Skandal Termanis

Skandal Termanis
Saling Berkhianat


__ADS_3

Amee menyapa Randu yang keluar dari kamar Safira dengan senyum semringah, seakan tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka semalam. Dia bahkan tidak peduli saat Randu mengabaikannya.


"Sudah mau berangkat?" Randu mengangguk saat Sika bertanya. "Baiklah. Hati-hati!"


Sika tidak mempermasalahkan apa pun kepada Randu walau tahu jika menantunya itu memilih tidur di kamar Safira dibanding kamarnya sendiri.


"Suamimu masih marah?" Sika menghampiri Amee yang terdiam. "Wajar, Am. Mama yakin kamu juga akan begitu kalau tahu Randu yang lakukan!" Sika menepuk pelan pundak putrinya dan pergi ke kamar Safira.


Sika melihat cucunya itu sudah wangi. Dia tahu, Randu yang melakukannya, menantunya itu yang memandikan Safira. "Kamu mandi sama papa lagi?" tanya Sika seolah Safira akan mengerti dengan ucapannya.


Dia merasa hidupnya menjadi begitu bahagia dan tenang. Selama ini dirinya diselimuti kemarahan karena perbuatan suaminya yang mendua, sampai memiliki anak dari Perempuan lain.


Dia merasa Safira hadir memang untuk menjadi pengobat segala kemarahannya. Hal yang dulu selalu dilakukan, saat ini sudah mulai dia tinggalkan. Menghabiskan banyak waktu untuk cucunya itu.


"Kamu merindukan mamamu, Nak?" Sika memperhatikan Safira yang sedang memainkan empengnya dengan tatapan sedih. Dia tahu, tidak pernah sedikit pun memberi perhatian kepada Aileen. Rasa bencinya mendarah daging, bahkan sampai sekarang. Namun, melihat Safira yang mirip dengan Aileen membuatnya merasa kasihan kepada bayi mungil itu.


"Ah, Nenek lupa. Mamamu ada di sini!"


Sika beranjak menghampiri Amee yang baru masuk dan membawa minuman untuk bayinya itu. "Kamu sampai kapan akan begini?"


"Maksud Mama?"


Sika menghela napas pelan. Dia membiarkan putrinya menggendong Safira dan duduk di sofa untuk menyuapi. "Mama tahu kamu mencintai pekerjaanmu. Tapi, kenapa setelah kejadian itu kamu malah gak pernah ke sana lagi?"


"Aku mau menenangkan diri dulu, Ma," ucap Amee tanpa menatap Sika.


"Kamu mau membuktikan sama Randu kalau kamu dan Seto gak ada hubungan?" Amee mengangguk. "Baiklah. Terserah kamu. Lagipula Mama merasa kalian bisa menyelesaikan masalah kalian sendiri. Mama harap jangan sampai berimbas sama Safira."


"Aku tahu!"


Sika tidak lagi berkata apa pun. Dia memilih diam dan memperhatikan interaksi anak dan cucunya itu.


"Ma ...."


"Ada apa?" Sika melihat Amee yang seakan tidak nyaman saat ini. "Kamu bisa bilang apa saja sama Mama. Kamu tahu, kan, Mama selalu dukung kamu?" Amee mengangguk dan membalas senyum Sika.

__ADS_1


"Mungkin sudah saatnya aku cerita sama Mama!" Sika menatap lekat Amee tanpa berniat untuk menyela. "Sebenarnya aku cinta sama Seto!"


"Astaga, Amee!" Suara Sika meninggi setelah mendengar ucapan putrinya itu. Dia lalu menenangkan diri dan kembali berkata dengan pelan, "Kamu waras? Jadi selama ini apa? Kenapa kamu terima Randu kalau cintanya sama pria lain?"


"Mama tahu sendiri Seto gimana. Aku sudah sering minta dia untuk berubah, aku sudah sering katakan kalau aku cinta sama dia. Tapi, tetap saja gak bisa. Dia nyaman sama orientasinya!" Sika menemukan kejujuran dari tatapan Amee itu.


"Untuk itu aku gak bisa lepaskan Mas Randu. Walau aku gak cinta sama dia, tapi dia cinta sama aku dan itu cukup!"


"Kamu ... astaga Mama gak sangka punya anak yang memanfaatkan kebaikan orang lain!"


Amee tersenyum sinis lalu kembali berkata, "Aku begini juga karena kalian. Mama juga bertahan sama papa karena butuh kenyamanan dan hartanya. Mama gak cinta lagi sama papa. Aku tahu itu. Terus kenapa jadi masalah kalau aku melakukan hal yang sama?"


Melihat cucunya menangis, Sika mengambil alih Safira dari Amee walau sempat dilarang. "Sekarang kamu keluar dan jernihkan pikiranmu," usir Sika kepada Amee.


