
"Apa yang terjadi? Kenapa Amee sampai begitu?" Sika menghampiri Randu yang berada di kamar Safira. Sedang mengajak bayinya itu bermain.
"Apa karena kesalahpahaman itu sampai kamu buat Amee begitu? Dia bisa depresi kalau terus kamu tekan!"
Randu menghela napas pelan. Dia menatap Sika yang menatapnya tajam. Penuh amarah.
"Itu bukan kesalahpahaman. Kalau memang salah paham, untuk apa pria itu masuk ke kamar?" tanya Randu dengan begitu tenang. Dia tidak mau berkata dengan mengedepankan emosi kepada mertuanya itu.
"Amee yang bilang, Ran. Apa yang kamu lihat salah paham."
"Dengan bergumul di ranjang? Bahkan pakaian Amee tersingkap dan pria itu sudah melepas pakaiannya. Kenapa Mama baru sekarang membelanya?" tanya Randu tidak mengerti.
"Karena Mama kira kalian akan segera membaik. Lagipula kita tahu, Seto punya kelainan. Dia gak mungkin tertarik dengan Amee!"
"Dan Amee yang menarik Seto, begitu?" Randu mengangkat satu alisnya menatap lekat Sika yang menjadi gelisah. Dia tersenyum samar dan kembali bicara, "Saya akan menceraikan dia dengan begitu mereka bisa melakukannya tanpa saya harus merasa marah!"
Randu memilih untuk tidak peduli lagi dengan Sika. Dia mengabaikan mama mertuanya dan bermain dengan Safira.
"Mama harap semoga kamu sadar kalau keputusanmu itu salah!" Setelah mengatakannya Sika keluar dari kamar Safira.
Randu hanya mengembuskan napas pelan dan memilih untuk tidak peduli.
Randu sama sekali tidak mengerti dengan Sika yang saat ini malah lebih membela putrinya ketika memang benar-benar melakukan kesalahan. Tidak mungkin ada kesalahpahaman jika dirinya melihat sendiri adegan menjijikan antara dua sahabat itu.
***
Randu melewatkan makan malam lagi. Mungkin sama juga dengan Amee dan Sika. Dia terbangun karena merasa lapar mengingat siang tadi dia tidak menyantap makanan apa-apa.
"Papa tinggal dulu sebentar, tidur yang nyenyak!" Dia mengecup kening Safira dan mengusap pipinya sayang.
"Tumben kamu gak merasa terganggu?" Randu terkekeh pelan melihat putrinya yang tertidur pulas. Setelah itu dia gegas keluar dari kamar dan pergi ke dapur.
Di dapur Randu mencari makanan yang bisa dimakan untuk mengganjal perutnya, tetapi tidak ada makanan apa-apa dan hanya ada mie instan yang memang sekali distok.
"Dulu, Aileen selalu membuatkan mie rebus kalau tengah malam kelaparan. Sedang apa dia?"
Randu merenung memikirkan di mana sebenarnya Aileen berada. Perempuan itu tiba-tiba saja pergi dan menghilang tanpa siapa pun tahu.
__ADS_1
"Mas!"
Randu melamun sampai airnya mendidih. Dia tersadar saat Amee mengecilkan nyala api dan memasukkan mie ke dalam rebusan air.
Randu menahan tangan Amee saat akan memasukkan bumbu-bumbu ke dalam mangkuk. "Biarkan saja!"
Amee menurut. Dia memberi jarak kepada Randu dan hanya memperhatikan. "Dulu kita sering begini waktu awal-awal menikah, kamu masih ingat, Mas?"
Randu diam sesaat ketika akan menuangkan minyak ke dalam wadah. Dia menghela napas pelan dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.
"Oh, ya. Kayaknya ada yang kurang, Mas!" Amee melangkah cepat ke arah lemari pendingin dan mengambil beberapa cabai. Dia mencucinya dan menatap Randu yang hanya diam saja sambil kembali berkata, "Katamu, makan mie rebus tanpa cabai tuh kurang. Masa sekarang lupa!"
Randu menghela napas panjang. Dia sama sekali tidak menggubris apa yang dilakukan dan katakan oleh Amee.
"Biar aku saja, Mas!" Amee mengambil alih saat Randu akan menuangkan mie rebusnya ke dalam mangkuk. Tidak hati-hati membuatnya terkena cipratan air panas.
Amee seolah tidak peduli dengan rasa panas pada kulitnya walau dia meringis kesakitan. Dia tidak mengizinkan Randu melakukannya sendiri.
"Terima kasih!"
Amee begitu senang mendengar suara Randu dan mengangguk. Dia membiarkan Randu mengambil alih mangkuk yang terasa panas itu dan membawanya ke meja makan.
