Skandal Termanis

Skandal Termanis
Curhatan Sahabat


__ADS_3

Dokter minta Aileen untuk dirawat sehari di rumah sakit. Aileen ternyata sedang stress sehingga menyebabkan perutnya seringkali merasa kram dan jika dibiarkan akan sangat berbahaya.


Tentu saja Randu yang mendengarnya begitu marah dan menyesal. Namun, dia berusaha menahan diri. Dia tidak mungkin meluapkan amarahnya kepada Sika.


"Kamu pasti tertekan karena mama!" Amee benar-benar menyesal melihat Aileen yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Dia dan Randu gegas ke rumah sakit setelah bibi yang bekerja dengan mereka menghubungi.


Amee tentu saja tidak sendiri, dia diantar oleh Seto dan pria itu berada di satu ruangan yang sama dengan Randu.


"Mbak Amee aku gakpapa kok!"


Seto menghampiri Amee dan membisikkan sesuatu kepadanya. "Ai, Mbak keluar sebentar, ya!" pamit Amee kepada Aileen setelah mendengarkan bisikan dari Seto yang entah apa.


"Kamu mau ke mana?" tanya Randu yang sejak tadi memilih diam dengan duduk di sofa. Dia menghampiri Amee dan menarik tangannya untuk menjauh dari Seto.


"Mas Ganteng jangan cemburu begitu, dong!" protes Seto dengan nada manja. Aileen tersenyum melihat tingkah Seto yang berhasil membuat Randu geli.


"Mas Ganteng, kita cuma sebentar saja kok!" Kali ini Seto berani sekali menyentuh bahu Randu dan langsung ditepis kasar oleh Randu. "Aduh, galak banget suami kamu ini, Am!" adu Seto.


"Mas, sebentar saja. Aku sama Seto mau menemui salah satu supplier kita, kebetulan dia ada di rumah sakit!" Amee memberitahu Randu dia akan melakukan apa. "Kamu tenang saja, kita cuma di kantin rumah sakit saja."


Randu menghela napas pelan lalu mengangguk. "Baiklah!" Tidak lupa Randu memberikan lirikan tajam kepada Seto yang hendak menggodanya lagi.


Seto yang hendak kembali menyentuh tubuhnya Randu memilih menyingkir. "Aku pergi sebentar, Mas. Tolong jaga Aileen dulu, ya!"


Randu hanya mengangguk, meski dia begitu berat membiarkan Amee pergi bersama dengan Seto.


"Mas, kamu kenapa gak temani saja Mbak Amee? Aku tahu kamu cemburu karena ada Kak Seto!" ujar Aileen setelah hanya ada mereka berdua saja di ruangan.


Randu menghampiri Aileen dan memilih duduk di kursi. Dia meraih tangan Aileen yang terasa dingin lalu mengecupnya. "Kamu lebih butuh saya di sini!"


"Makasih, Mas. Padahal aku gak masalah kalau sendirian di sini!" jawab Aileen tulus.


Randu mengembuskan napasnya kasar. Dia memperhatikan wajah Aileen yang agak pucat. "Saya merasa menyesal karena membiarkan kamu memendam semuanya sendiri. Bagaimanapun kamu hamil anak saya dan saya seharusnya tidak membiarkan mama membuatmu seperti ini!"


Aileen mencubit gemas pipi Randu dan terkekeh pelan. "Kamu tuh seperti suami yang sayang banget sama istrinya loh, Kak. Tapi, aku harap Kakak gak benci sama mama. Aku tuh ngerti kok alasan mama kenapa gak suka aku, lagipula aku stres, kan, bukan berarti semua karena salah mama!"


Randu menahan tangan Aileen yang hendak menjauh dari wajahnya. Dia menyentuhkan telapak tangan Aileen pada wajah Randu.

__ADS_1


"Kak, jangan marah sama mama, ya? Janji!" pinta Aileen penuh harap.


"Kita lihat saja nanti!"


"Kok gitu? Ish, jangan begitu, dong!" Randu terkekeh melihat wajah cemberut Aileen.


"Saya sudah memutuskan, kamu akan tinggal di apartemen dan nanti akan saya pekerjaan seseorang untuk membantu dan menemani kamu!" papar Randu.


"Nanti kita jadi jarang ketemu, dong?" tanya Aileen pura-pura sedih.


"Tapi setidaknya kamu tidak perlu mendengar ucapan Mama yang suka keterlaluan. Untuk masalah kita sulit bertemu, saya akan atur waktu agar saya bisa sering mengunjungi kamu."


Aileen tidak menjawab. Dia menatap Randu dengan tatapan ragu. "Gimana sama Mbak Amee, Kak?"


"Kenapa kamu pikirkan dia? Dia akan baik-baik saja. Meskipun saya akan sering diam-diam mendatangi kamu, tetapi perasaan cinta saya semua hanya untuk dia!"


Aileen menarik tangannya dari genggaman Randu. Dia merasakan sedih dengan ucapan Randu tersebut. "Aku berharap cepat melahirkan biar aku bisa kembali menjalani kehidupanku seperti dulu. Ah, aku benar-benar gak sabar!" ungkap Aileen menyembunyikan kesedihannya.


