Skandal Termanis

Skandal Termanis
Tanpamu


__ADS_3

"Neng Aileen gak mau pulang?" Sudah dua hari sejak kejadian malam itu, Aileen yang pingsan dan berhasil dibawa ke rumah Faiz entah bagaimana ceritanya, memilih tinggal di sana.


Aileen merasa ketenangan yang tidak pernah dia rasakan, sehingga enggan untuk beranjak pergi.


"Ibu izinkan aku tinggal di sini sampai melahirkan!" pinta Aileen penuh harap.


Perempuan yang duduk bersandar itu menatap Aileen dengan tatapan sayu. Terlihat ragu untuk memberi izin. "Gimana kalau suami Neng Aileen cari? Kasihan dia pasti kebingungan!"


Aileen menggeleng. "Dia gak akan cari aku."


"Jangan berpikir begitu, Neng. Lagipula bisa jadi suami Neng Aileen sekarang memang benar-benar lagi cari Neng Aileen!"


"Tapi, Bu. Aku aku merasa tenang tinggal di sini. Di sana aku selalu waswas, selalu memikirkan banyak hal yang buatku gak pernah bisa tenang!" Aileen menghela napas dalam. Dia menatap Siti lamat.


"Ibu sebenarnya gak keberatan. Tapi, Neng tau sendiri keadaan di sini gimana! Kita cuma makan seadanya dan Ibu juga gak bisa kerja beberapa hari ini!"


"Ibu gak perlu khawatir. Aku sama sekali gak masalah soal makanan. Sejak kecil aku diajarkan untuk gak pilih-pilih makanan dan tentang uang aku akan bantu untuk kerja," ucap Aileen penuh semangat.


Siti akhirnya mengangguk. Dia menyadari tidak bisa terus-menerus mendesak Aileen untuk pulang ke rumah suaminya itu. Siti mengusap punggung tangan Aileen yang terasa begitu halus.


"Ibu harap kamu betah di sini. Kalau kamu merasa gak kuat, pulang, ya," bujuk Siti yang langsung diangguki Aileen.


"Mbak Aileen gak jadi pulang?" Faiz tiba-tiba saja masuk dan bertanya dengan begitu girang. Dia menghampiri ibunya dan Aileen yang duduk di ranjang.


Aileen mengangguk. "Asik, aku bisa minta ajarin Mbak Aileen, dong!"


"Iya, dong. Pasti!" jawab Aileen tidak kalah semangat.


Di saat Aileen dan Faiz begitu bahagia, berbeda dengan Siti yang terus saja memperjuangkan Aileen dan merasakan jika Aileen sedang memiliki masalah yang berat.


***


Faiz menghampiri Aileen yang tengah duduk sendirian di kursi panjang yang berada di teras rumahnya. Terlihat Aileen yang sedang melamun.


"Mbak Aileen kok belum tidur?" tegur Faiz.

__ADS_1


Aileen tersadar dari lamunannya dan menatap Faiz yang ikutan duduk di sampingnya.


"Kamu sendiri kenapa belum tidur?"


Faiz memperhatikan langit malam. Malam ini langit terlihat cerah, bahkan beberapa bintang muncul dan terlihat begitu terang.


"Aku belum ngantuk."


"Tapi anak kecil gak boleh sering begadang!" Aileen mencolek ujung hidung Faiz yang mancung.


Faiz lantas memeluk Aileen. "Mbak aku senang banget!"


Aileen mengerutkan keningnya, meski begitu dia tersenyum hangat dan membalas pelukan Faiz. "Sekarang aku bisa ketemu Mbak Ai tiap hari. Waktu Mbak Ai tiba-tiba hilang dan gak pernah ke sini aku sedih banget. Gak mau belajar, bahkan malas sekolah. Tapi, sekarang aku pengin belajar lagi!"


Aileen menghela napas dalam. Dia melepaskan pelukan Faiz di tubuhnya. Aileen menangkup wajah Faiz dan menatapnya lekat.


"Faiz, apa pun yang terjadi kamu gak boleh malas untuk belajar. Kalau kamu gak mau sekolah, Mbak bisa maklum. Tapi, kalau kamu gak mau belajar apalagi karena Mbak, mulai sekarang gak boleh begitu lagi!"


