Skandal Termanis

Skandal Termanis
Siuman


__ADS_3

Aileen merasa senang saat mendengar Mira telah sadar dan bisa dijenguk. Dia tidak menyiakan kesempatan lalu meminta Randu untuk mengajaknya dan beruntung Randu mengiyakan permintaannya.


Tidak mau terjadi apa-apa dengan Safira, Aileen menitipkan Safira kepada orang rumah. Diam tidak terlalu khawatir karena ada Sasa yang berjanji akan menjaga Safira.


Remaja itu begitu senang bisa bersama Safira dan sering kali Aileen mendengar Sasa merengek kepada Lisa agar segera punya adik. Remaja tersebut merasa kesepian karena orang tuanya yang sama-sama sibuk.


Aileen tidak tahu alasan Mira memintanya dan Lisa untuk tetap di ruangan, sedangkan anak-anaknya menunggu di luar.


Dia melihat wajah Mira yang begitu pucat. Bicara sedikit kepada Lisa lalu setelah Lisa pergi, dirinya mendekati Mira.


"Mama pasti sebentar lagi akan pulang ke rumah!" Mira hanya tersenyum menanggapi ucapan Aileen.


Perempuan paruh baya itu membiarkan Aileen menggenggam tangan Mira. "Maafkan Mama, Nak!"


"Mama kenapa minta maaf? Mama gak ada salah apa pun."


Mira kembali tersenyum. Tangan satunya yang diinfus terulur untuk menyentuh wajah Aileen. Dia tidak kesusahan untuk melakukannya karena Aileen yang mendekatkan wajahnya agar mudah disentuh.


"Hiduplah bahagia. Mama tahu, sejak awal Randu sangat mencintaimu, tapi Mama yang membuatnya memungkiri perasaan itu," ucap Mira dengan pelan-pelan.


Aileen mendengarkan dengan saksama. Dia tidak masalah sama sekali dengan semua yang terjadi. Harapannya hanya ingin Mira sembuh, cukup dirinya kehilangan Sika dan tidak mau lagi sampai harus kehilangan Mira.

__ADS_1


"Mama tenang saja, ya!"


Tidak banyak yang bisa mereka bicarakan. Aileen lekas pamit dan berjanji besok akan mengunjungi Mira kembali. Dia senang tadi bisa membuat mertuanya tertawa pelan saat dia memperlihatkan video Safira yang mengoceh.


"Kakak gak mau datangi mama?" tanya Aileen. Randu masih saja keras kepala. Pria tersebut hanya memperhatikan mamanya dari balik kaca. Namun, Aileen melihat kesedihan di wajah Randu.


Dia memeluk tubuh suaminya. "Mau aku temani?"


"Tidak perlu. Sekarang kita pulang saja!"


Aileen menahan diri, dia tidak mau Randu pergi sebelum menemui mamanya dulu. Entah apa yang sebenarnya disembunyikan dari Randu, tetapi dia tidak mau mau jika suaminya sampai menyesal.


"Baiklah. Kamu tunggu di sini sebentar!"


"Kak, mama akan baik-baik saja, kan?" tanya Aileen kepada Lisa yang menghampirinya.


"Entahlah. Kondisi mama tidak bisa dibilang baik-baik saja. Penyakitnya sudah parah, mama telat mendapatkan penanganan."


Mereka terdiam. Sama-sama memperhatikan dua orang yang berada di dalam ruangan tersebut. "Jujur, aku salut sama kamu! Randu yang aku kenal, dia tidak akan mudah goyah dengan keputusannya dan sekarang kamu mampu melakukannya. Dia keras kepala sekali, menolak menjenguk mama!"


"Kakak tahu alasan Kak Randu gak?"

__ADS_1


Lisa menggeleng. "Randu terlalu tertutup. Dua kakak adik itu sama. Jadi, kita sebagai pasangan yang harus pintar-pintar membuat mereka bisa terbuka!"


"Iya, Mbak!"


"Jaga Randu dan aku harap apa pun yang terjadi, kalian akan tetap bersama. Kamu adik ipar yang menyenangkan, beda sekali dengan istri Randu sebelumnya. Dia terlalu angkuh untuk diajak akrab!" Lisa menepuk pundak Aileen dan pamit kembali bekerja.


***


"Terima kasih!"


Ratu menatap Randu dan meletakkan sendoknya kembali. Dia tidak paham kenapa Randu mengatakan hal itu. "Aku merasa lega bisa bicara banyak dengan mama!"


"Syukurlah. Tapi, kenapa Kakak awalnya menolak?"


"Tidak ada. Sudahlah, lebih baik sekarang kita habiskan makanannya dan kembali pulang. Kasihan Safira terlalu lama kita tinggal!"


Saat ini mereka sedang berada di salah satu restoran yang tidak jauh dari rumah sakit. Restoran tersebut rekomendasi dari Lisa, dia mengatakan jika makanannya enak-enak dan Aileen mengakui itu.


"Kapan kita kembali ke Indonesia? Bukankah sudah lama Kakak meninggalkan pekerjaan?"


"Rencananya lusa kita pulang, tapi sepertinya kita harus mengundurnya! Aku mau memastikan mama benar-benar membaik. Untuk pekerjaan, aku tetap melakukannya via online. Tidak masalah?"

__ADS_1


"Gak masalah kok. Aku akan ikuti apa saja yang Kakak inginkan."


__ADS_2