Skandal Termanis

Skandal Termanis
Potong Rambut


__ADS_3

Amee terlihat begitu senang. Dia terus saja memandangi foto hasil USG tersebut. "Mas, aku rasa hidungnya mirip kamu!" Amee menunjukkan foto tersebut kepada Randu, pria itu hanya tersenyum tipis dan memeluk Amee.


"Aku senang sekali, setidaknya dia akan mirip kita. Jadi nantinya gak akan ada orang yang meragukannya, meski bukan aku yang hamil!"


"Apa kamu sesenang itu?" Amee mengangguk.


"Harusnya aku tadi ikut, sayang aku harus ketemu produsen untuk membahas barang-barang." Amee menyesal karena tidak bisa melihat langsung calon bayinya di layar monitor pagi tadi. "Apa reaksi Aileen, Mas?" Amee mengangkat wajahnya untuk menatap Randu.


"Dia baik-baik saja. Katanya dia bersyukur janinnya sehat!" Amee berdeham dan kembali menatap foto tersebut.


Randu kembali mengingat reaksi Aileen ketika mendengar detak jantung bayinya. Perempuan itu bahkan tidak bisa menghentikan tangisannya, bahkan pertanyaan yang dilontarkan di mobil terus saja terngiang di telinga Randu.


"Aku sudah menyiapkan nama bagus untuk bayi kita nantinya, Mas. Tapi, ini masih rahasiaku saja!" Amee terkekeh saat melihat Randu yang kesal karena dipermainkan.


Terlepas dari perubahan Aileen, Randu begitu bahagia saat Amee bersemangat dengan calon bayi mereka, meski bukan terlahir dari rahimnya.


Randu terus berharap Amee terus menyayangi bayi Aileen walau nantinya dia siap melahirkan bayinya sendiri.


***


Aileen membuka pintu kamarnya setelah beberapa kali diketuk. Wajahnya tampak sembap dengan hidung memerah. Dia mengerutkan kening saat melihat bibi masih berada di apartemen.


"Bibi belum pulang?" tanya Aileen, dia mempersilakan perempuan baya itu masuk ke kamarnya yang sedikit berantakan.


"Mas Randu minta Bibi menginap di sini!" Aileen mengangguk. Di ambang pintu dia hanya memperhatikan bibi meletakkan nampan berisi makanan untuk makan malamnya dan meletakkan di atas nakas.


"Neng Aileen pasti lapar, Bibi buatkan ayam bakar madu. Mas Randu bilang Neng suka sekali sama makanan itu!" Aileen hanya tersenyum tipis membalas tatapan bibi kepadanya.


Perempuan itu menghampiri Aileen yang bergeming dan mengajaknya duduk di ranjang. "Sekarang Neng makan. Sudah jangan mengurung diri di kamar terus, kasihan dia!" ucap bibi sambil mengusap perut Aileen.


Aileen menerima piring makanannya, dia hanya menatap saja makanan di hadapannya itu. "Mau yang lain? Nanti Bibi buatkan!"


Aileen menggeleng. Bukannya menjawab, dia malah kembali menangis. Hatinya benar-benar rapuh hari itu. Hampir seharian dia terus saja menangis, menyalahkan kebodohannya yang begitu saja setuju dengan perjanjian yang Randu buat.


Bibi menghela napas pelan, dia mengambil piring di tangan Aileen dan meletakkannya kembali di nampan. Perempuan itu lalu duduk di samping Aileen dan memeluknya tanpa diminta.

__ADS_1


"Dulu Mas Randu selalu Bibi peluk kalau lagi sedih." Aileen membalas pelukan tersebut, terasa hangat dan menenangkan.


"Makasih, Bi!"


Bibi melepaskan pelukannya, dia mengusap wajah Aileen yang basah oleh air mata. "Bibi gak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian. Yang Bibi tahu, Mas Randu meminta agar Bibi menjaga Neng dan merahasiakan hubungan kalian dari siapa pun!"


Aileen mengangguk. Dia menunduk dalam. "Mas Randu tadi saat pergi dia terlihat begitu sedih! Bibi merasa kasihan dengannya. Dia seperti sedang menanggung beban berat di pundaknya."


"Bibi pasti marah sama aku, kan?" tebak Aileen. Dia mengangkat wajahnya dan menatap mata perempuan itu dengan lamat.


"Neng, Bibi gak punya hak untuk marah ataupun ikut campur dalam masalah kalian, Bibi cuma merasa kasihan sama Mas Randu yang tulus sayang sama Neng. Bibi harap Neng Aileen dapat memahami posisi Mas Randu yang juga punya Neng Amee!"


