Skandal Termanis

Skandal Termanis
Kita Bercerai Saja!


__ADS_3

Adis benar-benar kesal dengan Randu yang sudah beberapa hari ini selalu mengganggunya. Pria itu selalu saja menemuinya hanya untuk hal yang sama. Menanyakan tentang keberadaan Aileen.


Seperti siang ini, dia bersama ketiga temannya memilih makan siang di cafe yang tidak jauh dari kantornya dan malah bertemu kembali dengan Randu. Entah sebuah kebetulan atau tidak. Pria itu memaksanya untuk bicara.


Adis mengetuk jarinya di meja sambil menggigit bibirnya, dia sesekali melirik ke arah temannya, dia yakin teman-temannya mengira ada hubungan antara mereka. Walau kenyataannya tidak ada.


"Jadi, apa lagi sekarang? Masih tanya di mana Aileen?" Adis meminum jus yang dipesankan oleh Randu.


Dia sama sekali tidak menyangka jika Randu sampai hapal minuman yang selalu dipesannya saat mereka bertemu untuk membahas Aileen.


Gigi-gigi Adis bergemulutuk menahan kesal saat melihat Randu yang malah menikmati makan siangnya, sedangkan dirinya saja tidak berselera makan. Tatapan menggoda teman-temannya membuatnya kesal.


Adis yakin nanti saat kembali ke kantor, dirinya akan dicecar banyak pertanyaan oleh mereka. "Biarkan saya makan siang dulu!"


Mata Adis membulat mendengar ucapan santai pria di hadapannya itu. Dia mencebik kesal dan kembali meminum jusnya yang tersisa sedikit. "Kayak gak makan berhari-hari saja," celetuk Adis.


Pria di hadapannya itu, menghentikan kegiatan makannya dan menatapnya datar lalu menelan makanannya. "Kalau kamu tanya di mana Aileen, jawaban aku sama. Aku gak tahu di mana dia!"


"Benarkah? Tapi gimana mungkin dia pergi dan kamu tidak tahu?"


"Mana aku tahu. Mungkin dia sebenarnya pergi ke Prancis!"


Adis memperhatikan Randu yang terlihat tidak nyaman sambil berdeham. Sepertinya dia salah bicara. "Kalian sudah bercerai, lalu kenapa sekarang kamu malah cari dia? Sadar kalau dia perempuan yang kamu cintai?"


"Kamu tidak perlu tahu. Tapi saya harap kamu tidak berbohong dengan mengatakan tidak mengetahui di mana Aileen. Kami ... maksud saya, Safira membutuhkan dia!"


Adis memicingkan matanya, memperhatikan Randu yang gugup sampai meralat ucapan 'kami' menjadi nama Safira saja. Dia tersenyum tipis mengetahui sesuatu lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Randu.


"Kak Randu cinta sama Aileen?" Tidak ada jawaban dari Randu, pria tersebut malah mendorong kening Adis agar menjauh darinya. "Huh. Gak perlu gengsi mengakui. Tapi, memang, sih, menyadari perasaan kita sama seseorang itu pasti setelah orang tersebut pergi!"


Randu tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia memilih menyudahi obrolan mereka dan berlalu pergi. "Huh. Dasar aneh. Bilang saja cinta sama Aileen, apa susahnya?" gumam Adis. Dia memperhatikan langkah lebar Randu menjauh dari cafe ke parkiran.

__ADS_1


"Tapi, apa yang terjadi sama Safira?"


***


Sudah seminggu ini Randu selalu pulang larut malam. Beberapa hari ini dia tidak berminat untuk bertemu atau berbicara dengan Amee dan memutuskan tidur malam di kamar Safira.


Randu menulikan telinganya saat pintu diketuk dan Amee terus memanggilnya. Perempuan itu seakan tidak peduli jika bayi mereka yang sedang tertidur pulas terbangun karena ulahnya.


"Kamu merindukan mamamu juga, Nak?" Randu memperhatikan wajah Safira yang menurutnya ketika tersenyum mengingatkan dirinya kepada Aileen yang entah berada di mana saat ini. Sudah dua bulan perempuan itu menghilang tanpa kabar.


Pertemuan terakhir mereka di kamar ini. Hanya sebentar dan dia menyesal. "Papa merindukan mamamu. Apa yang dia lakukan saat ini?"


Bayi mungil itu menggeliat saat telunjuk Randu menyentuh pipinya. Bayi tersebut kelihatan tidak nyaman dengan sentuhan tersebut dan Randu menyudahinya. Dia terkekeh kecil lalu beranjak ke kasur.


Randu berbaring, matanya lurus menatap langit-langit kamar. Kembali mengingat kenangannya bersama dengan Aileen saat berada di rumah ini dan juga apartemen.


"Hah. Benar apa kata perempuan itu. Mungkin sejak awal pertemuan perasaan itu sudah muncul, hanya saja kita bertemu di waktu yang tidak tepat."


