
Randu akhirnya pasrah ketika Aileen tetap bersikeras datang ke tempat dia melamar pekerjaan untuk melakukan interview.
"Kakak pergilah, aku akan masuk ke dalam!"
"Saya akan menemani kamu sampai selesai!" tutup Randu.
Aileen tidak membantah. Dia membiarkan saja Randu mengikutinya masuk ke dalam cafe yang masih tampak sepi. Hanya ada beberapa pekerja yang sedang melakukan pekerjaannya dan dua orang yang berpakaian sama dengannya.
Aileen meminta agar Randu menunggu di meja yang letaknya di dekat pintu masuk, sedangkan dirinya akan menghampiri dua orang pelamar untuk bergabung.
"Tunggu sebentar!" Randu mencegah Aileen yang akan pergi. Dia tiba-tiba saja memeluk Aileen dan mengecup keningnya, hal itu berhasil membuat Aileen menjadi salah tingkah. "Saya akan menunggumu di sini!" Aileen mengangguk dan berjalan menghampiri dua orang perempuan yang sedang duduk dengan gusar.
Aileen menyapa dua orang perempuan itu, meski hanya direspons dengan tatapan tidak bersahabat. Dia tidak peduli. Sesekali dia memperhatikan Randu yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Kenapa dia bersikap seakan-akan aku ini istrinya?" gumam Aileen.
Seorang pria dewasa dengan pakaian rapi menghampiri Randu dan berbincang sebentar, saat itu Aileen menyadari jika pria tersebut sesekali menoleh ke arahnya. Tidak lama, pria tersebut dan Randu berjabat tangan, pria tersebut lalu menghampiri dirinya dan dua orang perempuan di sampingnya.
"Kalian yang akan interview?" Mereka mengangguk, Aileen menyadari pria tersebut menatapnya lekat lalu menghela napas pelan sambil tetap samar. "Baiklah, kalian akan saya interview satu per satu, dimulai dari kamu!"
Aileen dan seorang perempuan dengan rambut pendek harus menunggu. Dia menoleh ke arah Randu yang sedang memperhatikannya. Dia menjadi canggung.
Tidak lama, pelamar pertama keluar dengan wajah yang semringah dan tidak lupa meminta pelamar selanjutnya untuk interview.
Aileen makin merasa cemas, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Saat menatap Randu pria itu tersenyum penuh arti. Seakan sedang mengejek dirinya. Namun, Aileen tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Randu kepadanya.
Hanya berselang beberapa menit, pelamar kedua kembali dengan wajah yang sama. Terlihat senang lalu menatap Aileen dengan tatapan kasihan. Pria yang tadi sempat bicara dengan Randu menghampiri Aileen dan mengatakan jika cafe sudah tidak menerima pelamar lagi.
Aileen sungguh merasa kecewa, saat dia melakukan protes sebab dirinya belum melakukan interview. Pria tersebut menyuruhnya berbicara dengan Randu.
Aileen terkejut dan mulai paham alasan Randu dan pria tersebut berbicara tadi. Dia gegas menghampiri Randy yang seakan begitu sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Apa Kakak yang menyuruh pria itu gak terima aku?" Randu mengangguk. Dia berdiri menatap Aileen yang kesal kepadanya.
Randu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu menarik lembut tangan Aileen keluar dari cafe.
"Lepas, Kak. Aku kecewa sama Kakak! Kenapa Kakak mengurusi urusanku? Kenapa Kakak gak biarkan saja aku bekerja?" Aileen menghempaskan tangannya. Dia mundur selangkah menjauh dari Randu.
"Aku tahu Kakak melakukan ini karena dia! Tapi, apa Kakak sama sekali gak peduli sama aku? Aku juga butuh kebahagiaan untuk hidupku, Kak!" teriak Aileen. Dia tidak peduli tatapan dari karyawan cafe yang kebetulan melihat mereka atau pengunjung pertama cafe tersebut.
"Apa sudah puas marahnya?" tanya Randu dengan begitu santai. Dia hendak meraih tangan Aileen, tetapi Aileen menyembunyikan tangannya di belakang tubuh.
"Belum. Masih banyak yang mau aku katakan!"
"Jangan di sini." Randu terpaksa menarik Aileen yang masih ingin meluapkan kekesalannya. Dia memaksa Aileen masuk ke mobil.
"Kakak mau bawa aku ke mana?"
"Ke tempat di mana kamu akan bekerja!" Aileen mengerutkan keningnya, bingung. "Saya tahu kamu marah karena sudah membuat kamu tidak jadi bekerja di cafe itu, tapi saya melakukan itu untuk melindungi kamu. Kalau pun kamu tetap memaksa bekerja, bekerjalah di showroom!" Randu berbicara tanpa menatap Aileen dan hanya fokus pada jalanan yang agak lengang.
