Skandal Termanis

Skandal Termanis
Benar-Benar Sudah Kalah


__ADS_3

Aileen tidak percaya dengan yang Amee katakan jika rumahnya sudah dijual oleh Sika. Tanpa mengajak Randu, dia kembali datang ke rumah tersebut.


Aileen sama sekali tidak bisa tenang. Dia benar-benar merasa khawatir jika terjadi apa-apa dengan Safira, apalagi semalam Sika yang menghubunginya tidak mengatakan apa pun dan membiarkannya mendengar suara tangisan Safira.


"Permisi, Anda penghuni rumah ini?" tanya Aileen kepada seorang pria paruh baya yang baru saja selesai olahraga. Tatapan pria tersebut begitu tajam memperhatikan Aileen dengan mata sembapnya.


"Pak!" tegur Aileen, dia begitu tidak nyaman dengan tatapan pria tersebut.


Pria paruh baya itu mengangguk. "Tentu. Memang rumah siapa lagi?"


"Jadi benar mamaku jual rumah ini," gumam Aileen yang terdengar jelas oleh pria tersebut.


"Oh, kamu anaknya!" Aileen mengangguk. "Kamu sudah dibohongi kalau dia bilang rumah ini dijual, dia punya utang dengan saya dan saya ambil paksa karena dia tidak mampu bayar. Huh. Padahal harga rumah ini masih belum cukup untuk lunasi utangnya!"


Aileen merasa benar-benar sakit hati mendengarnya. Dia tidak menyangka Sika akan memiliki hidup sekacau ini. "Atas nama mama saya minta maaf!" Aileen menunduk dan setelah itu pergi meninggalkan pria tersebut yang memanggilnya.


"Kak ... mama ...." Aileen menggigit bibir bagian dalamnya kuat. Dia duduk di bangku taman yang masih berada di area perumahan mamanya. Rasanya tidak sanggup lagi untuk bicara.


"Kamu di mana?"


Mendengar suara Randu membuat Aileen berusaha untuk tenang. Dia menyeka air matanya lalu memberitahu posisinya saat ini.


Dalam posisi yang masih sama, Aileen mencoba menghubungi Sika. Namun, panggilannya selalu di luar jangkauan. Dia tidak mengerti kenapa Sika sampai harus membawa pergi Safira. Padahal dia akan tetap membantu Sika jika memang mamanya itu membutuhkan bantuan.


Aileen mendengar suara dengkusan napas kasar lalu mendongak. Dia tersenyum masam. "Apa yang kamu lakukan di sini?"


Bukannya memberi jawaban, Aileen malah menggeleng. Dia kembali menunduk dan membiarkan saat Randu duduk di sampingnya. "Kita harus lapor polisi. Bagaimanapun mama Sika sudah menculik Safira!"


Aileen menatap Randu cemas lalu menggeleng. "Kenapa?"


"Kak, aku mohon jangan libatkan polisi dulu!" Kening pria tersebut berkerut dalam sambil menatap lamat-lamat perempuan yang sedang menangis itu. "Aku yakin mama lakuin ini karena terdesak."


Randu menghela napas pelan. "Tapi tetap saja, apa yang dia lakukan itu salah!"


"Rumah mama bukan dijual, tapi diambil paksa sama orang yang dia utangi. Mama gak mampu bayar, Kak! Aku yakin mama bawa Safira pasti karena butuh uang!"


"Astaga!"


"Aku mohon jangan lapor polisi dulu, Kak!" Aileen mengenggam erat tangan Randu, dia menatap Randu penuh harap sampai akhirnya Randu mengangguk setuju.

__ADS_1


"Baiklah!"


Aileen melepaskan tangan Randu saat ponsel pria tersebut berdering. Randu beberapa saat membiarkan ponselnya terus berdering, dia memperlihatkan siapa yang menghubunginya. "Angkat saja, Kak. Siapa tahu Mbak Amee tahu mama di mana!"


"Kalau kalian mau Safira balik, datang ke rumahku sekarang."


"Kak ada apa?" tanya Aileen heran saat melihat Randu yang hanya diam saja.


Pria tersebut berdeham dan langsung mengajak Aileen pergi.


***


Amee menatap Aileen dan Randu bergantian dengan tatapan tidak suka. Dia lalu menyuruh mereka masuk.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Aileen yang bingung. Sepanjang perjalanan Randu sama sekali tidak mengatakan apa pun dan memintanya untuk tenang.


"Kita masuk saja!"


Belum juga mereka melangkah masuk, terdengar jelas suara tangisan Safira. Aileen langsung masuk dan meninggalkan Randu begitu saja.


"Mau ke mana kamu?" Amee mencegah Aileen yang hendak mencari keberadaan putrinya. "Jangan coba-coba kamu berkeliaran di rumah ini kalau aku gak kasih izin!"


