Skandal Termanis

Skandal Termanis
Rasanya Makin Terasa


__ADS_3

Amee terus saja memperhatikan Seto yang berusaha terus bisa selalu dekat pengunjung pria di distro mereka. Sayangnya Amee tidak bisa melakukan apa pun untuk mencegah Seto melakukan hal tersebut.


Amee menghela napas kasar lalu memaksa senyum di bibirnya ketika ada yang akan membayar. "Terima kasih!" Amee celingukan mencari keberadaan Seto dan pria berwajah bule itu, mereka tidak terlihat di mana pun dan pikiran Amee tertuju kepada lantai dua yang digunakan sebagai gudang barang dan juga ruang kerja mereka.


Amee merasa penasaran, dia memilih untuk mencari keberadaan mereka. "Lis, kamu jaga di sini dulu. Saya mau ke atas!" Amee meminta karyawannya untuk menjaga kasir. Dia gegas menuju ke lantai dua.


Belum juga kakinya menapaki undakan tangga, sudah terdengar suara Seto yang cekikikan. Kening Amee berkerut, lalu dia menghela napas lega ketika melihat Seto sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


"Kenapa?" tanya pria yang sedikit kemayu itu kepada Amee. Posisi mereka berhadapan dan berjarak dua anak tangga saja.


"Pria tadi mana?"


"Yang mana?" Alis Seto terangkat, dia lalu terkekeh dan menuruni anak tangga yang tersisa. "Dia sudah pergi, gak jadi beli. Tenang, aku gak tertarik sama pria beristri!" ujar Seto sambil menepuk pundak Amee.


"Syukurlah. Aku akan berusaha agar kamu gak terus-menerus terperangkap di jiwa yang salah!" Sayangnya ucapan Amee tidak didengar oleh Seto yang sudah menghampiri seorang pelanggan mereka.


Amee tidak pernah khawatir Seto akan menaruh perasaan kepada dua orang karyawan mereka yang pria, sebab prinsip pria kemayu itu tidak akan pernah mengganggu pria yang sudah memiliki pasangan. Meski masih sebatas kekasih.


Amee menghampiri Seto yang berasa di balik meja kasir, sedang memperhatikan keadaan distro yang lumayan ramai. "Kamu kelihatan senang banget, siapa tadi yang kamu telepon?"


Seto tersenyum tipis lalu menggeleng, pria itu seakan enggan memberitahu Amee. "Pelit banget, padahal aku selalu cerita sama kamu tiap ada masalah!" Amee pura-pura ngambek. Dia tahu, Seto akan luluh karena tidak tahan dengan sikap Amee ketika sedang kesal.


"Iya, iya, aku ngaku. Dia Abang iparku. Ya, anggap saja dia pria pertama yang membangkitkan sisi perempuan di diriku!" bisik Seto sebab tidak mau ada yang mendengarnya.


Amee terkejut. Dia menatap Seto tidak percaya. "Jangan melotot begitu, Amee!" protes Seto sambil mengusap kasar wajah Amee.


"Jadi, dia yang ...." Seto mengangguk. Percakapan mereka terhenti saat pelanggan yang akan membayar.


***


"Kamu yakin akan urus anak adik kamu?" Seto sudah menanyakan hal yang sama berulang kali. Bukan hanya hari ini saja, sejak awal Amee bercerita pria tersebut selalu menanyakan keputusan sahabatnya.


"Sesuai yang aku katakan."


"Bukannya lebih baik kamu rawat anak kandung kamu sendiri? Begini, ya, Amee Sayang! Kalau kamu asuh anak orang dan suatu saat orang tuanya mau ambil dia lagi, itu bisa jadi dilema kamu! Kamu subur kenapa kamu masih belum siap hamil?"


Amee menatap Seto yang sedang menikmati camilannya dengan tatapan nanar. Dia menghela napas kasar lalu berkata, "Kamu tahu alasannya, kenapa harus tanya?"


