
Aileen datang tanpa membawa Safira saat menemui Amee. Mereka memutuskan bertemu di salah satu cafe yang tidak jauh dari apartemen.
Beberapa saat Amee sebelum Aileen datang, dia terus saja mengabaikan panggilan Seto. Sejak semalam pria itu terus saja menghubungi dan memintanya agar bisa mengantar dirinya ke bandara.
"Bukankah harusnya dia tahu?" Amee bergumam sebal. Dia kesal dengan Seto yang tidak begitu peka.
Saat mendengar suara Aileen menyapanya, Amee langsung memasukkan ponselnya ke tas. "Gak bawa Safira?"
"Kak Randu bawa Safira ke tempat kerjanya, Mbak!" adu Aileen sambil duduk. "Aku padahal sudah larang dan bilang mau ajak Safira ketemu Mbak. Kak Randu keras kepala. Dia bilang hanya sebentar dan setelah itu balik ke apartemen!"
Amee merasa lega. Dia memperhatikan Aileen yang terlihat begitu bahagia saat ini. "Kapan kalian menikah?"
"Sebentar lagi. Ah, aku gak sangka sebentar lagi akan nikah sama Kak Randu."
Amee menyentuh tangan Aileen dan berkata, "Mbak senang lihat kamu bahagia. Maaf kalau selama ini Mbak abai dengan kebahagiaan kamu!" Amee benar-benar menyesal. Jika diingat kembali, dirinya memang tidak pernah begitu peduli dengan kebahagiaan Aileen.
Dia memang memperhatikan semua kebutuhan Aileen, tetapi hanya sekadar itu. Untuk apa yang Aileen rasa, terkadang Amee memilih pura-pura tidak tahu.
"Mbak Amee itu kakak terhebat yang aku punya. Jadi gak mungkin aku gak bahagia selama ini!"
"Mbak tahu itu."
"Apa minuman ini buatku?" Amee mengangguk. Aileen lekas meminumnya karena merasa begitu haus. "Makasih, Mbak, aku kehausan."
"Minumlah, kalau kurang minum punya Mbak juga!"
"Ini cukup, Mbak. Makasih. Oh, ya, aku sampai lupa. Sebenarnya kemarin Mbak Amee mau cerita apa?"
Amee menghela napas pelan dengan tatapan begitu lekat kepada Aileen. "Tentang Seto, Aileen. Dia memutuskan untuk menikah dengan perempuan pilihan keluarganya!"
"Mbak ...."
Amee tersenyum tipis. Dia meyakinkan kepada adiknya jika dirinya baik-baik saja. "Awalnya memang menyakitkan, apalagi kalau dikata jujur, Mbak memang sampai detik ini masih cinta sama dia. Tapi, Mbak sadar kalau kita ditakdirkan hanya sebatas menjadi sahabat!"
"Tapi, menurutku Kak Seto keterlaluan. Apa dia sama sekali gak sadar sama pengorbanan Mbak Amee selama ini?" Amee terkekeh pelan saat melihat Aileen yang begitu emosi.
__ADS_1
"Sudahlah. Sekarang Mbak merasa lega sudah cerita sama kamu. Mbak juga mau tawari kamu bantu Mbak di toko. Seto menyerahkan sepenuhnya toko sama Mbak. Gimana, kamu mau?"
"Boleh aku pikir dulu? Aku harus tanya pendapat Kak Randu. Gimanapun dia pasti mau tahu apa saja yang aku lakukan!"
"Tentu. Mbak harap Mas Randu bisa menerimanya."
***
Amee memutuskan menemui Seto di rumah pria tersebut setelah berbincang dengan Aileen. Dia malas harus mengantarnya sampai di bandara dan ingin memberi salam perpisahan di rumah pria itu.
Saat sampai di rumah itu, Amee langsung saja masuk saat pintu rumah terbuka sedikit. Dia masih saja sama seperti dulu, menganggap rumah Seto sebagai rumahnya sendiri.
Langkahnya terhenti saat dia mendengar percakapan Seto dengan seseorang. Tidak mau mengganggu mereka yang sedang berada di ruang tengah, Amee memutuskan untuk menunggu dulu. Namun, percakapan yang didengarnya sungguh membuatnya tercengang.
Amee sama sekali tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Seto.
"Jadi dia mencinta Aileen? Tapi, bagaimana bisa selama ini aku gak sadar itu?"
"Bukankah itu akan menyakitkan untuk perempuan yang akan kamu nikahi?"
"Tapi, bukankah akan lebih menyakitkan jika aku terus berada di sini, menyaksikan perempuan yang aku cintai menikah dengan pria pilihannya? Aku juga gak bisa terus-menerus berada di sisi Amee. Kasihan dia!"
