Skandal Termanis

Skandal Termanis
Bertemu?


__ADS_3

Aileen sedang mengelap kaca rumah yang akan dia gunakan untuk belajar anak-anak dan para orang tua. Dia melakukannya seorang diri setelah meminta Faiz dan kedua temannya untuk membeli makan siang.


Terlalu fokus dengan kegiatannya, Aileen sampai tidak menyadari jika seseorang sedang memperhatikan dirinya dengan tatapan terluka.


"Akhirnya selesai juga!" Aileen merasa puas setelah melihat kaca jendela yang baru dibersihkan sudah tidak ada debu lagi yang menempel. Dia teramat senang, tetapi saat berbalik badan Aileen dikejutkan dengan seorang pria yang sudah beberapa hari tidak dia temui.


Lap di tangannya itu terjatuh. Dia menjadi begitu gugup, bahkan kakinya terasa tidak bisa digerakkan.


Yang bisa Aileen lakukan hanya memanggil namanya, meski tanpa suara. Pria di hadapannya itu mengangguk sambil tersenyum tipis dan menghampiri Aileen.


"Apa kabar?" Aileen memperhatikan tangan mereka yang kembali saling menggenggam. Hal yang dirinya rindukan, tetapi berusaha untuk dia sembunyikan.


"Kak, kenapa bisa di sini?" tanya Aileen heran, tidak lama datang Faiz dan kedua temannya, begitu juga seorang pria yang semalam dirinya lihat sedang bicara dengan Faiz.


Melihat kedatangan mereka Randu melepaskan genggamannya. Dia menggeser tubuhnya sehingga berdiri di samping Aileen yang tubuhnya masih menegang.


"Mbak Ai, tadi Om ini sama yang itu tanya sama kita di mana Mbak Ai sekarang!" adu Faiz.


"Kemarin saya melihat Faiz saat di perjalanan menuju ke rumah dan saya meminta Lanang untuk mengikuti Faiz setelah saya mengingat kalau dia yang pernah kita temui di bawah jembatan itu!"


Pria bernama Lanang itu mengangguk sopan kepada Aileen dan langsung pergi setelah Randu menyuruhnya. Pria itu mengajaknya duduk di bangku kayu panjang di samping rumah.


Aileen hanya melirik Randu dan dia bingung apa yang akan dikatakan kepada suaminya itu. Apalagi saat Randu menyuruh Faiz dan kedua temannya untuk masuk ke rumah.


"Kamu tidak merindukan saya?" Randu kembali meraih tangan Aileen. Dia menggenggamnya dengan kening yang berkerut. "Baru beberapa hari pergi kenapa tangan kamu bisa jadi kasar?"


Aileen langsung menarik tangannya. "Kamu melakukan pekerjaan berat?" Aileen menggeleng. "Lalu?"


"Seharusnya Kakak gak datang ke sini!"


"Kenapa? Apa yang Mama katakan sampai kamu pergi dan sekarang bicara seperti itu?" Rahang Randu terlihat mengeras saat pertanyaannya harus menyinggung mertuanya itu. "Saya tahu kamu pergi karena alasan mama, kan?"


Aileen mengembuskan napas pelan lalu menggeleng. "Bukan!"


"Ada hal lain?"

__ADS_1


"Gak ada, Kak. Sebenarnya juga aku gak pernah berniat untuk pergi dari rumah, malam itu aku cuma pengin cari udara segar dan gak sadar kalau sudah jalan terlalu jauh!"


Randu mendengarkan Aileen dengan saksama. "Saat itu ada dua orang pria yang lagi mabuk dan jahatin aku. Waktu itu aku pingsan setelah Faiz dan temannya yang baru aku bawa ke sini!"


Randu membuang napas kasar. Dia memegang kedua bahu Aileen agar menghadapnya. "Tapi alasan apa yang buat kamu memilih tidak pulang? Apa kamu tahu seberapa saya khawatir karena kamu yang menghilang begitu saja?" tanya Randu dengan emosi yang menggebu.


"Maaf, Kak. Aku gak pikir panjang!" Randu menggeleng saat melihat penyesalan dari Aileen. "Aku cuma berpikir untuk mulai menjauh dari kalian biar nanti waktunya tiba aku gak kaget!"


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Randu memeluk Aileen. Dia menghela napas lega setelah kembali bertemu dengan Aileen.


Cukup lama mereka berpelukan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sampai tidak menyadari ketiga anak kecil yang mereka kira masih sibuk dengan makanannya malah sedang mengintip mereka.


"Ternyata jadi dewasa berat, ya!" keluh Ucup sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.


Rido yang berdiri berhadapan dengan Ucup mengangguk setuju. "Iya. Jadi dewasa itu berat, aku takut jadi dewasa!" sahut Faiz yang berdiri di samping Ucup. Kedua temannya itu mengangguk setuju.