"Tapi, Mbak ... aku dengar suara Safira. Dia pasti haus!"


"Jadi aku harus kasih dia asi, Mbak! Tolong!" pinta Aileen memelas.


Aileen menoleh ke sampingnya saat Randu mencoba menenangkan. "Kak, Safira pasti haus!"


"Huh. Duduklah. Jangan ikuti aku atau aku akan usir kalian!" Amee lekas pergi meninggalkan mereka dan masuk ke kamar di mana dulu Safira menempatinya.


"Kak, Mbak Amee bakal bawa Safira ke sini, kan?"


"Tentu. Kamu tenangkan diri dulu. Bukankah semalam kamu bilang kalau mama tidak akan berbuat hal buruk sama Safira?"


"Iya, kamu benar!" Aileen menghela napas pelan lalu mengangguk setuju. Dia memilih duduk dan menunggu Amee dengan gelisah.


Tidak lama Amee datang tanpa membawa Safira. "Mana Safira?" tanya Randu yang mulai emosi. Dia kira Amee akan membawa Safira, ternyata perempuan tersebut hanya mengulur waktu.


Amee menatap tajam Randu, dia tidak suka dengan bentakan Randu. "Mama larang aku bawa Safira. Dia bilang gak akan serahin Safira kalau kalian gak mau bantu!"

__ADS_1


"Mbak, kenapa harus Safira? Dia masih kecil dan gak tahu apa-apa! Untuk urusan mama, memang apa yang dia minta?"


"Mama kesulitan bayar utang!"


"Astaga!"


"Saya akan bayar utangnya, tapi bawa Safira ke sini sekarang!" ucap Randu dengan begitu tegas.


Amee menatap Randu lamat, mencari kesungguhan dari tatapan matanya lalu mengangguk. Dia hendak pergi, tetapi belum sempat dirinya melangkah pergi, Sika sudah membawa Safira.


Aileen gegas berlari menghampiri putrinya tersebut dan mengambilnya tanpa perlawanan dari Sika.


"Kamu akan bantu mama?" tanya Sika memastikan. Amee yang melihat mamanya begitu antusias menjadi kesal. Ada rasa malu bercampur marah kepada perempuan yang telah melahirkannya itu.


"Saya akan melunasi utang Anda, tapi berjanjilah untuk tidak lagi melakukan hal seperti ini atau saya tidak akan segan melapor polisi!" ancam Randu penuh intimidasi.


"Terserah. Sekarang kasih Mama buktinya!"


Randu menghela napas pelan. Dia mengangguk lalu mengambil dompetnya dari saku. "Berapa?"


"Seratus juta!" jawab Sika begitu tenang.


Aileen yang saat ini sedang menenangkan putrinya yang menangis terkejut mendengarnya, begitu juga dengan Amee yang terlihat tidak tahu apa-apa. "Baiklah!" Randu mengeluarkan cek yang sudah dia siapkan dan diserahkan kepada Sika.


Perempuan baya itu tampak senang dan seolah tidak malu akan apa yang dilakukannya. "Setelah ini jangan lagi Anda melakukannya lagi atau saya tidak akan segan melakukan ancaman saya!"


Randu mengajak Aileen pergi dari rumah Amee, sebelum itu tatapan pria tersebut tertuju kepada Amee yang terlihat begitu sedih. Namun, Randu tidak peduli.


Setelah kepergian Randu dan Aileen, Amee sudah tidak bisa lagi meluapkan kekesalannya kepada Sika.


"Mama kenapa harus lakuin hal memalukan begini? Kenapa gak bilang sama aku, hah?" Amee mengerang frustrasi. Dia menjambak rambutnya sendiri dengan kuat.


"Mama gak peduli, Am. Mereka harus rasakan apa yang kamu rasa. Mereka khianati kamu. Mama cuma sedikit bersenang-senang saja!" ucap Sika tidak tahu malu.


Amee menatap Sika tidak percaya. Dia menyeka kasar air matanya lalu berkata, "Seratus juga? Astaga, utang sebanyak itu, Ma."


"Sudahlah, Am. Gak perlu berlebihan begitu, lagian utang Mama gak sebanyak itu, cuma tujuh puluh juta dan sisanya untuk disimpan!" Setelah mengatakannya, Sika lekas meninggalkan Amee sendiri di ruang tamu.


Amee benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh mamanya. Dirinya bisa saja tidak peduli lagi dengan apa yang mereka lakukan, tetapi melihat betapa frustrasinya Aileen dan mengenai Safira, dirinya tidak bisa diam saja.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan mamanya dia memilih menyuruh Randu dan Aileen datang. Namun, hal yang menyakitkan harus dia terima, melihat bagaimana Randu yang begitu mencintai Aileen.


"Aku benar-benar sudah kalah!"


__ADS_2