"Saya akan pastikan impianmu akan jadi nyata." Aileen tersenyum masam, Randu benar-benar tidak mengerti maksud ucapannya itu.


***


Dia benar-benar kesal karena baru bisa bertemu langsung dengan Aileen yang sudah berbulan-bulan menghilang. "Kamu gak tahu, kan, gimana kakak iparmu itu sering banget tanya kamu ke aku? Aku sampai merasa diteror sama dia!" Adis mengadukan tentang Randu.


Aileen terkekeh pelan. "Aku minta maaf sama kamu, waktu itu situasinya aku gak bisa berpikir jernih."


"Dan kamu pilih kabur! Astaga, Aileen!" Adis menggeleng heran.


"Aku mau jeruknya lagi, dong!" Adis mendengkus kesal, meski begitu dia tetap mengupaskan jeruk dan memberikan kepada Aileen.


"Tapi, siapa bapaknya, Ai? Jangan bilang Kak Randu!" Tebakan Adis membuat Aileen tersedak. "Astaga, pelan-pelan!" Adis memberikan air minum kepada Aileen.


"Adis, kenapa kamu bisa tebak begitu?" tanya Aileen setelah membaik.


Adis mengangkat kedua bahunya. "Aku cuma asal tebak!" Dia lalu menatap tajam ke arah Aileen. "Jangan bilang benar?"


Aileen menelan susah air ludahnya sendiri. Dia menghindari tatapan Adis yang menyelidik. "Ai, jawab! Apa tebakan aku benar?"

__ADS_1


"Adis, aku ...."


"Kamu tahu, Ai. Waktu kamu hilang, Kak Randu itu kayak orang yang kehilangan induknya. Dia selalu paksa aku untuk mengaku kamu sembunyi di mana!" jelas Adis yang masih ingat kelakuan Randu ketika menemuinya di rumah.


Aileen menyentuh lengan Adis dan langsung membuat Adis yang hendak kembali bicara terdiam. "Kamu bisa dipercaya, kan?" Adis mengangguk. "Aku harap kamu bisa menyimpan rahasia ini, aku mohon!"


"Aku janji, kita sahabat, Ai!"


Aileen menghela napas berat. Dia menggigit bibir bawahnya kuat. "Ai, apa tebakan aku benar?" Aileen mengedipkan matanya lalu berdeham. "Astaga, jadi?"


"Aku akan cerita, tapi tolong kamu rahasiakan sampai kapan pun." Adis mengangguk patuh. "Kamu ingat waktu acara Bang El?"


"Aku ingat, besoknya kamu tanya aku apa aku mabuk juga, kan?" Aileen mengangguk. "Jadi?"


"Aku baru tahu, ternyata minumanku itu sengaja dikasih obat oleh Lisa atas perintah Bang El. Tapi, sebelum Bang El melakukannya, aku malah bertemu sama Kak Randu di tengah jalan. Saat itu, Kak Randu dalam posisi mabuk sambil bawa mobil!"


Adis membekap mulutnya kaget. "Jadi benar? Kalian lakuin di mana?"


Aileen menghela napas pelan. "Kak Randu bawa aku ke hotel."


"Astaga, aku gak percaya. Tapi syukurlah kamu hamil anak Kak Randu. Kalau itu anaknya Bang El aku gak bisa bayangin bakalan kayak apa nantinya!"


"Hah, gak begitu juga seharusnya. Aku tetap salah karena secara sudah sakiti Mbak Amee. Tapi memang bakal gimana kalau sama Bang El?" tanya Aileen heran.


"Ai, kamu itu polos banget apa bego, sih? Bang El itu, kan, orangnya lebay, dia itu suka banget pamer meski sebenarnya dia cuma anak mama. Ya gitu, deh. Aku rasa Bang El nekat mau lakuin itu ke kamu karena pernah ditolak!"


Aileen juga memikirkan hal yang sama. "Tapi aku puas sudah buat dia malu, Dis!" Aileen mengerling.


"Bagus deh. Aku yakin, sih, kalau nanti ketemu dia bakal kasih aku pelajaran. Tapi, Ai, Kak Randu perlakukan kamu dengan baik, kan?"


Aileen mengangguk. "Pasti sulit buat kalian berdua. Aku harap dia gak akan kecewakan kamu dan kalian bisa bersatu, meski ada yang bakal tersakiti. Bagaimanapun kamu sekarang ini sedang hamil anak dia!"


"Aku akan pergi setelah anak ini lahir, Dis. Jadi gimana mungkin aku sama dia akan bersatu?" Adis memperhatikan Aileen dengan kasihan. "Jangan tatapan aku begitu!"


"Iya, iya. Memang apa rencana kamu setelah melahirkan?"


"Pergi sejauh mungkin dari mereka. Mungkin aku akan menetap di luar negeri!"

__ADS_1


Adis cemberut mendengarnya. "Kamu bakal melupakan aku?"


"Maaf, Dis. Tapi gak mungkin buatku berada di dekat mereka. Sudah cukup aku lukai hati Mbak Amee dan buat dia nantinya yang akan rawat anak ini."


__ADS_2