Skandal Termanis

Skandal Termanis
Kita Sama yang Tidak Sama


__ADS_3

"Aku gak sangka kamu sudah melahirkan saja. Ternyata kita berpisah lama sekali!"


Aileen hanya mengangguk, memperhatikan El yang beberapa bulan tidak bertemu sekarang menjadi begitu berbeda. Tidak ada lagi poni lempar yang sering El lakukan.


Penampilannya sungguh berubah, rambutnya dipangkas rapi, tubuhnya kekar berisi, dengan wajah yang lebih segar. Aileen sampai baru sadar jika pria tersebut memiliki mata yang indah dengan alis tebalnya.


"Kamu dengar yang aku katakan?" El mengangkat sebelah alisnya lalu meletakkan cangkir kopinya saat menyadari Aileen terus saja memperhatikan dirinya. Dia tidak jadi menikmati kopi beraroma tajam itu.


Aileen menjadi salah tingkah, dia memalingkan wajahnya membuat El gemas. "Boleh aku cubit pipimu?"


El terkekeh saat pertanyaannya mendapat tatapan tajam dari Aileen. "Kamu ternyata masih sama saja. Menyeramkan kalau marah!"


Aileen mendengkus pelan. "Kenapa balik ke sini? Bukannya mau menetap di negara orang? Merindukan seseorang?"


"Aku merindukanmu. Ingin memastikan kenapa kamu gak cepat datang setelah melahirkan!" El mendesah kecewa. Tanpa permisi pria tersebut menyentuh punggung tangan Aileen dan mengusapnya. "Apa kamu gak bisa sekali saja menerimaku?" Pria tersebut menatap Aileen dalam.


Tatapan El begitu meneduhkan bagi siapa saja yang mendapatkan tatapannya, tetapi Aileen harus sadar diri. Dia kembali memilih mengabaikan perasaan El, seperti sejak awal pertemuan. Dia menarik tangannya. "Maaf, Bang El tahu jawabannya!"


Pria tersebut mengangguk paham. "Oke. Gak masalah, dengan kamu mau ketemu sama aku saja sudah buatku senang!"


El menyerahkan kartu namanya, dia meletakkan di meja dekat minuman Aileen. "Kamu hubungi aku kalau butuh sesuatu! Dengan senang hati akan aku lakukan untuk bantu kamu. Nomorku yang lama hapus saja, yang tadi simpan!"


Aileen mengambil kartu nama tersebut. Dia tersenyum senang lalu menatap El lamat. "Aku selalu suka baca nama lengkap Bang El!"


"Kenapa?"


"Entah. Ya suka saja!" El tertawa mendengar jawaban asal Aileen. "Kupikir untuk mengenang Bang El yang gak akan kembali ke sini, aku akan kasih nama Bang El untuk anakku, ternyata anakku perempuan. Mungkin dia tahu, kalau mau dikasih nama Bang El. Dia sadar kalau gak mau nama itu!"


"Oh, ayolah. Kenapa setelah melambungkan diriku kamu langsung menjatuhkannya sampai dasar?" El pura-pura merajuk.


Aileen mengabaikan saja El yang sedang merajuk kepadanya. Dia menyimpan kartu nama tersebut di tas. "Hah, aku gak bisa lama-lama. Makasih untuk traktirannya, Bang!" Aileen langsung berdiri. Dia hendak pergi, tetapi dengan sigap El meraih pergelangan tangan mungil Aileen dan menggenggamnya erat.


"Bang!"


"Aku antar?"


Aileen menggeleng. "Aku gak mau!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Di luar cafe sudah ada orang yang tunggu aku. Bang El gak perlu repot-repot antar aku!" Aileen melepaskan diri, dia tersenyum hangat kepada El lalu pergi meninggalkan pria tersebut yang kembali patah hati.


Di parkiran sudah menunggu Randu yang sejak beberapa waktu lalu memaksa akan menjemput Aileen. Pria tersebut juga memaksa untuk ikut gabung, beruntungnya Aileen berhasil meyakinkannya jika mereka tidak akan lama dan hanya membahas hal-hal biasa saja.


"Menunggu lama?" Aileen masuk mobil Randu. Tidak sulit untuk menemukan mobil pria yang dicintainya itu di antara mobil-mobil yang terparkir.


"Tidak. Tapi, apa yang kalian bahas tadi?" Aileen menyadari Randu tengah cemburu saat ini, bahkan pria tersebut tidak menatapnya ketika bicara. "Sepertinya dia buatmu bahagia sekali, berbeda ketika saat bersama denganku!"


Aileen melipat bibirnya ke dalam, menahan senyum mendengar kalimat cemburu Randu yang menggemaskan. "Kakak mau tahu?" goda Aileen.


"Terserah!"


"Kalau gitu aku gak mau cerita. Lagipula buat apa cerita pria lain di saat aku lagi sama calon suami?"


