
"Akhirnya saya menemukan kamu di sini!" Randu begitu senang. Dia tidak mengira jika akan kembali bertemu dengan perempuan yang sangat dia rindukan.
Senyumnya mengembang, rasanya membuncah ingin memeluk. Namun, melihat reaksi tubuh Aileen yang terlihat sekali tidak nyaman dengan kehadirannya membuat pria tersebut mengurungkan niatnya. Dia hanya menahan tangan Aileen agar perempuan tersebut tidak kabur lagi.
"Mau ke mana?" tanya Randu heran. Padahal saat ini Aileen hendak masuk ke lift yang sama dengannya. "Saya tahu kamu mau menemui Safira, kan? Kamu pasti tahu apa yang terjadi dengan kami setelah saya memberitahu Adis!"
Aileen mendengkus kecil mendengar ucapan Randu tersebut. "Kakak sengaja lakuin itu?"
"Tentu. Karena saya yakin kamu pasti masih berada di sekitar kita. Kamu tidak akan pergi jauh apalagi sampai menyusul mantan kamu itu!"
"Dia bukan mantan aku!" sanggah Aileen tidak suka saat Randu menyindirnya dengan mengatakan jika El mantan kekasihnya.
"Terserah kamu. Sekarang kita temui Safira. Dia pasti senang kamu datang!" Aileen hendak melepaskan diri dari Randu di saat pintu lift terbuka, tetapi mendengar nama putrinya rasa rindu yang sudah dia tahan selama ini terasa tidak sanggup lagi untuk dirinya bendung.
Melihat Aileen yang melamun, Randu mengambil kesempatan untuk menarik pelan tangan Aileen memasuki lift. Hanya ada mereka berdua saja.
"Tinggal di mana kamu selama beberapa waktu ini?" tanya Randu dengan tatapan tidak pernah lepas memperhatikan wajah Aileen yang dirindukannya itu.
"Kakak gak perlu tahu dan juga lepasin tanganku. Aku bukan anak kecil yang bakal kabur!" Setelah mengatakan itu, tanpa harus menggunakan tenaga untuk melepaskan diri, Randu sudah melepaskannya.
"Kamu tahu, kan, saya merindukan kamu?"
Aileen diam saja. Dia memegang pergelangan tangannya yang terasa sedikit sakit setelah digenggam begitu erat oleh Randu.
"Kenapa kamu harus sembunyi? Apa Amee yang minta?"
Aileen mengangkat wajahnya dan menatap Randu yang masih begitu setia memperhatikan dirinya. Dia menghela napas pelan lalu bertanya, "Kenapa bercerai sama Mbak Amee?"
Randu memalingkan wajahnya, mengabaikan pertanyaan Aileen. "Aku tahu gimana Kakak cinta sama Mbak Amee dan gak mungkin begitu saja Kakak mau ceraikan dia!"
__ADS_1
"Kita bicarakan itu di apartemen!" Setelah mengatakannya Randu keluar terlebih dahulu dari lift disusul oleh Aileen yang memperhatikan punggung lebar Randu dengan bingung.
Hanya dengan menyebut nama kakaknya itu membuat Randu begitu cepat sekali berubah.
Randu sudah berada di depan pintu apartemennya. Dia mengangkat satu alisnya saat melihat Aileen yang berjalan sambil melamun. "Tidak merindukan Safira?"
Pertanyaan Randu berhasil membuyarkan lamunan Aileen. Perempuan tersebut menjadi salah tingkah saat melihat senyum manis Randu. "Kamu keluar dari persembunyian karena ingin menemui Safira, kan? Ayo!"
Aileen mengangguk. Dia ikut masuk bersama Randu ke dalam apartemen yang pernah dia tempati selama beberapa bulan.
Aileen memperhatikan dengan saksama apartemen yang sama sekali tidak ada perubahan. Dia terkejut saat Bi Siti menyapanya.
Perempuan tua yang menyadarkannya untuk menyadari porsi dari perasaan yang dia miliki kepada Randu. "Neng Aileen, Bibi senang bisa ketemu lagi. Safira pasti senang ibunya datang temui dia!"
Aileen mengangguk. Dia tidak terlalu memperhatikan Bi Siti yang saat ini berdiri di depannya. Saat ini, dia sedang mencari keberadaan Randu yang sudah tidak terlihat lagi. "Neng, maaf untuk percakapan terakhir kita saat ini. Bibi cuma memberikan pengertian saja sama Neng Aileen!" Tangan Aileen sampai digenggam erat oleh Bi Siti.
