Skandal Termanis

Skandal Termanis
Apartemen


__ADS_3

Amee dan Randu membawa Aileen ke apartemen, mereka tidak tega membiarkan Aileen berada satu atap dengan mereka. Semua demi keselamatan Aileen dan janinnya.


Sika bisa saja melakukan hal yang lebih buruk lagi untuk membuat Aileen drop, sekarang saja dia sama sekali tidak merasa bersalah atas perkataannya.


"Kamu gak akan sendiri di sini, nanti akan ada bibi yang datang setiap hari! Huh sebenarnya Mbak maunya bibi menginap di sini jadi bisa full temani kamu, tapi sayang gak bisa!" Amee sangat menyayangkan sekali.


"Gakpapa, Mbak. Gak masalah banget buatku." Aileen meyakinkan Amee jika dirinya akan tetap baik-baik saja.


Amee mengangguk setuju. "Terserah kamu. Nantinya Mbak dan Mas Randu akan sering-sering ke sini jenguk kamu!" Aileen hanya berdeham saja. "Oh, ya, apa rencana kamu selanjutnya? Mbak harap kamu gak kerja dulu. Kamu ingat, kan, kata dokter? Dia bilang kamu harus banyak-banyak istirahat!"


"Iya, Mbak. Aku mungkin akan mencari kesibukan lain yang menghasilkan uang. Bagaimanapun aku gak mau bergantung terus sama kalian. Mbak Amee dan Kak Randu sudah baik banget sama aku selama ini!" Amee terkekeh pelan. Dia lalu memeluk Aileen.


"Kamu itu adik Mbak. Jadi gak ada salahnya kamu bergantung sama Mbak. Lagian nantinya bayi ini akan Mbak asuh." Aileen mengangguk pasrah.


Ada terselip rasa sakit mendengar ucapan Amee barusan. Dia merasa tidak tenang, padahal awalnya pun dia hendak menyerahkan bayinya ke panti asuhan jika saja tidak bertemu dengan Randu.


"Sayang, bibinya sudah datang!" Randu masuk menghampiri kakak beradik itu yang sedang bercengkrama.


Dia berdiri di dekat Amee sambil mengecup puncak kepala istrinya.


Aileen melihatnya dan merasa makin sesak. Randu benar-benar memperjelas jika Aileen tidak akan bisa menggantikan Amee di hati Randu. Aileen langsung memalingkan wajahnya karena tidak mau melihat kemesraan mereka.


"Eem, Ai, Mbak keluar dulu mau temui bibi!" Aileen mengangguk saja. "Mas aku duluan, ya!"


"Ya."


Aileen sama sekali tidak mau menatap Randu yang berdiri di hadapannya. "Kenapa masih di sini?"


Randu tidak menjawab. Dia memilih duduk di sisi Aileen dan menyentuh pundak Aileen membuat perempuan itu menoleh. "Saya harap kamu bisa mengerti kenapa kamu harus tinggal di sini. Saya akan sering-sering datang!"


Aileen menggeleng. "Kenapa?"


"Kakak gak perlu melakukan itu semua. Jangan buat aku makin cinta sama Kakak. Kakak baik dan perhatian saja sudah buat aku hilang kendali, kalau Kakak sering aku lihat itu bisa saja buat aku berpikir untuk serakah."


Randu mengacak rambut Aileen gemas. Dia hendak memeluk Aileen, tetapi perempuan itu mendorong tubuh Randu untuk tidak melakukannya.


Kening Randu mengerut lantas matanya menyipit. "Kak, jangan. Mbak Amee bisa sewaktu-waktu datang lagi ke sini," kilah Aileen.


Randu menghela napas pelan lalu mengangguk setuju. "Ya sudah, saya akan menghampiri mereka. Kamu istirahat saja, ya!"


"Ya."


Setelah kepergian Randu dari kamarnya, Aileen menghubungi Adis dan meminta sahabatnya itu untuk datang ke apartemen setelah jam pulang kerja.


