Skandal Termanis

Skandal Termanis
Rumah Baru


__ADS_3

"Ada apa? Kamu kelihatan tidak semangat?" tanya Randu heran. Sejak awal mereka memutuskan untuk pergi makan malam di luar bertiga bersama Safira, Aileen terus saja terlihat tidak bersemangat. "Apa mau pindah tempat saja?" tawar Randu yang langsung ditolak oleh Aileen.


"Kita di sini saja, Kak!" Aileen menghela napas pelan lalu memperhatikan wajah tenang Randu yang menatapnya. "Maaf, Kak. Aku cuma masih kepikiran sama Mbak Amee saja!"


Kening Randu berkerut dalam. "Amee? Ada apa dengannya? Bukankah kalian sudah baikan?"


Aileen mengangguk. Membenarkan ucapan Randu. "Memang, tapi pagi tadi saat Mbak Amee mampir ke apartemen, dia bilang sesuatu yang aneh. Dia bilang kalau Kak Seto suka sama aku dan mereka dekat selama ini juga karena aku!"


Randu menyentuh tangan Aileen dan berkata, "Lalu kenapa kamu harus memikirkannya? Jelas kita tahu, Seto pria yang tidak normal!"


Aileen menggeleng. Dia menarik tangannya menjauh dari Randu. "Yang aku lihat Kak Seto gak pernah tertarik sama cowok, Kak. Dia memang kelihatan cuma pura-pura. Aku gak memikirkan kalau memang Kak Seto benar-benar suka aku, yang aku pikirkan pasti Mbak Amee begitu terluka. Dia cinta banget sama Kak Seto!" Aileen menghela napas pelan, saat menatap Randu yang terdiam dia menjadi merasa bersalah.


"Kak, maaf. Aku bukannya bermaksud mengacaukan makan malam kita!"


"Tidak masalah. Lebih baik sekarang kita habiskan makanannya dan aku akan ajak kamu pergi ke suatu tempat!"


"Ke mana, Kak?"


"Nanti kamu juga akan tahu!" Setelah itu Randu memilih menyibukkan dengan mengajak Safira berbicara. Menyaksikan kedekatan mereka membuat Aileen begitu senang, dia menyesal karena tidak seharusnya dia membicarakan orang lain saat mereka sedang bersama begini.


***


Sungguh Aileen sama sekali tidak menyangka dengan yang baru saja didengarnya. Dia kira rumah yang mereka datangi merupakan rumah salah satu kerabat atau teman Randu, tetapi salah.


Rumah tersebut nyatanya akan mereka tempati setelah menikah. "Tapi, kenapa kita gak tinggal di apartemen saja, Kak?" tanya Aileen yang menghampiri Randu. Pria itu baru saja menidurkan Safira di ranjang salah satu kamar.


"Apartemen tidak akan cukup untuk menampung keluarga kita nantinya. Aku ingin setelah menikah kamu segera hamil lagi, biar Safira ada temannya!"


"Kakak!" Aileen begitu malu dengan yang baru dikatakan Randu. Bagaimana bisa pria itu sudah memikirkan dirinya akan kembali hamil, padahal dia baru saja merasakan sakitnya saat melahirkan.

__ADS_1


"Nantinya rumah ini akan dipenuhi oleh banyaknya suara anak-anak kita." Randu mengajak Aileen untuk duduk di tepi ranjang. Dia menggenggam tangan Aileen. "Aku harap kamu tidak keberatan jika aku menginginkan anak banyak!"


Aileen menelan ludahnya kasar. Dia dengan ragu bertanya kepada Randu. "Kakak maunya punya anak berapa?"


"Sebanyak-banyaknya!" jawab Randu sambil mengerlingkan matanya, menggoda Aileen yang terkejut karena jawabannya itu.


Pria itu memilih beranjak pergi ke luar dari kamar, Aileen gegas mengikutinya dan melihat Randu yang memilih duduk santai di sofa ruang tengah. Pria itu lantas menyalakan televisi dan meminta Aileen untuk duduk di sampingnya.


"Nanti setelah menikah aku ingin kita sering menghabiskan waktu bersama, hanya berdua saja begini. Tidak memikirkan tentang kehidupan orang lain!"


Aileen memperhatikan wajah tenang Randu dan menunduk. Dia merasa bersalah. Pasti tadi saat makan malam Randu merasa terganggu karena dirinya membahas Amee.


"Ada apa?"


