Skandal Termanis

Skandal Termanis
Pertengkaran


__ADS_3

Amee terlihat begitu terkejut melihat keberadaan Aileen di rumahnya. Perempuan itu baru saja pulang setelah seharian berada di distro. Dia bahkan membiarkan saja Aileen yang memeluknya dan menumpahkan segala rindu setelah beberapa hari mereka tidak bertemu.


"Tadi kami bertemu dan saya berhasil membujuknya pulang!" ujar Randu yang baru datang menghampiri mereka sambil membawakan camilan dan susu untuk Aileen.


Amee hanya mengangguk. Dia menatap lekat Aileen yang tampak terlihat kurusan. Dia menangkup wajah Aileen dan berkata, "Kamu ke mana saja? Kenapa pergi gak kasih tahu siapa-siapa?"


Aileen memegang kedua tangan Amee dengan wajah menyesal. "Maaf, Mbak. Aku sudah buat kalian khawatir." Dia melirik Randu yang ikut duduk bersebrangan dengan mereka.


"Aku cuma pengin menenangkan diri dan sama sekali gak berpikir jauh ke depannya gimana!" Aileen menunduk penuh penyesalan.


"Ya sudah gakpapa. Yang penting Mbak sudah bisa peluk kamu sekarang."


"Sayang, mulai saat ini Aileen akan kembali tinggal dengan kita di sini!"


Amee menatap Randu dan beralih kepada Aileen yang memberi jawaban dengan anggukan. "Aku gak mau jauh dari Mbak Amee lagi, makanya aku paksa Kak Randu untuk terima aku lagi di sini!"


Aileen meraih tangan Amee dan meletakkannya di perutnya. "Aku mau Mbak Amee sudah punya ikatan sebelum dia lahir ke dunia, aku gak mau ada penyesalan nantinya. Aku mau pergi dari kalian dengan perasaan tenang!"


Ada getaran kesedihan dari suara Aileen. Amee mengusap perut Aileen penuh kasih sayang lalu memeluk Aileen. Tanpa Amee ketahui, Randu meraih tangan Aileen dan mengusapnya lembut.


***


"Kenapa kamu gak kasih tahu aku, Mas, kalau kamu sudah ketemu sama Aileen?" tanya Amee kesal. Dia kesal karena suaminya tidak memberitahu sejak awal dan membuatnya terkejut.


"Aileen yang larang!" jawab Randu santai. Pria tersebut memilih menyibukkan diri dengan laptopnya. Berbicara pun tanpa menatap Amee.


Amee mendengkus kesal. "Walaupun Aileen yang larang, bukan berarti kamu memilih menurut, Mas. Kamu bisa diam-diam kasih tahu aku dan aku bakalan langsung pulang!"


Randu mendongak, dia melepaskan kacamatanya tanpa memindahkan laptopnya. "Kamu menyalahkan saya?" tanya Randu tidak senang.

__ADS_1


"Kamu marah? Harusnya aku yang marah karena kamu gak bilang dari pertama kamu ketemu dia!"


Randu menghela napas kasar, menatap Amee tajam dan berkata dengan tatapan menghunus. "Saya tidak yakin dengan yang kamu katakan. Bukankah kamu akan lebih memilih berlama-lama bersama pria itu daripada bersama saya?"


Amee mendelik kesal. "Mas!" seru perempuan itu. "Kenapa kamu selalu menyalahkan Seto?"


"Karena kamu lebih memilih dia dibanding suamimu sendiri!" jawab Randu tenang. Dia kembali memakai kacamatanya dan mulai bekerja di depan laptopnya.


"Kamu cemburu, Mas?" ejek Amee.


Randu sudah tidak bisa lagi konsentrasi karena perdebatannya dengan Amee. Dia mematikan dan menutup laptopnya. "Saya berhak cemburu sama kamu karena status kamu saat ini jelas istri saya. Selama ini saya bersabar dengan tingkahmu yang selalu saja membela pria itu, bahkan kamu gak terlihat menyesal dengan apa yang telah terjadi."


"Kamu egois, Mas!"


