Skandal Termanis

Skandal Termanis
Keputusan Aileen


__ADS_3

"Sayang, Seto telepon!" seru Randu ketika Amee sedang berada di kamar mandi. Tidak mendengar sahutan dari istrinya, Randu memilih mengetuk pintu kamar mandi memanggil Amee.


"Sayang, Seto hubungi kamu, mau diangkatkan?" Sayangnya Amee tetap saja tidak menjawabnya. Randu lalu berinisiatif menerima panggilan dari sahabat istrinya itu.


"Am, bisa ke rumahku sekarang? Aku dalam masalah!" Belum sempat Randu bersuara, pria yang menghubungi istrinya itu sudah berbicara tanpa rem. Kening Randu berkerut. Dia merasa heran kenapa pria kemayu itu meminta Amee datang ke rumahnya, padahal sebelumnya pria tersebut tidak pernah melakukannya.


Setidaknya hal itu yang Randu ketahui. "Am, astaga. Kamu lagi ngapain, sih? Jangan bilang lagi main sama Mas ganteng?" Terdengar suara kekehan yang membuat Randu geli. "Ya sudah, pokoknya kamu datang, ya, ke rumahku penting! Aku tutup dulu!"


"Tunggu! Kenapa kamu meminta istri saya ke rumah kamu?"


"Eh, Mas Ganteng?" sapa Seto dengan suara renyah. "Anu itu, Mas. Ini penting banget, deh!" Seto langsung memutuskan panggilannya itu.


Randu sebenarnya merasa risih karena istrinya masih saja berteman dekat dengan Seto, pria yang meskipun kemayu, tetapi tetap saja berbahaya. Namun, dia tidak dapat melakukan apa-apa ketika Amee selalu berhasil meyakinkan dirinya jika mereka tidak akan mungkin melakukan hal yang membuatnya marah.


Seto menyukai sesamanya. Untuk itu, Randu selalu menghindari Seto yang berlaku genit kepadanya.


"Mas!" Randu berbalik, dia tersenyum manis memperhatikan wajah istrinya yang terlihat segar. Randu menghampiri istrinya dan menyerahkan ponsel di tangannya kepada Amee.


"Kenapa?"


"Seto menghubungi, dia minta kamu datang ke rumahnya. Penting!" jelas Randu kepada Amee yang terlihat menjadi khawatir. "Ada apa?" Amee menggeleng. Istrinya itu terlihat memaksakan senyumnya. "Kamu tidak mungkin pergi malam-malam begini, kan?" tanya Randu memastikan.


"Mas, tapi kata kamu dia bilang penting. Aku gak mungkin abai sama dia, dia sahabat aku!"


Randu menghela napas. Dia menangkupkan wajah istrinya itu sampai bibirnya manyun. "Bukan berarti apa yang dia mau harus kamu turuti! Lebih baik kita istirahat, kamu juga baru pulang satu jam lalu!"


Amee menjauhkan tangan Randu dari wajahnya. Dia menatap lekat suaminya itu dengan tatapan memohon. "Mas, tolong jangan larang aku temui dia. Aku tahu yang kamu bilang tadi benar, tapi ... tapi kamu juga harus paham posisi aku. Dia itu sahabatku satu-satunya dan dia juga di sini gak ada saudara. Cuma aku yang dia punya!"


Randu mengembuskan napas kasar. Dia lalu mengangguk begitu saja. Randu paham dengan watak Amee, istrinya, jika tidak dituruti perempuan itu malah akan nekat melakukan sesuatu.


"Baiklah!" Amee langsung memeluk suaminya girang. "Tapi, saya temani. Saya tidak mau terjadi apa-apa sama kamu!"


Amee melepaskan pelukannya dan menggeleng menolak usulan Randu. "Jangan, kamu di rumah saja temani Aileen. Aku gak mau terjadi hal buruk sama dia. Mama gak bisa diandalkan, dia gak peduli sama Aileen!"


"Oke, tapi jangan pulang larut malam!" Amee begitu senang karena Randu memberikan izin untuknya pergi sendiri.


"Aku akan bersiap!" Amee mengecup kedua pipi Randu bergantian. Dia menuju ke lemari mencari pakaian.

__ADS_1


Randu hanya bisa pasrah melihat betapa bahagianya Amee, seakan dia akan bertemu dengan seseorang yang telah lama tidak pernah bertemu. Padahal baru satu jam lebih mereka berpisah.


"Akan saya pesankan taksi!" Amee mengangguk. Dia mengabaikan Randu dan sibuk merias wajahnya, bahkan saat Randu keluar dari kamar pun Amee tidak peduli sama sekali.


"Kak, mau ke mana?" tanya Aileen melihat Randu menuruni anak tangga dengan sibuk pada ponselnya.


Randu menghampiri Aileen yang memilih pergi ke ruang tengah dan menyalakan televisi. Dia ikut bergabung dengan istri mudanya itu menonton dengan duduk begitu dekat.


"Saya baru saja memesan taksi untuk Amee!"


Aileen menoleh ke sampingnya. Dia menatap heran Randu yang terlihat begitu santai. "Mbak Amee mau pergi?" Randu mengangguk dengan tatapan fokus pada layar televisi. "Ke mana?"


"Mas!" Belum sempat Randu menjawab, suara Amee dari lantai dua membuat Aileen menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Randu. Dia tidak mau Amee merasa curiga.


Randu memperhatikan penampilan istrinya yang terlihat cantik dengan mengenakan dress berwarna hitam polos elegan dengan lengan pendek. Amee terlihat manis dengan mengikat rambutnya dan mengenakan lipstik berwarna merah.


