Skandal Termanis

Skandal Termanis
Apa itu Normal?


__ADS_3

Randu dan Aileen langsung membawa Safira ke rumah sakit. Mereka takut terjadi apa-apa kepada Safira dan beruntungnya bayi tersebut dalam keadaan sehat. Mereka langsung membawanya pulang.


"Syukurlah gak terjadi apa-apa sama Neng Safira. Semalaman Bibi gak bisa tidur cemas karena Neng Safira dibawa Bu Sika!"


Aileen menghela napas pelan. Melihat wajah damai Safira membuatnya merasa lega. Rasa takutnya mengalahkan keyakinan jika Sika tidak akan berbuat macam-macam.


"Neng Aileen sekarang istirahat saja. Pasti capek karena kurang tidur. Nanti Bibi buatkan sup, ya?"


"Makasih, Bi. Aku memang capek banget!" Aileen memutuskan untuk tidur di samping putrinya. Baru sebentar, dia sudah terlelap.


Bi Siti memilih keluar dari kamar, dia melihat Randu yang datang dan menghampirinya. Bi Siti langsung menghampiri tuannya.


"Gimana Aileen?"


"Neng Aileen tidur!"


Randu menghela napas lega. "Syukurlah. Aku akan tetap di sini sampai menunggu dia bangun. Bibi jangan pedulikan aku!" Setelah mengatakannya Randu memilih duduk di sofa. Kebetulan dirinya memang membawa laptop dan membuka benda tersebut.


Randu memilih melakukan pekerjaan di apartemen, dia tidak tega meninggalkan Aileen setelah kejadian yang terjadi dengan begitu cepat.


***


Pukul dua siang, Aileen terbangun. Namun, dia begitu terkejut saat tidak melihat Safira di sebelahnya. "Astaga, di mana dia?" Aileen mulai panik, dia menoleh ke arah pintu yang terbuka dan melihat Randu membawa Safira masuk.


"Huh, Kak. Aku hampir saja kira Safira hilang lagi!" Aileen mendesah kesal. Dia lalu meraih Safira dan memangkunya. "Dari mana saja kamu?" tanya Aileen kepada putrinya itu sambil menciumi pipinya gemas.


"Tadi Safira menangis dan kamu tidak bangun, makanya saya menenangkan dia. Kamu tenang saja, tidak akan lagi terjadi hal buruk dengan Safira!"


"Kak ...." Aileen mendongak untuk bisa bertatapan dengan Randu yang menjulang tinggi. "Duduk, Kak," pintanya kesal. Randu sama sekali tidak peka, padahal lehernya sakit kalau harus mendongak lama-lama.


Pria tersebut menurut. Dia duduk di hadapan Aileen lalu membiarkan saja saat Aileen meraih dan menggenggam tangannya. "Makasih, ya, dan maaf karena sudah buat Kakak marah." Aileen benar-benar menyesal karena sudah membuat Randu marah dan baru mengatakan permintaan maaf tulus sekarang.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan. Sekarang yang perlu kita pikirkan kebahagiaan kita!" Randu tersenyum hangat menatap mata Aileen yang berkaca-kaca. Dia lalu dikejutkan saat Aileen melepaskan tangannya dan memperlihatkan jari manis pada tangan kirinya.


Dahi Randu berkerut tidak memahami apa yang Aileen lakukan. "Ada apa sama jari kamu? Ada yang sakit?"


Aileen mencebik kesal. Randu ternyata tidak peka. Bagaimana mungkin dirinya dilamar, tetapi tidak disematkan cincin pada jari manisnya itu.


"Cincin? Kakak kasih aku cincin?"


Randu seketika tertawa, bahkan Safira yang sejak tadi diam dan memainkan jarinya sendiri sampai terkejut. Menatap Randu penuh tanya. "Maafkan Papa!" Randu merasa bersalah kepada Safira. Dia lalu mengecup pipinya dan langsung mendapat balasan pipinya basah karena air liur Safira.


Bayi tersebut tertawa, seakan mengartikan jika yang dilakukannya begitu lucu dan menghiburnya.


"Astaga, Nak!" Aileen mencium gemas pipi Safira itu.


Randu mengambil tisu basah, membersihkan pipinya sendiri dan membersihkan jari serta sekitar wajah putrinya itu. "Dia suka memainkan ludahnya begitu." Safira hanya mengangguk. "Apa itu normal?"