Aileen menghela napas pelan. Ternyata bibi mengira tangisnya karena tidak suka berbagi dengan Amee.


"Apa Bibi kira aku mengurung diri beberapa jam karena itu?" tanya Aileen memastikan. Bibi dengan mantap mengangguk.


"Apa Bibi salah?" Aileen menggeleng.


"Bibi gak salah. Salah satu hal yang buat aku sedih mungkin karena yang Bibi katakan tadi, tapi ada hal lainnya lagi yang buat aku mengurung diri!"


Bibi terlihat terkejut mendengar ucapan Aileen. "Tapi kenapa Neng Aileen harus berpisah dari bayi ini?"


Aileen menggigit bibir bawahnya kuat. "Perjanjian! Aku menikah dengan Kak Randu karena bayi ini. Kak Randu menginginkannya, sedangkan aku gak ... awalnya, tapi itu dulu. Aku menyetujui perjanjian itu karena awalnya aku merasa gak akan pernah menyayanginya, makanya tanpa pikir panjang aku setuju sama isi perjanjian itu. Sayang, aku salah."


Bibi menghela napas pelan. Tangannya mengusap pundak Aileen lembut. "Lalu sekarang apa yang mau Neng Aileen lakukan?"


Aileen menggeleng. "Aku gak tahu, Bi. Semua sudah terlanjur!"


"Neng yang sabar. Setiap keputusan ada konsekuensinya dan Neng harus menerima itu!"


Aileen mengangguk lemah. "Aku tahu, Bi. Tapi apa gak ada cara lain agar aku bisa sama bayi ini?" Bibi tidak menjawab apa pun karena dia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Aileen.


***


Randu kembali datang di pagi hari. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Aileen dan memastikan kondisi perempuan itu setelah kejadian kemarin.

__ADS_1


Randu gegas menuju ke kamar Aileen dan mendapati perempuan hamil itu sedang tertidur.


Randu merasa tidak tega untuk membangunkannya dan memilih keluar dari kamar.


"Dia kemarin makan, kan, Bi?" tanya Randu kepada bibi yang sedang menyiapkan sarapan untuknya.


Bibi mengangguk. Dia menatap lekat Randu dan menghela napas pelan. "Ada yang mau Bibi sampaikan? Katakan saja," ucap Randu sambil duduk di kursi meja makan.


"Neng Aileen kelihatan sedih sekali, dia cuma makan sedikit makanannya!"


Randu mengangguk. "Dia pasti sedih. Tentu!"


"Apa Bibi boleh tanya sesuatu?" Randu mengangguk. "Neng Aileen semalam bicara kalau dia gak mau dipisahkan dari bayinya kelak!" Sebenarnya Aileen melarang untuk bibi mengatakannya kepada Randu, tetapi perempuan itu merasa Randu perlu tahu untuk mencari jalan keluar dari masalah mereka.


Randu membuang napas kasar. "Apa lagi yang dia katakan?"


Bibi menggeleng. "Gak ada. Dia hanya merasa takut untuk dipisahkan dengan bayinya dan Bibi harap Mas Randu gak mengatakan apa yang Bibi katakan ini sama Neng aileen!"


Randu berdeham. Dia memaksa senyumnya terbit, meski dirinya mulai dilanda kebingungan. "Aku janji!"


"Kalau gitu Mas Randu sarapan saja dulu, Bibi ke dapur!"


Randu hanya menatap makanan di hadapannya. Dia sama sekali tidak berselera makan dan memilih kembali ke kamar Aileen.


"Kakak, kapan datang?" tanya Aileen dengan ramah, seolah tidak pernah terjadi apa pun.


Randu menghampiri Aileen yang baru saja bangun. Terlihat cantik meski rambutnya sedikit berantakan. "Apa tidurmu nyenyak?"


"Tentu!" Aileen lalu dengan manjanya memeluk Randu. "Aku kangen banget sama Kakak, untuk kemarin aku minta maaf karena langsung masuk kamar setelah dari rumah sakit!"


Randu tidak menjawab. Dia mengusap lembut rambut Aileen dan menghirup aroma wangi rambut istrinya itu. "Jadi mau potong rambut?"


Aileen melepaskan pelukannya. Dia memperhatikan wajah Randu yang terlihat lelah. "Hei, Kakak kurang tidur? Ish, kantung matanya besar!" Dia terkekeh lalu turun dari ranjang menuju meja rias untuk mengambil sesuatu.


"Aku akan oleskan ini di sekitar mata Kakak, setelah itu Kakak bantu aku potong rambut, ya!"

__ADS_1


Kening Randu mengerut. "Aku maunya Kakak yang potong rambutku!" ujar Aileen dengan begitu riang.


__ADS_2