
Setelah beberapa saat mereka tidak bertemu, Aileen menerima ajakan Adis untuk makan siang bersama di sebuah cafe yang lumayan jauh dari rumahnya.
Aileen tentu saja menyanggupinya. Dia memilih datang lebih awal membawa Safira, bersama dengan pengasuhnya juga.
"Adis belum datang. Kita pilih tempat duduk saja dulu!" Aileen memutuskan duduk tidak jauh dari pintu masuk.
"Mbak mau pesan apa?" tanya Aileen kepada pengasuh Safira yang baru bekerja selama seminggu itu. Dia memanggil waiters untuk memesan makanannya.
"Terserah Ibu saja, saya ngikut!"
"Loh, jangan gitu, dong. Kamu harus pesan sesuai yang kamu mau. Gakpapa, pesan saja jangan takut!" Aileen menyerahkan buku menu tersebut kepada pengasuh bayinya. "Jadi gimana, sudah tahu mau pesan apa?" tanya Aileen yang penasaran karena pengasuh tersebut hanya membolak-balik buku menu tanpa memberitahu apa yang ingin dimakannya.
"Bingung, Bu!" ucap pengasuh tersebut polos dan membuat Aileen tidak tahan untuk tertawa kecil.
"Steik mau? Atau mau disamakan saja sama aku?"
"Samakan saja, Bu!"
Aileen mengangguk setuju, dia memesan dua menu sama kepada waiters.
"Hai, lama menunggu?" Saat Aileen sedang mengajak bicara Safira yang mengoceh, dia dikejutkan dengan El yang menyapanya.
Aileen menatap heran El, padahal Adis tidak mengatakan jika El akan gabung juga. Dia lalu mencari keberadaan Adis yang belum terlihat. "Cari Adis?" Aileen mengangguk, dia membiarkan pria tersebut ikut duduk bersama mereka. "Dia akan telat."
"Oh, tapi apa alasan Bang El ikut datang juga? Apa yang mau Adis bicarakan ada hubungannya sama Abang?"
"Tentu. Dia gak bilang?" El berdecak sebal saat Aileen menggeleng lalu tatapannya beralih pada Safira yang sedang melihatnya tanpa kedip. "Astaga, anakmu sudah besar dan cantik banget. Lihatlah, dia mirip sekali denganmu!"
"Dia anakku!" jawab Aileen ketus.
__ADS_1
El terbahak mendengarnya, karena tawa El membuat Safira ikut tertawa juga. "Bayimu menyukaiku."
Aileen mendengkus kasar, dia mengabaikan ucapan El tersebut. Tidak lama pesanan mereka datang dan El segera memesan makanan juga.
Menunggu pesanannya datang, El menyerahkan undangan kepada Aileen. Tentu saja membuat Aileen terkejut. Dia sampai menatap El dengan mata membelalak. "Aku dan Adis memutuskan untuk menikah. Aku mau punya anak dari dia!" ucap El tanpa menatap Aileen dan lebih senang mengajak bermain Safira.
"Semoga saja anakku cowok, jadi nantinya dia dan anakmu bisa kita jodohkan!" lanjut El, dia memperhatikan Aileen yang terlihat tidak suka dengan ucapannya itu.
"Asal!"
El menggeleng. "Salah, aku serius dan Adis pun setuju. Lagipula anggap saja ini salah satu cara biar aku bisa dekat selalu sama kamu. Dengan menyatukan anak-anak kita, aku bisa ada alasan dekat denganmu!"
Aileen geram mendengarnya, setelah beberapa saat tidak bertemu dan menganggap El telah menjadi dewasa. Ternyata tidak, El tetaplah sama dan tidak akan berubah.
"Bang El sadar gak, sih, kalau sudah melukai perasaan Adis? Padahal dia cinta banget sama Bang El!"
"Aku tahu, bahkan Adis tahu dan dia tetap kekeh dengan bilang akan buatku jatuh cinta sama dia. Oh, ya, karena sebenarnya Adis gak akan datang aku sekalian mau sampaikan kalau aku yang meminta Adis mengatur pertemuan kita!"
"Ini salah satu syarat agar pernikahan kita benar-benar terjadi!"
Aileen menggeram kesal. Dia sudah malas berada satu ruangan dengan El dan langsung mengajak pengasuhnya pulang. Jika berlama-lama bersama dengan El, entah apa lagi yang akan dia dengar nantinya.
***
Aileen terdiam di kamar sambil menunggu Randu yang keluar dari kamar mandi. Tadi, saat suaminya sedang mandi dia berhasil menghubungi Adis, memarahi sahabatnya itu dan meminta untuk tidak menikahi pria seperti El.
Sayangnya, ucapan Adis membuat Aileen tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak menyangka Adis memilih menyerahkan seluruh hidupnya untuk mencintai El.
Tatapan Aileen beralih pada Randu yang keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Suaminya itu terlihat tampan dengan menggunakan kaus oblong berwarna putih dan celana training.
__ADS_1
"Apa aku mengagetkanku?" Aileen menggeleng. Dia lantas menghampiri Randu dan mengambil handuk yang tersampir di pundaknya.
"Duduk di sini, aku mau keringkan!" pinta Aileen dan langsung dituruti oleh Randu.
"Ada apa? Kulihat sejak tadi kamu suka sekali melamun!" Randu bicara tanpa menatap Aileen dan menikmati pijatan pada kepalanya. Dia sampai memejamkan mata.
"Heem. Ada yang menganggu aku, tapi itu gak penting lagi sekarang!"
"Tentang?"
Aileen menghela napas pelan, tangannya masih setia mengeringkan rambut Randu dengan handuk. "Adis! Aku kira dia harus dikasihani, tapi ternyata dia gak perlu dikasihani, Kak!"
Kening Randu berkerut dalam, dia tidak mengerti yang dikatakan Aileen sama sekali. "Maksudnya, bagaimana? Apa yang terjadi dengan sahabatmu itu? Bukankah dia akan menikah, tadi kamu baru saja kasih lihat undangannya." Aileen berdeham. "Masalahnya?"
"Gak ada. Lebih baik kita bahas tentang kita saja!"
"Tentu!" Randu langsung memegang tangan Aileen dan berbalik menghadap istrinya tersebut.
"Aku belum selesai keringkan rambut Kakak!" protes Aileen saat Randu menjauhkan handuknya. Dia langsung menggenggam kedua tangan Aileen erat. "Kak ...."
"Mulai sekarang, saat berdua begini usahakan untuk tidak membahas tentang orang lain, selain kita!"
"Maaf!"
"Tidak, tidak! Jangan minta maaf. Pemberlakuannya mulai malam ini. Aku hanya ingin tangis dan tawamu ketika kita berdua karena aku yang melakukannya atau karena anak-anak kita, bukan orang lain!"
Aileen memperhatikan dengan lekat mata Randu yang memancarkan keinginan tidak terbantah. Dia memutuskan untuk menerimanya. Lagipula memang tidak ada guna membahas tentang hubungan orang lain, jika mereka saja membiarkan hati dan pikirannya disakiti.
"Setuju?"
__ADS_1
"Aku setuju."