Skandal Termanis

Skandal Termanis
Hari Ini Untukmu, Sebelum Malam


__ADS_3

Tidak henti-hentinya senyum tersungging di bibir Aileen. Dia merasa begitu senang, Randu menuruti kemauannya.


Aileen merasa belum puas memandangi rambutnya di depan cermin. Randu sama sekali tidak mengecewakan dalam memotong rambut panjangnya itu, meski hasilnya tidak terlalu rapi seperti potongan di salon. Aileen tetap suka.


"Aku akan membuat kenangan manis selama jadi istri kamu, Kak!" Aileen menghela napas pelan, tangannya terus saja mengusap rambutnya yang sekarang sudah pendek. Tatapannya tertuju kepada perutnya yang makin terlihat besar. "Saat ini, aku gak akan biarkan selain ayahmu yang menyentuh dirimu. Aku akan buat ayahmu memanjakan kita, kamu pasti senang, kan?"


Aileen menoleh ke arah pintu saat melihat kenop pintu bergerak. Dia tersenyum manis saat melihat Randu membawa makanan untuknya. Sengaja dia melarang Randu untuk pergi bekerja dan seharian dengannya sebelum malamnya Randu akan menjadi milik Amee lagi.


Biarlah dia dikatakan tamak dan tidak tahu diri, setidaknya dia harus sebaik mungkin memanfaatkan waktu bersama Randu, sebelum waktunya habis dan dia harus pergi.


"Kakak kenapa harus bawa makanannya ke sini?" tanya Aileen sambil menghampiri Randu.


Pria itu meletakkan nampan di atas nakas. Dia meminta Aileen duduk. "Saya kira kamu malas keluar kamar, makanya saya bawa makanan ini ke sini!"


"Makasih, Kak!"


"Mau makan sendiri atau disuap?"


"Disuap, boleh?" Randu mengangguk. Dia lalu duduk di samping Aileen untuk menyuapi istrinya itu.


Aileen benar-benar merasa bahagia. Randu begitu baik kepadanya, menuruti apa pun keinginannya.


"Mungkin Neng memang gak akan bisa bersama dengan anak dan suami Neng nanti, Bibi cuma bisa memberi masukan saja, meski ada yang tersisihkan nantinya! Buatlah kenangan indah selama Neng mengandung dan masih menjadi istri Mas Randu. Bibi tahu, pasti di satu sisi nanti waktu Mas Randu akan berkurang untuk Neng Amee."


"Makasih, Kak. Tapi, Kakak juga harus makan!"


Aileen bersyukur bibi memberi masukan yang menurutnya bagus dan dia tidak akan menyia-nyiakan.


"Saya sudah malam sebelum membawanya ke sini, lalu untuk apa terus berterima kasih?" Alis Randu terangkat, Aileen hanya menggeleng sambil kembali menerima suapan dari Randu.


"Apa ada lagi yang kamu inginkan?"


"Kakak yakin mau melakukannya?" tanya Aileen memastikan.


"Hari ini untukmu, sebelum malam!"


Aileen tersenyum masam, meski dia menyadari itu, tetapi tetap saja mendengar langsung dari bibir Randu membuatnya tidak suka.


"Kenapa diam?" Aileen menggeleng. "Katakan? Mau jalan-jalan keluar? Mal atau taman belakang apartemen?"


Ajakan yang menarik, tetapi Aileen tidak mau melakukan itu hari ini. Dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Randu di apartemen.

__ADS_1


"Aku mau Kakak bacakan buku untukku sampai aku tertidur!" Aileen bangkit berdiri dan berjalan ke arah laci di dekat jendela. Dia mengambil sesuatu di sana.


Senyumnya mengembang saat menemukan yang dicarinya.


Aileen memperlihatkannya kepada Randu. "Buku ini! Sepertinya bagus!" Aileen membawa dan memberikannya kepada Randu.


Randu meletakkan piring dan mengambil buku bersampul warna cokelat dari Aileen. "Kamu yakin?" Aileen mengangguk senang. "Baiklah, tapi sepertinya ini bukan buku romansa!"


Aileen terkekeh pelan. "Gak masalah!" jawab Aileen yakin sambil duduk kembali. Dia mengambil kembali buku tersebut dari Randu dan memangkunya.


"Baiklah, tapi setidaknya habiskan makan siangmu dulu!"


Aileen kembali menerima suapan dari Randu.


***


Waktu sudah begitu sore, bahkan langit sudah mulai menggelap. Randu sudah menyelesaikan membaca satu buku novelnya setengah jam yang lalu.


Setelahnya dia hanya diam sambil terus memperhatikan wajah damai Aileen yang masih tertidur dan tidak terganggu sama sekali dengan embusan angin karena pintu balkon yang terbuka.


Randu gegas mengambil ponselnya dan menerima panggilan dari Amee. Istrinya itu meminta untuk dijemput.