Perempuan muda itu menggeleng lalu membiarkan tubuhnya masuk dalam pelukan Randu yang menenangkan. "Apa masih tentang Amee?" tebak Randu.


Aileen menggeleng. "Benarkah? Tapi yang kulihat sebaliknya. Apa masih kepikiran tentang ucapan Amee?"


"Kamu tahu ternyata!" Aileen kembali menunduk dan memeluk Randu erat.


"Maaf, aku cuma gak bisa mengendalikan diri untuk gak memikirkannya. Aku takut kalau Mbak Amee akan benci aku lagi, Kak!"


"Tenanglah. Hal itu tidak akan terjadi. Tidak ada siapa pun yang dapat melarang Seto atau siapa saja pria untuk menyukai kamu. Amee hanya tidak beruntung saja mendapatkan hati pria yang dia suka dan itu bukan salahmu!"


Aileen tidak menyangka Randu akan bicara seperti itu. Dia kembali mendongak dan bertemu tatap dengan Randu yang menunduk.


Dalam jarak yang begitu dekat, Aileen bisa melihat ketulusan di mata Randu. "Kakak gak marah?"


"Tentang?"

__ADS_1


"Mbak Amee yang ternyata suka sama Kak Seto dan Kak Seto yang suka sama aku?"


Randu terkekeh pelan. Dia mencium ujung hidung Aileen sekilas lalu tersenyum manis. "Untuk apa aku marah? Tidak ada gunanya. Lagipula walau Seto suka sama kamu, nyatanya aku pemenangnya."


Aileen terkekeh pelan mendengarkan ucapan sombong Randu dan dia mengangguk setuju. "Kakak benar. Mau Kak Seto atau Bang El bilang suka berulang kali, nyatanya pemenangnya cuma Kakak. Papanya Safira!"


Tiba-tiba saja atmosfer di sekitar mereka menjadi begitu panas. Aileen dapat melihat tatapan Randu tertuju pada bibirnya. Dia paham apa yang ingin pria itu lakukan dan memilih untuk memejamkan mata.


Sayangnya saat berharap adegan yang dibayangkannya terjadi, mereka harus melepaskan diri dan gegas ke kamar karena Safira yang terbangun dan menangis.


"Malam ini kita menginap di sini saja, besok pagi baru kembali ke apartemen," ucap Randu. Aileen hanya mengangguk sambil memangku Safira untuk menenangkan tangisnya. "Aku akan tidur di luar. Kalian tidurlah di kamar ini."


Aileen merasakan Randu yang mencium kepalanya lalu beranjak pergi keluar kamar meninggalkannya dengan Safira berdua saja.


"Papamu akan ajak kita tinggal di rumah ini nantinya. Kamu suka?" Aileen terkekeh pelan saat melihat reaksi Safira yang mengangkat tangannya hendak menyentuhnya.


"Anak pintar!" Aileen mengecup wajah Safira dan dia kembali teringat tentang ucapan Amee tadi pagi.


Padahal dua hari lalu, Amee datang dan mereka kembali baikan. Namun, kedatangan Amee pagi tadi menyiratkan jika perempuan itu menyalahkan Aileen atas apa yang terjadi kepadanya. "Aku harap apa yang Kak Randu katakan benar. Mbak Amee gak akan berubah sikap lagi!" Dia menghela napas pelan lalu kembali menidurkan Safira.


***


Pagi harinya mereka kembali ke apartemen. Randu mengantar Aileen ke apartemen yang digunakannya. Dia baru saja masuk ke apartemen dan teringat jika Randu meninggalkan sesuatu kepadanya.


Aileen hendak mengejar Randu yang dia yakini masih belum masuk lift, tetapi dia dikejutkan saat melihat Randu dipeluk oleh Amee. Hal yang membuatnya sedih ketika dia melihat sendiri Randu membalas pelukan Amee kepadanya.


Aileen hendak kembali, tetapi langkahnya terhenti saat Randu memanggilnya. Dia balik menghadap mereka dan memaksa untuk tersenyum. "Aku cuma mau kasihkan ponsel Kakak yang tertinggal!"


Randu menghampirinya dan mengambil ponsel tersebut. "Jangan salah paham, oke!"

__ADS_1


Aileen tidak mengatakan apa-apa dan mengangguk begitu saja. Dia membiarkan Randu memeluknya dan melihat tatapan tidak suka Amee atas perlakuan Randu tersebut.


"Aku gak akan biarkan Mbak Amee rebut Kak Randu dariku!"


__ADS_2