Randu mengambilnya perlahan dan menimangnya. Dia berusaha untuk menenangkan bayinya itu. "Apa yang perempuan itu lakukan?" Dia menatap sengit ke arah pintu seolah dia melihat sosok yang membuatnya sadar telah salah memilih lawan untuk bercinta.


Bukannya diam dan kembali terlelap, Safira makin menangis kencang seiring dengan gedoran yang dilakukan oleh Amee.


"Mas!" Amee hampir mengetuk kening Randu yang tiba-tiba saja membuka pintu lebar dan berdiri di hadapan Amee dengan ekspresi datarnya.


"Safira kenapa, Mas?" Randu menjauhkan Safira yang akan disentuh oleh Amee. "Mas, aku mau tenangin dia!"


"Kembali ke kamar. Saya akan ke sana setelah Safira tidur!"


"Tapi, Mas ...." Amee hendak protes, tetapi melihat tatapan tajam Randu karena tidak ingin dibantah membuatnya menyerah. "Aku tunggu kamu di kamar, Mas!"


Randu kembali menutup pintu setelah kepergian Amee. Dia terus saja menenangkan Safira yang tidak berhenti menangis dan memilih membuatkan susu untuknya.

__ADS_1


***


pukul tiga dini hari Randu akhirnya menemui Amee di kamar mereka. Kamar yang mengingatkannya akan pengkhianatan yang dilakukan Amee dengan teman kemayunya itu. Setiap dia masuk, hal menjijikan yang mereka saat bercumbu di atas kasurnya terus saja hadir dan membuat dirinya sakit.


Randu masuk dan mendapati Amee baru saja selesai meminum obat entah apa. Perempuan itu tampak panik dan menyembunyikannya.


"Mas, akhirnya kamu datang juga!"


"Ada apa denganmu? Kamu sakit?" Senyum Amee terbit, dia menggeleng dan mencoba meraih tangan Randu, tetapi pria tersebut malah menjauh.


"Mas, aku sudah minta maaf. Apa kamu gak bisa terima itu?"


"Apa maksud kamu? Setelah apa yang kamu dan pria itu lakukan, di kasur tempat kita tidur, kamu kira saya bisa melupakannya begitu saja?" Amee terdiam karena ucapan Randu yang terdengar begitu marah.


"Tapi, Mas. Aku sama dia gak pernah seperti apa yang kamu pikirkan?" Amee kembali meraih tangan Randu dan berhasil. Namun, pria itu langsung menariknya kasar.


Pria tersebut tertawa hambar dengan menatap wajah pias Amee, seolah istrinya itu mengetahui apa yang dia pikirkan. "Memang apa yang saya pikirkan? Selama ini saya tidak pernah berpikir kamu dan dia akan melakukan hal menjijikan seperti itu walau saya sering melarang kamu untuk dekat dengannya. Tapi ternyata ... astaga!"


Randu menjambak rambutnya sendiri, membuat Amee menangis melihat itu. Dia berusaha menarik tangan Randu agar tidak menyakiti dirinya sendiri.


"Jangan sentuh saya!" Randu sampai mendorong tubuh Amee. "Rasanya saya menyesal telah mencintai kamu selama ini!"


"Mas, jangan begini. Jangan bilang begitu, aku takut!" Randu memperhatikan Amee yang tertunduk lesu di depannya itu. Dia ingin sekali memberikan pukulan jika saja tidak mengingat jika Amee seorang perempuan dan yang pernah dicintainya.


"Akh, sial." Dia memegang kuat kedua bahu Amee. Mengabaikan kesakitan yang dirasakan istrinya karena perbuatannya. "Kamu tahu betapa saya mencintai kamu?" Amee mengangguk. Dia tidak berani menatap mata Randu. "Bohong. Kamu tidak tahu. Kalau kamu memang tahu, tidak mungkin berani melakukannya. Atau jangan-jangan selama ini kamu tidak pernah mencintai saya makanya menolak untuk hamil!"


Amee mendongak, menatap lekat mata Randu yang berkilat amarah lalu menggeleng. "Aku cinta sama kamu, Mas. Kenapa kamu bisa bilang begitu?" Amee menggigit bibirnya kuat sambil memperhatikan Randu yang sudah menjauh dan tertawa.


"Tidak. Yang saya lihat dari kamu bukan cinta untuk saya, tetapi sayalah yang selama ini terobsesi denganmu." Randu menghampiri Amee kembali dan menatap mata yang berkaca-kaca itu sambil kembali berkata, "Kita bercerai saja!"


Amee menahan tangan Randu dan menolak ajakan pria tersebut bercerai. Namun, Randu tidak peduli. Dia sudah selesai dengan ucapannya dan memilih pergi meninggalkan Amee seorang diri di kamar mereka.

__ADS_1


"Kamu ada di mana?" Randu mengusap kasar wajahnya yang basah karena air mata yang mengalir tanpa bisa dicegah.


__ADS_2