Skandal Termanis

Skandal Termanis
Keberanian Aileen


__ADS_3

"Lebih baik suruh Amee untuk menjemput mamanya! Aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu!"


"Kak, mama ke sini karena Mbak Amee yang usir. Lagipula mama gak punya tempat tinggal lagi!" Aileen sendiri bingung, dia tidak mungkin begitu saja mengusir Sika dari rumah mereka, tetapi Randu punya hak juga untuk tidak menerima Sika tetap tinggal.


"Amee yang anak kandungnya saja mengusir, kenapa kita yang repot?" Randu terlihat begitu kesal.


"Gimanapun dia mamaku, Kak, terlepas dari gimana buruknya perlakuan mama sama aku!" Aileen meraih tangan Randu. Dia berusaha untuk membuat Randu melunak. "Atau mama tinggal di apartemen?"


Randu menggeleng. "Apartemen sudah disewakan dan kamu tahu itu. Lagipula kalaupun masih kosong, aku tidak akan izinkan!"


Aileen menatap kecewa Randu, dia melepaskan tangan pria tersebut lalu mengangguk dan pergi dari kamar. "Di mana mama?"


Tidak menemukan keberadaan Sika yang dia kira masih berada di dapur, Aileen memilih pergi ke kamar tamu yang digunakan Sika.


Dia menghela napas lega saat melihat Sika memang berada di sana. "Boleh aku masuk, Ma?"


"Masuk saja, ini rumah kamu!"


Tanpa menunggu lama, Aileen masuk dan menghampiri Sika yang sedang menatap pakaian ke lemari. "Mama mau tinggal di sini?"


"Apa maksud kamu? Kamu sebenarnya bilang begitu mau bilang kalau aku harus pergi dari sini?" Sika menatap kesal Aileen yang berdiri di hadapannya, meski begitu dia tetap saja merapikan pakaiannya. "Jangan harap. Kamu harusnya tahu diri, selama ini aku yang urus kamu. Aku kesusahan sekarang, jadi apa pantas kamu usir aku?"


"Maaf, bukan begitu. Tapi ...."


"Urusan suamimu, kamu yang urus!" potong Sika. Dia mendorong tubuh Aileen agar menjauh darinya.


Aileen sebenarnya begitu geram dengan tingkah Sika yang terkesan tidak tahu diri, tetapi dia mencoba untuk bertahan. Aileen mengirup udara banyak-banyak lalu mengembuskannya lewat mulut secara perlahan.


"Kak Randu larang Mama tinggal di sini! Dan rumah ini atas nama suamiku, Ma!" Aileen tersenyum tipis saat melihat wajah kesal Sika, bahkan pakaian terakhir yang harusnya dia taruh ditumpukkan teratas dalam lemari terjatuh. "Maaf, pasti Mama kecewa. Tapi, aku lebih kecewa dan sakit hati lagi atas semua perlakuan Mama ke aku." Aileen berusaha bicara dengan tenang.


Awalnya dia ingin memberikan solusi kepada Sika, tetapi sikap perempuan paruh baya itu membuatnya berpikir harus bicara apa adanya.


"Kamu!" Sika menunjuk wajah Aileen dengan tatapan tajam. Dia lalu mengambil pakaiannya yang terjatuh. "Gimana kamu bisa bilang begitu dengan sesantai itu?"


"Aku belajar dari Mama."


"Apa? Astaga, dasar anak tidak tahu diri!" bentak Sika. Dia hendak menampar, tetapi dengan cepat Aileen memegang pergelangan tangannya. "Lepas!"

__ADS_1


"Sejak kapan Mama anggap aku anak? Selama ini bukannya Mama selalu anggap aku beban dan juga alasan keluarga Mama yang berantakan."


"Aileen, jangan memancing Mama marah!"


Bukannya takut, Aileen malah terlihat begitu makin berani kepada Sika. Dia tidak mau lagi terus-menerus disalahkan dan selalu merasa bersalah atas tindakan yang tidak pernah dilakukannya.


"Mama selalu marah, bahkan di saat aku gak lakuin kesalahan apa-apa. Jadi, lebih baik sekarang Mama kembali ke rumah Mbak Amee dan perbaiki hubungan kalian. Mama harus belajar dewasa, Mbak Amee bisa muak apalagi orang lain, Ma!" Aileen langsung melepaskan tangan Sika dan keluar dari kamar tersebut.


Dia menyentuh dada kirinya, merasakan detak jantungnya yang berpacu dengan cepat. "Hah, apa yang aku lakuin barusan?"


Aileen merasa lemas dan sama sekali tidak menyangka akan seberani itu.


"Ada apa sama kamu?" Aileen mengangkat wajahnya dan menatap kesal Randu yang terlihat begitu khawatir. "Apa yang dilakukan mamamu?"