"Kakak tenang saja, aku sudah tanya dokter dan gak masalah. Jangan panik!" Dia memperhatikan Randu yang tidak lepas menatap putri mereka. Dia lalu membaringkan Safira di kasur dan bayi itu langsung menggerakkan kakinya dengan mengayunkannya.


Aileen hanya menanggapinya dengan mengusap punggung Randu. Dia juga merasa bersyukur diberi kesempatan untuk menyaksikan semua itu. Jika mengingat atas apa yang sudah dilakukannya, rasanya dia begitu malu dan marah dengan diri sendiri.


Randu beralih menatap Aileen yang terharu lalu mengenggam tangan perempuan itu. "Apa kamu benar-benar menginginkan cincin sekarang?"


Aileen mengangguk. Dia lalu dibuat terkejut saat Randu mengambil cincin yang terlihat sederhana dari sakunya lalu menyematkan ke jari Aileen. "Senang?"


"Aku senang banget. Makasih, Kak." Aileen langsung memeluk Randu singkat. "Cincinnya cantik banget dan pas gitu!"


"Untungnya cincin itu pas. Saya kira akan kebesaran di jari kurus kamu ini!"


"ah, iya, satu lagi!" Randu menatap Aileen heran, dia tidak mengerti apa lagi yang kurang. "Sekarang aku mau Kakak membiasakan diri kalau sama aku jangan menggunakan 'saya', tapi 'aku'. Kakak bicara sama Bibi kayak orang normal, tapi sama aku malah kayak robot. Gimana, bisa, kan?"


"Apa begitu?"

__ADS_1


Aileen mengangguk. "Baiklah!"


"Gampang banget. Tahu gitu dari awal kenal sudah aku minta ganti! Aneh, kaku gitu dengar dia selalu bilang 'saya, saya'."


"Ada lagi?"


Aileen tampak berpikir lalu menatap dalam ke mata Randu yang menunggunya bicara. "Aku mau kita nikah kalau mama Kakak bisa terima aku, bukan cuma Safira. Aku gak mau punya hubungan yang gak baik sama Tante Mira!"


"Jadi apa yang harus saya ... eum, maksudnya aku lakukan?"


Aileen mengangkat kedua bahunya. "Terserah Kakak. Mungkin minta Tante Mira ke sini atau gimana? Aku mau Kakak yang pikirkan!" Setelah mengatakannya dia langsung mengabaikan Randu dan bermain dengan Safira.


***


Amee benar-benar dibuat pusing dengan tingkah Sika yang makin menjadi. Dia sudah tidak lagi mengenali mamanya sendiri.


Janji yang akan berubah, ternyata hanya sesaat saja dan sekarang menjadi makin menjadi. "Kamu jangan khawatir. Mama cuma mau bayar utang Mama, setelah itu pulang. Atau mau ikut?"


Amee menggeleng. Dia malas ikut ke mana Sika akan pergi. Namun, sebelum mamanya pergi dia memperingatkannya kembali. "Aku harap Mama bisa tepati janji, ini yang terakhir Mama begini. Jangan lagi, tolong!"


Sika menghela napas kasar. Dia menepis tangan putrinya sendiri lalu mengangguk malas. "Mama sudah janji, masa harus janji lagi? Kamu gak capek dengarnya seharian ini?"


"Aku gak akan capek. Aku mau Mama bisa berubah, sekarang cuma Mama yang aku punya!" Amee menyeka air matanya yang mengalir tidak mau berhenti.


"Iya, iya. Mama begini juga karena anak sialan itu. Dia yang buat hidup Mama susah. Sudah, sekarang Mama mau pergi." Sika pergi begitu saja. Dia sama sekali tidak peduli dengan Amee.


"Semoga Mama benar-benar berubah. Dia bukan lagi seperti mama yang kukenal!"


Amee memutuskan untuk beristirahat setelah seharian ini dirinya merasakan lelah. Dia lelah dengan tingkah Sika yang makin tidak bisa dikontrol semenjak perceraiannya dengan Randu.


Baru saja dirinya berbalik setelah menutup pintu, seseorang datang dan mengetuknya tidak sabaran. Amee kembali membukanya karena mengira Sika lah yang melakukan itu.

__ADS_1


"Mama!" Amee benar-benar terkejut Mira datang ke rumahnya dengan tatapan yang begitu menghunus.


__ADS_2