
"Bang El titip ini buat kamu. Aku gak tahu apa isinya, aku gak mau tahu juga, sih!" Lisa menyerahkan amplop putih kepada Aileen. "Jangan kamu buka di sini, di rumah saja!"
Aileen menuruti ucapan Lisa dan memasukkannya ke tas. Dia menatap tidak suka kepada Lisa yang tengah memperhatikan dirinya. "Apa ada yang aneh?"
Lisa terhenyak, terlihat sekali kegugupannya. Dia berdeham dan berujar, "Aku gak tahu kenapa Bang El tetap bertahan suka sama kamu. Padahal yang aku tahu kamu gak pernah tertarik sama abangku terlepas dari tingkahnya yang memang aneh."
Aileen mengembuskan napas dan membalas ucapan Lisa. "Apa kamu gak suka kalau Bang El terus berusaha dekati aku, Lisa?"
Lisa dengan tegas mengangguk. "Kalau begitu bekerja lebih keras agar Abang kamu sadar kalau aku memang gak cocok sama dia dan aku gak ada perasaan apa pun sama dia," ujar Aileen tegas.
"Aku sudah coba tanpa perlu kamu bicara. Selama ini tanpa sepengetahuan kamu sebenarnya juga Bang El dekat sama Adis, tapi seperti yang kamu tahu Adis terlalu mementingkan ego jadi dia memilih untuk gak memperlihatkan kalau dia suka sama Bang El. Perempuan itu selalu menganggap dirinya pahlawan yang ada untuk mendengarkan curhat Bang El."
Aileen mengangkat alisnya, menatap Lisa tajam. "Adis menyukai Bang El? Sejak kapan?"
Jelas saja Aileen terkejut, selama ini yang dia tahu Adis tidak suka dengan El dan sudah pada taraf yang sama dengannya. Tidak nyaman dengan tingkah lakunya yang menyebalkan.
"Ya! Tapi dia memilih mundur setelah tahu kalau Bang El akan selalu pilih kamu. Bahkan saat mabuk pun pria itu selalu sebut kamu! Huh!"
"Aku gak tahu," ucap Aileen menyesal.
"Makanya aku beri tahu sekarang."
"Sudahlah. Aku gak mau membahas tentang Abang kamu. Urusan kita sudah selesai dan aku mau pergi sekarang!" Aileen sudah berdiri dan hendak pergi, tetapi Lisa dengan cepat memegang pergelangan tangannya.
Aileen menatap heran kepada Lisa dan berusaha melepaskan diri. Sayangnya tenaganya kalah kuat. "Apa ada lagi yang mau dibahas?"
Perempuan itu mengangguk. Aileen kembali memilih untuk duduk setelah Lisa melepaskan tangannya. "Katakan. Aku benar-benar harus pergi!"
"Aku boleh tahu siapa ayah dari janin kamu itu?"
Aileen membuang napas kasar lalu menggeleng. "Untuk apa aku memberitahu? Sama sekali gak ada untungnya buat kamu dan aku. Kamu gak perlu tahu!"
"Maaf, aku cuma penasaran saja. Beberapa hari lalu aku lihat kamu dan kakak iparmu itu pergi. Memang ada Mbak Amee, tapi yang aku lihat kalian seperti ada hubungan!"
Aileen menatap Lisa lekat. Dia tidak menyadari jika seseorang bisa saja melihat dan menyadari ada sesuatu yang terjadi antara dia dan Randu.
Aileen mengalihkan pandangannya dengan perasaan cemas. "Apa dia ayah dari calon bayimu?" tanya Lisa pelan dengan tatapan menuntut jawaban.
"Bukan!" jawab Aileen tegas.
"Benarkah? Ah, sayang sekali." Mendengar ucapan kecewa dari Lisa membuat Aileen heran. "Aku merasa kakak iparmu memang pantas sama kamu. Memang terdengar jahat, tapi mungkin kamu gak tahu dan aku akan memberitahu karena aku teman yang baik. Mungkin saja dia bermain hati dengan teman prianya!"
Lisa menyeringai. "Aku harus pergi. Dan jangan memikirkan urusan orang lain!"