"Gak ada apa-apa. Kakak tenang saja, aku lakuin yang Kakak minta. Aku sudah usir mama!" Aileen menepis tangan Randu dan pergi ke kamar Safira saat mendengar bayinya menangis.


Randu tidak diam saja, dia mengejar Aileen dan ikut masuk ke kamar tersebut. "Kamu benar-benar usir mamamu?"


Aileen hanya mengangguk. "Kenapa? Bukannya tadi kamu ...." Randu mengatupkan bibirnya saat mendapatkan tatapan tajam dari istrinya itu.


"Kakak kenapa gak punya pendirian, sih? Aku sudah lakuin sesuai maunya Kakak loh. Sekarang giliran Kakak urus mama, minta mama untuk balik ke rumah Mbak Amee!"


Aileen mendengkus pelan. Dia ingin sekali mencubit pinggang Randu dan tidak mau melepaskannya, bahkan saat suaminya meminta dilepaskan. Namun, dia memilih menahan kekesalannya dengan sibuk mengurusi Safira saja.


"Baiklah, aku akan hubungi Amee untuk jemput mamanya ke sini!" Tidak ada tanggapan apa pun dari Aileen. Randu yang sudah menemukan nama kontak Amee di ponselnya menjadi ragu menghubungi dan menyerahkan ponsel tersebut kepada Aileen.


"Kenapa?" Aileen menatap Randu bingung, tetapi dia mengambil ponsel tersebut. "Katanya mau telepon Mbak Amee, kenapa malah dikasih ke aku, sih?"


"Kamu saja yang hubungi biar tidak ada salah paham lagi!"


"Yakin? Gak mau dengar suara Mbak Amee?" goda Aileen. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda Randu. "Oke, tapi Kakak yang minta ya!"


Randu hanya mengangguk pasrah. "Daripada salah paham lagi."


"Gak diangkat, Kak!" Aileen menyerahkan ponsel tersebut kepada Randu.


"Coba lagi!"

__ADS_1


"Kakak saja, aku mau mandikan Safira!" Aileen memperhatikan Randu yang terlihat ragu untuk kembali menghubungi Amee dan berkata dengan lembut, "Kakak tenang saja, aku gak akan cemburu." Setelah itu dia membawa Safira ke kamar mandi.


***


Di saat mereka akan tidur, terdengar ketukan pintu berulang kali. Aileen dan Randu saling tatap lalu memilih untuk keluar kamar.


"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" gumam Aileen. Dia mengekor Randu yang berjalan di depan dan membukakan pintu. Dirinya menghela napas lega, tetapi beberapa detik kemudian menatap tamunya bingung.


"Mbak Amee kenapa malam-malam ke sini?"


Amee terlihat begitu cemas dan Aileen mengajaknya masuk. "Mbak duduklah, aku ambilkan minum dulu, ya!"


"Gak perlu. Mbak ke sini cuma mau cari mama. Mama di sini, kan?"


Aileen menatap Randu yang hanya diam saja lalu kembali menatap Amee. "Ada apa? Mama gak di sini?"


"Mama gak ada di rumah."


"Mbak kira mama ke sini. Ai, ini salah Mbak. Mbak marah sama mama dan langsung usir mama gitu aja." Aileen begitu tidak tega melihat Amee yang terlihat menyesal. Dia mencoba menenangkan Amee dengan mengajaknya duduk.


"Mama sebenarnya tadi ke sini, tapi aku usir mama, Mbak!"


Amee terkejut sampai menarik tangannya yang digenggam Aileen. "Kenapa, Ai? Kamu tega usir mama?" bentak Amee.


"Aku yang usir mamamu. Kenapa istriku harus repot-repot urus mamamu, sedangkan kamu yang anaknya saja tidak mau menampungnya lagi!" Randu yang sejak tadi diam saja mulai bicara. Dia geram melihat reaksi berlebihan Amee sampai berani membentak istrinya.


"Mas!"


"Selama ini Aileen tidak pernah dianggapnya anak, dia selalu saja menyudutkan istriku. Sekarang kenapa dia harus mengurusinya?"


Amee menghela napas pelan. "Aku salah, aku minta maaf. Ai, maaf Mbak sampai bentak kamu!" Amee langsung berdiri dan pamit pergi.


"Kak, kenapa bilang gitu?"


"Biarkan saja. Mereka berdua sama saja. Sama-sama tidak tahu diri."


"Tapi, Kak!"

__ADS_1


"Kamu harus bisa tegas seperti tadi sore saat bicara sama mamamu. Sekarang, jangan pernah kamu terus-terusan mengangguk dan menerima semua ucapan kasar mereka. Kamu berhak bahagia!"


__ADS_2