Skandal Termanis

Skandal Termanis
Maaf, Anda Masih Belum Berhasil


__ADS_3

Tidak ada percakapan yang mengundang keributan saat mereka makan malam bersama, Mira seakan tahu diri dengan memilih banyak diam walau tatapannya kepada Aileen sama sekali belum berubah.


Saat Mira meminta agar tidur bersama Safira, dengan senang hati Aileen mengizinkannya. Dia mengabaikan Randu yang hendak melarangnya.


"Hari ini suasana hatimu Sepertinya baik!"


Aileen mengangguk. Dia lalu kembali memperhatikan jarinya yang dibalut perban sambil tersenyum.


"Apa sesenang itu? Sejak tadi kamu tidak bisa melihat lukamu itu?"


"Bagaimana aku gak senang, kalau yang lakukan ini Tante Mira. Mamanya Kakak, orang yang harus kita luluhkan untuk mendapatkan restu!" jawab Aileen begitu riang. Dia memperhatikan Randu yang sedang meminum teh madunya dan menatapnya lekat.


"Biasanya hal apa yang anak lakukan untuk menyenangkan orang tuanya!" Aileen menumpuk lengannya di meja dengan tubuh sedikit condong ke arah Randu. Dia terlihat begitu antusias mendengar jawaban Randu.


Pria berhidung mancung itu menghela napas pelan lalu meletakkan cangkirnya. "Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Randu menyelidik.


Aileen menggeleng. "Aku mau tahu, biasanya apa yang Kakak lakukan biar Tante Mira senang?" Aileen tampak berpikir dengan menatap langit-langit apartemen lalu menatap Randu kembali. "Misal biar Tante Mira yang marah sama Kakak luluh!"


"Kenapa tanya? Kamu juga pasti sering melakukannya. Jadi, lakukan hal yang biasa kamu lakukan!"


Aileen menjadi lesu. Dia menjauhkan tubuhnya dari Randu dan mendengkus pelan. "Kalau aku pernah lakukan, mungkin aku gak akan tanya. Kakak tahu, gimana mamaku yang selalu saja gak suka sama aku. Selama ini apa yang aku lakukan selalu salah di matanya. Baginya aku anak ...!"


Randu menyentuh lengan Aileen, menghentikan ucapan Aileen yang dia akan tahu berakhir di mana. "Baiklah, aku akan kasih tahu!"


"Kakak serius?" tanya Aileen senang. Apalagi saat Randu mengangguk, perempuan tersebut seperti anak kecil yang baru saja diberi permen kesukaannya, dia bangkit dan memeluk Randu.


"Tapi, ada syaratnya!"


"Apa pun itu aku akan lakukan!" jawab Aileen tanpa melepaskan pelukannya pada Randu. "Jadi apa?"


"Apa pun yang terjadi, kamu tidak boleh menyerah!"


Aileen melepaskan pelukannya. Dia kembali duduk lalu menatap Randu yang sedang menunggu jawabannya. "Apa berat? Maksud aku, apa buat Tante Mira luluh berat?"


Randu tanpa ragu mengangguk. "Aku harap kamu tidak keberatan!"

__ADS_1


"Aku akan tetap lakukan, asal ada Kakak dan Safira, aku yakin pasti bisa!"


***


"Tante, aku buatkan makanan kesukaan Tante. Aku harap Tante suka!" Aileen bangun lebih pagi dari Bi Siti dan membuat makanan yang disukai Mira. Randu memberitahunya.


Dengan hati-hati Aileen meletakkan piring berisi nasi goreng berwarna pucat di hadapan Mira.


Awalnya Aileen tidak percaya dengan yang dikatakan Randu, dia kira pria tersebut sedang bercanda ketika mengatakan jika Mira suka sekali dengan nasi goreng tersebut. Menurut Aileen, Mira yang terlihat begitu elegan menyukai makanan sederhana begitu sangat tidak cocok. Namun, melihat keseriusan Randu membuatnya percaya dan membuatnya untuk membuktikan.


"Maaf, kalau rasanya kurang. Aku gak terlalu bisa masak. Oh, iya, tadi aku kasih teri di nasi gorengnya!"


Aileen menunggu Mira untuk menikmati makanan buatannya tersebut. Namun, dirinya harus menelan kekecewaan ketika Mira tanpa mengatakan apa pun menjauhkan piring nasi goreng tersebut dan meminta Bi Siti membuatkan sarapan lain untuknya.


"Apa Tante gak suka sama nasi goreng?" tanya Aileen begitu pelan.


"Buatkan omelet, Bi!" Mira benar-benar mengabaikan Aileen. Dia mengangkat piring nasi goreng buatan Aileen dan menyerahkan kepada Bi Siti. "Bawa ini!"


"Baik, Bu!" Bi Siti menatap Aileen kasihan lalu memilih pergi membuatkan pesanan Mira.


