria yang duduk di sampingnya itu, pria tersebut tiba-tiba saja menyerahkan map file kepadanya begitu saja.


"Itu untukmu!" Aileen tidak menggubris, dia memperhatikan dengan saksama siapa pria asing di sampingnya itu. Namun, tidak dapat mengenalinya.


Aileen mengembalikan map file tersebut dan hendak pergi, tetapi pria tersebut menahan tangannya. "Kamu gak mengenaliku?"


Kening Aileen berkerut samar dengan mata menyipit menatap lekat pria yang tersenyum jenaka kepadanya itu.


"Apa aku begitu berbeda sampai kamu gak mengenaliku?"


"Lepaskan!" Pria tersebut melepaskan Aileen. "Jangan sok kenal!" Aileen menghempaskan tangan pria tersebut dengan kasar, tidak peduli jika dirinyalah yang merasakan sakit.


"Kamu melupakan aku? Suaraku pun, Babe?"


Aileen terduduk dan memperhatikan dengan lebih saksama pria tersebut. "Bang El?" Pria tersebut mengangguk.


Aileen mendengkus mengetahui siapa pria tersebut. "Gimana aku tampan? Adis bilang kalau kamu menolakku karena potongan rambutku. Sekarang apa sudah lebih baik?" tanya El sambil menyisir rambutnya yang begitu pendek.


"Kamu mengikutiku ke sini, Bang?"


Pria itu terkekeh pelan. "Anggap saja begitu, tapi tadi aku gak sengaja lihat kamu keluar dari ruangan dokter kandungan, karena penasaran aku mengikutimu!"


Aileen tidak menggubrisnya. Dia lalu mengambil map file di tangan El begitu saja. "Itu berkas-berkas beasiswa untuk kuliah di Prancis!"


Aileen tidak peduli, dia membukanya untuk memastikan. "Kenapa Bang El kasih ke aku?"


Pria tersebut hendak menyentuh rambut Aileen yang tergerai, tetapi dengan cepat ditepis. "Jawab saja, jangan banyak ulah!" geram Aileen karena kelakuan El yang sama sekali tidak berubah.


"Lisa bilang kamu begitu ingin kuliah ke Prancis, kebetulan bulan depan aku akan ke negara itu dan menetap beberapa tahun. Mungkin saja kamu tertarik, pergilah!" El menatap perut Aileen.


"Siapa ayah calon bayimu itu?"

__ADS_1


"Gak perlu tahu siapa dia, yang jelas karena ulah Bang El aku jadi begini!" Pria tersebut mengangguk. Dia sama sekali tidak mengelak.


"Babe, maafkan aku. Saat itu aku begitu menggebu ingin memilikimu. Tapi, Adis menyadarkanku kalau karena kesalahanku kamu menjadi korbannya!" El menatap Aileen lekat. "Untuk itu, untuk meminta maaf aku mengumpulkan semua berkas beasiswa untukmu. Aku akan membiayai semua hidupmu di sana!"


Aileen menghela napas pelan. Dia menutup map tersebut dan menyerahkannya kepada El. "Sebenarnya berat memaafkan orang yang sudah merusak hidupku. Tapi, aku gak bisa hidup dalam amarah terus, kan? Tapi aku gak bisa terima kebaikan Bang El. Selama ini Bang El sudah baik banget sama aku!"


Pria itu mengembalikan map tersebut kepada Aileen. "Pikirkan dulu. Jangan langsung menolak. Adis bilang kamu akan melanjutkan kuliah setelah melahirkan dan aku memberi jalannya! Simpan saja dulu berkas-berkas ini. Aku harap kamu mengambil keputusan yang tepat dan datang kepadaku!"


Setelah mengatakan itu El mengecup pelipis Aileen dan gegas pergi sebelum Aileen mengamuk.


"Dasar pria aneh. Masih saja gak berubah."


Aileen lalu memilih pergi dan membawa map tersebut, meski sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Awalnya dia yakin akan keputusannya pergi jauh dari kehidupan Randu dan Amee setelah melahirkan. Namun, mencintai Randu dan calon anaknya membuat Aileen merasa enggan untuk melakukannya.


