Skandal Termanis

Skandal Termanis
Bersikaplah Biasa Saja


__ADS_3

Setelah mengatakan perasaannya meski tidak secara terang-terangan, Aileen berubah menjadi canggung kepada Randu. Dia berusaha untuk menghindari Randu.


Ketika di rumah, Aileen berusaha untuk tidak satu ruangan yang sama dengan pria tersebut. Dia bahkan mengabaikan Randu yang mengajaknya bicara. Aileen merasa dirinya harus mulai menekan perasaannya sebelum bertambah. Dia tidak mau jika pada akhirnya menjadi serakah dan menginginkan Randu.


"Kamu dipanggil Pak Randu di ruangannya!" seorang rekannya mengagetkan Aileen yang sedang istirahat karena lelah berdiri lama.


Aileen hanya mengangguk malas. "Buruan. Kenapa masih di sini? Kamu gak tahu, ya, kalau Pak Randu itu orang yang mudah emosi!"


Aileen langsung berdiri. Dia menghela napas kasar dan melangkah menuju ke ruangan Randu.


Aileen benar-benar merasa cemas, setelah berhasil menjauh dari Randu saat di rumah. Namun, tetap saja dia tidak bisa jauh dari Randu ketika di tempat kerja.


Aileen sudah berdiri di depan ruang kerja Randu, tangannya terulur hendak mengetuk pintu, tetapi ragu. Aileen ragu untuk menemui Randu sampai seorang karyawan yang diketahui Aileen sebagai sekretaris Randu menghampirinya.


"Kamu Aileen bukan?" Aileen mengangguk dan tersenyum canggung. "Masuk saja, Pak Randu sudah menunggu!" ucapnya. Namun, Aileen makin gugup lantas dia makin terkejut ketika perempuan dengan pakaian yang membentuk lekuk tubuhnya itu mengetuk pintu.


Suara Randu menginterupsi. "Masuklah, atau mau kutemani?"


"Ah, gak perlu kok. Makasih untuk bantuannya barusan!" Perempuan itu hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Dia langsung meninggalkan Aileen begitu saja.


Suara Randu kembali terdengar menyuruhnya untuk segera masuk.


"Permisi, Pak!" Aileen akhirnya membuka pintu ruangan Randu dengan memegang kenop pintu teramat kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.


Aileen melihat raut wajah Randu yang tampak menyeramkan saat menatapnya. "Masuklah!" perintah Randu. Pria itu kembali disibukkan dengan laporan-laporan di hadapannya.


Aileen melangkah mendekat ke arah Randu dengan ragu dan cemas. Dia yakin Randu pasti akan membahas tentang sikapnya yang berubah.


"Duduklah." Aileen mengangguk dan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Randu dan hanya terhalang meja kerjanya saja.


"Kenapa memanggil saya ke sini, Pak? Apa ada kesalahan saya saat bekerja?" tanya Aileen dengan gugup.


Randu yang tengah serius pada laporannya melirik sinis ke arah Aileen sampai perempuan itu menelan ludahnya kasar. Randu lalu menegakkan duduknya, menatap Aileen.


"Kamu ada masalah?" Kening Aileen berkerut. "Ada yang terjadi, bukan? Ada apa? Apa kamu merasa kesulitan dengan pekerjaan atau ada masalah lain?" tanya Randu menyelidik. Tatapan pria itu tidak lepas kepada Aileen yang memilih menunduk saat ini.


"Aileen. Katakan, apa saya ada salah?" Aileen menggeleng. "Lalu ada apa denganmu? Kenapa selalu menghindari saya sejak kemarin? Bahkan semalam kamu mengunci pintu kamar dan tidak menghiraukan panggilan saya!" Randu terlihat geram karena tingkah Aileen tersebut kepadanya.


Aileen mengangkat wajahnya menatap Randu lekat. "Kakak gak salah apa pun. Aku cuma berusaha untuk mempertahankan perasaanku saja! Aku harap Kakak paham!"

__ADS_1


"Perasaan apa?" tanya Randu tenang.


Aileen menggigit bibirnya. "Jangan melakukan hal itu, katakan dengan benar. Jangan buat saya bingung, Aileen!" omel Randu.


"Apa Kakak gak maksud sama ucapanku malam kemarin?" tanya Aileen kesal. "Aku mengatakan memiliki perasaan dengan pria beristri, dan itu ...."


"Jangan bilang itu saya?" tebak Randu yang langsung diangguki oleh Aileen.


Randu mengusap kasar wajahnya sendiri dan berhasil membuat Aileen merasa ketakutan. "Maaf, Kak. Aku sadar gak seharusnya aku mudah punya perasaan itu. Makanya aku berusaha menghindar, aku gak mau ... Kakak gak perlu perhatian sama aku!"


"Kamu sudah buat saya merasa makin bersalah sekarang ini, kamu tahu?" Aileen menggeleng polos. Randu gemas dengan jawaban Aileen tersebut.


"Kamu kira saya akan diam saja kalau kamu menjauh? Kamu sedang hamil anak saya dan tidak mungkin saya mengabaikan kamu. Paham?"


"Karena sikap Kakak yang buat aku takut. Aku takut perasanku makin gak terkontrol. Aku mohon, bersikap biasa saja, Kak!"


Randu membuang napas kasar. Dia menggebrak meja dan membuat Aileen terlonjak kaget.


Perempuan itu hampir menangis. Randu yang sadar karena kesalahannya lekas menghampiri Aileen dan memeluknya untuk meminta maaf.


