Skandal Termanis

Skandal Termanis
Salah Paham


__ADS_3

Sejak kemarin mereka telah sah menjadi pasangan suami-istri. Segala halangan dan rintangan akhirnya bisa mereka lewati, meski Aileen diam-diam meragukan jika Randu tidak serius kepadanya.


Dia pernah memergoki Randu sedang berdua dengan Amee saat Amee sedang menginap di apartemen. Aileen tidak tahu jika Randu datang dan dia melihat mereka saling membalas pelukan dengan begitu erat.


Puncaknya, dua hari sebelum pernikahan mereka dilangsungkan. Randu dan El bertengkar. Randu marah karena Aileen menemui pria lain tanpa izin darinya. Aileen mengaku salah, tetapi saat itu dia terpaksa menemui El untuk membahas masalah Adis. Namun, beruntung semua bisa mereka kendalikan.


"Kakak jangan begini, aku gak nyaman!" Saat ini, Randu sedang memeluk tubuh Aileen dari belakang. Pria itu menjadikan pundak kanan Aileen sebagai penyangga kepalanya.


"Kenapa? Apa salah kalau aku melakukannya lagipula aku sudah mandi dan wangi?


Aileen menghela napas pelan lalu meletakkan pisau di atas talenan. Dia melepaskan pelukan Randu dan menghadap pria itu. "Kakak gak salah karena kita memang sudah menikah, tapi gimana kalau aku kaget dan tanganku kena pisau?"


Aileen menatap lekat mata Randu yang seperti memiliki sihir, sehingga membuatnya selalu ingin terus menatapnya tanpa kedip. "Sudah, ah. Aku mau masak dulu sama mau buat makanan untuk Safira!" Aileen mencubit gemas pipi Randu dan rela berjinjit untuk mengecup ujung hidung mancung Randu.


"Kamu curang. Sudah berani memulainya dulu, ya!" Randu menggelitik pinggang Aileen dan mengakhirinya dengan kecupan singkat karena mendengar suara tangisan Safira.


"Mama aku lapar!" Randu kembali dengan membawa Safira dalam gendongannya. Pria tersebut bicara dengan menirukan anak kecil.


"Sabar, ya. Mama lagi buatkan makanan untukmu!" Saat ini usia Safira sudah waktunya Mpasi dan beruntungnya bayi tersebut selalu makan dengan lahap apa pun yang Aileen buatkan.


"Apa dia tidak rewel sama makanannya?" tanya Randu penasaran. Karena terlalu sibuk dia tidak sempat menanyakannya.


"No, Papa. Safira gak pernah rewel soal makanan yang aku kasih," jawab Aileen sambil mengiris tomat.


"Syukurlah. Aku senang dengarnya. Maaf, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan mengurus pernikahan kita, aku sampai lupa dengan Safira."


Aileen menyudahinya. Dia kembali menatap Randu. "Boleh minta tolong mandikan Safira? Untuk beberapa hal yang Kakak gak bisa ketahui karena sibuk, mulai sekarang aku akan pastikan Kakak akan selalu ada momen itu. Pertama tolong mandikan Safira!"


"Baiklah, karena aku memang sangat suka memandikannya. Nanti apa boleh menyuapinya juga?" Aileen mengangguk saja. Dia akan membuat Randu selalu memiliki momen berharga dengan putrinya.

__ADS_1


***


"Dia lahap banget makannya!" ucap Randu begitu senang.


"Kakak senang?"


"Tentu. Aku berharap selalu bisa menikmati banyak waktu bersama kalian. Apakah bisa, sedangkan banyak sekali kerjaan!"


"Bisa, Kak. Nanti kita sering melakukan Video call atau aku akan sering-sering kirim video atau foto Safira."


"Baiklah aku setuju!" Randu lalu memeluk Aileen dan mengucapkan kata-kata sayang untuknya. "Aku beruntung sekali bisa menikah sama kamu dan kita tinggal di rumah ini."


"Aku juga, Kak." Aileen menangkup wajah Randu dan tersenyum tipis karena merasa lucu melihat pipi Randu yang ditekan sampai bibirnya maju. "Aku juga berharap kita akan selalu terbuka. Apa pun masalahnya, kita hadapi bersama!"


Randu hanya bisa mengangguk dan kembali mendengarkan ucapan Aileen, "Kalau begitu apa aku boleh tahu rahasia apa yang Kakak dan Mbak Amee sembunyikan dari aku?"