Randu yang sedang menyetir menoleh dan menatap Aileen tajam lalu menghela napas pelan. "Kamu sedang menggodaku?"


"Gak tuh. Aku serius. Aku gak mau saat kita cuma berdua begini malah bahas orang lain. Apalagi yang dibahas itu cowok!" Aileen menggeleng. "Gak banget!"


Aileen memperhatikan saat Randu mencoba menahan senyumnya. Dia lalu menjahili pria tersebut tersebut dengan menusuk-nusuk pipinya.


"Setuju!"


Sayangnya Randu masih saja tidak membebaskan tangan Aileen. "Kak, eem, apa Tante Mira sesulit itu, ya?"


"Kenapa?"


"Ya tadi pagi Tante bilang kalau aku gak perlu buat dia luluh. Kalau gitu kapan kita nikahnya?"


Randu mendesah pelan. Dia mengecup punggung tangan Aileen dan melirik perempuan tersebut yang menatapnya penuh harap. "Kita menikah tanpa restu mama. Atau jadikan saja Safira untuk meluluhkan mama!"


"Yakin?"


"Tentu!"


"Oke. Aku akan minta Safira untuk buat Tante Mira luluh. Ya walaupun aku gak tahu gimana caranya!"

__ADS_1


***


"Mama sungguh gak ngerti sama kamu, Ran. Apa yang kamu lihat dari perempuan seperti dia? Kamu tahu sendiri, dia berasal dari ibu yang gak baik. Apa karena dia sudah kasih kamu anak? Harusnya kamu lebih sabar dengan Amee!"


"Kenapa Mama bisa bicara hal seperti itu di sini? Aileen bisa dengar!"


"Mama gak peduli. Bagus kalau dia dengar," sungut Mira. Dia mematikan saluran televisi yang menyala tanpa suara.


"Terserah Mama. Di mata Mama, Amee memang menantu terbaik. Tapi, apa benar begitu?"


Mira menatap kesal putranya. "Aku tidak mau mengatakan hal yang buat Mama akhirnya tidak percaya. Biarkan Mama lihat sendiri, tapi yang jelas Aileen lebih baik dari Amee!" tegas Randu.


Pria tersebut kembali menyalakan televisi dan membiarkannya tanpa suara. "Mama selalu bilang Aileen perempuan yang lahir dari ibu yang tidak baik. Apa Mama lupa siapa Mama?"


"Apa maksud kamu?" tanya Mira penasaran.


Randu menyeringai memperhatikan wajah kesal mamanya yang kentara. Keriput di wajahnya tidak dapat hilang begitu saja walau sudah melakukan perawatan mahal sekali pun.


"Mungkin Mama lupa, tapi aku tidak. Dulu Mama juga tidak diterima di keluarga papa. Tapi papa yang selalu berusaha keras meyakinkan mereka. Mama harus ingat kalau Mama juga berasal dari ibu tanpa suami yang ...."


Belum selesai Randu bicara, Mira sudah menamparnya dengan begitu keras. "Cukup! Jaga bicaramu. Jangan pernah kamu samakan Mama dengan Aileen!"


Mira beranjak berdiri. Dia melangkah meninggalkan Randu dengan masuk ke kamarnya, bahkan membanting pintu dengan begitu keras.


"Kak!"


Randu mendongak, dia sedikit terkejut saat melihat Aileen berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. "Ada apa?" tanya Randu penuh perhatian. Dia mengusap lembut rambut halus Aileen.


"Kenapa bilang begitu?" Kening Randu berkerut dalam.


"Kakak gak harus bilang seperti itu, wajar Tante Mira sampai tampar Kakak. Siapa pun gak akan suka masa lalunya diungkit!" Aileen memperhatikan wajah Randu yang tadi ditampar Mira. Dia melihatnya, tetapi tidak berani mendekat dan hanya berani menyaksikan di balik pintu kamarnya. "Pasti sakit!" ucapnya sambil mengusap wajah Randu dan beralih menatap mata prianya itu.


"Tidak!" Randu menyentuh tangan Aileen di wajahnya. "Aku harus melakukannya agar mama sadar diri!"


"Jangan begitu lagi, Kak. Aku takut Tante makin marah sama aku dan membuat kita sulit bersama. Kakak harus percaya sama aku kalau aku akan tetap di sini dan gak akan pergi. Kalau Tante Mira tolak aku, kita tetap nikah saja walau tanpa restunya!"


Randu mengangguk lalu mengenggam tangan Aileen dan menciumnya berulang kali.

__ADS_1


Merasakan apa yang dilakukan Randu begitu tulus Aileen tersenyum manis. Dia bahkan tanpa canggung membalas Randu dengan mencium kening pria tersebut.


"Maafkan aku, Kak!"


__ADS_2