Pria yang bicara dengan Seto tidak lain kakak iparnya sendiri. Orang yang Seto aku i memiliki perasaan untuknya. Amee menutup mulutnya dengan tangan dan mencoba bertahan untuk terus menguping.
"Huh, memang berat jadi kamu. Kakak harap keputusanmu menerima pernikahan ini gak akan menyakitkan untuk kalian berdua. Kalian bisa saling mencintai nantinya!"
"Aku harap juga begitu dan maafkan aku kalau selama ini menjadikanmu alasan kalau aku memiliki kelainan!"
Amee benar-benar terkejut. Dia begitu tidak menyangka telah dibohongi selama ini. Tidak tahan mendengarnya, dia memilih untuk pergi. Namun, sialnya karena tidak hati-hati dia menabrak meja dan memecahkan vas bunga di meja tersebut.
"Bodohnya kamu, Amee!"
Amee merutuki dirinya sendiri. Dia hendak membersihkan pecahan vas yang berserakan dengan cepat, tetapi dirinya sudah keburu ketahuan.
"Amee sedang apa di sini?"
__ADS_1
Amee dengan tubuh sedikit gemetar mencoba menghadap Seto. Dia tersenyum masam lalu mendekati pria tersebut dan menamparnya.
"Ada apa ini, Am?" tanya Seto terkejut.
"A-aku sudah dengar semuanya. Kamu tega lakuin ini semua? Apa maksud kamu harus berpura-pura menyukai kakak iparmu itu!" Amee menatap sinis pria yang berdiri di samping Seto. "Kamu buat aku jadi orang bodoh, Seto. Berharap suatu saat kamu akan terima aku, tapi ... astaga!"
"Aku bisa jelaskan!" Seto mendekat dan hendak meraih Amee, tetapi Amee memilih pergi meninggalkan rumah pria itu.
Amee menyeka air matanya yang keluar tanpa permisi. Dia berhenti melangkah saat pergelangan tangannya dicengkeram erat. "Lepaskan!"
Amee muak saat melihat wajah Seto saat ini. Pria itu berubah menjadi keras kepala. "Aku akan lepaskan kamu setelah kamu dengar semua penjelasanku!"
"Aku gak mau. Cukup kamu buat aku seperti orang bodoh selama ini. Kamu cinta sama Aileen sampai harus berbohong begini? Kenapa?"
"Ayo masuk. Kita bicarakan di dalam?" Seto menarik Amee, dia tidak peduli saat Amee menolaknya. "Duduklah. Kita akan bicara!"
Amee memilih menurut, apalagi saat melihat sorot mata tajam Seto yang tidak ingin dibantah. Saat ini mereka hanya berdua, tidak ada lagi kakak ipar Seto di antara mereka.
"Am, aku minta maaf. Mungkin permintaan maaf pun gak akan cukup. Aku tahu salah besar karena telah bohong sama kamu selama ini. Tapi aku punya alasan!"
Amee mendengkus kesal. "Alasan apa, hah?"
"Sejak awal aku mencintai Aileen, tapi aku sadar gak punya keberanian untuk mengatakannya. Lagipula aku juga gak mau hubungan kalian berantakan karena aku!"
Amee mengerutkan keningnya mendengar ucapan Seto. Namun, dia memilih untuk diam. "Karena sejak awal aku juga tahu tentang perasaanmu. Maaf, Am. Tapi, aku merasa itu satu-satunya cara biar aku dekat dengan Aileen. Tapi, sekarang aku memilih untuk lupain dia. Dia sudah bahagia sama pria lain!"
"Kamu sedang mendongeng kisahmu? Kamu kira dengan kamu menampilkan wajah menyesal begini aku bisa maafkan? Karena kamu, aku terlalu berharap dan buat kehidupanku hancur!"
Seto mengangguk. "Aku tahu. Aku benar-benar menyesal, Am!"
Amee tertawa miris. Air matanya kembali keluar tanpa permisi. "Kamu sudah buat aku jadi orang yang paling menyedihkan di sini! Aku sudah memberitahu semua masalahku sama kamu dan kamu ...."
"Itu juga salah satu alasan aku gak tega untuk kasih tahu kamu!"
Amee memilih berdiri dan kembali berkata, "Aku benar-benar kecewa sama kamu, Seto. Orang yang aku percaya dan aku cintai. Mulai sekarang aku akan menganggap kita gak pernah saling mengenal. Aku akan melupakan semua kenangan yang pernah ada. Permisi!"
__ADS_1
Amee memutuskan pergi. Saat berada di ambang pintu, Seto menghentikan kembali langkahnya. "Aku akan terima semua kemarahanmu, tapi tolong jangan benci Aileen. Dia gak tahu apa-apa!"
Perempuan itu tidak peduli dan memilih mengabaikan saja Seto. "Sebenarnya apa yang dimiliki Aileen, kenapa semua pria mencintainya?"