
Randu benar-benar tidak bisa tenang. Bahkan sudah seminggu dia tidak pergi ke showroom walau hanya untuk mengecek keadaan di sana.
Dia begitu kesal, pria yang pernah dia suruh untuk mencari Aileen nyatanya tidak bisa diandalkan lagi. Pria tersebut kesulitan mencari keberadaan Aileen.
"Apa kamu sama sekali tidak bisa melakukan pekerjaan sederhana itu?" Pria yang berdiri di hadapannya itu hanya menunduk. Randu tahu tidak seharusnya dia menekan pria tersebut. Namun, memikirkan keadaan Aileen yang sedang hamil membuatnya takut jika terjadi apa-apa.
"Saya akan mencarinya terus, Pak!" Randu hanya berdeham dan menyuruh pria tersebut keluar dari apartemennya.
Randu merasa frustrasi. Kehilangan Aileen yang tiba-tiba membuatnya merasa seperti kehilangan separuh dari dirinya.
Randu meremas rambutnya kasar, dia bahkan memukul meja beberapa kali. Mengabaikan telapak tangannya yang memerah.
"Kamu di mana Aileen?" Randu mengedarkan pandangannya, dia merasakan setiap sudut apartemen tersebut terdapat sosok Aileen yang selalu menggodanya. Namun, mengetahui semua itu hanya halusinasi, dia mengabaikannya saja.
"Mas Randu, tangannya sampai merah begitu! Bibi obati, ya!" Perempuan baya itu datang untuk membawakan minuman. Namun, melihat telapak tangan Randu yang memar dia menjadi kasihan.
Randu hanya diam saja. Dia merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Randu kembali membuka matanya saat merasakan tangannya yang dingin. Dia melihat Bi Sri nama perempuan itu, sedang mengompres telapak tangannya.
Randu menarik tangannya. "Bibi jangan lakukan itu. Saya ...."
Bi Sri berdeham pelan. Dia menarik tangan Randu, mengabaikan penolakannya barusan. "Kalau Neng Aileen pulang dan lihat tangan Mas Randu begini pasti dia sedih!" ujar Bi Sri yang membuat Randu memilih membiarkan saja.
"Apa dia sama sekali tidak bicara apa pun sebelum pergi?"
"Neng Aileen baik-baik saja, Mas, waktu itu. Cuma sebelumnya memang mamanya Neng Amee datang dan mereka ngobrol serius." Bi Sri memperhatikan wajah Randu yang menatapnya serius. "Tapi, Bibi gak berani menguping percakapan mereka!"
"Sudah, Bi!" Randu menarik kembali tangannya. Dia lalu meraih ponselnya di meja dan pamit pergi.
Randu hendak menemui Sika dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi sampai Aileen tiba-tiba saja menghilang. Randu begitu meyakini kalau kepergian Aileen ada hubungannya dengan Sika.
Pria tersebut memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, mengabaikan keselamatannya sendiri. Namun, saat di lampu merah Randu melihat anak kecil yang menurutnya terasa tidak asing. Sayangnya dia lupa mereka pernah bertemu di mana.
"Kenapa rasanya pernah bertemu dengan anak laki-laki itu?" gumam Randu. Dia terpaksa melajukan kembali mobilnya ketika suara klakson dari belakang mobilnya terus saja dibunyikan.
"Siapa dia? Kenapa juga dia berkeliaran malam-malam begini?" Randu memperhatikan anak kecil tersebut dari kaca spion tengah di mobilnya.
__ADS_1
***
Sika tidak suka dengan pertanyaan Randu kepadanya yang begitu menyudutkan. Menantunya itu bertanya seolah dirinyalah alasan Aileen menghilang.
Randu bahkan mengabaikan tatapan bingung Amee atas sikapnya itu.
"Mas, tenangkan diri kamu dulu. Lagipula kenapa kamu tanya begitu sama mamaku?" Randu menepis tangan Amee dan membuat perempuan itu begitu terkejut.
Randu tidak pernah berlaku kasar begitu, meski marah pria itu tidak akan pernah menyakitinya secara fisik dan kali ini Amee mengalaminya. Karena tindakan Randu baru saja membuat sikunya mengenai dinding.
"Bibi di apartemen yang bilang sendiri kalau Mama datang ke apartemen sebelum malamnya Aileen hilang!" ungkap Randu sambil mengamati raut wajah Sika yang terlihat jelas terkejut.
Sika mengangguk. "Mama memang datang, tapi bukan berarti Mama yang buat dia hilang!"
"Ma, apa yang Mama lakukan di sana? Kenapa Mama gak hilang apa-apa sama aku?" Randu memperhatikan Amee yang terlihat kecewa kepada Sika. Dia bahkan mengabaikan Sika yang mencengkram lengan Sika kuat. Terlihat dari buku-buku jarinya yang memutih.