Seto menggaruk tengkuknya. Dia mendekati Amee dan menggenggam tangan Amee yang terasa dingin. "Aku tahu kamu punya perasaan takut, tapi kamu harus bisa hadapi. Kenapa kamu gak coba datangi saudaraku itu. Dia psikiater yang handal."


"Kenapa bukan kamu saja?" Seto mengerutkan keningnya. "Kamu lebih butuh. Kamu harusnya bisa menyadari jati dirimu seorang pria!"

__ADS_1


Seto melepaskan tangan Amee dan merebahkan tubuhnya di sofa. "Jangan bahas hal yang sama berulang kali. Saat ini kita hanya perlu membahas permasalahan yang kamu hadapi, untuk masalahku jangan kamu urusi!" putus Seto membuat Amee kesal.


"Kamu mengabaikan perasaan seseorang yang mencintaimu sampai orang itu melampiaskannya kepada orang lain!" Amee memutuskan meninggalkan Seto di ruangan kerja mereka. Dia sudah puas mengungkapkan apa yang ingin dikatakannya.


Amee sebenarnya lelah dengan perasaannya itu. Dia lelah dengan pengorbanan yang tidak pernah dihargai selama ini. Namun, perasaannya mengalahkan logikanya sehingga membuatnya memilih jalan yang sulit dan menyakitkan.


Amee menarik sudut-sudut bibirnya ketika melihat lambaian tangan Randu yang sudah menunggunya di parkiran. Dia berlari kecil menghampiri suaminya tersebut. Menyembunyikan lukanya dengan memeluk erat tubuh lelah Randu.


"Aku kangen sama kamu, Mas!" ungkap Amee sambil mengeratkan pelukannya.


Randu tentu saja bahagia. Dia membalas pelukan istrinya erat dan mengecup puncak kepala Amee. "Padahal baru beberapa jam kita berpisah!"


Amee melepaskan pelukannya dan memandangi wajah tampan Randu, sialnya senyuman Randu malah terikut wajah Seto. "Kenapa? tanya Randu heran saat Amee tiba-tiba saja berdecak kesal.


"Gakpapa, Mas. Kita pulang sekarang, kasihan Aileen sendirian di rumah malam-malam!" Randu berdeham pelan. Dia menarik lembut tangan Amee membawanya ke sisi bagian penumpang mobilnya.


Randu membukakan pintu mobil untuk Amee, dia bahkan memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya itu. "Kita belikan makanan untuk Aileen!" usul Amee yang hanya diangguki oleh Randu.


Amee menangkap basah Seto yang sedang memperhatikan dirinya dengan Randu dari balkon. Dia tersenyum tipis dan berharap Seto menyadari ketulusan dirinya.


***


"Makasih, Mbak." Aileen mencicipi kwetiau yang memang dia inginkan. Sebenarnya Aileen tidak heran kenapa Randu mengetahui makanan yang ingin dimakannya, sebab sebelum pulang Randu memaksa Aileen memberitahu makanan yang ingin dimakannya.


"Jangan makasihnya cuma sama Mbak, sama Mas Randu juga!" Amee pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk Aileen.


"Makasih, Kak!" ujar Aileen saat Randu berada di dekatnya. Pria itu hanya mengangguk tanpa membalas tatapan Aileen.


Amee kembali menghampiri Aileen dan memberikan air minum untuk adiknya itu. "Mbak ke kamar, ya. Kamu habiskan makananmu!" Aileen hanya mengangguk saja, dia begitu menikmati makanannya malam itu.


Beruntungnya selama hamil Aileen tidak pernah memiliki masalah apa pun terhadap makanan, sehingga akan memakan apa saja yang dihidangkan kepadanya.


"Apa kamu sanggup menghabiskan makanannya itu?" tanya Randu. Pria itu ikut duduk di samping Aileen.


Belum juga Aileen menjawab, Randu membuatnya salah tingkah. Pria itu mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari dan menjilatnya.


"Kak!" Randu hanya tersenyum.


