Skandal Termanis

Skandal Termanis
Tidur di Mana?


__ADS_3

"Apa yang anak itu pikirkan sampai menceraikan kamu? Bahkan di kehidupan berikutnya pun Mama akan tetap pilih kamu daripada adikmu itu untuk jadi istri Randu!"


"Makasih, Ma. Aku sudah ikhlas dengan perceraian ini. Lagipula aku sadar Mas Randu sudah gak cinta sama aku dan kebetulan adikku selama ini yang sering sama dia!" Mira menghela napas pelan. Dia menyesap tehnya dengan tatapan tidak pernah lepas kepada Amee.


"Itu salah kamu juga. Harusnya kamu gak memberi kebebasan mereka terus bersama!"


"Iya. Aku terlalu percaya sama mereka!" Amee menunduk menyesal karen terlalu percaya.


"Ya sudah, Mama akan ke apartemen Randu. Dia di sana, kan? Lagian rumah ini pasti Randu kasihkan sama kamu dan Mama gak ada hak untuk tetap di sini!" Mira memperhatikan Amee dengan kasihan menjadi korban adiknya sendiri. Dia tahu apa yang terjadi kepada Randu dan Aileen, tetapi tidak pernah menyangka Aileen akan berani sekali merebut Randu.


"Kamu gak perlu antar Mama!" Mira lekas pergi meninggalkan Amee sendiri di rumah itu.


"Hah. Maafkan aku sudah bohong. Aku juga bersalah di sini, tapi apa yang aku bilang tadi benar. Kalian saling cinta!" Amee memperhatikan langkah Mira yang menjauh dan mengharapkan sesuatu yang akan membuat mereka berdua menyesal.


***


Aileen begitu terkejut jika tamunya yang beberapa waktu lalu sedang dia bicarakan. Dia begitu gugup melihat Mira yang berdiri angkuh dengan tatapan tidak sukanya.


Belum juga Aileen menyuruh masuk, Mira sudah masuk lebih dulu. Dia mengabaikan Aileen dan mencari keberadaan Randu.


"Kak Randu gak ada di sini, Tante. Dia di apartemennya yang lain sedang dengan temannya!" ucap Aileen memberitahu tentang keberadaan Randu. Dia yakin Mira datang ke apartemen pasti untuk mencari Randu. "Aku yang tinggal di sini untuk sementara waktu!" lanjutnya lagi.


Mira masih saja diam. Dia memperhatikan Aileen dengan tatapan tidak suka. Mulutnya terbuka hendak bicara, tetapi kembali terkatup rapat saat Aileen tergesa-gesa pergi ke kamarnya karena mendengar suara Safira yang menangis.


"Dia anak Randu?" tanya Mira yang ternyata mengikuti Aileen. Dia memperhatikan dengan saksama bayi yang sedang menangis itu lalu menghampiri. "Benarkan?"


Aileen kira Mira akan menyentuh Safira setelah tahu siapa bayi itu. Namun, dia salah. Mira hanya terus memperhatikan Safira yang sedang menangis dan setelah itu pergi meninggalkan mereka berdua begitu saja.


Setelah kepergian Mira, Aileen mencoba menenangkan bayinya yang masih menangis itu, padahal baru beberapa menit bayi tersebut tidur. "Kamu pasti tahu nenek datang, ya?"


Aileen mengusap jejak air mata di pipi Safira. "Jangan takut, nenekmu orang baik. Mama gakpapa! Nanti kamu temui nenek kalau sudah tenang, ya!" Dia mengecup Safira yang mulai terlelap kembali.

__ADS_1


Aileen menoleh saat mendengar langkah kaki mendekat, dia menghela napas pelan saat mengetahui Bi Siti yang datang ke kamarnya, padahal tadi dia sudah mengira Mira yang kembali ke kamarnya.


"Neng, ibu minta Neng Aileen temui ibu! Ada Mas Randu juga!"


Aileen mengangguk pelan. Dia meminta agar Bi Siti tetap di kamarnya menjaga Safira, takut terbangun kembali. "Neng tenang saja. Bibi akan jaga Safira di sini!"


"Makasih, ya, Bi!" Dia lekas keluar dan tidak lupa menutup pintunya. Aileen melihat Mira dan Randu yang duduk saling berhadapan. Dia juga dapat melihat tatapan Mira yang begitu tajam kepada Randu.


"Lihatlah, perempuan itu datang!" ujar Mira yang terdengar menakutkan untuk Aileen. Walau itu hanya sebuah kata-kata.


