
"Kamu sudah boleh pulang?" tanya Amee sedikit terkejut.
Aileen hanya mengangguk lemah. Matanya memperhatikan sekeliling rumah, mencari keberadaan Randu dan Safira. Mengetahui apa yang sedang dipikirkan Aileen dengan lembut Amee mengenggam tangannya.
"Di rumah cuma ada Mbak dan mama. Safira juga, tapi bayi Mbak, maksudnya bayi kamu sedang tidur."
Aileen kembali mengangguk. "Kak Randu?"
Bukan Aileen yang tanya melainkan Adis. Dia penasaran di mana pria tersebut yang sama sekali tidak terlihat.
Amee mendesah pelan. "Kemarin lusa setelah jenguk kamu, Mas Randu harus pergi ke luar negeri karena ada masalah dengan mamanya. Bahkan dia sampai melupakan ponselnya!"
"Mbak apa aku boleh lihat Safira?"
Amee mengangguk. Tentu saja. Aileen tersenyum senang, dia langsung berdiri dan mengajak Amee untuk ke kamar Safira. Namun, belum sempat mereka melangkah Sika keluar dari salah satu kamar dan menghampiri mereka.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Sika tanpa peduli wajah pucat Aileen.
"Mama!" seru Amee kesal. "Aileen cuma mau lihat bayinya." Amee membantu Aileen berjalan, tetapi Sika menahannya. "Astaga, Mama kenapa?"
"Sekarang bayi itu anakmu. Jadi dia gak ada hak lagi atasnya. Untuk apa bertemu sama dia?"
Aileen menatap Sika nanar. Dia sama sekali tidak mengerti mengapa Sika begitu mudah mengatakannya. Tatapan perempuan paruh baya itu pun tidak menyiratkan rasa kasihan sama sekali kepadanya.
"Ma, aku cuma mau lihat bayiku. Tolong, Ma. Sebentar saja!" mohon Aileen. Dia menghampiri Sika dan menyentuh tangannya.
"Dia bukan lagi bayimu. Lagipula seharusnya kamu ingat kalau sejak awal bayi itu akan jadi anak Amee dan Randu. Harusnya kamu tahu diri dan berterima kasih sama mereka!" Sika menyingkirkan tangan Aileen dan pergi meninggalkan mereka.
Sika kembali ke ruangan yang sama seperti saat dirinya keluar. Di ambang pintu, Sika kembali bicara dan menekankan kepada Aileen untuk tidak mendekati bayinya sendiri. "Kamu gak ada hak atas bayi itu. Dia anak Amee dan Randu. Lebih baik pergilah!"
Aileen terduduk lemas. Dia menangis karena ucapan Sika.
Amee merasa kasihan kepada adiknya, dia lalu mengusap lembut pundak Aileen yang bergetar. "Maafkan Mbak. Mbak gak bisa bantu kamu!"
Aileen menatap Amee dengan pandangan berkabut karena terhalang air matanya. "Tapi, aku cuma pengin ketemu dia, Mbak. Aku mohon, sebentar saja. Setelah itu aku janji akan pergi jauh dari dia!"
Amee menghela napas pelan. Dia menatap Adis yang sedang menenangkan Aileen. "Baiklah. Kamu ketemu dia saat mama pergi. Sekarang kamu di kamarmu dulu, Mbak akan cari cara biar Mama keluar dulu sebentar!"
Aileen langsung memeluk Amee dan mengucapkan rasa terima kasih. Bersama dengan Adis, Aileen kembali ke kamarnya. Kamar yang sebentar lagi tidak akan pernah dapat dia masuki. Aileen berniat akan pergi jauh, entah ke mana.
Dia memang akan pergi meninggalkan mereka, tetapi tidak disangka rasanya begitu sakit ketika harus berpisah dari bayinya sendiri.
***
Aileen begitu cemas menunggu Amee datang dan mengatakan Sika tidak ada di rumah. Dia sudah membayangkan akan menggendong bayinya, memandangi wajahnya sampai puas, mencium seluruh tubuhnya, bahkan dia sudah membayangkan akan menyusuinya.