Randu tentu saja senang melakukannya. Dia lalu turun dari ranjang dengan begitu pelan agar Aileen tidak terganggu tidurnya. Dia bahkan menutup pintu balkon dan tirai jendela.


Aileen membuka matanya ketika Randu telah keluar dari kamarnya. Air matanya merembes keluar tanpa diminta. Sejak setengah jam, tepat saat Randu selesai membacakan novel bergenre horor itu untuknya, Aileen sudah terbangun. Namun, dia sengaja tidak membuka mata dan membiarkan Randu yang terus saja memperhatikan dirinya.


"Kakak salah, mana mungkin aku akan bahagia saat suamiku dengan istrinya yang lain!"


Aileen merasa hidupnya hampa tanpa kehadiran Randu di sisinya. Dia lalu bangun mengambil ponselnya hendak menghubungi seseorang.


"Aku butuh kamu. Bisa ke sini?" tanya Aileen kepada seseorang yang dihubunginya itu.


"Aku akan datang. Mau dibelikan sesuatu?"


"Gak perlu, aku cuma mau kamu di sini!" putus Aileen.


"Oke, baiklah. Tunggu aku dan persiapkan dengan baik sambutan untukku!"


Aileen langsung memutuskan panggilannya itu. Dia turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.


Aileen kembali menatap dirinya di depan cermin kamar mandi. Dia menghela napas kasar berulang kali. Bayangan tadi pagi saat Randu yang terlihat serius sedang memotong rambutnya terekam jelas.

__ADS_1


Di depan cermin dia bahkan bisa melihat senyum puas Randu dengan hasil kerjanya itu.


"Kenapa waktunya cepat sekali, Kak? Aku bahkan belum melakukan banyak hal denganmu hari ini!"


Setengah jam Aileen menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi.


Saat memeriksa ponselnya, dia melihat ada tiga pesan masuk dari Randu, sepuluh menit lalu.


Aileen membacanya tanpa berniat untuk membalas pesan tersebut. Dia melempar ponselnya ke ranjang dan memilih keluar dari kamar.


#Maafkan saya, Amee minta untuk dijemput


#Sudah bangun? Saya harap kamu tidak kesal karena tidak menemukan saya di apartemen.


#Besok siang saya akan datang. Maaf, tidak bisa pagi


"Sejak kapan sampai?" tanya Aileen heran melihat Adis sudah berada di apartemen sambil membawa makanan.


"Lima menit lalu," ujar Adis. Dia menaruh makanan yang dibelinya di meja. "Tadi bibi yang kerja pamit pulang, barusan!" Aileen hanya mengangguk. Dia ke dapur untuk mengambil piring dan kembali menghampiri Adis.


"Kamu beli apa? Padahal sudah aku bilang gak perlu beli apa-apa!" Aileen membuka wadah makanan tersebut yang ternyata martabak telur. Dia dengan telaten memindahkannya ke piring.


"Aku lagi pengin, kalau kamu gak mau makan ya syukur!" Adis terkekeh pelan. Dia mencomot satu martabak yang dibelinya itu. "Astaga, ini enak banget, sih. Apalagi sudah lama aku gak makannya!"


Adis menyodorkan martabak yang sudah digigitnya kepada Aileen. "Cobain, deh, kamu pasti suka!"


Aileen menggeleng. "Aku bisa ambil yang baru, gak mau bekas kamu yang belum sikat gigi!" Aileen duduk dan mengambil satu martabaknya. Dia mengangguk setuju dengan yang dikatakan Adis tentang rasanya.


"Gimana, enak, kan?"


Aileen hanya berdeham saja. "Kamu lagi ada masalah?"


Aileen menatap Adis lekat. "Apa aku kelihatan seperti ada masalah?"


"Tentu. Kamu itu gak bisa menutupinya sama aku, Ai. Begitu juga kamu yang bisa langsung tahu saat aku ada masalah!" Aileen mengangguk setuju. "Ada apa? Kamu bisa cerita apa pun sama aku!"


"Dis, penampilanku sekarang gimana?" Aileen mengalihkan pembicaraan dengan bertanya hal yang lain.


"Aileen!" Adis geram, tetapi dia tetap saja menanggapinya. "Kamu itu cantik mau model rambut gimana pun. Aku saja sampai heran, kamu hamil tapi kenapa malah makin cantik, ya!" Aileen hanya membalasnya dengan senyuman tipis. "Sekarang kasih tahu aku apa masalah kamu!"


"Tentang Kak Randu, sebenarnya ...." Aileen menghentikan ucapannya saat mendengar ada yang mengetuk pintu apartemen.

__ADS_1


"Kamu mengundang yang lain lagi?" tanya Adis penasaran, keningnya berkerut saat Aileen menggeleng.


__ADS_2