Randu menoleh dan tersenyum hangat kepada Aileen yang terlihat tegang. Dia lalu menyuruh Aileen untuk mendekat.


"Duduk sini!" Aileen menurut dengan duduk di samping Randu.


"Kakak kenapa ke sini? Tadi bukannya bilang mau ...."


"Saya yang minta dia ke sini. Memang hanya kamu yang bisa buat dia menurut?" Mira memotong ucapan Aileen membuat perempuan muda itu menunduk takut.


"Astaga, Randu. Apa yang kamu pikirkan sampai begitu membela dia? Kamu bahkan rela melepaskan perempuan sebaik Amee demi dia? Lupa dia siapa?" tanya Mira dengan tatapan tajam kepada Aileen.


"Aku tentu tahu dia siapa, Ma. Dia ibu dari anakku. Siapa lagi?" Mira mendengkus kasar mendengar pembelaan Randu untuk Aileen. "Lagipula kenapa Mama datang ke sini tidak beritahu dulu?"


"Itu terserah Mama. Gak ada larangan bagi orang tua menemui anak dan cucunya!"


"Tapi nyatanya kedatangan Mama cuma mau menyudutkan Aileen karena perceraianku. Mama salah bilang kalau aku dan Amee cerai semua karena Aileen! Semua keputusan aku yang buat karena sudah tidak ada lagi kecocokan antara aku dan Amee!"


"Kak ...."


"Tenanglah, aku akan bereskan semuanya," bisik Randu yang makin mengundang kekesalan Mira.


"Hah. Mama gak ngerti lagi sama kamu. Mama sudah terima bayi itu karena dia anak kamu, tapi kenapa kamu harus melakukan ini? Pilih perempuan yang jelas-jelas memiliki keturunan dari perempuan perebut suami orang!"

__ADS_1


Ucapan Mira benar-benar melukai harga diri Aileen walau yang dikatakan Mira benar adanya. Dia tidak berani untuk mengatakan apa pun saat ini untuk membela diri, selain takut tidak dapat mengendalikan emosinya. Dia juga sudah bertekad akan membuat Mira merestui mereka.


"Kenapa diam? Saya benarkan? Mamamu hadir dan menghancurkan keluarga orang lain. Sekarang kamu yang lakukan itu dengan kakakmu sendiri!"


"Cukup, Ma! Kalau Mama ke sini hanya mau menghina Aileen, lebih baik pergi!" usir Randu yang sudah tidak tahan lagi dengan ucapan Mira yang begitu keterlaluan. Dia melepas genggaman tangannya pada Aileen dan pergi ke arah pintu.


Randu membuka pintu apartemen dan menyuruh Mira untuk pergi. "Silakan ...."


Mira hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia urungkan dan memilih pergi dari apartemen tersebut.


"Kamu akan menyesal berbuat begini sama Mama, Ran!" Randu hanya mengangguk. Setelah Mira keluar, Randu langsung menutup pintu dan menguncinya.


Pria tersebut menghela napas pelan saat melihat Aileen yang hanya terdiam sambil terus menunduk. Dia tahu, perempuan itu pasti begitu sedih dengan ucapan mamanya yang menyakitkan.


"Maaf!" Randu berjongkok di hadapan Aileen dan mengenggam tangannya erat.


"Kakak kenapa minta maaf. Kakak gak salah dan yang Tante Mira bilang benar!"


Randu menggeleng. "Apanya yang benar? Tidak ada yang benar dengan mengatakan hal mengerikan itu!"


"Kakak tenang saja. Aku gakpapa. Lagian aku sudah tahu resiko yang harus aku terima untuk buat Tante Mira setuju sama hubungan kita." Aileen menangkup wajah Randu dan meminta agar Randu menyusul Mira. Sayangnya Randu menolak.


"Biarkan saja. Malam ini biarkan Mama pergi, biar sadar kalau yang dilakukannya tadi salah!" Aileen menyerah. Dia memilih untuk tidak memaksa Randu.


***


Mira sama sekali tidak menyangka putranya lebih memilih perempuan lain dibandingkan dirinya, bahkan sampai berani sekali mengusir di depan Aileen.


"Mau diantar ke mana, Bu?" Pertanyaan sopir taksi membuatnya tersadar dia belum menentukan akan tidur di mana malam ini saking emosinya karena sikap Randu itu.


"Hotel dekat sini saja, Pak!"

__ADS_1


Hotel opsi terbaik Mira untuk mengistirahatkan tubuhnya malam ini dari lelah dan emosi. "Awas saja, Mama akan buat kamu menyesal dan meminta maaf!"


__ADS_2