
"Kamu ikut satu mobil sama mereka?" tanya Sika kepada Aileen ketika akan pergi bekerja.
Sika tiba-tiba menarik tangan Aileen yang hendak membuka pintu mobil dan mengabaikan dirinya. Dia lalu mendorong tubuh Aileen sampai hampir terjatuh. "Mama!" pekik Amee terkejut dengan perbuatan Sika kepada Aileen.
Amee menghampiri Aileen yang memegang perutnya karena kembali merasa kram. Aileen bahkan sampai menggigit bibirnya untuk menahan rasa tidak nyaman itu. "Kamu gakpapa?" tanya Amee khawatir.
Aileen hanya sanggup menggeleng. Tubuhnya sudah berkeringat. "Mbak, aku gakpapa. Aku akan pergi dengan taksi saja!" Aileen menepis pelan tangan Amee yang memegang bahunya. "Permisi!"
"Mas ...." Randu benar-benar merasa bersalah dengan Aileen, tetapi dia tidak berdaya. Dia tidak mau jika Sika sampai curiga jika dirinya membela Aileen, karena selama ini yang Sika ketahui dirinya terlalu abai dengan Aileen.
"Jangan pedulikan dia. Jangan manjakan dia atau dia akan jadi pemalas, Amee!" saran Sika. Dia menyuruh putrinya itu masuk sambil terus memperhatikan Aileen yang sudah menghilang dari pandangan mereka.
"Mama gak seharusnya kasar begitu saja, Aileen. Gimanapun dia adik aku, dia anak Mama!" protes Amee.
"Sayang, ayo!" ajak Randu kepada Amee, dia sudah muak berada di dekat mertuanya itu.
Amee menurut dan pamit kepada Sika sebelum pergi. "Jangan marah sama Mama karena dia. Dia pantas mendapatkan itu, lagipula kenapa dia harus semobil sama kalian?" Amee hanya berdeham. Dia tidak peduli dengan yang diucapkan Sika.
"Mas, aku benar-benar gak tahan sama sikap Mama. Semenjak Aileen kembali dalam keadaan hamil, Mama selalu saja membahas tentang istri kedua papa itu!" keluh Amee kepada Randu tentang sikap mamanya tersebut.
Amee merasa pusing, dia memijat pelipisnya. "Menurutmu apa aku salah kalau terus bela Aileen di depan Mama?"
Randu meraih tangan Amee dan menggenggamnya erat. "Kamu pasti tahu yang terbaik di antara mereka!" Amee mengangguk.
"Tapi tetap saja, Mas. Semalam aku sempat berpikir kalau Aileen sementara tinggal di apartemen kita saja! Lagipula apartemen itu apartemen itu sudah lama gak kita tempati!"
Randu diam saja. Dia hanya tersenyum membalas ucapan Amee kepadanya itu. "Coba akan saya sampaikan usulan kamu sama Aileen nanti!"
"Makasih, Mas. Aku benar-benar kesal sama pria yang gak bertanggung jawab itu, seharusnya dia nikahi Aileen dan kasih perlindungan!"
***
Aileen berusaha bersikap seperti biasanya saat bertemu dengan Randu di tempat kerja, meski hatinya teramat sakit ketika mengingat kejadian pagi tadi saat Randu yang hanya diam saja saat Sika hampir saja membuatnya celaka.
Aileen mati-matian menahan kram pada perutnya itu. Beruntung saja, sopir taksi dengan baik hati memberikannya minyak angin dan air minum.
"Ikut saya!" bisik Randu yang membuat Aileen terkejut. Dia bersama dengan seorang konsumen sedang menjelaskan tentang mobil.
Aileen bergeming, dia tidak tahu harus melakukan apa. Namun, tidak lama seorang rekannya menghampiri dan mengatakan akan menggantikan dirinya.
"Kamu pergilah saja dulu. Biar aku yang urus!" Aileen mengangguk pasrah. Dia lalu mengejar Randu yang sudah keluar dari showroom.
"Kenapa lama sekali?" tanya Randu dengan wajah kesalnya itu.
__ADS_1
"Maaf, Kak. Tapi ada apa?"
"Masuklah ke dalam mobil, nanti akan saya beritahu!" Aileen hanya menurut tanpa membantah. Dia ingin tahu apa yang akan Randu bicarakan sampai mengajaknya pergi keluar di saat jam kerja.
"Apa karyawan gak curiga kalau Kakak dan aku pergi?"
"Sejak awal mereka sudah tahu siapa kamu? Apa kamu takut?" Aileen menggeleng. "Bagus!"
Aileen menjadi canggung ketika mereka hanya diam saja saat menunggu lampu merah berubah warna. Randu pun seakan tidak berinisiatif untuk mengajak Aileen bicara.
"Kak, berhenti!" pinta Aileen tiba-tiba saat Randu baru saja menekan pedal gasnya karena lampu sudah berubah warna. "Kak, aku mohon!"
"Kenapa? Apa kamu tidak tahu di belakang banyak kendaraan lain?" tanya Randu kesal.
"Sebentar saja, aku harus ke sana!" tunjuk Aileen ke arah bawah jembatan. Di sana tampak beberapa pengamen, baik itu anak-anak sampai dewasa.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Randu yang tetap saja melajukan mobilnya.
"Gak ada waktu, Kak. Please!" pinta Aileen sambil memelas. Akhirnya Randu mengalah, dia menepikan mobilnya dan membiarkan Aileen segera keluar.
Aileen tanpa peduli dengan kehamilannya, berlari menghampiri gerombolan pengamen tersebut, bahkan dia mengabaikan keselamatannya dengan menyebrang asal di jalanan yang ramai kendaraan. "Faiz!" teriak Aileen yang langsung didengar oleh seorang anak kecil yang membawa gitar kecil.