Ah, hanya membayangkannya saja sudah membuat dada Aileen berdesir. Dia begitu senang membayangkan bayinya akan kenyang karena ASI-nya.
"Duduk dulu, kamu masih lemah!"
__ADS_1
Aileen menatap Adis dan menggeleng. "Aku udah gak sabar mau ketemu bayiku!"
"Iya aku tahu, tapi kamu harus sabar. Baru sepuluh menit kita di sini. Aku yakin sebentar lagi kok!"
Aileen menghela napas pelan lalu mengangguk setuju. Dia duduk dengan tidak tenang di ranjang. Aileen mengedarkan pandangannya, meskipun merasa cemas menunggu saat bertemu Safira tiba, Aileen ingin mengenang kamar yang menemaninya beberapa tahun ini.
Kamar yang menjadi banyak saksi bisu atas apa yang dirasakannya. Saksi atas pertama kali cinta itu tumbuh untuk Randu dan saksi ketika dirinya merasakan kehangatan pelukan Randu.
Pria itu, Aileen merindukannya juga. Dia hampir saja mengira Randu sengaja memisahkan mereka, jika saja Amee tidak memberitahu di mana Randu saat ini sudah dipastikan dia akan membenci Randu.
"Sudah setengah jam, kenapa Mbak Amee belum datang?" Aileen begitu cemas. Dia yang tidak sabar langsung bangkit berdiri dan akan keluar dari kamar. Namun, belum sempat tangannya menyentuh handle pintu, pintu terbuka.
Aileen merasa lega setelah melihat siapa yang datang. Dia langsung menarik tangan Amee dan menggenggamnya erat. "Mama sudah pergi. Setidaknya sekitar dua jam dia gak ada di rumah!"
"Aku akan temui Safira sekarang!" Aileen langsung saja keluar dari kamarnya menemui Safira.
Amee membantu Aileen berjalan ke kamar Safira. Dia merasa kasihan kepada adiknya itu karena memaksakan diri untuk dapat bertemu dengan bayinya.
Aileen melepaskan genggamannya pada Amee dan menghampiri box ranjang Safira. Dia melihat bayi mungil itu tertidur lelap.
Perempuan itu langsung menyentuh wajah putrinya dan membelai lembut.
"Kamu benar-benar mirip Kak Randu. Kenapa gak ada satu pun dari aku yang kamu miliki? Apa karena kita akan berpisah makanya kamu gak memiliki kemiripan sama aku?"
Air mata Aileen terjatuh dan tepat mengenai pipi Safira. Bayi itu menggeliat karena merasa terganggu, tetapi kembali tenang.
Adis merasakan kesedihan yang dirasakan sahabatnya itu. Dia sampai meneteskan air matanya. Begitu juga dengan Amee, dia merasakan ketulusan Aileen dan mengerti bagaimana Aileen yang merasa sakit karena harus terpisah dari bayinya sendiri.
Amee menghampiri Aileen dan menepuk pundak rapuhnya pelan. Aileen menoleh sekilas lalu kembali memandangi wajah cantik Safira. "Dia cantik banget, Mbak!"
"Kamu mau gendong dia?"
"Boleh?" tanya Aileen dengan mata berbinar. Amee mengangguk dan dengan senang hati Aileen melakukannya.
"Mbak minta maaf karena gak jenguk kamu apalagi kasih tahu kamu saat bawa Safira pulang. Mama larang Mbak."
Aileen mengangguk. Tidak puasnya dia mengecup pipi putrinya. "Kamu jangan khawatir, mama begitu menyayangi Safira, bahkan semalaman dia menjaga cucunya."
Aileen menatap Amee lekat, tatapannya berpendar indah sedetik kemudian meredup. "Benarkah? Ah, aku bersyukur mama menyayangi bayiku!"
"Tentu. Bahkan mama pun menyayangimu!"
Aileen menggeleng. "Mbak gak perlu menghiburku. Siapa pun pasti akan tahu gimana bencinya mama sama aku!" Aileen mengusap air matanya.