"Bi, aku sebenarnya ...."
Tanpa sadar, Aileen yang memang merindukan bayinya itu melepaskan genggaman tangan Bi Siti dan menyentuh lembut wajah Safira.
"Aku boleh gendong dia?"
***
Saat ini mereka berada di kamar. Aileen baru saja menidurkan Safira yang ternyata sudah begitu aktif. Dia terus saja memperhatikan Safira yang tertidur dengan pulas, bahkan telunjuknya digenggam oleh jari-jari kecil bayinya.
"Aku melewatkan banyak hal tentang kamu!" Aileen merasa menyesal, dia sampai berharap jika saja waktu dapat diputar kembali. Jika saja pada akhirnya dia tahu mulai jatuh cinta pada bayinya sendiri, sudah dipastikan tidak akan pernah dirinya membuat perjanjian itu.
Aileen akan lebih memilih pergi sejauh mungkin dan hidup berdua saja dengan Safira. Dia bahkan mungkin tidak akan pernah memiliki perasaan apa pun kepada Randu sampai detik ini.
__ADS_1
"Dia sudah tidur?" Randu mematikan laptopnya dan beralih menghampiri Aileen yang tampak murung sambil terus memperhatikan Safira. "Apa ada yang sedang kamu pikirkan?"
Aileen mengangkat wajahnya menatap Randu yang berdiri di sisinya sambil mengusap rambutnya. Jika saja ada orang yang melihat posisi mereka sudah dipastikan orang tersebut akan salah paham karena mengira mereka pasangan suami-istri. Padahal tidak ada ikatan apa pun lagi di antara mereka.
Aileen menghela napas pelan lalu kembali memperhatikan Safira yang menggeliat kecil. "Aku menyesal karena setuju begitu saja sama perjanjian itu, Kak!"
Randu tersenyum samar mendengarnya. "Kalau saja aku tahu ternyata aku cinta banget sama bayiku, gak mungkin aku biarkan Kakak sama Mbak Amee yang rawat!"
"Untuk apa menyesal kalau kesempatan itu terbuka lebar saat ini!"
"Maksud Kakak?" tanya Aileen yang belum memahami ucapan Randu. Dia terkejut saat Randu berjongkok di hadapannya dengan menggenggam tangannya erat, bahkan mengecupnya lama. "Kak!"
"Maaf karena saya telat menyadari perasaan ini. Seharusnya sejak kamu memberitahu tentang perasaanmu, saya menerimanya!" Randu begitu menyesal terlambat menyadari perasaan yang dia miliki dan juga tentang kejujuran Aileen yang mulai mencintainya, tetapi dia abaikan.
"Apa ini alasannya Kakak cerai sama Mbak Amee? Karena Kakak sadar cintanya sama aku?" tanya Aileen memastikan.
"Itu salah satunya!"
"Memang apa lagi alasannya?"
Randu menatap mata Aileen yang menatapnya penuh rasa penasaran. "Saya sudah memberitahu Amee tentang siapa ayah kandung Safira. Saya tidak bisa terus-menerus menyembunyikan fakta itu dan ternyata dia sejak awal sudah tahu!"
"Astaga!" Mata Aileen membulat sempurna mendengar ucapan Randu yang benar-benar mengejutkannya. "Jadi ... jadi Mbak Amee tahu?"
"Untuk itu saya memilih melepaskan dia. Dia berhak bahagia tanpa harus menanggung rasa sakit karena dikhianati!" Randu memberitahu sebagian alasannya, tetapi menutupi sebagian alasan lagi. Tentang apa yang Amee dan Seto lakukan.
"Tapi, kenapa Kakak harus kasih tahu Mbak Amee dan kenapa Mbak Amee gak kelihatan kalau dia tahu rahasia kita?" tanya Aileen yang masih tidak mengerti. Seharusnya jika Amee mengetahui jika Randu lah yang menghamili Aileen, perempuan itu marah atau bahkan memisahkan mereka.
"Karena saya tidak mau jika Safira mengira dia tidak diinginkan ayah kandungnya. Lagipula Amee tidak sebaik yang kamu kira, dia mengetahui itu semua dan diam saja karena memang tidak mau hamil anak saya!"
__ADS_1
Aileen melihat kemarahan di mata Randu. Namum dia memilih diam saja.
***