Aileen lekas menghampiri dan menarik lembut tangannya. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Mbak Ai!" seru anak kecil tersebut. Dia lekas memeluk Aileen erat.
Aileen menghela napas pelan. Dia mencubit pelan hidung Faiz lalu mengajaknya mendekati kedua temannya itu. "Nama kalian siapa?"
"Aku Rido," ujar seorang anak laki-laki dengan rambut ikal dan tubuhnya lebih pendek dari Faiz itu. "Dia Ucup!" tunjuk Rido kepada temannya yang jangkung.
"Kalian tinggal di tempat yang sama dengan Faiz?" Keduanya mengangguk bersamaan. "Kenapa gak sekolah? Siapa yang suruh ngamen?"
"Rido, Ucup kenalin ini Mbak Ai yang sering aku ceritain sama kalian!" Aileen sampai lupa memperkenalkan diri kepada kedua teman Faiz tersebut. Dia dengan senang hati membiarkan punggung tangannya disalami dengan takzim oleh keduanya.
"Mbak Ai jangan di sini, kita ke sana, nanti aku jelasin!" Faiz mengajak Aileen menepi karena posisi mereka yang dekat sekali dengan jalan raya yang banyak kendaraan yang bisa saja mencelakai mereka.
"Sekarang katakan, Faiz kenapa gak sekolah?" tanya Aileen dengan tatapan memindai ketiganya.
"Maafin aku, Mbak. Ibu sakit, jadi aku harus bantu ibu cari uang. Kalau mereka memang gak pernah sekolah!"
Aileen menghela napas pelan. Dia merasa bersalah karena sudah mengabaikan Faiz karena permasalahan dirinya dan juga sudah berpikir buruk tentangnya.
"Maafin Mbak, ya, yang sudah lama gak datang!"
__ADS_1
"Aileen!" Randu datang menghampiri mereka. Dia memperhatikan kedekatan Aileen dengan ketiga pengamen tersebut. "Mereka ...."
"Dia Faiz, Kak. Adik angkatku! Kalau mereka berdua teman Faiz dan kami baru bertemu sekarang!" Randu mengangguk paham. Aileen lalu menangkup wajah Faiz yang tampak lebih tirus itu dan menatapnya dengan tatapan lembut.
"Faiz, Mbak minta maaf. Sekarang Mbak gak bisa lama-lama. Secepatnya Mbak akan datang ke rumah dan bahas tentang sekolah kamu lagi, ya!" Dia memeluk Faiz dengan penuh kasih sayang.
"Kalian berdua, jagain Faiz, ya. Mbak titip dia!"
"Siap, Mbak!" kawan Rido penuh semangat.
Aileen terkekeh pelan. Dia lalu merogoh sakunya mengambil uang. Ada tiga lembar uang berwarna biru dan selembar uang berwarna mereka. Aileen memberikan dengan rata uang berwarna biru kepada ketiganya, lalu menambahkan memberi selembar kepada Faiz.
"Kamu pakai uang ini untuk dibelikan makanan dan obat untuk ibu!" Faiz mengangguk patuh.
Setelah itu dia mengajak Randu untuk pergi meninggalkan mereka dengan perasaan yang sungguh berat.
"Sejak kapan kamu mengenal anak itu?" tanya Randu setelah mereka memasuki mobil.
"Setahun lalu!" Randu mengangguk paham.
Dia merasa kagum sekaligus tidak menyangka jika Aileen yang dikenalnya selama ini memiliki kepedulian sosial juga. Bahkan sampai menganggap seorang anak kecil sebagai keluarganya dan terlihat begitu sayang.
"Kita mau ke mana?"
"Nanti kamu akan tahu sendiri!" Aileen tidak lagi bertanya. Pikirannya terus saja tertuju kepada Faiz dan rasa penyesalannya karena melupakan anak kecil itu selama beberapa bulan.
***
"Jadi maksudnya aku akan tinggal di sini?" Randu mengangguk. Dia mengajak Aileen memasuki kamar utama, kamar tempat dirinya dan Amee dulu istirahat.
"Apa karena mama? Apa itu alasannya, Kak?"
"Kamu benar. Saya sepakat dengan usulan Amee, meski sebenarnya saya merasa berat!"
Kening Aileen berkerut. "Kenapa?" Alis Aileen naik turun menggoda Randu.
Randu mendorong kening Aileen dengan telunjuknya dan berjalan ke arah balkon. Dia membuka pintu balkon, tidak lupa membuka tirai jendela.
"Itu artinya saya tidak lagi bisa leluasa melihat keadaan kamu!" ungkap Randu sambil berjalan keluar ke balkon. Dia memperhatikan jalanan yang ramai kendaraan.
"Aku sama sekali gak masalah. Usulan Mbak Amee aku setuju. Aku gak mau mama marah-marah terus, lagipula itu bagus tahu untuk aku dan Kakak!" Aileen menghampiri Randu dan berdiri di samping pria tersebut.
Randu menatap lekat Aileen yang sedang memandangi jalanan dari balkon. "Kalau kita jarang bertemu, itu gak buat aku merasa begitu sakit! Aku gak perlu pura-pura senang padahal lagi cemburu lihat kemesraan kalian!" Aileen menoleh ke arah Randu yang setia memperhatikan. Dia lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
"Jangan tatap aku begitu!"
"Apa kamu benar-benar memiliki perasaan kepada saya?" Aileen terkekeh pelan karena pertanyaan Randu tersebut. Dia bahkan tidak segan memeluk tubuh Randu dan membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya itu.