
Aileen berusaha untuk bersikap biasa saja, meski hatinya tetap saja bergemuruh karena penasaran alasan Sika datang ke apartemen.
Satu jam dia kembali dan Sika sudah berada di apartemen tersebut, tetapi perempuan itu hanya diam. Bahkan kedatangan Aileen hanya mendapat lirikan saja.
"Ma!"
Aileen menghentikan langkah Sika yang hendak pergi ke dapur. Perempuan paruh baya itu menoleh dan menatapnya lekat. Tatapan yang tidak pernah berubah sejak dulu dan entah sampai kapan.
"Mama mau sesuatu?" tanya Aileen yang merasa canggung. Sika tidak menjawab dan memilih mengabaikan Aileen begitu saja.
Aileen menghela napas pelan lalu beranjak kembali ke kamar. Namun, panggilan Sika membuatnya berbalik dan menghampiri.
"Mama butuh sesuatu?" tanya Aileen semangat.
"Buatkan aku omelet!" jawab Sika ketus. "Kenapa? Keberatan? Tadi kamu yang tanya, kan?"
Aileen menggeleng lemah. Dia lalu beranjak melakukan permintaan Sika. "Aku akan buatkan Mama omelet. Seperti biasa, kan?"
Sika menatap sangsi Aileen dan berdeham. Dia lalu pergi meninggalkan Aileen di dapur.
"Neng, biar Bibi saja yang buatkan!"
"Jangan, Bi, aku saja. Lagian kalau cuma buat omelet gampanglah!" ujar Aileen penuh semangat.
"Tapi, Mas Randu minta Bibi biar Neng Aileen gak lakuin kerjaan yang berat!"
Aileen terkekeh pelan mendengarnya. Dia sudah memanaskan teflon. "Aku cuma berdiri di sini gak sampai sepuluh menit. Lagian gak ada Kak Randu, jadi Bibi jangan khawatir!"
Setelah mengatakannya Aileen memilih fokus membuatkan omelet untuk Sika. Dahulu saat mereka masih tinggal bersama, Aileen pernah melihat asisten rumah tangga membuatkan omelet untuk Sika dan dia mencobanya. Bahkan Sika memakan dan memuji omelet buatannya. Namun, setelah tahu siapa yang membuat perempuan itu langsung memuntahkannya begitu saja.
Walau Aileen tidak pandai memasak, tetapi khusus untuk makanan yang Sika inginkan dia akan berusaha memasakannya. Semua dia lakukan agar Sika mau menerimanya sebagai anak.
Tidak lebih dari sepuluh menit Aileen telah selesai dengan semua kegiatannya di dapur. Tidak mau membuat Sika terlalu lama menunggu dia langsung membawakan omelet buatannya itu kepada Sika yang sedang asyik menonton.
"Aku harap Mama suka sama masakanku!"
__ADS_1
Sika hanya berdeham. Dia terlihat menikmatinya, meski begitu dia tidak mengatakan apa pun.
"Aku akan ke kamar dulu. Kalau Mama butuh apa-apa bisa panggil aku atau bibi!"
"Aku ke sini karena ada urusan sama kamu!" Sika menatap Aileen yang terlihat bingung lalu tersenyum canggung.
Aileen mengangguk pelan. "Duduklah, jangan buat aku harus mendongak terus!"
Aileen menurut dan duduk di sebrang Sika. "Kamu harus tahu tentang masalah yang kualami. Aku butuh uang dan harus menjual rumah atas nama kamu itu!"
"Apa harus dijual, Ma?" Sika mendengkus kesal. "Maaf, tapi itu peninggalan papa yang terakhir!"
"Apa kamu mau lihat aku kesusahan karena pertahankan rumah itu?"
"Bukan begitu, Ma. Cuma aku rasa Mbak Amee pun akan keberatan. Rumah atas nama Mbak Amee dan Mama sudah dijual, seharusnya kita pertahankan harta yang tersisa. Kalau rumah itu dijual Mama jadinya akan tinggal sama Mbak Amee?"
"Kamu kira aku akan tinggal sama siapa? Dia anakku, tentu saja dia yang harus menerimaku tinggal di rumahnya! Siapa lagi?" Sika terlihat tersinggung dengan ucapan Aileen. "Seharusnya sampai kapan pun kamu gak berhak memiliki apa pun dari suamiku. Mamamu yang memaksa untuk dinikahi karena sudah hamil kamu. Dia perempuan perayu. Persis macam kamu begini!"
Sika memperhatikan Aileen dengan tatapannya yang tajam.
"Kamu kira?"