"Kamu yang memulainya, Amee. Jangan memancing keributan, hanya karena saya menuruti permintaan Aileen kamu sampai begitu marahnya kepada saya. Apa kamu juga sebenarnya tidak suka adikmu sendiri itu tinggal di sini lagi?" Sorot mata Randu mencoba menelisik tatapan Amee yang terlihat menghindari tatapannya.


"Sudahlah, aku ngantuk!"


"Saya akan tidur di ruang kerja," ucap Randu. Dia lekas keluar dari kamar mereka tanpa peduli apa yang dirasakan Amee.


Pria itu tidak benar-benar pergi ke ruang kerjanya, dia memilih pergi ke kamar Aileen. Randu ingin mendinginkan otaknya yang terasa begitu panas dengan memeluk tubuh Aileen.


"Kamu kenapa, Kak?" tanya Aileen heran. Namun, karena Randu tidak menjawab pertanyaannya sama sekali dia memilih diam. "Kakak naiklah ke kasur, aku akan segera kembali!"


Aileen keluar dari kamar dan pergi ke dapur. Perempuan itu membuatkan teh hangat untuk suaminya.


Saat akan kembali ke kamar, dia berhenti sejenak dan menatap pintu kamar yang berada di lantai dua. Aileen menatap nanar pintu kamar itu seakan sedang menyiratkan kesedihan, dia lalu beranjak ke kamarnya.


Aileen tersenyum kecil melihat Randu yang sudah tidur. "Kakak sudah tidur?" tanya Aileen sambil duduk di sisi Randu.

__ADS_1


Pria itu berdeham lalu membuka matanya. "Aku buatkan teh hangat, Kakak minum dulu baru lanjut tidur!"


Randu memperhatikan Aileen lekat lalu bangun dari tidurnya. Dia menerima gelas yang masih hangat itu. "Lebih baik jangan ditiup. Gimanapun sebenarnya makanan atau minuman jangan ditiup kalau masih panas, biarkan dingin dulu."


Randu menatap lekat Aileen dan mengangguk. Hanya sebentar, mungkin tidak sampai sepuluh detik dia lalu menyesap teh tersebut tanpa meniupnya.


"Kami bertengkar tadi di kamar," adu Randu setelah dia merasa tenang dengan teh buatan Aileen itu kepadanya.


Aileen menerima gelas tersebut dan meletakkan di nakas. "Kenapa kalian bertengkar? Apa karena aku di sini?"


Randu mengangguk samar. Dia mengusap wajah ayu Airi dengan lembut. "Ya, dia keberatan kenapa saya tidak memberitahu sejak kita bertemu tadi siang di rumah dan saya membahas kembali tentang pria itu karena saya melihat dengan jelas ketidaksetujuannya dengan kamu pindah ke sini lagi sampai melahirkan. Setidaknya. Dia marah, mungkin karena harga dirinya terluka!"


Randu tidak berkilah dan memilih jujur!"


"Maaf!" Aileen menunduk, jari-jarinya saling bertaut.


"Jangan meminta maaf karena kamu tidak salah apa-apa!" Randu menaikkan dagu Aileen dengan jari telunjuknya. "Tatap saya!" perintah Randu dan langsung dituruti Aileen.


"Kak ...."


"Heem?"


"Apa sebaiknya aku gak tinggal di sini? Aku gak mau Kakak dan Mbak Amee malah sering bertengkar nantinya!"


Randu mendengkus kesal. "Kamu yang meminta untuk tinggal di sini dan saya turuti, sekarang larangan kamu meninggalkan rumah ini ... sampai melahirkan. Setelah itu pergilah jauh!"


Aileen mengangguk pasrah. Dia membiarkan saja Randu yang memeluknya posesif. "Sekarang kita tidur, kamu pasti lelah karena tadi pagi memberitahu rumah yang luas itu!" Randu melerai pelukannya.


Aileen hanya mengangguk lalu merangkak ke atas kasur dan tidur di samping Randu. Mereka tidur dengan saling berpelukan. Aileen sengaja menyembunyikan wajahnya di dada bidang Randu. Dia menghirup dalam aroma tubuh Randu yang seolah sudah menjadi candunya.

__ADS_1


'Maafkan aku, Mbak. Kamu pasti kesepian malam ini. Kak Randu lebih memilih aku. Setidaknya biarkan dia begini sampai aku melahirkan.'


__ADS_2