
"Apa yang Tante lakuin di sini? Jangan buat aku kelihatan jahat sama tamu, dong!"
Adis menghampiri Sika yang berada di dapur. Dia merebut pisau dari tangan Sika. "Tante di sini tamu, jadi gak perlu repot-repot buat masak," ucap Adis sambil meletakkan pisau di meja dan membawa Sika pergi dari ruangan tersebut.
"Tante cuma mau buatkan sarapan kamu saja. Lagipula siapa yang akan bilang kamu jahat?"
Adis menatap Sika kesal. Dia melipat tangannya di atas perut lalu berkata, "Untuk menghindari omongan begitu. Lagipula aku sudah pesan makanan kok buat kita! Tuh!" Adis menunjuk dua bungkus nasi uduk di atas meja makan. Dia kembali ke dapur untuk mengambil sendok dan minum.
"Setelah ini aku akan antar Tante ke rumah Mbak Amee. Aku gak bisa lama-lama biarin Tante di sini, gimanapun Tante harus tinggal sama anak Tante!"
"Boleh Tante menginap beberapa hari di sini? Anak-anak Tante gak ada yang mau terima Tante! Apalagi Aileen yang tega usir Tante setelah nikah sama Randu!" Adis menatap Sika yang berkata dengan raut wajah sedih.
"Aileen usir Tante?"
"Iya. Ternyata dia bukan anak yang baik dan hormat sama orang tua. Tante harap kamu gak begitu sama orang tuamu!"" Sika menyuap nasi uduknya dengan penuh emosi.
Mendengar ucapan Sika yang menjelekkan Aileen membuat Adis meletakkan sendok dengan kasar. "Astaga, kamu kenapa?" tanya Sika heran. Adis menepis tangan Sika yang hendak menyentuhnya.
"Tante gak sadar sama yang Tante bilang barusan?"
"Yang mana?"
"Apa Tante harus bilang begitu? Selalu menjelekkan Aileen, Tante gak pernah peduli sama perasaan dia banget deh. Sumpah, kalau aku jadi Aileen, aku akan gak peduli sama Tante lagi." Sika menunjukkan pesan Aileen kepada Sika. "Lihat deh, dia sekhawatir ini sama Tante, loh!"
"Kamu gak bilang Tante di sini?"
"Ngapain? Aku gak mau tuh Aileen tahu kalau Tante di sini. Yang ada nanti dia jemput Tante lagi! Terus parahnya sampai mohon-mohon," jawab Adis dengan begitu ketus. Dia mengabaikan pesan terakhir Aileen yang memintanya untuk memberitahu jika bertemu dengan sika—mamanya.
"Dia cuma pura-pura saja. Kalau dia khawatir, harusnya dia gak usir Tante! Dia dan suaminya sama saja!" Sika benar-benar keras kepala dan juga keras hati.
__ADS_1
"Capek banget aku ngobrol sama Tante. Kok ada gitu, ya, orang tua kayak Tante! Harusnya tuh Tante bersyukur punya anak kayak Aileen. Walau Tante sering jahat sama dia. Dia gak pernah bicara yang jelek-jelek tentang Tante!"
Adis sudah tidak lagi selera untuk makan sarapannya. Dia memilih meninggalkan Sika yang termenung karena ucapannya.
Hanya karena bisa mengubah poin kedua dari perjanjian pernikahan yang dibuat El, Adis terpaksa menerima permintaan pria tersebut untuk menerima Sika menginap di rumahnya. Sekarang dia benar-benar menyesal sekali.
Tidak pernah dia bertemu dengan orang tua yang sikapnya seperti Sika. Sangat kekanak-kanakan melebihi sikap anak-anak.
[Tante Sika ada di rumahku! Jemputlah]
Tidak lama Sika masuk ke kamar Adis yang tidak tertutup begitu saja. Dia memilih duduk di tepi ranjang, memperhatikan Adis yang sedang duduk di depan cermin. "Tante tahu kamu marah karena Tante menjelekkan sahabat kamu, tapi Tante ada alasannya!"
Adis yang ingin mengabaikan saja kehadiran Sika kembali menjadi geram. Dia meletakkan ponselnya di meja dan beralih menatap Sika. "Dia memang anak yang baik, penurut, dan gak pernah sekali pun membantah di mata semua orang dan Tante akui itu. Tapi, setiap lihat wajahnya mengingatkan Tante dengan perbuatan wanita itu. Dia yang menghancurkan keluarga Tante. Apa kamu gak bisa pahami perasaan Tante juga?"
