
Sudah beberapa hari ini Aileen selalu berhasil menyelinap masuk ke rumah Amee dan Randu ketika tengah malam dengan menggunakan kunci cadangan yang dia miliki.
Aileen akan masuk ke kamar bayinya untuk menemani walau hanya satu jam saja dan selalu mengunci pintu. Awalnya dia hanya ingin sekali saja menemui Safira karena begitu merindukan bayi itu, tetapi saat melihat bayi mungil itu hanya seorang diri di kamar tanpa ada yang menemani, hatinya begitu sakit. Apalagi saat dia datang bayinya terbangun.
Aileen merasa kasihan kepada bayi mungil itu, apalagi saat Safira yang begitu lahap menyusu membuatnya ketagihan dan selalu ingin datang.
Malam ini dia kembali menyusui Safira bahkan putrinya itu tertidur pulas. Aileen memandangi wajah bayi mungil itu yang masih berada di dalam gendongannya.
Dia membelai lembut wajah bayinya dan berkata, "Aku minta maaf. Malam ini mungkin terakhir aku memberimu asi dan datang ke sini. Aku harap kamu tumbuh jadi anak yang disayangi siapa saja!"
Air mata Aileen sampai terjatuh mengenai pipi gembul itu dan beruntung bayi itu tidak terganggu. Aileen dengan cepat menyekanya.
"Aku harus pergi sekarang!" Aileen menyadari sudah satu jam lebih berada di kamar Safira dan dia harus segera pergi kalau tidak mau ada yang melihatnya.
Sayangnya, saat Aileen sedang menidurkan kembali Safira dengan perlahan pintu kamar terbuka. Dia dikejutkan dengan suara seseorang yang sudah beberapa hari ini sangat dia rindukan.
"Aileen!"
Perempuan itu menoleh dan menatap sosok yang berdiri di ambang pintu itu dengan tubuh menegang. "Kak Randu!" cicit Aileen. Dia sama sekali tidak menyangka jika Randu akan ke kamar Safira dan yang paling menyesakkan dirinya lupa mengunci pintu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Randu mendekatinya. Pria itu bahkan mengunci pintu kamarnya.
"Kamu menemani Safira sejak tadi?" tanya Randu sambil mengintip bayi mereka yang tertidur pulas lalu pria itu menatap Aileen lekat.
"Maafkan aku!" Aileen menunduk sambil jari-jarinya saling meremas.
Randu memegang kuat kedua bahu Aileen dan membuat Aileen mendongak menatap mata Randu. Pria itu tanpa mengatakan apa pun lagi langsung memeluknya erat.
"Kak!"
"Jangan bergerak!" perintah Randu penuh penekanan. Aileen yang hendak melepaskan diri memilih untuk mengurungkan niatnya dan membiarkan Randu memeluknya beberapa saat.
Aileen dibuat bingung saat merasakan pakaian bagian belakangnya basah. "Kakak menangis?"
__ADS_1
Randu melepaskan pelukannya. Dia menyeka air matanya sendiri lalu kembali memegang kedua bahu Aileen. "Ke mana saja kamu? Saya mencarimu di apartemen bahkan menanyakan kepada temanmu itu, tapi tidak ada yang tahu. Bahkan saya pergi ke rumah Faiz, kamu juga tidak ada di sana!"
Aileen dapat melihat sorot mata Randu yang begitu terluka. Aileen menghela napas pelan lalu menyentuh wajah Randu dengan lembut.
"Maafkan aku, aku sengaja minta tolong Adis untuk gak kasih tahu Kakak aku ada di mana!"
"Kenapa?"
Bukannya menjawab, Aileen malah menggeleng. "Kamu menghindari saya?"
"Iya," jawab Aileen dengan suara yang begitu lirih. Dia menggigit bibir bawahnya kuat setelah mengatakannya, bahkan tidak berani untuk menatap mata Randu.
Pria itu menghela napas pelan lalu mengecup lama kening Aileen penuh kasih sayang dan berakhir dengan memeluknya kembali.
***
"Kenapa kamu tidak menghubungi saya?" tanya Randu setelah beberapa saat dirinya mencurahkan semua kerinduan kepada Aileen.
Saat ini mereka duduk di sofa dengan saling bertatapan. "Aku takut Kakak masih marah sama aku karena percakapan kita waktu di rumah sakit. Tapi, waktu aku tahu Kakak pergi tanpa bawa ponsel kukira kakak belum kembali!" jawab Aileen jujur.
"Benarkah?" Randu mengangguk. "Tapi, bukannya sekarang kita bukan lagi suami istri?" tanya Aileen hati-hati. Dia mengamati raut wajah Randu yang berubah serius setelah dirinya mengatakan hal itu.