Aileen sungguh tidak mau jika Randy terus saja membantunya. Cukup dengan menjadikan dirinya seorang istri, tetapi tidak dengan yang lainnya. Aileen juga merasa tidak sanggup jika harus terus bersama dengan Randu yang membuat dia tidak bisa mengendalikan perasaannya.
"Kamu tidak perlu memikirkan untuk membalasnya. Apa yang saya lakukan semata-mata hanya agar kamu merasa nyaman!"
Aileen memalingkan wajah ke kaca pintu di sebelahnya. Dia menatap nanar jalanan lewat kaca tersebut. "Bahkan Kakak sudah buat aku gak nyaman!" cicit Aileen.
Dia perlahan mulai menyadari jika di dalam tubuhnya sudah mulai muncul benih-benih perasaan untuk Randu. Namun, dirinya tidak mungkin menyakiti perasaan Amee lebih dalam lagi dengan terus memupuknya. Aileen harus bisa membatasi dirinya dan Randu agar perasaanya bisa dikendalikan atau bahkan menghilang.
"Saya harap kamu paham. Saya melakukan ini karena tidak mau kamu dan kandunganmu mengalami hal buruk!" Aileen mengangguk, dia tersenyum masam saat menatap bergantian tangannya yang digenggam erat oleh Randu dan wajah tampan Randu yang serius mengemudi.
"Tapi, biarkan aku memilih pekerjaanku sendiri, Kak!" putus Aileen.
"Kenapa? Padahal saya mau kamu menjadi sekretaris saya, agar saya bisa mengawasi kamu dan tidak perlu khawatir."
__ADS_1
Aileen menggeleng. "Kakak susah ada sekretaris, bukan?" Randu mengangguk. "Jadi, biar tetap seperti itu. Gak masalah kalau aku kerja jadi SPG saja!"
"Jangan lakukan hal itu!"
***
Pada akhirnya Randu menuruti permintaan Aileen. Dia membiarkan istri mudanya itu bekerja sebagai sales di showroom mobil miliknya setelah Aileen berjanji akan bekerja dengan hati-hati dan tidak akan membuat dirinya lelah.
Randu terus saja memperhatikan Aileen yang tampak bersemangat ketika menjelaskan apa yang dibutuhkan pembelinya. Randu bahkan tidak menyangka sama sekali. Dia merasa Aileen telah banyak berubah. Sejak awal pertemuan merekam kembali, sikap manja Aileen yang terkadang membuatnya pusing tidak terlihat.
Aileen bahkan dulu enggak bekerja dan tidak bisa melakukan pekerjaan apa pun. Sekarang, bahkan awalnya Randu tidak percaya Aileen akan siap hidup dalam kesederhanaan dan bekerja sebagai pelayan. Namun, kali ini keraguannya berhasil disingkirkan oleh Aileen.
Randu membalas senyum Aileen kepadanya. "Bagaimana?" tanya Randu saat Aileen menghampirinya.
"Berhasil. Bapak itu mau membeli mobil yang aku tawarkan. Sekarang Kakak percaya aku mampu bekerja?" tanya Aileen bangga.
"Itu bukan karena kamu bisa, tetapi karena pria tersebut memang butuh mobilnya!" Randu mengacak rambut Aileen sambil berlalu meninggalkan Aileen.
"Aku akan buktikan kalau aku bisa bekerja!"
"Kamu ngapain di sini?" Aileen menoleh dan menatap kesal sosok yang berdiri di hadapannya itu. Dia memilih tidak menghiraukannya.
"Aileen, maaf!" Ucapan tersebut membuat Aileen berhenti dan kembali menatap sosok tersebut. "Kamu pasti mengalami kesusahan selama ini!" Lalu tatapannya beralih pada perut Aileen, dia menghela napas berat. "Kamu hamil? Sudah menikah?"
Aileen tidak menjawab pertanyaan tersebut.
"Bisa kita bicara sambil kamu menjelaskan tentang mobil-mobil itu?"
"Maaf, aku gak bisa. Kamu sama yang lain saja!" Aileen meninggalkan sosok pria tersebut.
"Dengan siapa kamu menikah?" Pria tersebut menatap nanar Aileen yang menjauh darinya dan memilih menghampiri pelanggan yang lainnya. "Aileen aku benar-benar menyesal telah mencampakkan kamu, tapi kenapa kamu malah berubah pikiran dengan menikah?" gumam pria tersebut.
__ADS_1