Lisa mengantar kepergian Aileen dengan tatapan sinis. Bisa saja dia tidak mengatakan apa yang dilihatnya antara Amee dan Seto. Namun, dia memiliki rencana lain dengan membuat Aileen berusaha mempertahankan Randu yang akhirnya perempuan itu tidak akan terpikir untuk menyusul El.
Lisa begitu yakin adanya hubungan antara Aileen dan Randu. Hubungan yang terjalin karena insiden yang sebenarnya salah sasaran. Insiden yang seharusnya terjadi antara Aileen dan El.
__ADS_1
"Dasar Adis bego! Apa harus aku yang bertindak biar Bang El gak terus memikirkan Aileen?" Lisa menyesap minumannya sebelum dia pergi.
***
Aileen sadar Lisa mengatakannya agar dirinya tidak gegabah meninggalkan Randu. Aileen tahu sejak awal Lisa tidak pernah menyukainya yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari El.
Pikiran kacaunya membuat dia tidak mendengar pertanyaan supir taksi yang menanyakan akan diantar ke mana.
Aileen yang sedang memperhatikan jalanan sambil melamun memperhatikan seseorang yang sangat dikenalnya sedang bersama dengan seorang pria yang dia kenal. Dia melihat keduanya sedang terlibat pembicaraan serius di parkiran sebuah minimarket. Bahkan mereka berpelukan.
Aileen lalu meminta untuk berhenti sejenak. Dia membuka kaca jendela untuk melihat lebih jelas apa yang dilihatnya.
"Pak, tunggu sebentar di sini!" Aileen langsung keluar dan hendak menghampiri dua orang yang dikenalnya, tetapi dia kalah cepat karena mereka telah pergi dengan mobil.
"Apa yang Mbak Amee dan Kak Seto lakukan tadi?" gumam Aileen. Dia lantas kembali ke taksi dan meminta untuk diantarkan ke rumah seorang kenalannya.
Sepanjang perjalanan Aileen terus saja memikirkan apa yang terjadi antara Amee dan Seto. Jelas sekali dia melihat Seto tidak seperti biasanya.
Dia tersadar dari lamunannya sepanjang perjalanan saat merasakan tubuhnya yang terguncang karena melewati jalanan yang rusak. "Maaf, Mbak, jalanan di sini sedang rusak!"
Aileen mengangguk. Dia tidak mempermasalahkannya. Hanya butuh sekitar lima menit jalanan kembali lebih baik dan dia sudah sampai di tempat yang dituju.
"Ambil saja kembaliannya, Pak!" Aileen melebihkan uang pembayaran taksi dan gegas keluar.
Dia juga langsung disambut oleh suara yang telah lama dirindukannya. "Aku kangen banget sama Mbak Aileen!"
"Gak, Mbak!"
Aileen membuang napas kasar. Dia lalu mengajak Faiz ke rumah. Di sana dia bertemu dengan seorang perempuan yang tengah terbaring lemah di dipan dengan alas kasur yang tipis.
"Ibu, Mbak Aileen datang!" seru Faiz kegirangan. Dia mengajak Aileen mendekati perempuan paruh baya itu.
Aileen dapat melihat wajah pucatnya. "Ibu maaf Aileen baru datang. Ibu sudah minum obat?"
"Obat ibu habis, Mbak! Uang yang Mbak Aileen kasih buat beli obat sudah habis!" ujar Faiz.
"Kalau gitu Mbak minta tolong kamu belikan obat buat ibu. Kamu masih ingat, kan obat ibu apa saja?" Faiz mengangguk. "Nanti sisanya kamu beli makan!" Aileen menyerahkan dua lembar uang kertas berwarna merah kepada Faiz.
Faiz begitu senang dan langsung pamit pergi membelikan obat ibunya dan hanya ada dua orang saja di rumah yang amat sederhana itu.
"Neng Aileen gak perlu repot-repot. Lagian ibu cuma kecapean saja!"
"Ibu sakit. Aku tahu kalau sakit Ibu lagi kambuh, lagian kalau Ibu sakit terus siapa yang jaga Faiz?" Perempuan itu bangun dan menyandarkan tubuhnya. Suara ranjang berderit terdengar jelas ketika perempuan itu. bergerak.
