Skandal Termanis

Skandal Termanis
Berkunjung


__ADS_3

"Ibu mau ke mana?"


"Aku mau ke rumah adikku, dia sudah kembali setelah tiga bulan di luar negeri!" ujar Amee dengan senyum mengembang. Setelah merasa begitu terpuruk dengan keadaan yang dilaluinya, perlahan dia mulai bisa berdamai dengan keadaan.


Kabar pernikahan sahabat sekaligus pria yang dicintainya itu tidak membuatnya jatuh terpuruk. Amee sadar, selama ini dia hanya ingin dimiliki dan diakui oleh orang-orang di sekitarnya saja.


"Kamu aku tinggal gakpapa, kan?"


"iya, Bu. Jangan memikirkan tentang yang di sini dulu. Selamat bersenang-senang!"


"Tentu!" Amee beranjak pergi. Dia akan membeli beberapa hadiah kecil untuk keponakan yang sudah dianggapnya sebagai anak.


Perlahan komunikasinya dengan Aileen mulai membaik, walau Amee tidak yakin Randu akan bisa bersikap layaknya orang yang tidak pernah memiliki masalah.


Dia membeli boneka dan beberapa mainan untuk Safira. Sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Safira yang dia tahu dari Aileen sudah banyak perkembangannya.


"Safira pasti suka!" Amee memperhatikan kembali belanjaannya yang dia taruh di kursi depan samping kursi kemudi. Senyumnya sama sekali tidak pernah surut, bahkan ketika memilih barang-barang yang akan dibelinya untuk Safira tadi.


Sementara itu, di rumah Aileen sudah kembali segar setelah seharian kemarin mengalami jetlag. Randu dan Safira ketika dia tinggal keluar kamar sedang meringkuk di dalam selimut.


"Mbak Amee sudah sampai mana?" gumam Aileen setelah membaca pesan dari Amee yang mengatakan akan mampir. Semalam dia memberitahu Amee sudah sampai kembali ke Indonesia.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa tidak istirahat saja dulu?" Aileen tersenyum tipis, dia membiarkan Randu yang memeluknya dari belakang dengan kepala bertumpu pada bahu kirinya.


"Ini sudah hampir siang, Kak. Memang Kakak gak lapar?"


Randu hanya menanggapi dengan berdeham, saat Aileen menoleh dia melihat Randu kembali memejamkan matanya. "Masih ngantuk?" tanya Aileen sambil mengusap rambut Randu. "Kalau gitu Kakak tidur sebentar lagi, setelah aku selesai masak nanti aku bangunin!"


"Kamu juga tidur! Biar Bibi saja yang masak!"


"Kan kita sudah sepakat kalau mempekerjakan mbak cuma untuk bersih-bersih rumah saja. lagipula aku sudah gak ngantuk, sekarang aku mau masak buat Kakak sama Safira. Sudah sana balik ke kamar!"


Dengan malas Randu menjauh, Aileen berbalik dan menatap Randu yang berdiri di hadapannya dengan mata terpejam. Dia mendekat lalu menangkup wajah Randu. "Ini untuk stamina balik ke kamar!" ucap Aileen setelah mencium kening suaminya.


"Lagi!" pinta Randu sambil menunjuk bibirnya.


Aileen terkekeh pelan. Dia menuruti permintaan Randu dan hanya melakukannya dengan sangat. "Sudah, sekarang balik sana. Jangan lupa buka mata biar gak kesandung!"

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang!" ucap Randu dengan memeluk tubuh mungil Aileen. Namun, Aileen buru-buru melepas pelukan Randu saat pembantu di rumah mereka datang.


"Ada apa, Bi?" tanya Aileen, sedangkan Randu sedang mengucek mata seperti anak kecil dengan duduk di kursi.


"Itu, Bu. Ada tamu!"


"Tamu?" gumam Aileen. Sejenak dia lupa siapa yang akan datang ke rumahnya. Dia menatap Randu yang menarik ujung pakaiannya. "Mbak Amee!"


"Amee?" Aileen mengangguk.


"Kakak di sini dulu, aku mau ke depan!" Aileen lekas meninggalkan Randu yang sedang mencerna semuanya. Dia bergegas pergi ke ruang tamu dan bertemu dengan Amee.


Merindukan Amee yang telah lama tidak dia jumpai membuat Aileen langsung memeluknya. Dia mencurahkan semua kerinduan dengan menangis.


"Mbak kangen banget sama kamu!"