"Kenapa? Karena kontrak itu?" Aileen mengangguk. "Saya bahkan melupakannya. Kenapa kamu tidak mau mencoba mempertahankannya? Apa tidak memikirkan tentang Safira, kamu tidak mencintai saya lagi?"
Aileen menunduk dalam. Perasaannya kepada Randu makin dalam. Dia begitu mencintai Randu sampai merasa tidak bisa bernapas saat memikirkan harus berpisah.
"Aku gak mau terus menyakiti Mbak Amee. Dia sudah mau merawat Safira, bahkan aku bisa lihat gimana tulus dan sayangnya dia sama bayiku, Kak."
Randu menghela napas pelan lalu berdeham. "Kamu benar. Amee begitu menyayangi Safira. Tidak seharusnya kita terus-menerus melukainya walau secara sembunyi-sembunyi."
Aileen menatap lekat mata Randu dan mengangguk. "Aileen ... mulai malam ini kita bukan lagi suami istri!" ucap Randu penuh keyakinan.
Aileen memandangi Randu sampai tidak berkedip. Dia lalu mengangguk kembali dan tersenyum hambar. "Makasih, Kak." Dia memeluk Randu untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
"Kamu senang?"
"Iya! Setidaknya rasa bersalahku sama Mbak Amee berkurang sedikit!" Aileen terkekeh setelah mengatakannya. Dia langsung bangkit berdiri membuat Randu sampai mendongak memandanginya heran.
"Aku harus pergi sekarang. Maaf karena aku masuk tanpa izin, bahkan berani menyusui Safira!" Randu terkejut mendengar pernyataan Aileen, tetapi memilih diam saja.
Aileen langsung berbalik pergi dengan kembali menangis.
Dia membuka kunci pintu dan saat memegang handle pintu, tubuhnya dipeluk dari belakang. "Maafkan saya!" Aileen mengangguk dan melepaskan pelukan Randu. Dia segera pergi tanpa menengok ke belakang, tanpa melihat Safira untuk terakhir kalinya.
"Maafkan aku, tapi aku gak bisa membuat orang sebaik Mbak Amee terluka. Kakak juga cuma cinta sama Mbak Amee!" Aileen menyeka air matanya dan pergi dari rumah itu.
***
Adis terkejut mendengar cerita Aileen. Dia dapat merasakan bagaimana jika menjadi Aileen, tidak bisa mengambil keputusan yang seharusnya bisa membuatnya bahagia. Bersama Randu dan Safira. Bukannya memilih menyerah.
"Adis, makasih karena kamu sudah mau menampung aku beberapa hari ini. Kamu bahkan rela temani aku sampai tertidur di mobil saat aku masuk ke rumah mereka untuk temui Safira!"
Adis tidak kuasa menahan diri. Dia memeluk Aileen erat dan menangis. "Apa kamu harus pergi? Kenapa kamu gak di sini saja sama aku? Kamu bisa terus memantau Safira walau dari jauh!"
Aileen menggeleng. "Aku gak mau ingkari janjiku. Mungkin menurutmu aku terlalu rumit, tapi aku gak mau berada di antara mereka. Aku gak mau Mbak Amee merasa gak nyaman dan jujur aku gak siap lihat kebahagiaan mereka."
Adis mengenggam tangan dingin Aileen. "Tapi, kamu mau ke mana? Ke tempat Bang El?"
Aileen memandang lamat-lamat wajah Adis dan membuang napas kasar. "Aku maunya begitu, tapi sepertinya itu akan sangat merepotkan dia. Lagipula aku gak mau buat kamu terus salah paham dalam diam tentang aku dan pria itu!"
Wajah Adis bersemu merah mendengar ucapan Aileen. Dia tidak menyangka di saat seperti ini Aileen masih saja memikirkan tentang perasaan dirinya. Adis masih tidak menyangka Aileen mengetahui rahasia yang dia simpan rapat-rapat tentang perasaannya kepada El.
"Jangan pikirin aku. Kalau kamu menerima tawaran Bang El, pergilah."
"Mana mungkin aku gak memikirkan tentang kalian. Kamu suka sama Bang El, tapi pria itu malah menyukai orang lain."
Adis mendengkus kesal. "Lalu kamu mau ke mana?" Tidak ada jawaban dari Aileen. Namun, dirinya sudah memikirkan masak-masak akan pergi ke mana setelah pertemuan siang tadi kepada Amee.
__ADS_1
Perempuan itu memberikan uang yang banyak untuknya agar bisa melanjutkan pendidikannya lagi.