Adis menjadi bingung sendiri, sekarang Sika seakan sedang menjual kisah sedihnya. Mencari pembelaan dari kejadian yang telah dia alami. "Tapi, Aileen bukan mamanya. Dia beda dan aku yakin Tante tahu itu."
"Mereka sama. Kalau saja dia tidak hamil anak Randu dan menikahi pria itu, Tante sudah akan mengajaknya damai. Tapi, melihat Amee disakiti, ibu mana yang bisa bersikap baik dengan perempuan perebut suami orang?"
"Aku paham, Tan, dan maaf sudah kasar tadi. Tapi, dariku yang juga sebagai anak, gak seharusnya Tante bersikap buruk terus-menerus sama Aileen. Sesekali lihat kebaikan yang dia perbuat. Bukan cuma Tante dan Mbak Amee yang terluka. Aileen juga dan untuk ucapan terakhir Tante tentang Aileen, aku rasa berlebihan. Dia gak pernah rebut Kak Randu. Tapi, memang sudah takdir mereka bersatu!"
"Sudahlah, Tante gak peduli lagi dan cuma mau bilang itu. Kamu habiskan sarapanmu, Tante akan berkemas dan pergi!"
Adis menghampiri Sika yang keluar dari kamarnya dan memintanya untuk tidak pergi. "Aku akan izinkan Tante menginap di sini beberapa hari lagi!"
"Kamu serius?" tanya Sika begitu senang.
"Iya. Tante lupakan saja percakapan kita tadi. Aku akan habiskan sarapanku!"
***
__ADS_1
"Aileen, kenapa kamu datang ke sini?" Adis terkejut melihat Aileen yang datang ke rumahnya. Dia mengira Amee yang datang karena dirinya mengirim pesan kepada perempuan itu.
"Mbak Amee yang kasih tahu Mama ada sini. Mama masih di sini, kan?"
Adis mengangguk. "Masuklah! Aku akan panggilkan Tante Sika!"
"Adis, jangan!" Aileen menahan Adis yang akan memberitahu kedatangannya kepada Sika. "Aku ke sini sebenarnya cuma pengin tahu kabar mama saja. Aku khawatir, tapi bukan untuk jemput mama."
Adis mendengkus pelan lalu menyuruh Aileen duduk. "Kak Randu yang larang?"
"Bukan suamiku, tapi aku yang larang Mama tinggal sama aku!"
"Hah, kamu serius? Pantesan Tante Sika gak suka waktu aku bahas kamu!"
Aileen tersenyum masam. "Aku mau hidup tenang, Dis. Mungkin kedengarannya egois, tapi lama-lama aku juga capek. Mama gak pernah lihat aku, apa pun itu selalu salahin aku."
"Aku tahu kok. Aku tahu banget malah!"
"Jadi, mamaku baik-baik aja, kan?" Adis mengangguk. "Tapi kenapa bisa mama ada di sini? Mama pasti gak akan kepikiran sama kamu loh!"
Adis mendengkus kesal. Dia lalu bercerita alasan Sika bisa menginap di rumahnya. "Semua karena Bang El. Dia tiba-tiba datang dan paksa aku untuk tampung Tante Sika. Tapi, untungnya aku cerdik, jadi aku buat perjanjian sama dia!"
Aileen mengerutkan keningnya. "Astaga, Dis!"
"Aku gak mau rugi. Tapi, sebenarnya aku senang ada Tante Sika di sini. Jadinya aku ada teman ngobrol!"
"Syukurlah. Aku harap Mbak Amee gak lama-lama perginya biar bisa cepat jemput mama." Aileen menghela napas pelan setelah membaca pesan di ponselnya. "Aku harus pergi sekarang. Jangan kasih tahu mama kalau aku ke sini, ya!" Aileen memberikan sejumlah uang di dalam amplop cokelat kepada Adis. "Tolong kasihkan untuk mama!"
"Tapi, aku harus bilang apa soal uang ini?"
__ADS_1
"Terserah kamu, asal jangan bilang dari aku. Bilang dari Bang El, bagus juga!" Aileen terkekeh pelan setelah mengatakannya dan pamit pergi.