***

__ADS_1


Adis baru saja keluar dari kamar mandi dan mengenakan baju tidur milik Aileen karena dia tidak membawa baju ganti. Dia menghampiri Aileen yang terlihat murung sambil melamun.


"Kamu kenapa? Ada masalah sama Kak Randu?"


Aileen hanya menggeleng. Sesekali dia membuang napas kasar. "Huh, sulit-sulit. Begini, ya, ternyata jadi madu tuh. Gak ada enaknya. Kamu pasti kesepian karena gak ada Kak Randu, kan?" Adis menghampiri Aileen dan bergabung dengannya.


"Ai, ngomong, dong! Kamu kalau minta aku ke sini cuma buat lihatin kamu melamun mending aku tiduran di rumah. Gak masalah dengar ocehan ibu yang minta aku cepat nikah!"


Aileen tersenyum tipis menanggapi ucapan Adis tersebut. "Nah, gitu, dong. Tapi beneran deh, Ai, aku tuh suka kesal sekarang ibu makin rajin kenalin aku sama cowok. Padahal usiaku baru masuk 24!"


"Tapi, kamu memang sudah cocok jadi istri, sih!"


"Ish, aku gak setuju sama pola pikir tentang menikah muda."


Aileen menoleh, memperhatikan wajah Adis yang tetap bisa ceria, meski memiliki masalah. "Kamu kok bisa, sih, tetap kelihatan senang. Pasti kamu tertekan banget sama permintaan ibumu?" Aileen menunjuk pipi Adis dengan telunjuknya.


"Eem, namanya hidup. Kalau gak dinikmati yang ada bisa gila. Stress, tertekan, kayak kamu!" Adis terkekeh pelan. Dia tidak merasa bersalah sama sekali setelah mengatakannya.


Aileen pun sama sekali tidak tersinggung. Adis berkarakter benar, tidak perlu menjadikan diri kita sampai tertekan hanya karena masalah. "Harus dihadapi, ya?" Adis mengangguk setuju. "Tapi, aku penasaran. Menurutmu yang bukan nikah muda itu usia berapa?"


"Di atas 25 mungkin. Yang jelas, di saat aku benar-benar siap dan gak ada keraguan sama sekali untuk selamanya hidup sama cowok!"


"Betul, banget."


Adis berpindah tempat duduk menghadap Aileen. Dia memegang kedua bahu Aileen sambil sedikit ditekan. "Sekarang kamu cerita ada apa? Kamu harus bisa bebas dari masalahmu meski itu berat!"


"Jujur aku merasa cemburu banget, Dis. Aku sadar gak seharusnya punya perasaan ini. Tapi, bayangin gimana Kak Randu yang menghabiskan banyak waktu sama Mbak Amee tanpa aku, itu buatku sesak."


Adis menghela napas berat. "Kamu benar cinta sama Kak Randu?"


"Aku salah gak, sih?"


"Gak kok. Tapi, kamu kan tahu kalau Kak Randu cinta banget sama Mbak Amee!" Aileen mengangguk. Dia tidak dapat menampik itu karena Randu yang sudah memperjelasnya.


***


Aileen merasa heran saat Randu datang pagi-pagi sekali. Beruntungnya Adis sudah pulang setelah mendapat telepon dari ibunya untuk segera pulang.


"Kak, bibi belum datang!" Aileen mempersilakan Randu masuk ke apartemen. "Kakak bawa apa?" Aileen menerima barang belanjaan yang Randu berikan.


"Saya membelikan beberapa pakaian untukmu. Saya lihat pakaianmu sudah kekecilan atau karena tubuhmu yang besar karena hamil?" Aileen memajukan bibirnya kesal.


Melihat tingkah Aileen yang menggemaskan membuat Randu tidak tahan untuk tidak tertawa. "Ini juga karena anak Kakak!"


"Iya, saya tahu. Ya sudah kamu coba dulu sana!" Aileen menggeleng. Dia malah menaruh belanjaan dari Randu di sofa dan menarik Randu menuju ke balkon.

