
"Kamu benar-benar keras kepala, ya. Masih saja di sini padahal aku sudah suruh kamu pulang!"
Bukannya kesal dengan ucapan Seto, Amee malah tetap menikmati kesibukannya memasak untuk sarapan mereka berdua. "Kamu gak takut suamimu itu marah?" tanya Seto, pria itu berdiri di dekat Amee yang sedang sibuk membuat nasi goreng.
"Jangan pedulikan dia saat cuma kita berdua saja!" putus Amee.
Seto memilih diam dan mengambil piring untuk nasi gorengnya yang sebentar lagi matang. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku kalau nanti kalian bertengkar!"
Amee mematikan kompornya. Dia terkekeh pelan lalu mengisi piring yang sudah disiapkan Seto dengan nasi goreng buatannya itu. "Kamu takut Mas Randu marah atau takut aku yang kena marah?"
Seto mendengkus sebal. Dia tidak menjawab pertanyaan Amee tersebut. "Kenapa diam?"
"Gak perlu dijawab dan gak penting!" jawab Seto ketus. Pria tersebut membawa piring ke meja makan dan membiarkan Amee sibuk mencuci wajan kotor tersebut.
Hanya butuh waktu singkat untuk melakukannya, Amee sudah selesai, dia lalu gegas menghampiri Seto yang sudah menikmati nasi gorengnya.
"Sama seperti kamu, aku pun gak perlu peduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Yang penting, aku bisa dekat kamu dan buat kamu nyaman!"
Seto hanya mengangkat alisnya saja. Dia sama sekali tidak bicara untuk membalas ucapan Amee itu. "Sekarang kamu yang pura-pura gak peduli atau ...."
Seto langsung menyuapi Amee dengan nasi goreng agar perempuan itu bisa diam. "Mending makan, bicaramu nanti akan makin ngawur!" Amee mengangguk senang.
Sesekali perempuan itu melirik Seto yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dia berdeham pelan, tetapi Seto sama sekali tidak terganggu. "Masih kepikiran yang semalam?"
Seto menoleh dan mengangguk. "Sedikit!"
"Kenapa gak pulang saja? Maksud aku, kamu selesaikan masalah kamu sama keluargamu. Kasih mereka pengertian kalau kamu gak mau menikah dulu. Beres!"
Seto menyuap nasi goreng terakhirnya lalu menggeser piringnya menjauh. "Gak segampang itu!"
Amee mengangguk. Dia memberikan air minum kepada Seto yang cegukan. Pria tersebut kelihatan begitu kesal karena cegukannya yang mengganggu.
"Makanya jangan mikir yang berat kalau masih pagi!"
"Aneh!" jawab Seto ketus. "Ponsel kamu bunyi tuh!"
Amee hanya meliriknya, dia mengabaikan panggilan dari Randu dan kembali menyibukkan diri dengan menggoda Seto. "Mungkin kamu sebenarnya memang harus menikah, cegukan itu tanda kalau kamu bohong tenang penolakan kamu?"
Seto mendengkus sebal. "Kamu gak angkat?" Amee menggeleng. "Sini, biar aku yang angkat dan bicara sama Mas ganteng!" Amee cemberut, dia lalu menjauhkan ponselnya.
__ADS_1
"Biarin. Aku lagi malas bicara sama Mas Randu. Prioritasku sekarang kamu!"
"Amee, kamu harus sadar sama yang kamu katakan barusan. Prioritas kamu tentu saja suamimu. Aku cuma sahabat kamu, gak lebih!"
Amee menggeleng. Dia menjadi sedih karena ucapan Seto. "Kamu bukan sekadar sahabat bagiku, kamu tahu itu. Aku masih tetap setia di dekatmu bukan karena kamu perlu teman curhat sepertiku, tapi aku yang masih yakin bakal bisa buat kamu berubah dan bisa terima aku!"
Seto menatap lekat mata Amee yang sipit. Dia menghela napas lalu menempelkan telapak tangannya pada kening Amee. "Jangan asal. Aku pria yang lebih menyukai pria juga!"
Setelah mengatakannya, Seto memilih meninggalkan Amee yang terdiam.
Ponselnya masih saja berdering. Amee masih enggan untuk mengangkatnya. Ucapan Seto makin membuatnya malas mendengar suara Randu. Dia tidak peduli Randu yang nantinya akan marah.
Amee memutuskan untuk mencuci piring kotor mereka, dia tahu Seto tidak suka dengan piring kotor yang tidak langsung dicuci. Dia benar-benar tidak peduli dengan kepedulian Randu.
Di rumah mereka, Randu masih terus berusaha menghubungi Amee. Namun, hasilnya tetap sama. Panggilannya masuk, tetapi tidak diangkat.