"Buat apa Mama harus laporan sama kamu kalau mau ketemu dia?"
Amee mendengkus kesal. Dia menjauhkan diri dari Sika. "Itu penting buat aku. Selama ini Mama gak pernah suka Aileen, kan? Jadi pasti ada alasan kenapa Mama datang!"
Sika makin disudutkan oleh anak dan menantunya. "Oke, Mama akan bicara. Mama datang ke sana untuk minta persetujuan dia menjual rumah yang mama tempati!"
"Ma!" Amee bahkan sampai berteriak. "Mama keterlaluan. Aku sudah bilang kalau sampai kapan pun rumah itu gak akan dijual. Lagipula rumah itu atas nama Aileen. Mama pasti paksa dia atau kalau gak Mama mengatakan sesuatu yang buat dia memilih pergi!"
"Mama gak sangka kamu makin berani bicara begini sama mamamu sendiri. Mama memang memaksa dia, tapi semua demi kebaikan kamu. Mama mau melunasi utang yang kamu pinjamkan untuk Mama!"
Randu mengerutkan keningnya heran. Dia menatap Amee yang menjadi gugup. "Apa yang kamu sembunyikan?"
Amee menggeleng. "Kita bicarakan ini di kamar, Mas!" Amee menarik Randu membawanya ke kamar mereka. Pria tersebut membiarkan saja yang dilakukan Amee.
"Sekarang katakan apa maksud mama bilang begitu? Kamu punya utang?"
Amee begitu cemas, dia menatap Randu ragu. "Kenapa diam?"
"Aku harap kamu gak salah paham dulu, Mas. Sebenarnya uang yang aku pinjam atas nama mama itu untuk operasional toko yang pernah hampir bangkrut."
__ADS_1
"Kamu melakukan itu dan membebankannya sama mama?" Amee menggeleng. "Lalu apa gunanya saya sebagai suami? Di mana kontribusi pria itu? Ah, saya bahkan begitu enggan menyebut namanya."
"Mas ...." Amee mendekati Randu yang hendak memeluknya, tetapi Randu dengan sigap menghindar. "Seto juga gak tahu kalau aku pakai uang dari hasil meminjam. Dia tahunya itu uang tabunganku. Aku gak mau dia sedih dan terluka setelah banyak masalah yang dia hadapi!"
Bibir Randu terbuka, dia tidak menyangka dengan ucapan Amee barusan. "Kamu memikirkan tentang pria lain di depan suami kamu sendiri?" Randu bertepuk tangan dan tertawa keras.
"Kalau kamu begitu pedulinya dengan pria itu, seharusnya kamu menikah dengannya, bukan saya!"
Amee menatap Randu terkejut. Dia menggigit bibirnya dalam dan membiarkan saja Randu yang keluar dari kamar mereka.
***
"Ibu sebenarnya keberatan dan merasa gak enak hati sama kebaikan Neng Aileen. Ponsel mahal itu bahkan harus dijual demi bisa bertahan hidup."
Aileen tersenyum miris. Dia sendiri sadar, ponsel yang dia bawa saat pergi dari rumah harus dia jual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.
"Ibu jangan cemas. Lagipula aku gak butuh ponsel kalau sekarang!" Aileen mencoba meyakinkan Siti jika dirinya baik-baik saja.
"Oh, ya. Aku sampai lupa bilang sama Ibu. Jadi, aku sudah bisa sewa satu rumah untuk dijadikan tempat belajar anak-anak sama para orang tua yang masih belum bisa membaca dan menulis." Aileen begitu girang saat memberitahu Siti.
"Besok sebagian uang ini aku gunain untuk bayar sewa rumahnya!"
"Ibu terharu sekali sama kebaikan Neng Aileen sama warga di sini. Mereka pasti senang banget!" Aileen mengangguk. Dia membalas pelukan Siti yang menenangkannya.
"Aku juga senang banget karena bisa menyalurkan salah satu hobi aku, setelah aku merasa sama sekali gak ada gunanya lahir di dunia!" Aileen terkekeh pelan. Dia lalu mencari keberadaan Faiz yang tidak terlihat di dalam rumah.
"Faiz ke mana, Bu?"
"Kayaknya dia masih di luar!"
Aileen mengangguk. "Aku susul dia, sudah malam!" Aileen gegas mencari keberadaan Faiz ke luar rumah. Namun, dirinya terkejut saat melihat Faiz tengah berbicara dengan seorang pria saat bersama Randu ketika menemukan keberadaannya.
Aileen mengurungkan niat untuk menghampiri Faiz dan kembali masuk. "Faiz di luar, Neng?" Aileen berdeham pelan.
Hampir saja pria itu melihatnya. Dia tidak mau jika karena pertemuan yang tidak disengaja membuat pria tersebut akan mengenali dan memberi tahu Randu keberadaannya.
__ADS_1