"Mbak, apa aku boleh menyusuinya?" Aileen menatap penuh permohonan. Dia ingin sekali saja menyusui putrinya.
Amee dengan ragu mengangguk membuat Safira begitu senang. Perempuan itu lantas memilih duduk di sofa. Dia tidak langsung menyusui putrinya karena sedang terlelap.
"Adis, bisakah kamu foto aku dan Safira?" Adis mengangguk setuju. Dia mengambil ponsel dari tangan Aileen, memotret beberapa pose Aileen dan putrinya.
__ADS_1
Tidak lama bayi itu terbangun dan menangis kencang. Tanpa disangka Amee mengambil alih Safira dan mencoba menenangkannya. Dia melupakan Aileen.
"Mbak Amee pasti panik makanya berbuat begitu," bujuk Adis untuk menenangkan Aileen yang sedih.
Beberapa menit berada dalam dekapan Amee tidak membuat Safira tenang. Amee kembali menyerahkan Safira kepada Aileen.
"Maaf, Mbak sampai lupa kalau dia dalam dekapan kamu!" Beberapa saat Safira mulai tenang.
Tatapan mata bening bayi itu tertuju kepada Aileen seakan mengenali siapa ibunya.
Aileen mengusap air mata bayinya dengan lembut dan mengecupnya begitu lama. Setelah itu dia membuka kancing pakaiannya dan menyusui Safira.
Bayi itu tidak menolak, dia langsung lahap menerimanya. Aileen benar-benar senang, meski apa yang dilakukannya tidak bisa lagi dia lakukan ke depannya. Dia akan pergi jauh dari bayinya sendiri.
"Maafkan aku, kalau saja aku tahu begitu sakitnya kehilangan kamu, kalau saja aku tahu aku jatuh cinta sama kamu sejak dengar detak jantungmu, sudah aku pastikan aku gak akan pernah menyerahkan kamu sama siapa pun! Maafkan aku!"
***
Aileen tidak ada puasnya memandangi beberapa fotonya dengan Safira. Dia mengusap layar ponselnya dengan senyum mengembang dan ditemani air mata.
"Aileen kamu harus makan!"
"Aku gak lapar, Dis. Ah, aku rasanya mau terus di dekat Safira. Dia lagi apa, ya, Dis?"
"Yang jelas dia lagi tidur. Apalagi yang dilakukan bayi kalau gak tidur?" Aileen terkekeh karena ucapan Adis uang masuk akal. "Sekarang kamu makan dan setelah itu pikirkan apa yang mau kamu lakukan ke depannya!"
Aileen menghela napas pelan lalu menggeleng. "Aku gak mau lakuin apa pun itu. Aku cuma mau sama safira!"
Adis menyentuh lengannya lembut. "Aku tahu, Adis, apa yang kamu pikirkan. Tapi, memang cuma itu yang aku mau lakuin!"
"Aku tahu. Aku cuma mau kamu tetap semangat demi Safira. Aku yakin suatu saat nanti kalian akan bersatu!"
Aileen tersenyum hambar. Dia menggeleng lemah. "Itu mustahil. Gak mungkin. Sekarang ini aku bukan lagi istri Kak Randu dan saat ini aku gak bisa lagi di dekat mereka!"
Aileen menunduk dan menangis. Adis langsung memeluknya. "Aku ada untuk kamu. Apa pun yang mau kamu lakukan aku akan dukung!"
"Makasih." Adis mengurai pelukannya.
"Sekarang kamu makan, ya." Aileen menggeleng. Tetap saja menolak untuk makan. "Tapi ...."
"Jangan paksa aku. Tolong!" Adis mengangguk. Dia tidak mau lagi memaksa Aileen.
"Aku keluar dulu. Kalau ada apa-apa kamu bisa panggil aku, oke?" Aileen mengangguk.
"Adis, kamu gak marah kalau aku terima tawaran Bang El?" tanya Aileen saat Adis hendak keluar dari kamar. Adis tanpa ragu menggeleng.
"Kamu akan pergi dari sini?"
"Mungkin. Aku masih memikirkannya!"
__ADS_1