
Aileen kembali ke apartemen dengan perasaan yang bingung setelah percakapannya dengan Seto tadi. Tatapan pria tersebut sulit sekali untuk dirinya pahami, pun tentang keraguaannya kepada Seto.
"Bi, apa Kak Randu ke sini tadi?" Aileen menghampiri Bi Siti yang berada di dapur sedang membuat bolu sesuai janjinya kepada Randu semalam.
"Mas Randu bukannya ke kantor. Tadi pagi juga Mas Randu gak ke sini!" Aileen mengangguk.
"Ya sudah aku ke kamar. Apa Safira tadi menangis?" Bi Siti hanya menggeleng saja. Aileen memilih pergi ke kamar menemui putrinya yang beberapa jam dia tinggal dan hanya ditemani Bi Siti seorang.
Aileen melihat Safira yang sedang mengoceh sendiri. Dia tersenyum senang dan menghampiri putrinya itu. "Mama kira kamu tidur! Maaf Mama tinggal tadi!" Dia mengecup pelipis Safira dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Aileen gegas keluar saat mendengar suara ponselnya yang berdering nyaring. Dia lupa mengatur nada deringnya jadi mode senyap. Beruntung saja suara ponselnya tidak mengganggu Safira sama sekali.
"Kak Randu?" Dia menerima panggilan video dari pria yang beberapa bulan ini selalu saja menunjukkan perasaannya, bahkan pria tersebut sampai mengalah dengan tinggal di apartemennya yang berbeda lantai agar Aileen bisa nyaman tinggal di apartemen tersebut dengan Safira.
"Hai, Kak. Aku baru saja pulang!" adu Aileen tanpa menunggu pertanyaan Randu terlebih dahulu!"
"Di mana Safira? Bisakah saya melihatnya?" Aileen mengangguk dan dia langsung mengarahkan kameranya kepada Safira yang sedang memainkan jarinya sendiri dengan memasukan ke dalam mulut.
Beberapa saat Randu mengajak putri mereka bicara dan hanya ditanggapi tawa oleh Safira. Melihat interaksi tersebut membuat hati Aileen menghangat. Keraguan yang sempat dia rasa selama beberapa bulan ini atas lamaran Randu rasanya menghilang begitu saja setelah percakapannya dengan Seto dan melihat sendiri keadaan Amee.
"Apa yang terjadi saat kamu menemui Amee yang menyerahkan surat-surat rumah?"
Saat ini wajah Aileen yang ditatap oleh Randu setelah pria tersebut puas mengajak Safira bicara.
"Apa lagi, tentu dia marah. Dia bahkan minta aku gak temui dia lagi!" Aileen menghela napas pelan lalu berusaha tersenyum kepada Randu walau terasa sulit dilakukan.
"Maaf!"
Aileen mengangkat sebelah alisnya, dia menatap tidak suka Randu yang terlihat begitu merasa bersalah. "Kakak kenapa begitu. Lagipula aku yang paksa, kan, buat antarkan surat-surat itu walau sebenarnya pengacara Kakak bisa lakukan? Ya anggap saja ini sebagai teguran buat aku karena selama beberapa waktu aku gak berani temui dia!"
"Baiklah. Kita jangan bahas dia lagi. Nanti malam kamu sudah janji mau makan malam bersama di luar. Pakai pakaian yang sudah saya pilihkan."
"Safira gimana? Dia ikut juga, kan?" tanya Aileen sambil memperhatikan putrinya.
"Bisa minta tolong Adis untuk jaga dia?"
Aileen mendelik mendengar ucapan Randu. Dia kesal kepada pria yang saat ini terlihat sedang serius menatapnya. "Gak mau. Masa minta tolong Adis, sih? Biar aku bawa saja Safira. Aku juga gak tega tinggalin dia lagi!"
***
Malam harinya Aileen sudah siap dengan dress berwarna hitam sederhana yang dibelikan oleh Randu. Untuk menyempurnakan penampilannya dia hanya mengenakan anting dan membiarkan saja rambutnya yang diurai, tidak lupa dia mengenakan heels dengan warna senada.
__ADS_1
Aileen memperhatikan penampilannya kembali sebelum pergi dengan Randu. Dia menatap dari cermin Bi Siti yang masuk ke kamarnya. Dia berbalik dan menghampiri perempuan baya itu.
"Bibi istirahat saja, biar aku bawa Safira ikut!"
"Tapi ...."
"Sudah, Kak Randu bilang nanti kita makan malamnya juga di dalam ruangan. Jadi gak masalah bawa Safira. Kasihan kalau dia aku tinggal lagi!"
Bi Siti ingin membantah, tetapi melihat kesungguhan Aileen dia akhirnya menurut. "Biarkan Bibi pakaikan Safira jaket dulu, udara malam gak baik buat bayi!"
Aileen mengangguk saja. Dia tidak akan melarang perempuan baya itu melakukannya. Dia mengambil tas yang sudah disiapkan dan keluar saat mendengar bel berbunyi.
"Dis? Ngapain ke sini?" tanya Aileen heran. Padahal Randu bilang dia tidak jadi meminta Adis untuk datang dan menjaga Safira, tetapi saat ini sahabatnya telah berdiri di hadapannya.
"Aku mau ketemu Safira lah. Ngapain lagi!" Adis langsung begitu saja masuk tanpa menghiraukan kebingungan Aileen.
"Kamu disuruh Kak Randu?" Aileen masuk kamar dan melihat Adis yang sedang menggendong Safira mengangguk. Dia terlihat begitu menyayangi putri sahabatnya itu. "Tapi, aku mau bawa dia!"