Dalam pelukan Randu, Aileen mulai terisak. "Maafkan saya sudah buat kamu takut. Tapi, kamu tahu saya tidak mungkin mengabaikan kalian. Kalau saya tidak peduli, sejak awal tidak akan pernah saya menyuruh orang mencari kamu!"


Randu membiarkan saja Aileen yang menangis untuk meluapkan perasaannya itu. Setelah hampir lima menit, barulah Aileen benar-benar tenang dan Randu melepaskan pelukannya.


Dengan penuh perhatian Randu mengusap air mata Aileen, bahkan dia mengecup kening istri mudanya itu. "Jangan berpikir untuk menjauh dari saya. Jangan juga kamu mengabaikan perasaan itu."


"Tapi, Kak ...."


"Tidak ada penolakan. Saya tidak mau kamu dan kandunganmu ada masalah karena apa yang kamu lakukan dengan menghindari saya."


Aileen mengangguk. "Tapi, gimana kalau aku menjadi serakah? Gimana kalau aku menolak menyerahkan bayi ini nantinya dan menolak jauh dari Kakak?"


Randu menyentil kening Aileen yang membuat perempuan itu mengaduh, meski Randu yakin tindakannya itu tidak membuat kening Aileen kesakitan. "Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Bukankah kamu tahu bagaimana saya sangat cinta dengan Amee?" Aileen mengangguk.


"Aku tahu. Aku minta maaf karena bersikap bodoh dengan menghindari Kakak. Aku akan berusaha untuk gak jadi orang yang serakah!" jawab Aileen pelan. Dia menahan rasa sesak karena penolakan dari Randu tentang perasaannya itu.


"Aku permisi!" Randu kembali duduk di kursi kerjanya. Dia membiarkan saja Aileen keluar dari ruangannya. Dia kembali sibuk dengan pekerjaannya, karena tujuan dirinya memanggil Aileen hanya ingin tahu tentang alasan Aileen berusaha terus menghindar.


Saat di rumah, kesempatan untuk bicara seakan tidak ada karena Aileen yang terus berhasil menjauh darinya.

__ADS_1


Aileen sendiri memilih pergi ke toilet. Di depan cermin dia menatap pantulan wajahnya sendiri. Aileen menghela napas kasar.


Dia menghidupkan keran dan membasuh wajahnya berulang kali, sampai tidak menyadari jika baju bagian atasnya basah. "Huh, kamu harus bisa tetap menjaga perasaan kamu. Dia gak akan pernah jadi milikmu, Aileen. Sadar!" Meski berusaha untuk tetap tegar, nyatanya Aileen tetap menangis.


***


Aileen menjadi lebih banyak diam. Apalagi dengan kedatangan Sika ke rumah Randu membuat Aileen makin tidak berkutik.


Tatapan Sika yang begitu tajam, membuat Aileen selalu saja menunduk. Tidak ada senyum di wajahnya sama sekali dan Randu seakan tidak peduli dengan apa yang Aileen rasakan.


Di meja makan, Sika mengajak Randu dan Amee berbincang, tetapi mengabaikan Aileen. Sesekali bahkan dia menyindir Aileen.


"Mama akan menginap malam ini. Kamu gak keberatan, kan?" tanya Sika kepada Amee.


"Gak kok!"


Sika begitu senang. Dia lalu melirik Aileen yang sudah menyelesaikan makan malamnya. "Kamu rapikan kamar mama bisa, kan?" tanya Sika.


Aileen mengangguk. "Ma, jangan. Biar Amee saja. Kasihan Aileen seharian sudah bekerja. Dia butuh istirahat!"


"Mbak, gakpapa kok!" tolak Aileen.


"Tuh, dia saja gak masalah. Kamu juga kerja, jadi kayaknya dia gak pantas manja-manja di sini!" Amee hanya bisa menghela napas pelan. Dia akhirnya menurut. "Ya sudah sana. Mama pengin cepat rebahan!"


"Iya, Ma." Aileen tidak peduli dengan tatapan Randu kepadanya. Dia memilih gegas pergi ke kamar yang biasa digunakan Sika untuk istirahat ketika menginap di rumah Randu dan Amee.


Aileen merapikan kamar dengan cekatan. Semenjak merasakan hidup prihatin beberapa bulan, dia sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Hanya membutuhkan waktu sebentar untuk merapikan kamar tersebut.


Aileen menghentikan langkahnya ketika tidak sengaja mendengar ucapan Sika yang benar-benar menyakitinya.


"Aileen itu persis seperti mamanya. Dia pasti merasakan karma dari perempuan yang melahirkannya itu. Seharusnya kalian tidak membiarkannya tinggal di sini, Mama khawatir dia akan mempermalukan kalian!"


Tidak terasa air mata Aileen memaksa keluar. Pertahan dirinya lemah, dia lekas pergi saat tidak sengaja bertatapan dengan Randu yang mengetahui dirinya mendengar ucapan Sika.


Aileen memilih ke kamarnya, tidak jadi menghampiri Sika untuk memberi tahu jika kamarnya telah bersih.


Di kamarnya, Aileen kembali menangis. Dia benar-benar terluka. Meski sejak awal tahu jika Sika tidak pernah menyukai dan terkesan membencinya, dia tetap saja tidak menyangka Sika akan mengatakan hal yang tersebut begitu mudah.


Apalagi dengan ucapan Randu saat di kantor. Suasana hatinya makin kacau. Saat itu, tiba-tiba saja Aileen merasa perutnya kram, tetapi dia tidak tahu harus melakukan apa dan memilih membaringkan tubuhnya saja.

__ADS_1


"Ini pasti hukumanku yang sudah jahat sama kamu, kan?"


__ADS_2