***


Aileen sengaja meminta bibi untuk pulang cepat. Dia ingin memasak makan malam untuk Randu.


Saat berada di taksi ketika akan pulang, Randu mengiriminya pesan dan mengatakan akan menginap di apartemen. Tentu saja dia begitu girang dan membeli bahan makanan untuk makan malam bersama Randu.


Setidaknya dengan mengandalkan melihat video memasak di aplikasi media sosialnya dan mengikuti instruksinya, rasa masakannya tidak akan begitu buruk. Atau malah akan sama enaknya dengan yang di dalam video tersebut.


Aileen menatap puas meja makan yang sudah terhidang beberapa masakan yang dimasaknya seorang diri.


"Pasti Kak Randu gak akan menyangkanya!"


Dia gegas membukakan pintu apartemen saat ada yang memencet bel. Dia begitu yakin jika Randu lah yang datang.


"Pas banget. Kakak datang setelah aku selesai masak!" Aileen menarik tangan Randu mengajak pria itu ke ruang makan untuk memamerkan hasil masakannya.


"Kamu yang memasak semua ini? Sendiri?" Aileen mengangguk senang.


"Kakak mau cicipi?" Aileen mengambil sendok dan memberikannya kepada Randu, tetapi pria tersebut menolaknya. "Kenapa? Kakak ragu?" tanya Aileen dengan wajah sendu.


"Saya yakin masakan kamu pasti enak. Saat ini saya lelah sekali dan ingin mandi dulu. Kita ke kamar!" ajak Randu sambil menangkup wajah Aileen.


Randu mencolek hidung Aileen dan mengenggam tangannya mengajak ke kamar.

__ADS_1


"Aku akan siapkan airnya dulu. Kakak duduk dulu sebentar!"


Randu hanya mengangguk membiarkan Aileen melakukan apa yang ingin dilakukannya.


Saat dia menarik arlojinya di nakas, Randu melihat laci yang tidak tertutup rapat. Penasaran, dia membuka laci tersebut dan mengambil sebuah map berwarna biru.


Randu meyakini jika dirinya tidak pernah meninggalkan map seperti yang dipegangnya di apartemen. Dia lalu membukanya, tetapi belum semuanya dia baca Aileen sudah memanggilnya.


Randu mengembalikan map tersebut di tempatnya dan menyusul Aileen di kamar mandi.


***


Sesekali di sela makan malam mereka, Randu memperhatikan Aileen yang banyak sekali menceritakan tentang aktivitasnya seharian. Namun, tidak menceritakan tentang dirinya yang bertemu dengan El dan tentang beasiswa itu.


Randu sudah membaca sekilas isi di dalam map tersebut, tentang beasiswa dan ingin mendengarnya langsung dari Aileen.


Randu menyentuh tangan Aileen yang berada di atas meja, membuat Aileen seketika berhenti bicara. "Lusa waktumu untuk ke rumah sakit lagi, kan?"


Aileen mengangguk, dirinya tidak berani telah mengatakan sudah datang ke rumah sakit siang tadi. Randu tersenyum lembut. "Boleh saya tanya sesuatu?"


Aileen mengangguk senang, meski dirinya mendadak gugup. Tatapan Randu sedikit membuatnya takut. "Apa kamu benar-benar akan pergi setelah melahirkan?"


Aileen menarik tangannya, membuat Randu mengangkat alisnya heran. "Kakak menginginkannya?"


"Maksudnya?"


"Kakak mau aku gimana? Tetap di sini dan menyaksikan kebahagiaan kalian atau aku pergi untuk memulai kehidupanku yang baru?"


Randu menghela napas pelan. Dia meneguk habis air minumnya. "Semua keputusan ada di tanganmu!"


"Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan nantinya!" jawab Aileen yakin. Dia yakin harus melakukan apa.


"Benarkah? Apa?" tanya Randu penasaran.


Aileen menggeleng. "Kakak gak perlu tahu. Rahasia!" Dia terkekeh pelan melihat wajah tidak puas Randu karena jawabannya itu.


"Baiklah. Saya akan mendukungnya apa pun itu!"


"Kakak yakin?"

__ADS_1


__ADS_2