"Ada noda saos tadi. Saya hanya mencoba mencicipi dan rasanya tidak mengecewakan!" Aileen tertegun. Dia bahkan lupa cara menelan dimsum yang sudah dikunyahnya itu.


"Kenapa?" Aileen menggeleng. "Makanlah, saya akan menunggu kamu di sini!"

__ADS_1


Aileen merasa ada sesuatu yang nyesakkan dadanya. Dia melirik Randu yang tampak santai sambil memainkan ponselnya. Aileen tidak tahu apa, tetapi menerima perlakuan manis dari Randu membuatnya merasa ada sesuatu yang menghimpit dadanya dan menggelitik perutnya secara bersamaan.


Aileen sudah menghabiskan sepiring kwetiau gorengnya dan dimsum. Dia hendak ke dapur untuk meletakkan piring kotornya, tetapi Randu mencegahnya dan mengambil alih piring kotor tersebut.


Diam-diam Aileen tersenyum, bahkan dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya sampai Randu kembali dan menatapnya heran. "Apa ada yang mau kamu makan lagi?"


Aileen menggeleng. Dia terbengong saat Randu kembali mengusap sudut bibirnya dan melakukan hal yang sama. Randu bahkan meminum habis air minum Aileen. "Sekarang kamu tidurlah."


Aileen mengangguk. Lidahnya kelu untuk menjawab. Dia menatap punggung Randu yang berjalan menjauhinya. Tubuh pria itu tampak lebih sempurna di mata Aileen hanya karena menaiki undakan anak tangga menuju ke kamarnya.


"Aku kenapa?" gumam Aileen sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Aileen tidak pernah lepas memperhatikan tubuh Randu sampai menghilang di balik kamarnya. Dia pergi ke kamarnya sambil terus menyentuh dadanya.


"Ada yang salah dengan tubuhku!" gumam Aileen yang tidak memahami dirinya sendiri.


Dia mencoba memejamkan mata, sayangnya yang terus terbayang hanya perhatian Randu kepadanya. "Please kamu harus sadar. Dia itu milik Mbak Amee!" Aileen memilih membuka jendela kamarnya karena tidak bisa tidur.


"Ma, dulu apa yang mama rasakan untuk papa?" tanya Aileen sambil memperhatikan bintang yang paling terang dengan membayangkan dia bertemu dengan perempuan yang melahirkannya.


"Apa aku akan seperti mama? Tapi, aku gak bisa ma kalau harus melukai lagi perasaan Mbak Amee." Aileen menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka.


Dia mengerutkan keningnya saat melihat Randu yang masuk ke kamarnya sambil membawa susu. "Malam ini kamu lupa meminum susu. Kemarilah!"


Aileen menurut. Dia menghampiri Randu dan mengambil gelas susu di tangan pria itu. Aileen dengan cepat meminum habis susunya. "Makasih!"


"Apa yang kamu lakukan tadi? Kenapa tidak tidur?"


"Aku belum ngantuk!"


"Apa kamu selalu kesusahan tidur malam?" Randu menyentuh perut Aileen dan berjongkok menyejajarkan wajahnya dengan perut Aileen yang tampak buncit.


"Apa kamu tidak lelah? Biarkan ibumu tidur!" Randu kembali berdiri dan menatap Aileen yang terdiam. "Apa masih belum mau tidur?"


"Aku akan tidur, Kak!" Perempuan itu gegas membaringkan tubuhnya di ranjang dan membiarkan Randu merapikan selimutnya.


"Kak!" Aileen mencegah Randu yang hendak pergi. "Bisakah temani aku tidur?" tanya Aileen takut.


"Baiklah. Tapi saya tidak bisa lama." Aileen begitu senang. Dia lalu menggeser tubuhnya memberi tempat untuk Randu.


Aileen meminta agar Randu ikut berbaring di sampingnya. "Maaf, ya, Kak, aku gak bisa mengendalikan keinginanku malam ini!" Randu tidak menjawab. Dia memilih memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2