"Aku juga!" Aileen membiarkan Amee menyeka air matanya. "Aku kira Mbak Amee gak bakal datang pagi!"


"Mbak kangen banget sama kamu, sama Safira juga!"


"Itu gak seberapa, Ai. Mbak harap kamu gak nolak!"


"Aku tentu gak akan nolak! Safira pasti suka. Makasih, Mbak!"


"Rumah kamu kok sepi, Randu berangkat kerja?"


"Gak Mbak. Kakak baru bangun tidur, sekarang lagi mandi. Kalau Safira dia malah masih tidur, anteng. Tadi subuh bangun sebentar dan sekarang tidur lagi!"


Amee mengangguk paham. Dia menurut saja saat Aileen mengajaknya ke dapur. "Aku lagi masak, Mbak tunggu di sini dulu, ya!"


Keduanya dikejutkan dengan Randu yang keluar dari dapur. "Mas, apa kabar?" sapa Amee mencoba bersikap ramah.


"Seperti yang kamu lihat," jawab Randu tak acuh. "Sayang, aku akan ke kamar. Sekalian mau mandikan Safira," ucap Randu dan tanpa peduli dengan kehadiran Amee, dia mencium pipi Aileen.


"Kakak!"


"Kamu beruntung, Ai, punya suami kayak Mas Randu. Dia baik dan perhatian. Yang Mbak lihat juga dia sangat cinta sama kamu!"

__ADS_1


Aileen menjadi tidak enak hati kepada Amee, bagaimanapun suaminya dan Amee pernah menjadi pasangan suami-istri selama lima tahun. Pastinya bagi Amee melihat apa yang dilakukan Randu membuatnya sedih.


"Maaf, Mbak. Aku gak bermaksud!"


"Kenapa harus minta maaf? Mbak gak masalah sama sekali. Malah Mbak beruntung Mas Randu begitu cinta sama kamu, Mbak cuma berharap jangan sampai kalian menyia-nyiakan perasaan satu sama lain!" Aileen mengangguk menerima wejangan dari Amee.


***


"Sekarang benar-benar tulus atau sebenarnya kamu ada maksud tertentu?" tanya Randu saat Aileen sedang berada di dapur kamar mengambil ponsel Randu.


Randu tidak mau menyiakan kesempatan yang ada untuk bertanya.


Amee yang sedang bermain dengan Safira merasa terganggu, dia mengalihkan pandangan kepada Randu yang menatapnya tajam. "Kenapa kamu bilang begitu, Mas? Apa aku kelihatan cuma ada maunya saja?"


"Entahlah, aku cuma tidak mau kalau kamu ada maksud tertentu berbaikan dengan Aileen. Kamu tahu sendiri, istriku mudah sekali memaafkan orang-orang yang sudah menyakitinya!"


Amee merasa tersinggung dengan ucapan Randu. jika dipikir-pikir, bukan hanya dia saja yang telah menyakiti Aileen, tetapi Aileen juga melakukan hal yang sama. Namun, kali ini dirinya tulus memperbaiki semuanya.


Kematian Sika membuatnya tidak mau lagi kehilangan anggota keluarga yang masih dia miliki. "Terserah kamu mau menilaiku seperti apa. Yang jelas, aku menyayangi Aileen dan juga Safira."


Randu hanya mengangguk-angguk. Dia tersenyum hangat kala menyambut kedatangan Aileen yang telah menemukan ponselnya. "Terima kasih, Sayang!" Randu bangkit dari duduknya, dia kembali mencium pipi Aileen dan pamit pergi.


"Aileen ...."


Aileen memperhatikan Amee yang terlihat berbeda, padahal beberapa menit lalu saat dia tinggal kelihatan baik-baik saja. "Suamimu meragukan Mbak yang sekarang mau benar-benar perbaiki semuanya. Mbak harap kamu gak meragukan itu!"


Aileen menghela napas pelan. Dia tidak tega melihat tatapan Amee dengan mata yang berkaca-kaca. Dia meraih tangan Amee dan menggenggamnya erat. "Mbak gak perlu memikirkan apa pun, aku selama ini selalu menyayangi Mbak dan masalah Kakak, aku yakin dia begitu hanya memastikan."


"Benar kata suamimu, kamu orang yang mudah sekali memaafkan orang lain. Hatimu tulus!"


"Aku menuruni sifat mama!"


"Mama?" tanya Amee bingung.


***


Akhirnya setelah libur karena sakit. Hari ini bisa up lagi

__ADS_1


__ADS_2