"Apa sesibuk itu dia dengan pria itu?" gumam Randu yang masih tidak menyerah. Padahal sudah panggilan kesepuluh yang masih diabaikan oleh Amee.
"Biarkan istrimu di rumah Seto. Kamu tahu sendiri bagaimana setianya Amee sama kamu. Palingan dia gak dengar ponselnya bunyi!"
Sika menghampiri menantunya itu dan ikut duduk bersama di ruang makan. "Maaf aku cuma masak ini saja!"
Aileen dan hanya membawa nasi goreng pucat untuk sarapan mereka. Randu meletakkan ponselnya dan memilih untuk sarapan. Dia mengernyitkan keningnya saat merasakan rasa nasi goreng buatan Aileen tersebut.
Berbeda dengan Sika yang langsung mengatakan bagaimana buruknya rasa masakan Aileen pagi itu setelah dia terbatuk.
"Kamu bisanya apa, sih? Hanya buat beban keluarga saja!" Sika langsung pergi meninggalkan mereka.
Aileen terdiam sesaat. Dia menatap nanar nasi goreng buatannya itu. "Apa seburuk itu?" gumamnya.
"Apa kamu tidak mencicipinya?" Aileen menggeleng. "Baiklah, tidak apa. Kita tidak perlu memakannya!"
Aileen menatap Randu kesal. "Kakak gak perlu makan kalau gak mau, biar aku saja!"
Aileen langsung menyuap nasi goreng buatannya dan langsung terbatuk sama seperti Sika. "Minumlah!" Aileen menerimanya dan meminum dengan habis air minum Randu.
"Makasih, Kak. Ternyata seburuk itu rasanya!" Randu hanya terkekeh melihat wajah menyesal Aileen.
"Kita sarapan di luar saja. Ayo!" ajak Randu untuk segera pergi.
__ADS_1
"Kak, mama gimana? Kasihan kalau mama harus beli makanan!"
"Biarkan saja. Lagipula Mama bisa minta dibuatkan masakan sama bibi!" Aileen awalnya ragu, tetapi melihat kesungguhan Randu membuatnya menurut. "Ayo. Bibi sebentar lagi akan datang, jadi biarkan saja piringnya di sini saja!"
Randu tidak akan membiarkan Aileen yang membersihkan meja makan. Biarkan pekerja di rumahnya saja yang melakukan itu.
***
"Kak, aku mau berhenti kerja!"
"Kenapa? Apa ada yang buat kamu tidak nyaman?" tanya Randu penasaran. Padahal dia sudah mengira Aileen betah bekerja di tempat usaha itu. "Mau bekerja di bagian lain?"
"Gak deh. Aku mau lamar kerja di kantor tempat Adis kerja!"
Randu menatap Aileen dengan tatapan menyelidik. "Kamu yakin?"
"Tentu, dong!"
"Perusahaan apa?" tanya Randu penasaran. Dia tidak mau gegabah menyetujuinya begitu saja.
"Sebenarnya itu hotel, sih, Kak. Bukan perusahaan. Atau sama?"
Randu terkekeh melihat kepolosan Aileen. "Memang teman kamu itu yakin kamu bisa kerja di sana?"
"Entah. Tapi, kenapa gak dicoba saja? Iya, kan?" Randu berdeham. "Lagipula aku merasa gak nyaman saja kalau kita digosipkan ada hubungan apa-apa lebih dari ipar. Aku gak mau Kakak dapat masalah karena aku!"
"Bukankah kita memang suami istri? Artinya kita memang memiliki hubungan, apa kamu lupa?"
Aileen menggeleng. Dia tidak mungkin lupa. "Tapi yang mereka tahu aku adik ipar Kakak. Bukan pasangan suami-istri. Lagipula aku mau mandiri!"
Randu menghela napas pelan. Dia mengangguk pasrah. "Baiklah. Saya tidak mau membuat kamu stres nantinya kalau saya tidak izinkan!"
"Makasih banyak, Kak. Aku sayang Kakak!" Aileen begitu senang karena Randu menyetujui keputusannya. Dia bahkan lupa dengan makanan makan siangnya.
"Oh, ya, Mbak Amee sudah bisa dihubungi?"
"Belum. Dia sepertinya sengaja tidak mengangkatnya!"
Aileen meraih tangan Randu dan menggenggamnya erat. "Kakak harus lebih sabar, ya. Nanti saat di rumah kalian bicara baik-baik. Aku yakin Mbak Amee ada alasan kenapa gak terima panggilan Kakak!"
__ADS_1
"Kamu benar. Lebih baik sekarang kamu habiskan makan siangmu. Jangan sampai ada karyawan yang masuk ke ruangan ini dan lihat kamu terus memegang tangan saya!"
Aileen langsung melepaskan genggamannya, dia terkekeh pelan. Diam-diam dia menyesali perasaannya yang tidak bisa dikendalikan. "Aku makan sekarang!"