***


Amee menyambut Randu yang masuk kamar mereka dengan mengenakan pakaian yang tipis dan pas di tubuhnya. Memperlihatkan lekuk tubuhnya, bahkan Randu bisa melihat Amee tidak mengenakan apa-apa lagi selain pakaian yang melekat di tubuhnya itu. Namun, Randu seolah tidak bernafsu dengan apa yang disuguhkan oleh Amee dan berjalan melewatinya.


"Mas, aku senang kamu akhirnya ke kamar lagi!" Amee tidak peduli dengan sikap dingin Randu. Dia memeluk Randu dari belakang. Merapatkan tubuh mereka dan menghirup rakus aroma tubuh Randu.


Dia melengos dan pergi ke kamar mandi. Mengabaikan Amee yang menunduk dan menangis.


Hanya beberapa saat Randu di kamar mandi dan ketika dia keluar sudah kembali dihadang oleh Amee. Perempuan itu seolah sudah kehilangan harga dirinya. Dia melepaskan begitu saja pakaiannya dan memperlihatkan tubuhnya.


"Aku tahu selama ini selalu kamu yang minta dulu dan kamu marah karena itu. Tapi, mulai sekarang aku akan lebih dulu meminta. Aku akan jadi perempuan yang agresif."


Randu bergeming, dia memperhatikan kekacauan Amee dan melilitkan handuk di tangannya pada tubuh Amee. Membuat perempuan itu kecewa.


"Jangan merendahkan diri begini. Saya tidak pernah bermain-main dengan ucapan saya. Kita akan bercerai!"


"Aku gak mau, Mas!"


"Kenapa? Bukankah seharusnya kamu senang karena tidak ada lagi yang menghalangi hubungan kalian?" Amee menggeleng. Dia menyeka air matanya kasar dan menghampiri Randu yang sedang mengambil pakaian di lemari.


"Mas, aku sudah bilang apa yang kamu lihat waktu itu cuma salah paham. Aku sama Seto gak ada hubungan apa pun. Kita sahabat dan kamu tahu itu!"

__ADS_1


Randu menghela napas kasar lalu menghadap Amee. "Saya tidak peduli dengan ucapanmu, yang saya tahu kamu telah berkhianat!"


Amee menggeleng. Dia meraih tangan Randu dan menggenggamnya erat. "Mas, pasti ada alasan kenapa kamu begini, kan? Gak mungkin cuma karena apa yang kamu lihat sekali itu!"


"Aileen!"


Randu memalingkan wajahnya saat Amee menatapnya lekat. "Aku mohon, Mas. Kamu gak kasihan sama Safira? Sekarang bahkan Aileen sudah pergi jauh, terus siapa yang akan urus anak itu? Kita sudah janji, Mas, sama Aileen kalau ki–"


"Cukup!" potong Randu. Dia menarik tangannya. "Saya harap kamu bisa menerima keputusan yang sudah saya buat. Untuk masalah Safira, dia akan ikut saya!"


"Kenapa kamu peduli sama anak adikku? Gak mungkin kalau dia anak kamu, kan?"


Randu berdeham pelan. Dia ingin mengatakan jika memang Safira anaknya, tetapi melihat betapa Amee yang saat ini sedang kacau membuatnya memilih diam.


"Karena saya tidak mau Safira menjadi penghalang juga antara kamu dan pria itu!" Setelah mengatakannya Randu memilih keluar dari kamar.


Pria itu bahkan melupakan tujuannya ke kamar mereka untuk apa dan kembali ke kamar Safira.


Berbeda dengan Randu yang merasa tenang saat bersama Safira, Amee membuat kamar mereka yang awalnya rapi menjadi begitu berantakan seperti kapal pecah. Dia begitu marah dengan penolakan Randu.


"Amee, apa yang terjadi?" Sika membuka pintu dan melihat kekacauan yang dibuat putrinya itu dan berusaha menenangkannya.


"Ini semua karena Aileen, Ma!" adu Amee dalam pelukan Sika.


"Kenapa sama adikmu? Apa yang dia lakuin?"


Amee tidak menjawab dan terus saja menangis. "Am, jawab. Apa kamu tahu sesuatu?" Sika melerai pelukannya. Dia memegang pundak polos Amee dengan kuat. "Jawab Mama!"


Bukannya menjawab Amee makin menangis kencang. Dia mengacak rambutnya dan menepis tangan Sika. "Mama keluar dari sini."


"Gak. Mama gak mau!" tolak Sika.


Amee menatap Sika sengit lalu bangkit berdiri dengan kesusahan. "Am, kenapa dengan Aileen. Apa yang dia lakukan sama kamu sampai begini?"


"Mama keluar. Aku mau mandi!" ucap Amee penuh penekanan lalu masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2