Aileen menjauhkan tangannya dari wajah Randu lalu memilih mengabaikan pria tersebut dengan membersihkan sekitar wajah Safira yang belepotan.


"Malam itu aku lihat kalian bicara serius, kalian bahkan pelukan." Aileen bicara tanpa menatap Randu. Dia lebih memilih mengajak Safira mengoceh.


"Kapan?"


Aileen menghela napas pelan lalu menatap Randu kesal. Dia kesal karena Randu masih belum juga mengakuinya dan dengan mudahnya lupa atas apa yang diperbuat.


"Huh. Apa aku harus kasih tahu detailnya?" tanya Aileen ketus. Dia mencebik kesal saat Randu mengangguk. "Malam itu, saat Mbak Amee menginap di apartemen, aku lihat kalian pelukan di ruang tamu dan kalian juga bicara serius banget. Tapi, besok paginya kalian kayak gak pernah melakukan apa-apa. Kakak cuek dan Mbak Amee menjadi lebih pendiam!"


Aileen mengerutkan keningnya saat melihat Randu yang malah tertawa keras dan diikuti Safira. Bayi itu mengira Randu swdajg mengajaknya main. "Astaga, jadi kamu beberapa hari ini selalu berubah-ubah sikap karena itu?"


Aileen hanya berdeham. "Sebenarnya memang tidak ada apa-apa di antara kita. Saat itu aku hanya membalas pelukan Amee karena dia yang minta. Dia mengatakan menyesal atas apa yang telah terjadi dan mengajak balikan, tapi aku tetap teguh pada pendirian."

__ADS_1


"Kakak gak pilih Mbak Amee?"


Randu menggeleng. "Padahal Mbak Amee lebih dari segalanya dari aku loh!"


"Jangan pancing keributan, Aileen. Kita baru saja menikah dan sudah melewati banyak masalah. Lagipula aku sadar sejak awal perempuan yang harusnya aku nikahi itu kamu, bukan Amee. Ingat saat kukatakan menyukaimu sejak awal bertemu?"


"Tentu!"


"Sebenarnya pertemuan pertama kita bukan saat Amee membawamu tinggal bersama, tapi sebelum itu. Mungkin kamu lupa, tapi aku tidak."


Aileen menatap lekat Randu, dia mencoba meyakinkan dirinya jika yang Randu katakan memang benar. "Kapan?" Bukannya menjawab Randu malah tersenyum lalu menerima panggilan masuk di ponselnya.


"Aku akan bicara di ruang kerja!" Sebelum beranjak pergi, Randu mencium pipi gembul Safira dan juga mencium kening Aileen.


"Huh. menyebalkan! Apa susahnya kasih tahu?" Meski begitu, Aileen menjadi senang dengan pernyataan Randu barusan.


***


"Aku gak mau. Itu terlalu konyol. Apa karena tahu aku menyukai kamu, sampai kamu memandangku rendahan?" tanya Adis begitu kesal. Dia menutup map dengan kasar setelah membacanya. "Lebih baik batalkan saja perjanjian konyol itu. Aku gak akan mau melakukannya!"


"Jangan buat aku marah, Adisa! Kamu yang awalnya menawari diri. Kenapa sekarang begini?" Pria di hadapannya itu menatap tajam. Tangannya mengepal kuat menahan amarah.


"Aku memang menawari diri, tapi aku juga punya harga diri. Kalau kamu jadi aku, sudah pasti kamu merasa sangat dirugikan!"


Mata pria tersebut menyipit lalu membuka map dan membaca isi suratnya. "Apanya yang salah. Kamu gak akan dirugikan!"


Adis mendengkus kesal. Pria di hadapannya itu sama sekali tidak mau mengalah dan egois. "Huh. Baca poin kedua! Apa-apaan meminta anak tanpa harus melibatkan perasaan. Kamu kira aku mau?"


"Kamu harus mau setelah menandatanganinya!"

__ADS_1


Adis menggeleng lalu dengan tenang meminum jusnya. "Aku akan tanda tangani kalau isi poin kedua diubah. Ada anak, berarti ada cinta dan itu kamu harus bisa cinta sama aku!"


Pria tersebut menggeram kesal lalu pergi membawa map tersebut. Adis ditinggalkan sendiri. "Sesulit itukah mencintaiku?"


__ADS_2