Aileen memperhatikan Randu yang terlihat marah dan dia berinisiatif menghampiri Amee. "Mbak Amee mau ke mana?"


Amee mencubit pipi adiknya itu gemas. "Mbak mau ke rumah Seto sebentar."


"Hah? Dengan pakaian seperti ini?" tanya Aileen heran. Dia lalu melirik Randu yang seakan sedang menahan cemburu. Namun, pria tersebut hanya diam saja. "Mbak, kayak mau pergi ke pesta loh," bisik Aileen yang malah ditanggapi kekehan oleh Amee.


"Belum!"


"Oh, ya sudah aku tunggu taksinya ke depan saja!" Amee menarik tangan Randu mengajaknya keluar. "Temani aku di luar."


Randu hanya menurut. Dia mengikuti Amee dengan tatapan tidak lepas dari pakaian yang dikenakan istrinya itu.


Aileen hanya bisa menghela napas pelan. Dia merasa cemburu dengan kecemburuan Randu kepada Amee. Namun, dirinya tidak dapat melakukan apa pun karena dia sadar Randu hanya mencintai Amee.


Aileen kembali memilih duduk menikmati tontonannya.


***


Aileen memilih kembali ke kamar setelah bosan sendirian di ruang tengah menonton acara di televisi yang menampilkan acara talk show.


Randu sendiri setelah mengantar kepergian istrinya itu langsung pergi ke kamarnya dan sama sekali tidak menghiraukan Aileen. Bahkan Aileen saja merasa heran dengan sikap Randu tersebut.

__ADS_1


Baru saja dia keluar dari kamar mandi setelah membuang air kecil, Aileen dikejutkan dengan kehadiran Randu di kamarnya. Pria tersebut sudah berada di ranjangnya.


"Mas?"


"Kemarilah!" Aileen menurut. Dia menaiki ranjang dan ikut tidur di samping Randu. Setelah itu Randu langsung memeluknya posesif.


"Ada apa, Mas? Aku kira kamu sudah tidur!"


"Amee meminta izin menginap di rumah Seto!" Randu memberitahu tentang Amee yang tidak pulang.


Aileen mengangguk. Dia sudah paham dengan kelakuan Amee, saat kuliah saja Amee sering izin menginap di rumah Seto dengan alasan tugas. Namun, dia tidak menyangka jika Amee tetap melakukan hal seperti itu di saat sudah menikah dan sudah lama tidak dia lakukan.


"Kakak cemburu?" Randu hanya berdeham. "Kalau begitu kenapa gak dilarang atau jemput saja Mbak Amee di rumah pria itu!"


"Kamu tahu sendiri dia bagaimana. Dia orang yang akan menjadi keras ketika dilarang, hal itu juga yang menjadi alasan sampai sekarang dia belum hamil!"


kening Aileen mengerut. Dia melepaskan dirinya dari pelukan Randu dan memilih duduk. "Maksudnya?"


"Apa dia tidak pernah cerita?" Aileen menggeleng.


Randu pun ikut duduk di samping Aileen dan menghela napas. "Kami pernah bertengkar besar karena permasalahan anak, sejak saat itu saya sadar Amee bukan orang yang bisa diberitahu. Tapi, saya tetap bertahan karena selebihnya dia orang yang baik dan penyabar, saya juga sangat mencintai dia."


"Memang apa yang Mbak Amee katakan?" tanya Aileen heran. Dia melihat Amee sebagai orang yang lembut dan penyabar sama seperti yang baru saja dikatakan Randu.


Randu memperhatikan wajah Aileen yang lebih cantik dari Amee dengan saksama. "Dia tidak mengatakan dengan jelas alasannya, hanya saja dia masih belum siap memiliki anak. Apalagi setelah dia keguguran. Ya, pertengkaran itu terjadi setelah dia keguguran. Mungkin dia trauma."


Aileen merasa kasihan kepada Randu. Dia menangkup wajah Randu dan mengecup keningnya lama. "Kakak jangan sedih. Aku yakin, Mbak Amee hanya butuh waktu saja dan masalah sikapnya yang seperti itu, jujur aku baru tahu. Mungkin saja dia merasa tertekan dan membuatnya menjadi orang yang pemberontak."


Aileen lalu membawa tangan kanan Randu dan meletakkan pada perutnya. "Mungkin Mbak Amee belum siap untuk mengandung, tapi dia akan menjadi ibu untuk bayi ini, kan?" Randu mengangguk. "Kakak bisa anggap bayi ini lahir dari rahim Mbak Amee!"


Aileen tersenyum memperhatikan Randu yang memandangi perutnya sambil mengusapnya lembut. Tatapan mereka lalu bertemu. Aileen memeluk tubuh suaminya itu.


"Kakak jangan bersedih. Aku janji akan melahirkan bayi yang sehat untuk kalian. Aku yakin Mbak Amee bisa berubah dan memutuskan untuk mengandung anaknya sendiri!"


Aileen menghapus air matanya. Dia telah membuat keputusan, jika Randu tidak perlu membalas perasaannya dan dia akan benar-benar pergi dari hidup Randu setelah melahirkan.


Aileen akan memberikan kebahagiaan untuk Randu lewat bayi yang dikandungnya itu bersama dengan Amee.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kita tidur!" ajaknya setelah puas memeluk tubuh Randu dan menghirup aroma pada tubuh pria tersebut.


"Saya akan memelukmu!" Aileen mengangguk senang. Dia bahkan tidak peduli jika Sika mengetahui jika semalaman mereka tidur bersama nantinya.


__ADS_2