"Tapi, kan, tiap tahun umur kita nambah. Artinya kita tetap jadi dewasa, dong?" Rido menambahkan lagi percakapan mereka. "Huh. Kalau Mbak Ai pulang ke rumah siapa yang ajarin kita? Nanti kita jadi dewasa yang gak pintar, dong!"


Faiz dan Ucup menatap Rido lekat lalu ketiganya menghela napas berat bersamaan.


"Aku nyaman di sini, Kak. Lagipula seperti yang aku bilang tadi, aku mau bantu warga di sini untuk belajar. Setidaknya walau mereka jadi pemulung, mereka tetap bisa belajar!"


Aileen tetap bersikeras menolak ajakan Randu untuk kembali ke apartemen. "Saya tidak bisa membiarkan kamu tinggal di rumah yang sederhana seperti itu. Lihatlah sekarang kamu menjadi kurus, padahal kamu sedang hamil!"


Aileen mendengkus kesal mendengar ucapan Randu. "Seenggaknya di sini aku bisa tenang! Kakak tenang saja, aku gak akan bawa pergi anak ini!"


"Huh. Kenapa kamu selalu berpikiran begitu? Jadi sejak tadi kamu berpikir saya mengajak pulang karena takut kamu akan pergi jauh lagi?" tanya Randu kesal. Pria tersebut menyentil kening Aileen pelan.


"Kak, sakit!" Aileen mengusap keningnya, meski tidak merasakan sakit sama sekali. Dia lalu menatap Aileen lamat. "Kalau tujuan Kakak bukan karena anak ini, apa Kakak benar-benar khawatir sama aku? Atau jangan-jangan Kakak selama beberapa hari ini kepikiran aku terus dan takut aku hilang?" goda Aileen.


"Terserah apa anggapan kamu. Yang jelas, saya mau kamu pulang!" Aileen menggeleng.


"Aku gak bisa, Kak. Gimana sama rumah yang sudah aku sewa? Sama warga di sini yang sudah semangat banget mau ikut belajar?"


"Kita akan pikirkan itu setelah sampai di apartemen!" putus Randu.

__ADS_1


Aileen kembali menggeleng. Dia masih saja bersikeras menolaknya. "Kak ...."


"Kamu masih tetap bisa melakukan apa pun di sini. Saya tidak akan melarang, asal kamu pulang!"


Aileen terdiam, dia memperhatikan raut wajah Randu yang terlihat begitu serius lalu mengangguk. "Tapi, aku mau tinggal di rumah lagi. Aku gak mau di apartemen. Aku gak mau harus menghadapi mamanya Kakak atau mamaku sendiri. Aku mau saat mereka datang kalian ada di samping aku!"


"Baiklah!"


"Mbak Ai ...!" seru Faiz yang berlari menghampiri mereka. Dia dan kedua temannya sudah tidak tahan terus menguping pembicaraan dua orang dewasa itu.


"Faiz?" Aileen memperhatikan Faiz dengan mata berkaca-kaca bingung. Dia menghampiri Faiz dan anak laki-laki itu langsung memeluknya. "Ada apa?"


"Mbak Ai mau pergi dari sini?" tanya Faiz sambil menangis.


Aileen memperhatikan Ucup dan Rido yang juga sedang menahan tangisnya. Dia menoleh ke arah Randu yang diam saja. "Faiz, Mbak Ai harus ikut sama suami Mbak!"


"Kalian jangan khawatir. Nanti Mbak kalian ini akan tetap ke sini! Nantinya juga akan ada guru yang ngajar kalian!" ucap Randu tenang. Dia menghampiri Aileen dan menepuk pundak Faiz yang masih saya memeluk Aileen sambil menangis.


"Yang benar, Om?" tanya Ucup.


"Benar. Om janji!"


Faiz melepaskan pelukannya. Dia lalu mengusap air matanya dengan lengan bajunya dan menggoyangkan jari tengah Randu.


"Om gak bohong?" Randu tersenyum hangat lalu menggeleng.


"Om tidak bohong. Tapi, kalian harus kasih izin Mbak Ai untuk pulang ke rumah!"


Faiz menyodorkan jari kelingkingnya kepada Randu, mengerti maksudnya Randu mengaitkan jari kelingking mereka. Rido dan Ucup mendekat dan langsung memeluk Randu begitu saja.


"Astaga!" Randu hampir saja terjatuh karena tindakan mereka yang tiba-tiba.


"Makasih, ya, Om. Om sama Mbak Ai baik banget!"


Seseorang yang sejak awal mengetahui di mana keberadaan Aileen begitu kesal melihat pemandangan yang tidak jauh dari mereka. Dia bersembunyi di balik pohon besar sehingga tidak terlihat.

__ADS_1


__ADS_2