"Memang kenapa?" tanya Faiz dengan sorot mata penuh tanya.


"Karena Mbak gak mau Faiz ketergantungan sama Mbak Ai. Mbak maunya Faiz belajar bukan karena Mbak, lebih baik karena ibu. Dengan begitu kalau Faiz bosan, Faiz ingat ibu dan jadi semangat lagi."


Aileen memandangi wajah polos Faiz dan mengangguk lemah. "Asik. Besok aku ajak mereka ke rumah, ya!"


"Boleh. Tapi bilang sama mereka, gak boleh bandel!"


Faiz sontak berdiri tegap dan memberi hormat kepada Aileen. "Siap, Bos!" Aileen tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan Faiz.


"Mbak Ai kenapa sedih? Kangen Rumah?" Aileen menggeleng. "Terus?" Faiz menatap lekat perut Aileen lalu menatap wajahnya. "Apa adiknya nakal?"


"Gak kok. Dia tenang di dalam. Ya sudah, sekarang lebih baik kita masuk dan istirahat!" Faiz lalu mengajak Aileen masuk rumah.


Aileen memperhatikan Siti yang sudah tertidur pulas. Wajahnya pun terlihat sedikit pucat dan lelah. Dia menghela napas pelan lalu ikut bergabung.


***

__ADS_1


Randu terus saja berada di kamar apartemen. Dia begitu begitu berharap Aileen pulang dan dia menyambutnya.


Tidak ada yang tahu di mana Aileen dan alasan dia tiba-tiba menghilang. Bahkan Randu menanyakan kepada Sika tentang apa yang dia katakan kepada Aileen, tetapi mertuanya itu membantah jika dia yang telah membuat Aileen sampai pergi.


Randu hanya menoleh saat pintu kamar terbuka, bibi datang dengan membawa minum untuknya.


"Mas, ini sudah malam. Lebih baik sekarang Mas Randu istirahat biar besok bisa cari Neng Aileen lagi!"


Randu menggeleng. Dia memeluk lututnya sendiri. "Neng Aileen pasti baik-baik saja!" Bibi mendekat kepada Randu dan mengusap pundaknya. "Aku harus menemukan dia!"


"Iya. Tapi, Mas Randu harus kendalikan diri. Gimana kalau Neng Amee sampai tahu kalau Mas Randu begitu cemas sama Neng Aileen sekarang?"


Randu menatap perempuan baya yang berdiri di hadapannya itu. Dia menghela napas pelan lalu mengangguk. "Makasih, Bi."


Perempuan itu menyerahkan gelas berisi teh hangat kepada Randu. Tanpa pikir panjang Randu meminumnya dan merasakan lidahnya yang terbakar.


"Ada tamu. Bibi akan bukakan pintunya!"


"Jangan. Bibi tidur saja. Aku yang akan mengurus tamu kita!"


Setelah mengatakannya, Randu gegas keluar dari kamar hanya untuk membuka pintunya. Randu berharap Aileen yang pulang. Namun, harapannya lagi-lagi dikandaskan oleh tamunya malam itu.


"Mas, gimana? Apa sudah ada kabar soal Aileen?"


Randu menggeleng. Dia berjalan terlebih dulu meninggalkan Amee yang datang menyusulnya.


"Mas, ada apa sama kamu?" Amee meraih pergelangan tangan Randu. Dia merasa ada yang aneh terjadi kepada Randu semenjak Aileen menghilang.


Amee menangkup wajah Randu dan memaksanya untuk menatap matanya lekat. Namun, Randu hanya diam dan menggeleng. "Kamu khawatir sama bayi kita?"


Randu dengan ragu mengangguk. Dia tidak mau Amee mengetahui tentang dirinya dan Aileen.


"Saya hanya kelelahan saja!"


Amee menjadi begitu saja percaya. Dia lalu memeluk tubuh Randu yang ternyata tidak memberi reaksi apa pun.

__ADS_1


"Mas, makasih kamu peduli banget sama Aileen. Terlepas tentang anak yang nantinya yang akan kita rawat!" Randu hanya mengangguk. "Tapi, kenapa kamu di sini?"


"Saya hanya ingin memastikan saja apa Aileen sudah pulang atau belum. Lagipula sudah dua hari Aileen menghilang!"


__ADS_2