__ADS_1


"Kenapa kamu membawa saya ke sini dan meninggalkan barangmu di ruang tamu?" tanya Randu heran.


Aileen tidak menjawab, dia malah menunjuk taman di belakang apartemen yang juga digunakan untuk tempat olahraga. "Kamu mau jalan-jalan ke sana?"


Aileen menoleh dan mengangguk. Dia berharap Randu setuju. "Baiklah. Tapi, jangan sendiri, ya. Terus jangan kepagian seperti bapak itu. Pasti dingin sekali!"


"Iya. Tapi diizinkan, kan?" Randu mengangguk dengan refleks Aileen memeluk Randu. "Makasih, Kak. Kakak baik banget!"


Aileen langsung melepaskan pelukannya saat mendengar suara bel berbunyi. "Itu pasti bibi. Bagaimana kalau bibi lihat Kakak di sini dan curiga?" tanya Aileen panik.


"Kamu tenang saja, bibi tidak akan curiga. Saya sudah memberitahu dia tentang hubungan kita!" jawab Randu begitu tenang.


Aileen membelalak. Dia tidak percaya Randu berani melakukannya. "Kak ...."


Randu terkekeh pelan. "Bibi tidak akan mengatakannya kepada Amee. Lagipula dia orang kepercayaan saya, dia yang dulu mengasuh saya dan karena sudah tidak bekerja di rumah makanya saya mempekerjakan dia di sini! Ayo!" ajak Randu sambil menarik tangan Aileen.


Aileen masih terkejut. Dia sama sekali tidak percaya Randu akan seberani ini. Pantas saja saat kemarin dia berbicara sedikit dengan bibi, Aileen merasakan jika bibi memperlakukannya layaknya seorang nyonya.


"Pagi, Bi," sapa Randu ramah.


Perempuan baya itu hanya mengangguk dan tersenyum saja. Randu lalu mengajak bibi masuk, sedangkan Aileen menjadi kikuk setelah mengetahui siapa bibi yang bekerja dengannya.


"Sudah dari tadi di, sini?" Randu menggeleng. Dia terlihat manja dengan bibi.


"Neng, bibi tadi beli sarapan. Neng mau atau mau dibuatkan makanan yang lain?"


Aileen melirik Randu yang mengangguk kepadanya. "Aku mau, Bi. Bibi masaknya nanti siang saja."


"Syukurlah." Bibi pergi ke dapur meninggalkan mereka berdua.


"Kak, bibi gak marah tahu tentang aku?" tanya Aileen memastikan. Dia sangat takut jika nantinya bibi akan berubah setelah Randu pergi.


"Kamu tenang saja, bibi gak akan marah. Bukannya kamu lihat sendiri dia baik dan perhatian sama kamu?" Randu mengajak Aileen ke ruang makan. Di sana bibi sudah menyiapkan semangkuk bubur ayam untuk Aileen.


"Cuma satu?" tanya Randu kesal. "Apa bibi melupakanku?" tanya Randu tidak suka.


Aileen melihat sisi lain dari Randu yang ternyata begitu manja dengan bibi. Aileen menemukan lagi sisi lain Randu yang selama ini tidak pernah dia ketahui.


Bibi datang membawakan air minum untuk Aileen lalu menggeleng. "Mana bibi tahu kalau kamu datang ke sini. Lagian apa kamu gak kasihan Neng Amee ditinggal sendiri di rumah?" Senyum Aileen meredup. Dia bahkan tidak ingat ada Amee di antara mereka.


"Ada mama mertua di sana. Lagipula sejak subuh tadi aku sudah keluar rumah karena harus ketemu sama seseorang!" Bibi tidak membalas Randu dan memilih memperhatikan Aileen yang terdiam.


"Apa buburnya gak enak, Neng? Mau makan yang lain?"


"Ini enak, Bi," jawab Aileen. Dia lalu menyodorkan sesuap bubur untuk Randu. "Kakak ikut makan juga!"

__ADS_1


"Makasih!" Randu langsung melahapnya.


"Bibi tahunya Mas Randu gak suka bubur!"


__ADS_2