"Kamu pembantu?"


Baru saja dia akan berbalik badan dan pergi ke dapur, tetapi urung dilakukan ketika Mira menanyakan hal seperti itu. Aileen menggeleng ragu. "Kalau begitu kamu gak perlu melakukan hal-hal yang harusnya dilakukan seorang pembantu!"


Mira menatap Aileen dengan tatapan tajam lalu kembali bicara, "Kamu gak perlu melakukan apa pun yang buatku menerima kamu menikah dengan Randu. Apa kamu iri karena aku menyayangi Safira?"


Aileen menunduk lalu menggeleng. "Huh. Pergilah. Lakukan kegiatan yang menghasilkan uang daripada mencari cara membuatku luluh!"


Aileen terdiam, dia menggigit bibirnya mendengar kata-kata yang keluar dari Mira. Dia tidak tahu akan sesakit ini hanya dari sebuah ucapan. "Maaf!" cicit Aileen. Dia menyeka air matanya yang tidak bisa dicegah untuk keluar di depan Mira.


"Daripada memikirkan kapan kalian akan bersama, lebih baik kumpulkan uang dan pergi sebelum Randu yang usir kamu!"


Tidak lama Bi Siti datang membawa pesanan Mira, saat itu dia tidak sengaja menyenggol Aileen sampai membuat tubuh kurusnya terjatuh.


Aileen segera bangun dan pergi meninggalkan mereka tanpa mengatakan apa pun.

__ADS_1


"Perempuan tidak tahu diri. Dikasihani sekali malah minta lebih!" gumam Mira sambil melirik pintu kamar yang baru saja tertutup.


Bi Siti yang berada di sana menyaksikan bagaimana perlakuan buruk Mira kepada Aileen merasa begitu kasihan. Dia tidak menyangka Mira akan melakukan hal seburuk itu kepada Aileen.


***


Aileen terduduk sambil menjaga Safira yang sedang bermain sendiri. Dia terus saja teringat ucapan Mira kepadanya, tidak menyangka jika Mira begitu membencinya.


"Hah. Mamamu ini payah, bukan? Apa aku harus menyerah, tapi aku sudah berjanji sama papamu untuk gak menyerah apa pun itu!" Safira tertawa menanggapi ucapan Aileen tersebut.


"Kamu beruntung, semua orang sayang sama kamu. Bahkan aku yang dulu gak pernah suka dan mengharapkan kamu sekarang jatuh cinta. Tapi, aku ... aku cuma punya Kak Randu yang sayang sama aku." Aileen tersenyum lembut lalu membantu mengelap air liur Safira yang belepotan di sekitar wajahnya. Bayi tersebut senang sekali memainkan air liurnya.


"Kamu juga pasti sayang sama aku juga, kan?" Bayi tersebut menyentuh wajah Aileen. "Kapan kamu akan panggil aku mama? Padahal di internet yang aku baca ada bayi seumur kamu sudah bisa memanggil nama orang tuanya!"


Aileen menoleh ke arah pintu yang dibuka, senyumnya menghilang berganti kecanggungan saat Mira masuk. "Aku akan bawa Safira jalan-jalan dengan Bi Siti!"


Aileen mengangguk, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menurut. "Aku akan siapkan keperluannya, Tante!"


"Gak perlu. Biar Bi Siti saja." Setelah itu perempuan baya tersebut masuk ke kamar Aileen. "Kamu juga gak perlu ikut!"


Aileen menghela napas pelan lalu kembali mengangguk. Dia seorang orang bodoh yang hanya diam saja menyaksikan sebuah pertunjukan di kamarnya sendiri. "Ayo, Bi!" Mira keluar terlebih dahulu.


"Neng, maaf Bibi gak bisa lakuin apa-apa," ucap perempuan baya tersebut begitu menyesal dan Aileen kembali harus mengangguk, dia mengulas senyum sebelum mereka pergi.


"Selamat bersenang-senang anak Mama!" Aileen mengecup kening Safira sebelum keluar dari kamar.


"Hah, sabar Aileen. Jalanmu memang begitu terjal, tapi percayalah akan ada masanya jalanmu lancar!"


Diam-diam Aileen berharap Safira kunci dari luluhnya hati Mira untuk menerimanya, walau dirinya juga begitu pesimis. "Aku merindukan Kak Randu!"


Aileen langsung menghubungi Randu setelah memastikan mereka bertiga keluar dari apartemen. Sayang, panggilannya sama sama sekali tidak ditanggapi oleh Randu.


"Dia sibuk!" Aileen merasa sedih, padahal saat ini dirinya sedang membutuhkan seseorang yang bisa bicara dengannya.


"Nomor siapa ini?" Ponselnya berdering, nomor tidak dikenal menghubunginya. Dengan perasaan takut, Aileen menerima panggilan tersebut.

__ADS_1


"Merindukanku, Babe?"


__ADS_2