Adis mendengkus kecil, dia menatap Aileen kesal. "Tega banget bawa bayi yang belum ada satu tahun keluar malam. Lagian seharusnya kamu nikmati saja makan malam sama Kak Randu tanpa Safira. Tenang saja, aku akan jaga dia!"
Aileen menghela napas pelan. Dia menghampiri putrinya dan mengecup keningnya lama. "Ya sudah aku gak jadi bawa Safira. Tapi, satu jam sekali kamu harus angkat telepon aku!"
"Bi, tolong jaga Safira, ya!"
"Iya, Neng!"
"Ya sudah aku pergi dulu, Kak Randu sudah tunggu aku di luar!" ucap Aileen setelah membaca pesan dari Randu
***
Aileen tidak menyangka jika restoran yang mereka datangi sudah direservasi oleh Randu, sehingga tidak ada lagi pengunjung selain mereka berdua.
"Gimana, suka?" Aileen mengangguk senang. "Saya sengaja melakukannya biar kita bisa makan dan bicara dengan tenang."
"Padahal Kakak gak harus lakuin ini. Kita bisa lakukannya di apartemen saja! Buang-buang uang!"
Randu terkekeh pelan mendengar ucapan Aileen barusan. Dia berdeham lalu meraih tangan Aileen dan menggenggamnya erat. Tangan halus itu terasa begitu dingin. "Tangan kamu dingin!"
"Aku gugup!" jawab Aileen jujur. "Entahlah, tapi aku rasa malam ini tujuan Kakak ajak aku makan malam berdua bukan cuma mau makan dan bicara, iya, kan?"
"Kamu tahu?"
__ADS_1
"Jadi benar?" tanya Aileen memastikan. Dia menatap lekat Randu yang mengangguk. "Kakak mau lamar aku, kan?"
Randu tidak dapat menahan tawanya karena pertanyaan Aileen sama sekali tidak terduga itu. Alih-alih tidak menanyakannya secara langsung, Aileen malah memilih untuk bertanya tanpa merasa canggung sama sekali.
Melihat Aileen yang bingung, Randu berdeham untuk menghentikan tawanya. Dia kembali menatap serius Aileen. "Karena kamu sudah tahu apa yang mau saya lakukan, jadi saya akan langsung pada intinya saja. Apa kamu bersedia?"
"Apa?"
"Kamu mau menerima lamaran saya?"
"Astaga, jadi Kakak serius?" Randu mengangguk tanpa ragu. "Aku tadi cuma asal tebak!"
Randu menghela napas pelan. Dia mencoba bersabar menghadapi Aileen yang seakan sedang menarik ulur waktunya, menguji kesabarannya. "Kakak yakin? Kakak gak takut kalau Tante Mira dan mamaku juga larang hubungan kita? Aku gak mau persulit semuanya, Kak! Aku ...."
Aileen terdiam tanpa melanjutkan ucapannya saat Randu menghentikannya dengan meletakkan telunjuknya tepat di depan bibirnya. "Kamu tidak perlu memikirkan mereka saat ini. Yang saya inginkan kamu menerima saya dan kita akan melalui semuanya bersama!" ucap Randu begitu serius.
Aileen memegang telunjuk Randu dan menjauhkan dari bibirnya. "Iya, aku mau kok!"
Randu begitu senang mendengar jawaban yang sudah lama ditunggunya. Dia sampai mengecup punggung tangan Aileen berulang kali untuk mengekspresikan perasaannya. Namun, beberapa saat kemudian Randu berhasil membuat Aileen bingung dengan sikapnya.
"Ada apa?"
"Tidak. Saya menjadi penasaran, bagaimana dengan mantanmu yang katanya mengajak balikan. Kamu tidak buat dia menunggu, kan?"
Aileen tertawa kecil. Dia menggeleng. "Maaf aku cuma bohong saja. Sebenarnya aku gak pernah ketemu sama dia lagi, aku lakuin itu karena sebelumnya merasa ragu sama perasaan Kakak. Aku tahu Kakak cinta banget sama Mbak Amee! Jadinya aku kira ajakan Kakak yang awal cuma peralihan."
"Aileen ...."
"Tapi sekarang aku yakin, kalau perasaan Kakak memang buat aku."
"Tentu. Saya tidak akan pernah mengajakmu ke jenjang yang lebih serius kalau tidak ada perasaan apa pun, bahkan bisa saja saya akan tetap bertahan dengan Amee walau tahu sudah dikhianati karena masih mencintai dia."
Aileen hanya mengangguk saja. Di dalam hatinya dia merasa benar-benar bersyukur perasaannya saat ini ternyata sudah terbalaskan. Keraguannya tentang perasaan Randu yang awalnya dia kira hanya sebagai peralihan rasa sakit karena mengetahui pengkhianatan Amee, ternyata tidak benar.
Mereka saling memandang, tangan Randu juga masih setia menggenggam tangan Aileen. Namun, mereka dikejutkan dengan ponsel Aileen yang berdering.
"Adis, Kak!" Randu melepaskan tangan Aileen untuk membuat tersebut leluasa. Dia diam mendengarkan percakapan Aileen dan sahabatnya itu yang begitu serius, terlihat dari perubahan ekspresi wajah Aileen.
"Ada apa?" tanya Randu heran saat Aileen tiba-tiba saja berdiri dan mengajaknya pulang.
"Kak, mama di apartemen dan maksa mau bawa Safira!"
__ADS_1