"Kamu selalu saja bantu Ibu dan Faiz. Kamu sampai keluar uang banyak cuma buat berobat Ibu!" Perempuan itu menatap Aileen dengan penuh kasih sayang. Dia juga mengusap rambut Aileen yang tergerai.
Aileen sampai melupakan, di saat dirinya bersedih karena Sika dan Mira menolaknya, ternyata masih ada satu ibu yang teramat baik menerimanya. Seorang ibu yang mencurahkan kasih sayang kepadanya.
__ADS_1
"Aku sudah bilang kalau Ibu itu sudah kuanggap sebagai ibuku. Maaf, aku sudah lama gak ke sini jenguk Ibu!"
"Gakpapa."
Mereka saling membalas senyum dan Aileen memeluk tubuh perempuan itu.
***
Aileen sengaja mematikan ponselnya agar baik Randu ataupun Amee tidak bisa menghubunginya. Atau siapa pun itu karena dia memutuskan untuk menginap semalam di rumah Faiz dan ibunya.
"Neng sudah izin sama suaminya?"
Aileen mengangguk. Dia berbohong karena sebenarnya dia sengaja menghindar dari Randu. Dia ingin tahu apakah Randu akan cemas mencarinya atau akan bersikap biasa saja.
"Mbak kapan lahir adik bayinya?" tanya Faiz terlihat sekali tidak sabar.
Aileen mencubit gemas pipi Faiz. "Kamu pengin ketemu dia?"
"Iya, dong. Nanti aku mau ajak dia main!" Aileen dan Siti—ibu Faiz—tidak kuasa menahan tawa. Perempuan itu terlihat lebih baik setelah meminum obatnya.
"Wah, Mbak tersanjung banget. Tapi, Mbak bakalan lebih senang kalau kamu mau lanjut sekolah lagi!"
Tiba-tiba suasana malam di rumah sederhana itu menjadi senyap. Faiz menatap ibunya lekat. "Kamu jangan pikirkan soal biaya. Mbak akan biayai kamu!"
"Yang benar?" Aileen mengangguk dan langsung dipeluk oleh Faiz.
"Aku mau," ujar Faiz begitu girang. "Ibu aku mau sekolah lagi!" Faiz langsung masuk ke kamarnya meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
Siti memperhatikan raut wajah cemas Aileen dan memegang tangannya yang begitu lembut. "Ibu berterima kasih kamu mau membiayai Faiz, tapi Ibu gak mau membebani kamu!"
"Ibu jangan khawatir. Sebenarnya sejak awal Aileen memang berencana akan membiayai sekolah Faiz, hanya saja saat itu lagi ada masalah dan ...."
Aileen berhenti bicara. "Nak, kamu bisa berita apa pun sama Ibu!" Aileen mengangguk.
"Aku tahu, tapi aku merasa malu untuk jujur sama Ibu!"
Kening Siti mengerut dengan tatapan begitu dalam menatap Aileen. "Ada apa?"
"Bu, sebenarnya aku menikah dengan suami kakakku sendiri dan semua karena aku hamil anaknya!"
Siti begitu terkejut, tetapi dia berusaha tenang dengan tersenyum. "Apa kakakmu tahu?" Aileen menggeleng. "Tapi ...."
"Aku akan pergi setelah melahirkan sehingga dia gak perlu tahu tentang rahasia ini. Ayah kandungnya yang menginginkan bayi ini dan dia akan merawatnya dengan istrinya!" Aileen menatap lekat Siti dan kembali berkata, "Aku tahu Ibu pasti terkejut. Aku mengatakan ini karena percaya Ibu gak akan menghakimiku seperti mamaku sendiri, meski tahu aku salah!"
Siti menghela napas panjang dan mengangguk. "Ibu tahu kalau kamu pasti sudah tahu apa yang terbaik untuk hidupmu."
"Makasih, Bu. Aku minta maaf sudah membuat Ibu terkejut!"
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka. Orang tersebut hanya meninggalkan dengkusan dan pergi dari sana.