Amee terkekeh pelan. Mengabaikan tatapan kesal dari Randu yang harus berbagi mie rebus kepadanya. "Mau aku buatkan?"
Tanpa menunggu jawaban dari Randu Amee membawa mangkuk kotor bekas mie ke dapur dan meletakkannya ke wastafel. Tidak lupa dia mengambilkan air dingin kepada Randu.
"Minum dulu, Mas. Aku gak jadi buatkan lagi, takut nanti perut kita buncit karena makan tengah malam begini!" Amee menyerahkan gelas berisi air dingin kepada Randu.
"Ada yang mau saya bicarakan sama kamu!" ucap Randu setelah beberapa saat hanya suara Amee yang mendominasi.
Pria itu meminta Amee duduk, dia bahkan tidak meminum sama sekali air minum yang sudah Amee ambilkan. "Minum dulu, Mas. Pasti gak nyaman habis makan, tapi belum minum!"
Randu menurut, dia menenggak sampai habis air minumnya. Dia menatap Amee yang tersenyum senang dengan lamat.
"Jadi, apa yang mau kamu bilang?" tanya Amee dengan begitu antusias.
Randu mendesah pelan. Tatapannya tidak pernah teralih kepada Amee sama sekali. "Besok saya akan mendaftarkan berkas-berkas untuk perceraian kita!"
__ADS_1
Senyum Amee seketika lenyap. "Apa gak ada kesempatan, Mas?" Mata perempuan itu sudah berkaca-kaca.
Randu berdeham. "Maaf."
Amee menunduk. Jari-jarinya saling bertautan, dia merasa tubuhnya gemetar mendengar ucapan Randu. Dia sudah merendahkan harga dirinya dengan bersikap agresif, tetapi Randu tetap pada pendiriannya.
"Ada lagi yang harus kamu tahu dan ini penting!"
Amee mengangkat wajahnya. Dia menghapus air matanya yang mengalir tanpa permisi dan tersenyum tipis. "Ini tentang Safira, saya ...."
"Safira gak akan kamu bawa pergi, kan?" potong Amee cepat.
"Sayangnya dia harus ikut saya. Saya memiliki hak penuh atas Safira karena ... saya ayah kandungnya!"
Air mata Amee kembali mengalir dan kali ini dia tidak akan peduli. Hancur sudah perasaannya. "Saya tidak berbohong. Aileen hamil anak saya."
"Dia goda kamu?"
"Tidak!"
Amee tertawa kecil dalam tangisnya. "Aku tahu itu, Mas! Aku tahu kalau dia hamil anak kamu."
Randu terkejut mendengar ucapan Amee. Dia lalu berdeham pelan dan berkata, "Untuk itu, kita bercerai saja. Saya tidak bisa terus-menerus mengkhianati kamu!"
"Aku gak mau, Mas. Kenapa harus bercerai? Aku sudah memaafkan kalian dan untuk itu maafkan apa yang pernah aku dan Seto lakukan. Kita membuka lembaran baru, Mas!" Amee menolak permintaan Randu bercerai.
Dia meraih tangan Randu dan menggenggamnya erat. "Kamu berhak bahagia dengan pilihanmu. Maafkan saya yang tidak tahu diri dengan menyudutkan kamu."
"Aku bahagia sama kamu!"
"Tidak. Tidak pernah ada cinta dari kamu untuk saya dan saya mulai menyadari telah mencintai Aileen, bahkan di saat pertama kali bertemu!"
Amee melepaskan genggaman tangannya. Dia bangkit berdiri dan membanting gelas kosong di hadapan Randu. "Aku bisa memaafkan kamu yang sudah menghamili Aileen, tapi aku gak akan terima kamu beralih cinta sama dia, Mas!"
Randu diam saja. Dia memperhatikan Amee yang terlihat begitu hancur, bahkan sampai bersimpuh di hadapannya dan kembali menggenggam tangan Randu erat. Tidak membiarkan Randu melepaskannya.
"Mas, tolong jangan begini. Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Aku ...." Amee menunduk, menggigit bibir dalamnya kuat dan kembali melanjutkan, "aku butuh kamu, Mas!"
__ADS_1
"Jangan begini. Saya membebaskan kamu dari pernikahan ini dan kamu bisa bahagia dengan pria yang kamu cintai." Randu berhasil melepaskan genggaman tangan Amee dan membantu istrinya itu berdiri. Dia bahkan mengusap lembut air mata Amee. "Besok saya dan Safira akan pindah ke apartemen. Rumah ini akan menjadi milikmu!"
Setelah mengatakan itu Randu pergi meninggalkan Amee yang terjatuh sambil menangis histeris.