"Tapi aku sayang banget sama Mama. Selama ini aku gak pernah sedetik pun bisa benci Mama yang gak pernah peduli sama aku, Mama yang kasar sama aku, dan selalu mengatakan hal buruk tentang aku!" Aileen menunduk mencoba menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
"Jangan buat aku seperti orang jahat, Aileen! Cukup kamu dan mamamu itu yang buat hidupku dan Amee hancur, karena sampai kapan pun aku gak pernah anggap kamu anak dan kamu pantas dapat semua itu!" Sika berkata dengan suara keras.
Aileen tetap saja tidak berani menatapnya. Sika kembali melanjutkan ucapannya. "Kamu kira cuma kamu yang sakit di sini? Kamu salah! Aku dan anakku yang paling menderita karena kelakukan perempuan itu. Dia datang cuma mau merebut suamiku dan mati dengan bebankan kamu ke aku! Sial!" maki Sika frustrasi.
Jemari Aileen saling bertautan kuat. Tangisnya sudah tidak dapat disembunyikan lagi. Dia dengan cepat menghapus air matanya dan menatap Sika yang ternyata sedang memalingkan wajahnya.
"Maaf, Ma. Gak seharusnya aku singgung hal seperti itu yang buat luka Mama gak pernah sembuh. Seharusnya aku sadar diri sama kesalahan mamaku yang bahkan wajahnya saja aku gak ingat seperti apa!" Sika tidak peduli dengan yang dikatakan Aileen.
"Mama boleh menjual rumah itu, aku gak akan halangi. Aku harap dengan uang dari penjualan bisa bantu Mama."
Sika menatapnya dalam. Matanya pun terlihat memerah. "Jangan menyesal. Kamu juga harus bisa yakinkan Amee!" Aileen mengangguk.
__ADS_1
Sika bangkit berdiri dan memindai tubuh Aileen. "Pergilah setelah melahirkan. Jangan buat Amee terus menderita karena kehadiran kamu!" Lagi-lagi Aileen hanya mampu mengangguk dan membiarkan Sika pergi setelah mengatakannya.
Aileen hanya duduk diam sambil memperhatikan omelet yang belum habis. Dia kembali menangis.
Ucapan Sika benar. Tidak seharusnya dia merasa yang paling menderita karena tidak pernah mendapatkan kasih sayangnya. Sika dan Amee lah yang paling menderita daripada dirinya.
Bahkan berkat Seto pun dia tahu jika Amee sampai mengalami depresi.
***
Aileen sama sekali tidak bisa tidur. Tidak ada Randu juga yang akan membantunya untuk tertidur sehingga dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebentar di sekitar apartemen.
Aileen hanya mengenakan kardigan untuk melindungi tubuhnya agar tidak terlalu dingin terkena angin malam dan hanya membawa ponselnya saja.
Tanpa perempuan itu sadari langkahnya sudah begitu terlalu jauh dari apartemen. Bahkan dia merasakan kakinya yang terasa begitu pegal dan membengkak. Aileen lalu memilih duduk di bangku tidak jauh darinya untuk istirahat sebentar.
"Dulu aku sering begini, kan? Kalau mama marahi aku dan papa tetap gak peduli, biasanya aku akan langsung kabur dari rumah dan ke taman!"
Aileen tersenyum hambar. Senyumnya bukan sebuah kebahagiaan, tetapi perasaan menyakitkan.
"Hah, pasti mama selama ini menderita banget karena selalu lihat aku!" Aileen membuang napas kasar sambil memandangi langit malam. Dia lalu memilih untuk melanjutkan perjalanannya.
Baru beberapa meter dia berjalan, dua orang pria yang sedang mabuk menghampirinya. Keduanya tidak membiarkan Aileen pergi dan terus menggodanya.
"Jangan takut, Sayang. Ayo ikut kami!" Kedua pria tersebut masing-masing memegang tangan Aileen untuk menariknya sambil tertawa.
Aileen bersikeras mempertahankan diri dengan terus meminta tolong, karena takut ada yang mendengar salah satu dari mereka membekap mulut Aileen.
Aileen terus saja berusaha memberontak sampai dia merasa lemas dan pusing. "Kita akan senang-senang, Sayang!" ucap pria yang masih saja membekapnya.
Aileen menggeleng. Embusan napasnya yang terasa kasar di tengkuknya membuat Aileen makin ketakutan. Namun, tidak lama pria yang membekapnya jatuh tersungkur.
Aileen tidak dapat melihat dengan jelas, tetapi yang dia tahu ada segerombolan anak-anak kecil yang menghajar dua pria mabuk itu dan salah satu dari mereka Aileen kenali.
Sebelum kesadarannya menghilang, Aileen menyebut namanya lirih, "Faiz!"
__ADS_1